|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,742 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Ferina Secret | Sunday Jun 2 2013, 10:49 AM Post #381 | |
![]()
|
Ada sebuah buku yang pernah ia baca di waktu senggang kala kesunyian begitu menyiksa dan gadis itu tak punya kuasa lagi untuk melawan. Pun ada suatu penggalan dari buku itu yang membuatnya tergugah. Even when I detach, I care. You can be separate from a thing and still care about it. If I wanted to detach completely, I would move my body away. I would stop the conversation midsentence. I would leave the bed. Instead, I hover over it for a second. I glance off in another direction. But I always glance back at you. Apakah gadis itu mengalaminya? Ya. Ia selalu melihat kembali kepada satu orang, seseorang yang partikuler, satu-satunya, walaupun gadis itu tidak menunjukkannya. Adalah rasa denial untuk mengakui bahwa ia memang menyukai, bahwa ia memang menyayangi—terlepas dari afeksi yang juga diterimanya. Gadis ini memang tak terlalu menyukai afeksi mengingat dahulu ia pernah dibuang, tetapi bukan berarti ia buta. Bukan berarti ia tidak memperhatikan, bukan berarti ia juga tak menyadari. Setengah hatinya ada di distrik, otaknya dipenuhi kelabu sang ayah—bagaimana ia tidak gila? HAHAHAHAHAHAHAHAHAHABRENGSEK. Gadis sulung Secret ini meludah ke wajah si Hawa Tujuh, menantang. Bilah belatinya masih menempel di leher si gadis, mencoba menakuti walau hatinya tercabik, tapi belum memberikan alasan khusus untuk menyerang. Gadis ini ingin mendengar jawabannya. "Punya kata-kata terakhir untuk mati, darling?" edit credit, ke The Lover's Dictionary ya. Edited by Ferina Secret, Sunday Jun 2 2013, 10:50 AM.
|
|
![]() |
|
|
| Zephaniah Lore | Sunday Jun 2 2013, 10:52 AM Post #382 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 76 || POSISI: 6 Target: Antonio Shadowsong - D9 (KS: [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result] ) || AP: [result]10&8,1d10,2,10&1d10+2[/result] 1 Ransel Besar, 1 kapak, 1 belati, 2 pistol udara Dan cairan merah itu muncrat dari leher si sembilan. Sayangnya, ia memukulnya terlalu lemah sehingga leher itu masih pada tempatnya meski sudah dalam bentuk yang mengerikan. Wajah Zephaniah kini berbercak darah, dan dalam satu usapan ia menghapus darah itu. "Lehermu keras juga, ya...," gumam Zephaniah sambil terkekeh. "Aku tidak bermaksud menyiksamu begini, loh. Niatnya sekali tebas kau langsung bebas." Uhuk... uhuk.... Sebentar, ya. Biarkan Zephaniah istirahat sebentar. Dadanya semakin sakit hingga ia susah bernapas. Ia terbungkuk, tangannya meremas rumput saat menopang tubuhnya. Napasnya terengah-engah. Sial. Kondisi paru-parunya memang semakin parah belakangan ini. Paling-paling kalau ia tidak terpilih jadi tribut, ia akan mati gara-gara penyakitnya. Dan itu sangat membosankan. Ya, kan... Zinnia? Lebih baik merasakan betapa menyenangkannya pesta di arena Hunger Games sebelum mati. Ia ingat bagaimana dulu Zinnia malah jadi jatuh kasihan pada para peserta non-karir yang mati. Dulu ia senang karena melihat kakaknya ternyata masih punya rasa kemanusiaan. Tapi sekarang... ia malah menyayangkan hal itu. Membunuh itu menyenangkan. Mendengar suara rintihan mereka yang kesakitan itu membuatnya merasa kuat. Tatapan mereka yang ketakutan, dan permohonan yang tercetus dari bibir mereka saat ajal makin mendekat membuatnya merasa bersemangat. Uhuk... uhuk.... "Berdoa saja semoga kali ini kau benar-benar tamat," katanya pada pemuda distrik 9 itu sambil mengayunkan kapaknya lagi. |
|
![]() |
|
|
| Pietronella Hart | Sunday Jun 2 2013, 08:14 PM Post #383 | |
![]()
|
DISTRIK 2 || HP: 88 || POSISI: 7 TARGET: Stephanie White - Distrik 9 || KS: [result]17&17,1d24,0,17&1d24[/result] || & Polaris Korhonen - Distrik 7 || KS: [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result] || AP: [result]10&8,1d10,2,10&1d10+2[/result] 2 pistol udara, 1 tombak, 1 belati Distrik 9. Oh, dia ini keji, kawan. Dia selalu melihat kawanan yang lemah sebelah mata. Mengapa? Karena, mereka memang pantas dilihat melalui pandangan seperti itu. Mereka itu lemah, kawan. Berbeda dengan para gadis Hart yang lain, atau yang pernah hidup dengan menyandang nama Hart ini. Sekali lagi, mereka berbeda. Satu. Dua. Tiga. Dia menancapkan tombaknya ke arah perut milik gadis yang berasal dari Distrik 9 tersebut, siapa namanya? White? {Wtephanie-distrik9} Sayangnya, bagi gadis Hart beli ini, warna merah darah lebih cocok bersanding dengan tubuh serta nama si gadis. Lalu, dengan gerakan yang lugas di menarik tombak tersebut. Segera, dengan cekatan, memindahkan ujung tongkat tersebut ke arah perut salah satu gadis yang lain. {Polaris -Distrik7} Bukan, bukan, bukan. Dia tidak membenci makhluk yang konon berasal dari planet Venus tersebut, karena dia juga berasal dari planet yang sama dengan mereka. Hanya saja, ini adalah cara terbaik untuk menang. Pertarungan ini sengit. Dunia ini keras. Siapa yang kuat, mereka yang menang. Siapa yang berani, mereka yang berada di peringkat teratas di rantai makanan. Yang mengatur, mengontrol semua hal. Untuk kesekian kalinya, Pietronella Hart menyunggingkan senyum kemenangan. Ia terengah, namun ia tidak kalah. Ingat, para gadis Hart dituntut untuk menjadi ynag terbaik. Mereka diajarkan hal tersebut, setiap hari. Camkan hal tersebut baik-baik, setiap hari. Ha. Ha. Ha. |
|
![]() |
|
|
| Irvette Schwan | Sunday Jun 2 2013, 08:15 PM Post #384 | |
![]()
|
DISTRIK: 3 || HP: 53 || ARENA SELANJUTNYA: [result]1&1,1d3,0,1&1d3[/result] “Irvette Schwan, terserah mau panggil Irvette, Irv, atau Schwan, asal bukan itik buruk rupa.” Astagfirullahaladzim, dosa apa dia ketemu orang macam ini. Loe pikir dirobek mulutnya enak, gitu? Ditendang anu tuh nggak seberapa dibanding itu, mikir dong ah. Sejujurnya sih ia juga tidak tahu nama pemuda itu, sih, tapi ya biarin ya. Males amat kenalan sama orang yang nyakitin. Terus kenapa tadi sebut nama. Dinding mana dinding. Rasanya Irvette ingin membunuh dirinya sendiri dengan cara membantingkan tubuhnya ke dinding beton berulang-ulang kali. Sumpah, mending mati dengan cara begitu dibandingkan di robek-robek. Asem abis, asem. Sumpah, Irvette kesal, sangat kesal. Rasanya pengen bejek sesuatu. Sesuatunya akan sangat baik kalau pemuda dari distrik dua itu. Demi apa pun, ngumpulin ramblingan buat mengisi waktu itu susah banget, susah banged pakai D. Mana dia belum pengen kabur lagi, rasanya pengen balas dulu sebelum kabur. Ia dia memang bego, nggak usah disebut bego lagi. “Kamu kenapa sih? Stress ya? Atau udah gak punya pikiran? Atau susah move on?” Oke, yang terakhir itu nggak ada hubungannya sama keadaan yang ada. Tapi siapa tahu ternyata nyambung dan omongan asalnya ternyata memiliki arti terpendam yang tidak dimaksud. Siapa tau ternyata ia punya ilmu cenayang, gitu. Sudah lama ia ingin punya ilmu kecenayangan, asyik kan bisa membaca orang lain dan mungkin mengetahui masa depan. Jadi setidaknya ia bakal tahu ia bakal mati dengan cara apa, jadi setidaknya ia bisa menghindari dan mencari cara mati yang lebih keren. …..APAAN DEH, VETTE, KENAPA RAMBLINGNYA GITU, NGGAK BOSEN APA. Pemuda itu mencoba menyerang lagi, melambungkan (?) pisau ke hidungnya dan ia buru-buru menghindar, ogah jadi pesek gara-gara diserang dengan cara begitu. Plis, ia sudah suka mukanya biar ia nggak cantik, kenapa harus diancurin, sih. Mending tangan deh dibandingin muka, ia sudah riset kalau memukul pakai kepala lebih sakit dibandingin memukul pake tangan, soalnya. Jangan tanya kapan risetnya dan ke siapa, ia tidak tahu sama sekali. Kini aku disini Cuma sendiri Tiada yang mencari Sampai hati Sampai begini Kau tak peduli Ugh... teganya[1] Agak-agak cocok lah ya dengan keadaannya sekarang. Soalnya pemuda pendek bertampang sengak itu memang tega abis. Dia nggak salah apa-apa, nggak, dia cuma mau mati dengan tenang, tapi gara-gara pemuda jelek berhati oli itu satu-satunya impiannya kayaknya nggak bakal tercapai. Ia mau mati dengan tenang, mau mati dengan tenaaaang, nggak pakai sakit. Susah amat sih. Presiden Snow jelek, jeleeek. Makan tuh bunga mawar sedus, sama durinya sekalian. “Kamu……JELEK, PENDEK, KAYAK BEBEK!” Itu teriakannya saat ia lagi-lagi di tusuk di kepala. Ya Allah, dia cuma menyerang sekali, nggak membahayakan lagi, cuma bisa menimbulkan impotensi, tapi kenapa balasannya gini banget. Masa ini gara-gara ia belum sungkem ke mama, ke papa, ke teteh, jadinya disiksanya kayak udah disiksa sama demon gini. Ia juga belum sungkem ke distrik tiga, tapi setidaknya ia punya alasan! Waktunya cuma sedikit setelah direap! exceptional, adj.: When a person is so extraordinary that you are willing to set your rules aside.[2] Extraordinarily awful, yes. You are willing to set your rules aside. Beneran, kok. Padahal ia ada rencana buat kabur begitu sempat, tapi gara-gara kesal sama satu orang aja, Jadinya sampai sekarang nggak kabur-kabur, padahal dari tadi sudah bisa, lho. Tapi berhubung gigitannya tadi sudah berhasil, jadi sekarang rasa dendamnya sudah terbalaskan tapi ia sama sekali belum lega. Soalnya juga tersampaikan sedikit, sangat sedikit. Ia baru puas kalau sudah bisa menusuk pemuda dua itu dengan sesuatu, sesuatu yang tajam. Tapi sayang lagi-lagi gara-gara keleletannya ia gagal untuk untuk mendapatkan senjata. Belum ya, belum bisa membalas. Tidak tahu sih bakal berubah jadi tidak bisa membalas atau nggak. Kemungkinan tidak bisa membalas itu besar banget, sih. Nah, sekarang ia nggak akan diam lagi. Ia mau kabur. Berbalik seperti orang ngambek dan kemudian langsung berlari cepat-cepat. Kalau nggak salah temen sedistriknya sudah metong semua, sedih ya. Tapi ya…gyaaaa ia tidak mati di bloodbath gyaaa, berhasil melewati ekspetasi diri sendiri gyaaa. Fanboying diri sendiri dulu boleh? [1] Tangga – Oh Teganya [2] @loversdiction |
|
![]() |
|
|
| Zephaniah Lore | Sunday Jun 2 2013, 08:20 PM Post #385 | |
![]()
|
DISTRIK 1 HP: 76 || Posisi: 6 menuju Cornucopia Target: - Membawa: ransel besar, 1 ransel kecil, 1 kapak, 1 belati, 2 pistol udara Uhuk... Uhuk... Selesai sudah. Setidaknya untuk sementara. Tribut yang lain sedang sibuk saling membantai, semoga saja tak satu pun tertarik untuk menyerangnya. Tidak sekarang, ia perlu istirahat. Setelah istirahat nanti ia akan kembali bersenang-senang. Memenggal beberapa kepala lagi boleh juga. Hehehe. Zephaniah memantau area bloodbaths, mencari tempat di mana ia bisa beristirahat sejenak. Dilihatnya Florynn Lee, gadis dari distrik 4 yang sebaya dengannya. Gadis itu terlihat sekarat. Ia pun memutuskan untuk ke sana, ia tak mau gadis itu mati. Gadis itu teman yang cukup menyenangkan diajak bicara. Akan membosankan jika harus melewatkan beberapa hari tanpa adanya dia. "Hei, Flo... Kau oke?" tanya Zephaniah begitu ia mencapai cornucopia. Pemuda itu menghenyakkan diri di samping Florynn. Gadis itu tidak menjawabnya. "Jangan mati cepat-cepat. Nanti kau ketinggalan bagian asiknya." Zephaniah terkekeh, lalu terbatuk-batuk. Sakit. Sial. "Aku mau istirahat dulu sebentar. Kurasa kau juga sebaiknya istirahat, Flo. Kita butuh banyak tenaga setelah bloodbaths ini selesai." Ia menghela napas, merasa bodoh karena berbicara pada seseorang yang sudah tak mungkin lagi bisa menjawabnya. "Bodoh...." Zephaniah menggenggam tangan gadis Lee itu. Kepalanya tertunduk. Lalu setetes air mata lolos jatuh dari sudut matanya. "Katamu mau sama-sama...." |
|
![]() |
|
|
| Maysilee Donner | Sunday Jun 2 2013, 08:26 PM Post #386 | |
![]()
|
DISTRIK 12 || HP: 100 || POSISI: 9 TARGET: DISTRIK 8 (Curealight) || AP: [result]10&8,1d10,2,10&1d10+2[/result] || KS:[result]4&4,1d24,0,4&1d24[/result] 1 pistol udara, 1 pisau, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit Belum cukupkah? Dan kalau dia berpikir demikian, apakah Maysilee Donner sudah sama seperti mereka? Mereka siapa, mungkin kamu bertanya, namun Maysilee tak bisa menjawab karena sebetulnya mereka semua ini sama saja. Belum cukupkah? Begitu pertanyaannya, seiring Maysilee terhuyung kala mundur, pisaunya terayun lemah di tangan. Serangannya meleset, dan dia tidak mau ambil resiko dengan menutup jarak di antara dia dan gadis bersurai gelap itu. Tidak cukup, karena usahanya memang tidak sekeras yang lainnya. Tidak cukup, karena dia memang tidak sekuat yang lainnya. Tidak cukup karena niatnya tidak semantap yang lainnya pula. Tidak cukup karena—dia memang tidak sanggup. Lawannya masih berdiri, meski tadi pisau dan tendangannya kena. Apakah dia memang tidak cukup kuat? (Apakah dia salah pula karena berpikir seperti ini?) Nyatanya gadis entah-dari-distrik-mana itu tidak tumbang juga, sementara Maysilee terus mendengar meriam diledakkan. Dia menghela napas lagi. Pisau itu sudah bernoda darah, namun tidak pula semuanya usai. Ini tidak berakhir. Tidak sampai di sini. Selepas dari Bloodbaths, kalau dia masih hidup, bukan tidak mungkin dia akan membunuh—kalau tidak di sini, di mana lagi? Kalau tidak mau mati, dia harus apa lagi? Dia punya pilihan, memangnya? Oh, tolong. Dia mulai merasa muak. Ralat, dia muak sejak dia pertama kali datang. Otaknya mereka ulang percakapan perpisahan dengan keluarganya. Ayahnya. Ibunya. Kembarannya, Mayleine. Tolong, tolong, tolong. Maysilee maju lagi dan menyerang, lagi-lagi menusuk dengan pisaunya ke perut sang lawan. |
|
![]() |
|
|
| Tume Tinkham | Sunday Jun 2 2013, 08:27 PM Post #387 | |
![]()
|
DISTRIK: 10 || HP: 75 || ARENA SELANJUTNYA: [result]1&1,1d3,0,1&1d3[/result] Tume Tinkham merasa sudah saatnya dia pergi dari tempat jahanam ini. Baginya ini sudah seperti kuburan ketika ada hampir sepertiga dari peserta tumbang. Ini benar-benar mengerikan. “Kau ikut denganku?” Bocah laki-laki berumur dua belas tahun ini menoleh ke Shinzo. Ia sudah siap untuk kabur setelah merasa jumlah peserta yang sudah tumbang cukup banyak dari yang pernah terjadi di beberapa tahun terakhir. Harapannya Pinoy dan Gavyn tidak akan mengejar mereka. Selagi menunggu jawaban, Tume mencari Yasmine dan mendapati perempuan itu berada cukup jauh darinya. Di sekitar Yasmine juga bersebaran tubuh tak bernyawa. Dia berusaha untuk tidak memikirkan berapa orang yang Yasmine bunuh karena bisa saja perempuan itu juga nyaris dibunuh. Dia sama sekali tidak peduli. Baginya melihat gadis itu masih bergerak di sana adalah pertanda bahwa dia belum kehilangan seluruh distrik sepuluh di arena—ini membuat Tume merasa senang karena dia tidak ingin sendirian di arena karena Freida dan Harry sudah tidak ada. “Yasmine! Ayo, pergi dari sini!” Setelah berteriak seperti itu, adik dari Gutsche Tinkham ini segera memulai larinya. Dia punya asma, tapi dia akan bertahan hingga dirinya mendapat zona yang aman. Sampai napasnya tak mampu baru dia akan berhenti. Ke mana tujuan mereka juga tidak begitu ia peduli. Saat ini dia hanya berharap bisa lari sejauh mungkin dari kawanan karier. Freida sudah tidak ada. Harry juga sudah tidak ada. Hanya tinggal mereka berdua harapan dari distrik sepuluh. Berdua mereka bisa bertahan entah sampai kapan. Kalau Shinzo ikut maka jumlah mereka menjadi tiga orang dan dengan jumlah itu mereka akan lebih fokus untuk bertahan hidup sebelum Capitol tertarik untuk memberikan badai kedua untuk mereka. Sampai ketemu lagi. Gutsche, Tume berhasil selamat lho. Kau lihat tidak? Dia sudah bukan bocah laki-laki yang hanya bisa usil asal kau tahu saja. |
|
![]() |
|
|
| Ferina Secret | Sunday Jun 2 2013, 08:27 PM Post #388 | |
![]()
|
Siapa juga yang tahu bahwa Ferina akan berakhir seperti ini, di sebuah arena yang menjadi sebuah pertunjukan langsung untuk menghibur orang-orang Capitol, yang selalu dinomorsatukan. Menjadikan sebuah hewan mungkinlah masih di garis normal namun, menjadikan sebuah manusia menjadi sebuah tontonan tersendiri, caplah mereka sebagai psikopat atau semacamnya. Bagaimana indahnya anak-anak Capitol yang tumbuh tanpa merasa takut ataupun merasa gundah setiap kali pemungutan suara—entahlah hal tersebut berlaku tidak saat dirinya menapakan kakinya di lokasi tersebut. Ia sama sekali tak ingat, semuanya hanya tertuju pada kenyataan yang dihadapinya sekarang. Belasan bahkan puluhan menusuk, menembak, atau melakukan apapun yang mereka bisa hanya untuk bertahan hidup walaupun tak ada jaminan suatu saat nanti mereka bisa menjalani kehidupan mereka lagi. Semua itu tak penting, selama penduduk Capitol senang, semuanya baik-baik saja. Dunia ini—lucu sekali, percayalah. Gadis tak dikenal tadi ditebas habis oleh Hart, membuat gadis Secret ini harus mengganti target lain. Dan oh, itu dia, anak lelaki yang belum selesai dihabisi olehnya. Lelaki lima, kenapa kau masih disini, eh? Kenapa tidak mati saja? Jambak rambutnya, membuat leher terekspos. Walaupun sesungguhnya pemandangan ini membuatnya mual, tapi mual itu ia tahan, berusaha untuk tak ditunjukkan. Carriers have pride. Dia tidak akan muntah begitu saja dengan melihat pemandangan yang... tidak menyenangkan seperti ini. “Well, well, well tuan—“ siapa namanya? Kenyataannya, gadis Secret ini bahkan tak mengingat nama lawannya, “tidak punya salam perpisahan, hm?” Belati yang berada di dalam genggaman tangannya menggoreskan luka ke tubuh—lebih tepatnya bagian perut.. Lelaki ini harus mati, untuk dirinya, untuk karier, untuk teman sedistriknya. Demi Isaac, demi Mags, demi Reef, demi Ethan dan Hada, demi Floryn.... ....demi ibunya juga Maggie. Demi semua yang ia jaga dalam hidup. Demi hidupnya. |
|
![]() |
|
|
| Yasmine Silvertongue | Sunday Jun 2 2013, 08:32 PM Post #389 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 39 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 4 (CE;pistol&kuku)|| AP: [result]3&3,1d9,0,3&1d9[/result] || KS: [result]9&9,1d24,0,9&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi[ Nah ini lagi. Gadis keparat dengan banyak gaya. Masih berhasrat untuk menghabisi Yasmine? Tidak mau menghabisi yang lain saja? Yang lebih muda? Oh, maaf, mungkin ia tidak tega. Dasar kurang ajar. Berani dengan orang tak dikenal yang dinilainya lemah. Dengar, manis, Yasmine memang tidak bisa itu menebar senyum dan memperlihatkan gigi putih menjijikanmu pada Panem seperti saat sesi Wawancara, Yasmine tidak bisa menggunakan trisula atau senjata jarak dekat. Tetapi ia tetap bisa melawan dan berusaha menyakitimu. Sigap, Yasmine mengambil pistol udaranya. Cepat, ia memukul telak pada bagian kening lebar Ferina—HA! Keningmu lebar, Nenek!—kemudian satu lagi pukulan ke arah tulang rusuknya. Ia menyampirkan kembali pistol udara kosong tersebut, kini kembali bertingkah seperti kucing kesetanan, ia mencakar wajah Ferina pada sisi sebelah kanan. Sebuah garis diagonal dari pelipis, melintasi kelopak mata, berhenti di hidung. Pada akhirnya kuku ajaib ini akan menumpul juga. Jadi gunakan saja selagi bisa, benar? Yasmine berusaha mengelak. Segala luka yang telah menganga sejak pertarungan di awal masih ia tahan, kini dengan ia terus mengalami kemunduran stamina, rasanya semakin berat. Tidak. Ia tidak bisa menyerah begitu saja. Ia tidak akan menukar nyawanya dengan bunyi meriam. Tidak. Tidak saat ini. Tidak momen ini. |
|
![]() |
|
|
| Shinzo Kawabata | Sunday Jun 2 2013, 08:33 PM Post #390 | |
![]()
|
DISTRIK: 8 || HP: 75 || ARENA SELANJUTNYA: 1 (ikut Tume Tinkham) Cepat sekali permainan berlangsung. Shinzo melihat beberapa tubuh sudah terbaring tidak berdaya. Tempat mereka masih sama. Ini masih padang rumput yang tadi mereka datangi. Belum ada berubah, kecuali tambahan mayat yang bergelimpangan di mana-mana. Kyle sudah tidak ada. Dia juga tidak tahu apakah rekan sesama distrik delapannya yang lain masih hidup atau tidak. Ia juga tidak mau membuang waktu untuk menengok sekitarnya. Mungkin lebih baik dia pergi saja dari tempat ini dan ikut bersama Tume dan juga Yasmine yang berasal dari distrik sepuluh. Mulai saat ini nyawa mereka bertiga berada di tangan entah siapa. Shinzo mau saja bergabung dengan Tume karena menurutnya anak laki-laki itu kelihatannya anak baik-baik. Ia juga mendengar kalau mereka yang berasal dari distrik sepuluh selalu tampil cukup memukau di beberapa permainan terakhir. Mudah-mudahan pilihannya untuk lari bersama mereka itu tepat. Oke. Selamat tinggal! Shinzo mengayunkan tungkainya dan melirik ke arah Pinoy dan Gavyn. “Sampai jumpa lagi. Kuharap kita bisa bertemu dalam keadaan lebih baik lagi di lain kesempatan.” Sebuah senyuman sebelum pemuda ini melesat mengejar Tume yang sudah lari beberapa meter di depannya. Ini akan menjadi cerita yang menarik. Dua orang dari distrik sepuluh dan satu orang dari distrik delapan. Bisakah mereka bertahan? Mudah-mudahan jawaban baik yang akan mereka peroleh. |
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |
















9:33 PM Jul 11