Welcome Guest [Log In] [Register]

MAY THE ODDS BE EVER IN YOUR FAVOR



[ INACTIVE ]
TERM 9: 2193 - 2194




[+] Topik AU: 4/5
[+] Visualisasi Asia: 3/3
[+] Capitol: 5/5
[+] Distrik Satu: 4/5
[+] Distrik Dua: 4/5
[+] Distrik Empat: 5/5
[+] Distrik Tiga Belas: 2/5
[+] Balita/Dewasa: 5/5



IndoCapitol


TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL
PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH
PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI
TRAINING CENTER || ARENA




Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain.

PEMENANG
HUNGER GAMES 54



{DISTRIK 1}



KREIOS EPHRAIM


MUSIM PANAS



21,3° - 23,6° C
21 Juni - 20 September
Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan.



WAKTU INDONESIA BAGIAN BARAT (JAKARTA)




Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

TWITTER & CHATBOX


Twitter
Chatbox



FORUM LOG
Waktu Update
Sabtu, 11 April 2015 Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out!

PEMBERITAHUAN
Kepada Informasi
Semua Member Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum
Semua Member Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2)
Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda.

Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru.

Bergabunglah bersama kami!

Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum:


Username:   Password:
Locked Topic
Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA
Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,743 Views)
Redemptus Maleveich
Member Avatar

Posted Image

Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala.

Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan.

Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena.

Empat puluh lima detik.

Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus.

Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi.

Tiga puluh detik.

Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa.

Lima belas detik.

Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian?

Terlambat.

KABOOM!

Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian.


Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol.
Offline Profile Goto Top
 
Replies:
Yasmine Silvertongue
Member Avatar

DISTRIK 10 || HP: 39 || POSISI: 6
TARGET: Terry Scott (Pistol)|| AP: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] || KS: [result]16&16,1d24,0,16&1d24[/result]
empat bungkus dendeng sapi


Lelah juga. Berapa sih umur pemuda ini? Rasanya tidak jauh lebih tua dan jauh lebih muda dari gadis Silvertongue ini. Gosh… Inginnya sih meninggalkan pemuda ini begitu saja. Ha, tetapi mana bisa? Mana bisa kalau ia sekarang terhalangi oleh langkah pemuda itu. Mau ngajak mati bersama? MIKIR LAGI YA, BUNG! Yasmine ingin hidup. Yasmine tidak ingin membayangkan keluarga dan teman-temannya harus menerima dia kembali dalam wujud berbeda. Pun kalau harus, ia tidak mau sekarang! Tidak seperti dikau, puh!

“Anak ajaib!” Yasmine mengguncang-guncang tubuh pemuda itu. Bahkan ia mengetok-ngetokkan pistol udaranya ke atas kepala si pemuda. Apa sih dia ini? Makhluk dari mana? Ciptaan Capitol kah? Gila ya, menghambat keinginannya untuk meraih Tume dan pergi secepat mungkin.

“Hoi, lihat aku sini!” Lihat matanya saja kosong. Tidak memiliki fokus. Jangan-jangan ini yang dinamakan mati suri. Yasmine tidak begitu mengerti bagaimana konsep sebuah mati suri terbentuk. Tetapi jika seseorang tampak begitu kosong dan masih memiliki jiwa di dalamnya, apa itu namanya kalau bukan mati?

”Please, lebih baik kamu pulang,” atau setidaknya berikan ia sedikit tanda atau petunjuk bahwa pemuda itu menangkap apa yang ia katakan dan lakukan sedaritadi. Tidak bisa? Oke.

Dengan Pistol udaranya, Yasmine kembali memukul pemuda itu di bagian ubun-ubun.
Offline Profile Goto Top
 
Aidy Joselin

DISTRIK 5
HP: - || POSISI: 4
Ransel Kecil
LAST POST


Beberapa menit yang lalu…

Aidy masih tercengang ketika melihat kematian seseorang terjadi secara langsung di hadapannya. Ia masih terkejut dengan kematian gadis dari sebelas yang sama-sama berjuang memertahankan hidup sepertinya.

Namun gadis itu benar-benar berjuang sekuat tenaga untuk memertahankan nyawanya, dia melakukan apa saja untuk menyerang kembali si gadis pencabut nyawa tersebut.

Bukannya Aidy tidak berusaha keras memerjuangkan nyawanya, namun ia… tidak sekuat gadis dari sebelas itu. Ia tidak bisa menendang atau memukul atau membanting gadis karier itu. Ia terlalu lemah untuk melakukan itu.

Mulanya, ketika ia menemukan kawat di dalam ransel mungilnya, ia sangat senang karena itu adalah benda yang sering ditemukannya juga di lima. Mungkin ia bisa membuat alat kejut listrik atau semacamnya untuk menyerang gadis karier itu kembali. Namun, gadis itu terlalu bringas untuk menyerang sehingga tidak memberikan jeda sesaat untuk Aidy agar dapat membuat barang-barang yang idenya sudah berada di dalam kepalanya itu.

Dan sekarang, Aidy baru merasakan apa yang dirasakan gadis dari sebelas itu. Bagaimana sakitnya, bagaimana pedihnya berada di dalam posisi seperti ini.

Cekikan plastik di leher sepertinya belum cukup bagi gadis karier itu untuk menghabisi Aidy. Tapi tak Aidy sangka bahwa ia akan menerima tusukan di jantung dan perut. Ia membayangkan bagaimana orang-orang distriknya terutama ayahnya menyaksikan ini jauh di sana. Ia belum siap mengucapkan salam perpisahan atau semacam itu. Dan mungkin juga Aidy tidak akan pernah bisa melakukannya.

Karena rasa pedih ini telah menjalar ke sekujur tubuh dan dingin menusuk merayapi tubuhnya, apa sebentar lagi ia akan kaku seperti gadis dari sebelas itu?

Melihatnya saja rasanya sudah menyakitkan. Apalagi jika merasakannya sendiri. Ia tidak pernah membayangkan bahwa rasanya akan sesakit ini.

Apakah hidupnya akan berakhir disini?

Sebelum dirinya roboh, sebelum matanya tertutup, ia sempat melihat sekilas ke arah teman sedistriknya yang berada lumayan jauh darinya. Berharap pemuda itu juga melihatnya walau sepersekian detik. Lalu memberikan seulas senyum tanda perpisahan. Ia ingin memberikan kesan terakhir yang baik pada pemuda Annelli itu, memberikan pesan bahwa ia akan selalu baik-baik saja meskipun nantinya ia tidak berada disini lagi.

For this is the end
I've drowned and dreamt this moment
So overdue I owe them
Swept away, I'm stolen


Kini matanya perlahan menutup, detak jantung dan denyut nadinya perlahan berhenti. Tubuh lemas ketika ruh terlepas pergi. Ia tidak tahu lagi apakah sekarang ia masih tegak berdiri atau sudah jatuh tersungkur ke tanah. Yang ia rasakan adalah ringan seringan kapas.

Time for me to fly
Time for me to soar
Time for me to open up my heart and knock on heavens door


Time for me to lay down all my worries and I'll spread my wings
Time for me to fly


The gates of heaven will open wide
I will be
I will rise
There won't be compromise
As I take to the open skies


I will fly away

Dibuka boleh, gak dibuka jangan #heh

Offline Profile Goto Top
 
Madeleine Lethbridge
Member Avatar

DISTRIK 2
HP: 68 || POSISI: 1
TARGET: DISTRIK 11 (Elisa aku-tidak-tahu-nama-belakangmu)
AP: [result]6&4,1d10,2,6&1d10+2[/result] || KS: [result]21&21,1d24,0,21&1d24[/result]
2 pistol udara dan 2 botol madu



Mari kita ganti dewi saja.

Alethea maupun Solanin sudah tidak bisa diandalkan.

Baiklah.

“A-ku bo-san.”

Dengan bertubi, pisau itu dihujankan pada perut gadis Sebelas. Tanpa ampun dan kepeduliaan lebih. Darah mungkin setelah ini akan benar-benar mengotori seluruh tubuh Madeleine. Tapi, at least, itu akan lebih baik ketimbang ia yang mandi darah sendiri.

Rekan-rekannya sudah tampak selesai dengan tugas masing-masing. Yang Colleen well, malah masih tampak bugar dan tidak bernoda—sama sekali tidak terlihat luka-luka yang ada di tubuh gadis itu. Mujur—atau pintar, atau kuat? Tidak peduli. Karena Madeleine masih punya urusan dengan gadis yang belum mau mati ini. Floryn Lee sudah jaya bersama Hada yang menghilang barangkali ke Curnocopia. Madeleine akan menyusul mereka, tentu—secepatnya.

Elisa, si Sebelas, ini sudah sekarat! Kalau dewa maut luput mencabut nyawanya, bilang saja; katakan pada Madeleine dan dia akan membantumu mencabutnya. Dia sudah terbiasa membantu, dan mencabut satu nyawa lagi tidak akan membuatnya kerepotan, sungguh. Kamu boleh melewatkan ucapan terima kasih karena Madeleine melakukannya dengan tulus dan ikhlas. Manis benar, bukan?

Jadi, kenapa kamu tidak berniat membantu Madeleine yang sangat baik hati ini, Dewa?
Offline Profile Goto Top
 
Zephaniah Lore
Member Avatar

DISTRIK 1 || HP: 76 || POSISI: 6
Target: Antonio Shadowsong - D9 (KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result] ) || AP: [result]10&8,1d10,2,10&1d10+2[/result]




Uhuk... uhuk....

Gadis 8 ini banyak omong. Zephaniah mendengus. Sebelah tangannya menyisir rambut depannya yang jatuh menutupi mata, menyibaknya ke belakang. Kepalanya masih terasa kosong tapi ia sudah bisa lebih fokus sekarang. Paru-paru keparat, mengganggunya di saat seperti ini. Dipandanginya gadis delapan itu, yang sejak awal tak pernah ia sebut namanya. Sekalipun ia tahu.

"Kristeen Franscois...," panggil Zephaniah setelah gadis itu memintanya memberi ciuman sekali lagi. Ia tahu itu hanya sindiran. Ia sendiri mencium gadis itu hanya sebagai gurauan belaka. Tapi tiba-tiba gadis itu menggerakkan sikutnya, menghajar bagian vitalnya. Kalau saja gadis itu tidak sedang sekarat, pukulan itu bisa berakibat fatal untuknya. "Kau sudah terlalu lemah... jangan banyak bergerak." Lalu ia terkekeh saat gadis itu bilang bahwa ia tidak membenci Zephaniah. Oh, yang benar saja. Tidak akan pernah membencinya. Padahal ia sudah memperlakukan gadis itu selayaknya mainan. Dan ia melakukannya sambil tertawa. Ia tak peduli pada gadis itu, tentu saja. Ia hanya ingin melihat seperti apa seorang gadis bernama Kristeen Franscois menghadapi kematiannya.

Dan tiba-tiba saja Urie menghabisi gadis itu.

"Cih... sudah sekarat saja masih sok suci," gumam Zephaniah. Tidak berbuat apa-apa hanya menyaksikan gadis itu menghembuskan napas terakhirnya. "So long, Franscois."

Satu sudah mati. Ada satu lagi yang harus ia bereskan. Pemuda distrik 9 yang juga sudah sekarat itu.

Zephaniah menghampirinya dengan kapak di tangan.

"Say bye bye to your head, nine," ujarnya lalu mengayunkan kapaknya dengan cepat.
Offline Profile Goto Top
 
Ferina Secret
Member Avatar

DISTRIK 4 || HP: 66 || POSISI: 6
TARGET: DISTRIK 7 CE (Polaris; belati) || AP: [result]8&6,1d10,2,8&1d10+2[/result] || KS: [result]18&18,1d24,0,18&1d24[/result]
2 pistol udara (4) — tempat minum — belati
aku sayang ddr. pake banget. Nih, cium tjintah. :*

Peluh sama sekali tak dirasakannya mengalir dari pelipisnya. Hanya satu keingingan untuk pulang dan menjalani kegiatan yang biasa dilakukannya yang kini berada di dalam kepalanya, memenuhinya mungkin juga sebuah dorongan tak langsung bagi gadis satu ini untuk menggores, menarik pelatuk atau semua hal yang bisa dilakukannya untuk bertahan hidup. Mereka, dirinya, gadis itu, dan anak Adam satu ini, bukankah memberi kesan seolah mereka adalah hewan yang saling bergulat hanya sekedar untuk mendeklarasikan bahwa tempat ini milik mereka atau mengatakan jikalau tempat ini dimiliki orang mereka sayang, kejadian asli terkadang lebih menyakitkan dan menyeramkan ketimbang asli gambaran asli ataupun gambaran dalam sebuah cerita.

Percayalah, arena ini lebih kejam daripada cerita-cerita yang pernah kau dengar dari mulut ke mulut, menceritakan seorang pemenang. Atau dari apa yang kau lihat di televisi. Semua berbeda. Lebih nyata, lebih dekat.

Mimpi buruk.

Belati itu memasuki rongga rusuk si anak lelaki Lima, membuatnya limbung seketika, jatuh, dijemput oleh malaikat maut. Selangkah lebih dekat ke distrik, peduli atau tidak ia hanya berharap mengenai hanya itu—beberapa persen untuk mereka untuk kembali ke rumah menikmati bagaimana kehidupan sehari-harinya berjalan begitu mulus.

Tanpa keraguan tanpa lagi rasa takut walaupun mungkin saja suatu saat nanti ia kembali merasakannya, merasakannya walaupun secara tak langsung—bukan raganya yang sakit dan tersiksa melainkan jiwanya yang tersiksa harus menerima sebuah kenyataan pahit namun, biarkan semua hal berjalan sebagaimana seharusnya.

"It's over, Ethan, let's go."

Gadis ini tidak menyalahkan si anak lelaki Nestor perihal tidak menyerang, tidak masalah. Lelaki itu mempunyai luka yang sama dengan dirinya, walaupun di bagian yang lebih vital. Tak apa, tak masalah. Gadis itu bisa memaklumi, walaupun sekarang Ethan lebih seperti mengekori dirinya.

Apakah ini yang dirasakan oleh Alethea dulu, atau Abby? Atau Secret Rozent? Gadis ini tidak ingin mati mengenaskan di arena, demi... siapapun. Tidak mempunyai keyakinan menganut apa atau siapa membuatnya limbung, tak keruan. Membuatnya berada di tengah-tengah, terombang-ambing bagai pelampung di tengah ombak pasang.

Sama halnya seperti ia juga menggoreskan belati kepada sosok Hawa tanpa nama, membuat luka besar di bagian leher, tak peduli bagaimana jadinya nanti, hanya sekedar berharap rasanya sama sekali tak salah.
Offline Profile Goto Top
 
Colleen Roosophire
Member Avatar

DISTRIK 1 | POSISI: 1 | HP: 100
TARGET: CE D9(Stellaria)(dengan senjata: Tonjok) | AP: [result]10&8,1d10,2,10&1d10+2[/result] | KS: [result]21&21,1d24,0,21&1d24[/result]
Barang yang diambil: kompas dan sebungkus dendeng sapi


Akhirnya. Si Isaac, bocah dari Distrik Tiga, mati juga. Jerit payah Colleen menamparinya terbayarkan. Masa hanya untuk menampar saja butuh waktu yang lama. Ampun deh.

Kalau begitu, sekarang hanya tinggal si gadis Sembilan dan Colleen kan? Tenang, gadis Roosophire ini akan membunuhnya singkat. Tidak akan makan banyak waktu. Karena sebelumnya, ia sudah menghabiskan banyak waktu lebih dari cukup hanya untuk membuat gadis itu sekarat. So right know, the finishing blow.

Dengan tangan yang masih dikepal, dia menonjok perut gadis itu kuat-kuat. Masih berharap, gadis itu memuntahkan isi perutnya. Kalau beneran dimuntahkan, gadis dari Distrik Satu itu berjanji akan tertawa yang kencang. Banget. Pake z. Jadinya kencang bangetz.

Maniknya melihat beberapa karir sudah menyelesaikan tugas mereka. Mayat-mayat sudah berserakan. Tenang saja, mayatnya akan nambah satu lagi kok. Ketika gadis bersurai pirang ini selesai menghabisi Stellaria, pasti mayat-mayat yang berserakan nambah satu.

Tentunya, tidak ada satu pun karir yang mati. Jika ada, menyedihkan sekali. Mati di tangan non-karir. Tapi itu lebih baik dari pada mati karena dibunuh oleh mutan atau mati karena suatu kecelakaan di Arena nantinya. Banyak sekali peserta-peserta yang mati dikarenakan serangan mutan. Rasanya jika mati seperti itu, matinya kurang berkesan. Kurang seru. Kurang dramatis.

Matilah kau Stellaria.
Offline Profile Goto Top
 
Exodus Kruchev
Member Avatar

DISTRIK 2
HP: 78 || POSISI: 7
TARGET: Terry Scott (D7) & Altessa Lychnia (D6) || AP: [result]5&3,1d10,2,5&1d10+2[/result] || KS: [result]15&15,1d24,0,15&1d24[/result] & [result]14&14,1d24,0,14&1d24[/result]
4 kotak biskuit



Maddy sudah tidak terlihat lagi. Entah ada di Cornucopia bagian mana sekarang. Fisik tubuh seperti gadis itu sebenarnya harus dijaga, tapi melihat apa yang telah dia lakukan pada Kevin Fremunzar, sepertinya dia bisa menjaga dirinya sendiri. Fokusnya mengunci seorang yang sepertinya tidak terlalu diurusi oleh kawan Karier. Exodus segera menerjang pemuda itu. Jangan berharap bisa kabur dari Bloodbaths karena tidak memberikan perlawanan. Mau ditaruh ke mana muka nelangsamu di hadapan keluarga dan distrik? Memalukan. Tidak tahu malu.

Nah, kau mulai terdengar seperti saudaramu.

Tutup mulutmu! Dia tidak pantas dibanding-bandingkan dengan diriku, idiot. Jika dia bisa, maka seorang Exodus Kruchev juga mampu melewati ini. Tidak dengan cara barbar yang dulu dilakukan saudaranya. Exodus tahu bagaimana dia harus mengurus begundal-begundal di sini. Dia tahu mana yang terbaik untuk dirinya.

“Asalmu dari Enam, kan?” Sebenarnya pemuda itu sudah tahu duluan, tapi kalau sekadar basa-basi di saat ini rasanya tidak apa-apa. Karena memang itu yang diinginkan Exodus, mengulur-ngulur waktu agar dapat berkenalan lebih lanjut dengan gadis yang menarik perhatiannya. Masih menjepit lehernya. Bibirnya mendekat ke telinga lawan. “Jangan bergerak kalau tidak mau menyesal, manis.
Offline Profile Goto Top
 
Madeleine Lethbridge
Member Avatar

DISTRIK 2
HP: 68 || POSISI: 1
TARGET: DISTRIK 11 (Elisa aku-tidak-tahu-nama-belakangmu)
AP: [result]7&5,1d10,2,7&1d10+2[/result] || KS: [result]18&18,1d24,0,18&1d24[/result]
2 pistol udara dan 2 botol madu
ddr aku lelah T___T bantu akuuu T_________T I BEG YOU T___T



Tenang.

Inhale. Exhale.

“I hate you.” Sisipnya dengan nada mendesis namun tetap tersenyum. Madeleine menampilkan wajahnya yang paling manis dan polos yang bisa dibuat. “Kamu membuatku sakit hati, tega sekali.” Ia membentuk wajah dan meraut sedih yang tidak dibuat-buat meski malah jatuh terlihat merendahkan.

Gagang pistol Madeleine, ia hantamkan ke tengkuk gadis itu. Kehabisan cara, ia sudah menggunakan banyak cara untuk mencoba mematikan gadis itu. Tapi barangkali nyawanya si gadis tidak cuman satu, tapi banyak—mirip kucing yang konon bernyawa sembilan. Satu, dua, tiga—Madeleine menghitung berapa nyawa cadangan si gadis yang seharusnya sudah melayang. Banyak—banyak sekali, karena Madeleine sudah menyerangnya bertubi-tubi dan tetap berujungkan gagal. Bagaima? Apa masih ada nyawamu yang masih tersisa, Elisa?

“Apa kamu tidak lelah, my friend?” pipi itu dielus lembut, wajah Madeleine pun turut melembut, tapi ini palsu, kalau kamu tahu. “I know you have been trying so hard to live,” mengangguk-angguk dengan lagak paham, ia mengimbuhkan, “Tapi akhiri perjuanganmu sampai di sini. Kamu sudah terlalu rapuh untuk itu. Tidakkah kamu sadar?” tangan mungil Madeleine menunjuk luka-luka yang ada di perut si gadis, bermain-main di antara luka-luka itu.


“Give up.”

Ia berbisik, mirip memerintahkan.
Offline Profile Goto Top
 
Yasmine Silvertongue
Member Avatar

DISTRIK 10 || HP: 39 || POSISI: 6
TARGET: Terry Scott (Pistol)|| AP: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] || KS: [result]9&9,1d24,0,9&1d24[/result]
empat bungkus dendeng sapi


Ia berlutut. Terakhir kalinya ia melambaikan tangan di depan mata pemuda tanpa nama itu. Mengucurkan darah tidak. Meringis pun juga tidak. Antara kasihan dan kesal Yasmine dibuatnya. Cornucopia masih tegang, dan karena ketegangan ini dan sudah banyaknya mayat yang bergelimpangan, ada baiknya Yasmine pergi. Melesat bersama Tume, berjuang lebih lama lagi. Rasanya ia ingin menitikkan air mata. Freida… Harry…

Jangan sekarang. Ia tidak ingin runtuh sekarang. Akan ada saatnya ia diam dan berduka kepada dua rekannya itu. Freida, Harry, mereka pergi di atas tangan yang sama. Tume… rasanya ia begitu jauh dan Yasmine rasa ia tidak sanggup kehilangan satu-satunya rekan distrik yang tersisa itu. Sementara pemuda ini? Yasmine ingat ia berasal dari Tujuh. Bersama dengan dua gadis lain yang tidak begitu Yasmine kenal pula. Mungkin karena tahun ini distrik tersebut berubah sangat kalem dan hening. Ia kasihan, jujur saja, mereka mungkin bisa beraliansi jika pemuda itu tidak bertingkah bak zombi seperti ini.

Dan rasanya, Yasmine takkan dimaafkan jika ia tega meninggalkan si pemuda di lapak Cornucopia. Tanpa perlindungan dan berakhir mengerikan di tangan para Karier. Maka, Yasmine mengusap rambut dan pipi pemuda itu singkat, sebelum ia akhirnya kembali menghantam tengkuk leher dan kepala bagian belakang pemuda itu dengan pistol udaranya. Kalau ia bisa langsung melesat pergi ke Surga pun ia juga mau, daripada hanya sekadar mengirim mereka kesana dan berharap mereka akan damai disana.
Offline Profile Goto Top
 
Pietronella Hart
Member Avatar

DISTRIK 2 || HP: 86 || POSISI: 9
TARGET: DISTRIK 7 (Polaris Korhonen) || AP: [result]5&3,1d10,2,5&1d10+2[/result] || KS: [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result]
2 pistol udara, 1 tombak, 1 belati




.............dan mati.

Baiklah.

"Dan kau melakukannya semudah itu." Seharusnya, ia tak perlu berucap demikian terhadap salah seorang kawan satu distriknya. Apalah, ia terlanjur kesal dengan apa yang menimpanya hari ini. Seolah, tamparan sosok tersebut dianggap seperti terjangan halilintar. Dalam hitungan detik, gadis tersebut sempoyongan, dan tergolek begitu saja di atas rerumputan yang dihias cantik. Meh. Iri. Piotrenella Hart sangat iri atas hal barusan. Masih tidak terima. Kalau dipikir, siapa daritadi yang berusaha mati-matian menghabisi nyawa gadis tersebut, eh. Usahanya, nyaris tak punya harga. Tak mau berucap lebih banyak, dan ia pun beralih memunggungi mayatnya.

Pergi. Ia bosan melihat wajah gadis itu.

"Butuh bantuan, Fer?"

Masih sok, seperti biasa. Tak memedulikan darah yang merembas keluar melewati pori-pori pakaian di bagian ulu hatinya yang masih terlindung rangka. Kawannya yang satu ini, rupanya, baru saja berurusan dengan salah seorang gadis asal distrik tujuh. Siapa namanya? Polaris. Sebelum malam pun, Polaris sudah harus mati. Terakhir yang ia ingat, ialah bintang.

Sudah yang kesekian kali, ia menghunuskan tombaknya. Mata tombaknya, kali ini khusus ia tujukan kepada jantung gadis yang satu itu. Polaris. Bintang yang lain mungkin menunggunya di angkasa sana. Ha. Ha.
Offline Profile Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Create a free forum in seconds.
Learn More · Sign-up for Free
Go to Next Page
« Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic »
Locked Topic


Theme design by Drama, theme coding by Lewis. of Outline and edited by Ntin, Ubi, and Ilma.