|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,744 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Gavyn Owyn | Sunday Jun 2 2013, 10:05 AM Post #361 | |
![]()
|
DISTRIK 11|| HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 8 (Shinzo Kawabata) || AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result] dua pasang kaus kaki, satu lentera, satu korek api Tidak kena lagi. Mungkin dia harus dibuat benar-benar baru bisa berhasil melakukan serangan—harus benar-benar marah ke dua orang ini. Oh, sekarang dia tahu seperti apa dirinya harus bertingkah laku di arena. Amarah bisa membuat dia bisa melakukan hal yang dia belum tentu bisa lakukan dalam keadaan biasa. Juga baginya di tempat seperti ini sudah seharusnya mereka masing-masing memiliki perasaan ingin membunuh. Tidak mungkin empat puluh delapan orang ini mati dengan sendirinya, bukan? Dan Gavyn hingga saat ini ingin mengatakan bahwa dia baru akan tertarik membunuh dengan alasan dendam. Itu sudah cukup membuktikan betapa dunia memang kejam. Dendam, hah? Dendam? HAHAHA. Pemuda dengan kulit cokelat ini tersenyum puas sekali lagi dan dia mengarahkan tinjunya ke arah Shinzo yang baru saja meghajar Floryn dari distrik empat—membuat gadis itu kepayahan dan kabur entah ke mana. Ia melihat serangan dari Tume untuk Floryn masuk dan semuanya makin indah saja. Ia menyukai Tume Tinkham seketika itu juga. Sepertinya mereka bisa menjadi pasangan yang menarik di arena ini meskipun rasanya dia belum pernah bersuara kepada Tume sebelum arena ini dibuka. Ada apa ini? Persekutuan yang lahir alamiah antara makhluk itu dengan Shinzo? Menurutnya itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan betapa dia begitu ingin membuat Tume menjadi sekutunya karena menurutnya anak berumur dua belas tahun itu cukup kuat. Setelah Tume selesai menghajar gadis itu dengan belatinya, Gavyn berusaha menggulingkan Shinzo dengan harapan kalau Shinzo mati, Tume bisa beralih menjadi sekutunya. |
|
![]() |
|
|
| Exodus Kruchev | Sunday Jun 2 2013, 10:07 AM Post #362 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 78 || POSISI: 7 TARGET: Stephanie White (D9) & Altessa Lychnia (D6) || AP: [result]11&9,1d10,2,11&1d10+2[/result] || KS: [result]8&8,1d24,0,8&1d24[/result] & [result]16&16,1d24,0,16&1d24[/result] 4 kotak biskuit Kalau sakit, bilang saja sakit. Exodus orang yang baik. Baik dalam mengerti kesulitan orang lain, jadi dia bermurah hati mengirimkannya pada kematian agar penderitaannya segera berakhir. “Namaku Exodus, dear.” Siapa subur itu, heh. Mantan kekasihnya di Distrik Sembilan atau pacarnya sekarang? “Tidak suka dijambak? Bagaimana kalau ini—“ Kembali pemuda itu menampar wajah Stephanie White. Tempat yang masih sama seperti serangan awal. Tawa pemuda Kruchev terdengar lagi sambil menatap tubuh pesakitan di dekatnya. Ada rasa iba yang sempat terlintas di benaknya, tapi hanya sekilas lewat. Persetan dengan kesakitan yang diterima gadis White. Cara yang tenang dan pelan untuk mengantarkan kematianmu hampir usai, mungkin. Tapi Exodus memang lebih menyukai cara itu. Tenang dan pelan sambil menyaksikan kematian pelan-pelan menggerogoti jiwa manusia hina. “Ah ya, kita belum kenalan.” Masih saja Exodus memikirkan hal seperti itu di tengah pertarungan. Kesempatan dalam kesempitan, tahu. Setidaknya sebelum mati, gadis itu bersyukur bisa merasakan didekati seorang pemuda, apalagi dari kawanan Karier. Menyerangnya dan mengajak berkenalan. Kurang baik apa coba Kruchev sulung ini. Setelah Kevin Fremunzar, sekarang giliran leher gadis itu yang akan dijepit lengan Exodus. Lebih dekat, lebih baik. Bisa berbincang-bincang lebih jauh tanpa ada gangguan. So, please don’t disturb him.[/b] |
|
![]() |
|
|
| Madeleine Lethbridge | Sunday Jun 2 2013, 10:08 AM Post #363 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 68 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 11 (Elisa aku-tidak-tahu-nama-belakangmu) AP: [result]7&5,1d10,2,7&1d10+2[/result] || KS: [result]7&7,1d24,0,7&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu Alethea berpihak padanya. Solanin berpihak padanya. Go rest peace in heaven you both. “Bagaimana?” Makin dalam, ia menancapkan. Kurang sedikit lagi dan gadis itu akan mati di tangannya. Segera. Tidak akan lama. Jangan khawatir, Sebelas, Madeleine akan segera membuatmu tidak merasakan sakit lagi. Ia akan segera melepaskanmu dari segal siksaan dan rasa sakit yang menderamu ini. Sedikit lagi. Bantu Madeleine dan dia akan membantumu. Semudah itu. Ini adalah penawaran yang adil, kalau kamu perhatikan. Penolakan hanya akan membuatmu tersiksa makin lama. Gadis itu sudah tampak sekarat. Lukanya sudah merembet kemana-mana. Satu garis lagi, yang kini dibentuk Madeleine dengan mata pisau—lurus, membentuk satu garis vertical kokoh yang nantinya akan membentuk inisial namanya berlambangkan huruf M. Itu incarannya sedari tadi. Bagian mengurai usus dan organ-organ dalam sudah ia lakukan pada mayat Patricia, kini lain—ia bosan dengan cara lama. Sehabis membentuk inisial, yang ia incar lantas adalah kepala. Sedikit bermain-main dan membentuk ‘seni’ adalah bukan hal yang dosa, bukan? “Ucapkan permintaan terakhirmu.” Madeleine berbisik pelan, berbalur senyum amat lebar—menutup luka-luka sayatan tadi dengan tusukan dalam. |
|
![]() |
|
|
| Pinoy Annelli | Sunday Jun 2 2013, 10:11 AM Post #364 | |
![]()
|
DISTRIK 5 || HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 10 (Tume Tinkham) || AP: [result]7&7,1d9,0,7&1d9[/result] || KS: [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result] satu kotak biskuit, satu tempat minum kulit, satu belati, satu bungkus dendeng Pinoy sempat terperangah dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Begitu cepat dunia ini berputar seolah-olah memang di situ kelak akan terjadi gempa bumi terdahsyat sepanjang masa yang menelan habis belasan orang yang tergeletak tak bernyawa di mana-mana. Padang rumput memamerkan suasana menyeramkan saat ini. Angin berhembus dan Pinoy mengambil kesempatan untuk berhenti sejenak dalam upayanya melukai Tume dan Shinzo. Ia mengamati dua orang itu bergerak menuju perempuan dari distrik empat bernama Floryn Lee dan memberikan beberapa serangan kepadanya. Hasilnya, kena semua dan gadis kecil itu berlari terbirit-birit menuuju Cornucopia. Wah, rupanya bahkan seorang karier pun merasa tersudutkan. Wow. “Sekarang giliranku!” Pinoy berderap dan menghunuskan belatinya ke tubuh berisi milik Tume Tinkham. Menurutnya, di saat seperti ini hanya Tume yang harus dihabisi lebih dulu. Lagi pula, Gavyn sudah menyerang Shinzo dan walaupun belum berhasil, Gavyn bisa mengulanginya lagi, lagi, dan lagi. Dia sendiri berusaha sedemikian rupa untuk menggunakan belatinya dengan benar. Bagi Pinoy, semua tampak begitu memusingkan. Dia merasa Capitol yang menonton aksi mereka sedang tertawa terbahak-bahak menyaksikan beapa mereka akan melakukan apa pun untuk bertahan hidup. |
|
![]() |
|
|
| Stephanie White | Sunday Jun 2 2013, 10:18 AM Post #365 | |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 9-11= RIP || POSISI: 7 TARGET: - (Dadah Subur! re: Exodus bin Kardus) || AP: - || KS: - (satu tempat minum kulit, tiga kotak biskuit) Pandangannya semakin mengabur, kepalanya kian hebat berdenyut, dirasakannya nyeri di bagian ulu hatinya. Lama-lama nafasnya semakin pendek, ia semakin terengah, matanya semakin berkabur, semakin buram semakin tidak jelas melihat pemandangan. Dirasanya sesuatu yang hangat mengalir deras dari ulu hatinya, merasakan perih yang menusuk dan seketika tubuhnya memanas, sebagian lagi mendingin, ia beku terjatuh ke tanah, siksaan ini belum berhenti. Tubuhnya gemetar, meringkuk dengan pisau yang menancap, wajahnya pucat pasi. Kakinya terlalu berat, tetapi Exodus tetap menyerangnya tanpa ampun. Subur ini belum puas menyiksanya, sudah punya harem sembilan dikurang empat masih saja menyiksanya. Kenapa sih? Kurang puas? Sudah lemah, sebentar lagi Eve mati. Tidak perlu repot-repot menamparnya, karena toh ia sendiri tidak akan melawannya, bedebah tengik! Pandangannya mengabur, dirasakan matanya semakin panas dan basah, bayangan Clause berkelebat di kepalanya. Ia mengerang, rasanya perih, sangat perih. Sakit, tubuhnya merasa seperti ditarik. Clause, ayah dan ibu, semuanya berkumpul menjadi satu. Lagi-lagi kepalanya pening luar biasa, ia tidak kuat menahan sakitnya. Eve membuka mulutnya setelah tubuhnya terbanting ke tanah seperti bangkai tikus yang dibuang di jalan. Tangannya menggapai-gapai udara dengan gemetar, satu tangannya memegangi perutnya. Disana rasa sakit semakin menghujam, sebentar saja biarkan sebentar saja ia membuka kelopaknya, sebentar saja sebelum semuanya berubah menjadi gelap. bukan post terakhir |
|
![]() |
|
|
| Urie Tommy | Sunday Jun 2 2013, 10:20 AM Post #366 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 100 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 5 (Lockhn - belati) & DISTRIK 6(Altessa - pisau) || AP: [result]6&4,1d10,2,6&1d10+2[/result] || KS: [result]20&20,1d24,0,20&1d24[/result] & [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result] Wajar nggak kalau Urie kelaparan di tengah ini semua? Sepertinya tidak wajar. Disaat orang lain sedang semangat-semangatnya, dia malah memegangi perut. Sudah penyakit keluarganya untuk kelaparan di saat tegang, tahu. Urie saat ini hanya menginginkan semua ini selesai, lalu dia dapat berlari ke lokasi lain, kemudian membuka tasnya. Oh, apa yang ada di dalam tas besarnya? Makanankah? Dia sungguh lapar. Kalau makanan... yummy... ... tidak gentle kalau mengeluarkan liur di depan perempuan, Tommy muda. Urie memainkan belati di tangannya, bermaksud menusuk-nusuk lengan si laki-laki lima dengan benda itu. Apakah darah si Lima yang sudah banyak mengalir ini bisa minum? Lezatkah? (Tidak.) Oh, jangan lupakan si gadis Enam. Sepertinya dia tipe yang bisa memasak makanan enak. Cantik dan... indah. "Kalau kau bisa memasakkanku sebuah makanan, mungkin aku akan melepaskanmu sekarang," Urie tertawa sambil memberi ukiran manis di bawah leher gadis itu. Berdarah tidak? Edited by Urie Tommy, Sunday Jun 2 2013, 10:21 AM.
|
|
![]() |
|
|
| Colleen Roosophire | Sunday Jun 2 2013, 10:20 AM Post #367 | |
![]()
|
DISTRIK 1 | POSISI: 1 | HP: 100 TARGET: CO D3(Isaac)(dengan senjata: Tampar) & CE D9(Stellaria)(dengan senjata: Tonjok) | AP: [result]6&4,1d10,2,6&1d10+2[/result] | KS: [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result] & [result]1&1,1d24,0,1&1d24[/result] Barang yang diambil: kompas dan sebungkus dendeng sapi Dewa!!! Apa salah Colleen? Mengapa harus meleset terus? Tahu kan kalau kedua bocah ini tinggal sekali tebas juga langsung mampus. Mohon restui serangan Colleen sekarang. Sedikit kesal karena kedua bocah itu tidak mati-mati juga, gadis bersurai pirang itu menampar pemuda Tiga itu. Kali ini, ia menambahkan sedikit tenaga lebih. Pokoknya, gadis Satu itu, ingin pemuda Tiga itu mati sekarang juga. TITIK. Untuk si gadis Sembilan, gadis bermanik pirang itu, menonjok perutnya sekali lagi. Kali ini juga menambahkan sedikit tenaga lebih untuk serangannya. Pokoknya kedua bocah ini harus mati. Enggak mau tahu. Colleen ingin sekali-sekali membunuh orang, dan ini lah saatnya. Saatnya ia akan membunuh orang. Sebenarnya gadis Roosophire itu kejam tidak sih? Mennyakiti dan membunuh orang-orang yang lebih lemah darinya. Bahkan ia menyerang para bocah yang memiliki tubuh lebih kecil darinya. Maniknya melihat gadis Lee kecil itu sedang beristhirahat. Bersama dengan Hada. Bagus lah, kedua orang itu adalah yang paling bekerja keras selama Arena ini dimulai. Jadi mereka patut mendapatkan isthirahat. Isthirahat lah yang banyak Hada, Floryn. "Kalian mati ya! Aku sudah bosan dengan kalian." ucapnya. Bahkan maniknya saja tidak mau melihat kedua wajah di depannya. Dirinya sudah terlalu muak dan bosan pada wajah-wajah itu. Kenapa mereka enggak cepat mati sih? Coba saja ia seperti Hada, seluruh serangannya kena tepat sasaran, pasti Colleen tidak perlu membuang-buang banyak waktu, dan kedua bocah ini pasti sudah mati dari kapan tahun. Betul? |
|
![]() |
|
|
| Madeleine Lethbridge | Sunday Jun 2 2013, 10:21 AM Post #368 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 68 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 11 (Elisa aku-tidak-tahu-nama-belakangmu) AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] || KS: [result]11&11,1d24,0,11&1d24[/result] 2 pistol udara dan 2 botol madu Keberpihakkan tidak berlangsung dua kali, well, baiklah. Baiklah. Alethea dan Solanin mungkin tidak suka dibilang suruh istirahat—well, maaf, then. Would you both mind giving her some lucks again? “Aku lama-lama kasihan padamu.” Madeleine mencemberutkan bibir dan menekuk wajah. Padahal ia sudah berbaikhati.. tapi Elisa malah tidak memanfaatkan kemurahan hati gadis Lethbridge kecil kita ini. Ya, baiklah. Pilihan sudah dibuat, dan Madeleine akan meladeni. Tangan Madeleine menampar telak pipi gadis tersebut, berniat membuatnya sadar kalau Madeleine cukup lelah dan kesal berhadapan dengannya untuk waktu yang lama. Sekaligus memberi tahu gadis itu siapa yang berkuasa di sini. Madeleine. Madeleine Lethbridge. Tidak bisa ditawar. Dan kamu di sini cuman bawahan, Elisa—jangan belagu dan turuti saja apa kemauan gadis ini. Semudah itu seharusnya. Dia tidak tahu latar belakang hidupmu sebelum ini, tapi, ya, dia tahu kalau kamu itu gadis tangguh. Terberkatilah kamu, Elisa. Kamu lawan yang hebat, Madeleine suka-tapi sudah sampai di sana saja pujian untukmu. Jangan lebih banyak biar kamu tidak besar kepala. Segera, pistol yang tadi ia simpan, well, diambil lagi. Kini diarahkan pada pelipis gadis itu. Satu tembakan, dan seharusnya satu nyawa melayang. Harus—karena Madeleine tidak mau lagi bermain-main. “Goodbye.” Dan nyawamu tidak bisa lebih lama dari kata tersebut. |
|
![]() |
|
|
| Gavyn Owyn | Sunday Jun 2 2013, 10:22 AM Post #369 | |
![]()
|
DISTRIK 11|| HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 8 (Shinzo Kawabata) || AP: [result]4&4,1d9,0,4&1d9[/result] || KS: [result]21&21,1d24,0,21&1d24[/result] dua pasang kaus kaki, satu lentera, satu korek api Pukulannya tidak ada yang kena. Gavyn menjadi gusar jadinya. Menurutnya, ini dalah pelecehan terhadap kemampuan dirinya. Shinzo bukanlah orang yang akan dengan begitu sulitnya dilawan. Dia tahu itu. Laki-laki kurus dari distrik delapan itu harusnya begitu mudah dilawan. Saking mudahnya pasti Capitol sekarang tengah menertawakan dirinya. Dan Gavyn benci harus mengingatnya. Kawan dan keluarganya di distrik sebelas menyaksikannya sekarang. Adina tidak berhasil menyelamatkan diri. Gavyn tengah berusaha mencari celah perlawanan berarti, menunggu saat di mana dirinya akhirnya memberikan kesempatan kepada lawannya untuk memohon belas kasihan kepadanya. Tapi, Tume dan Shinzo tidak pernah memohon belas kasihan kepadanya dan malah mencoba untuk melawan balik. Benar-benar menyebalkan. Ia sedang tidak ingin bermain-main tetapi baginya ini sudah terlampau lama. Bahkan keringat mulai mengucur dari tubuhnya, membuat warna cokelat tubuhnya menjadi berkilat. Angin dingin berhembus dan Gavyn merasa ada yang salah dari dirinya. Dia telah berubah menjadi monster. Tapi, ini adalah pilihan hidup. Nalarnya mengatakan dia harus melakukan apa pun untuk bertahan hidup. Dan itu akan dilakukannya karena dia begitu ingin kembali ke distrik sebelas. Chaff mungkin menyaksikannya dan berharap begitu Gavyn bisa melarikan diri, dia bisa segera mengirimkan sponsor untuk anak didiknya itu. Dengan dengusan, Gavyn kembali mengayunkan tinjunya ke arah Shinzo. |
|
![]() |
|
|
| Ferina Secret | Sunday Jun 2 2013, 10:22 AM Post #370 | |
![]()
|
Pada akhirnya semua ini hanyalah panggung sandiwara. Saat arena berhenti berputar, saat dunia ini habis masa tenggangnya, saat manusia-manusia di tempat ini berhenti bernapas, diangkat jiwanya oleh pencabut nyawa, penjemput maut pun akan tersenyum, menyadari akhirnya yang berubah menjadi bahagia. Berapa banyak mayat yang berserakan di tempat ini, hm? Sepuluh, mungkin? Bau darah tercium di mana-mana, teriakan, tangis, permohonan, semua bergabung menjadi satu, mendengingkan telinga gadis Secret ini. Gadis ini masih aman, setidaknya, walaupun rasa sakit menguasai tubuhnya, menggetarkan tulang-tulangnya, walaupun darah masih menggenang di mulut akibat tonjokan si gadis Sepuluh. Ditelannya kumpulan darah itu, untuk mengingatkannya pada keadaan yang sedang berlangsung. Dia tidak main-main, disini. Teman, rekan sedistriknya, Ethan, masih tidak apa-apa. Masih belum terluka parah, walaupun sejenak tadi ia melihat mata rekannya dicolok oleh si jalang Sepuluh. Pandangannya mungkin akan buram, terdisorientasi, tapi tak akan terjadi apa-apa, semoga. Semua itu masih bisa diobati setelah semua ini selesai, setelah mereka bisa beristirahat sejenak, gadis Secret menjamin hal itu. Gadis ini memang tak punya dasar medis, tapi... biarkan dia berkata begitu, oke? Biarkan ia masih merasa bahwa semua ini baik-baik saja. Karena untuk sementara, rasanya sisi beringas dari sang ayah mulai terkorosi karena lelahnya ia pada arena ini. Samar gadis Secret itu dapat melihat Hada dan Floryn, saling menjaga di Cornucopia. Bagus, bagus. Gadis itu masih mengingat apa motivasinya untuk datang ke arena ini, untuk menjaga agar raut murung di wajah adiknya itu tak muncul akibat kehilangan dua... temannya. Gadis itu tak ingin tangis menganak sungai di kedua pipi adiknya saat melihat kedua temannya mati mengenaskan di arena, tak ingin. Setidaknya, biarkan Ferina mencicipi arena ini, dia toh sudah lebih besar dan bisa menjaga diri, no? "You. Go die to hell." Belati disarangkan ke tempat seharusnya belati itu berada, dada si anak Lima, tanpa ampun. Memasukkannya ke sela-sela rusuk, melukai jantungnya. Harus. Harus kena. Adiknya melihat di rumah, ia tak bisa mengecewakannya. Ibunya menunggu dengan cemas, berharap gadis sulungnya akan kembali. Gadis itu harus selamat. |
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |
















9:33 PM Jul 11