Welcome Guest [Log In] [Register]

MAY THE ODDS BE EVER IN YOUR FAVOR



[ INACTIVE ]
TERM 9: 2193 - 2194




[+] Topik AU: 4/5
[+] Visualisasi Asia: 3/3
[+] Capitol: 5/5
[+] Distrik Satu: 4/5
[+] Distrik Dua: 4/5
[+] Distrik Empat: 5/5
[+] Distrik Tiga Belas: 2/5
[+] Balita/Dewasa: 5/5



IndoCapitol


TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL
PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH
PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI
TRAINING CENTER || ARENA




Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain.

PEMENANG
HUNGER GAMES 54



{DISTRIK 1}



KREIOS EPHRAIM


MUSIM PANAS



21,3° - 23,6° C
21 Juni - 20 September
Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan.



WAKTU INDONESIA BAGIAN BARAT (JAKARTA)




Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

TWITTER & CHATBOX


Twitter
Chatbox



FORUM LOG
Waktu Update
Sabtu, 11 April 2015 Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out!

PEMBERITAHUAN
Kepada Informasi
Semua Member Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum
Semua Member Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2)
Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda.

Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru.

Bergabunglah bersama kami!

Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum:


Username:   Password:
Locked Topic
Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA
Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,741 Views)
Redemptus Maleveich
Member Avatar

Posted Image

Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala.

Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan.

Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena.

Empat puluh lima detik.

Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus.

Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi.

Tiga puluh detik.

Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa.

Lima belas detik.

Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian?

Terlambat.

KABOOM!

Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian.


Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol.
Offline Profile Goto Top
 
Replies:
Pinoy Annelli
Member Avatar

DISTRIK: 5 || HP: 75 || ARENA SELANJUTNYA: [result]1&1,1d3,0,1&1d3[/result]


Hah. Hah.

Pinoy kelabakan mengurus dua orang ini. Dan tebak, ketika ia melihat bocah dari distrik sepuluh itu berlari untuk melarikan diri, dia merasa tidak ada gunanya mencoba mengejar. Ini dikarenakan dia ingin menghemat energi. Lagi pula sebenarnya dirinya tidak begitu ingin membunuh. Dia hanya mempertahankan diri saja tadi dengan berusaha menembus pertahanan lawan. Tapi, dia belum begitu haus darah. Jadi, kali ini dia akan membiarkan Tume berlari. Dan dia melihat Shinzo juga melesat seolah-olah ini adalah akhir dari perkelahian mereka.

Ya, sudahlah.

"Aku akan menunggu saat kita bertemu nanti!"

Dia juga harus lari. Kabur dari sini. Kabur untuk memperoleh dunia luar yang jauh lebih baik—dan mungkin lebih mengerikan. Harapannya hanya satu saja. Semoga yang dia tinggalkan di sini adalah semua yang buruk. Ia tidak sabar menjejakkan kaki dari tempat yang seperti kuburan ini. Dia baru saja menyadari tubuh Aidy tergeletak tidak begitu jauh darinya. Rupanya gadis itu sudah tiada dan untuk sesaat Pinoy merasa emosi yang membuncah di dalam dirinya. Ia mengepalkan tangannya dan untungnya masih dapat mengontrol dirinya. Pemuda ini masih bisa berdiri tegak dan memperbaiki letak ranselnya dan berlari. Tentu saja dia harus kabur dari sana.

“Ikutlah denganku, Distrik Sebelas!”

Oke.

Dia tidak tahu mau bersekutu dengan siapa tetapi menurutnya Gavyn lumayan kuat—kalau dilihat dari tubuhnya. Apakah ada lagi yang mau menyusul?

Belum sempat berlari jauh, ia melihat seorang perempuan dari distrik delapan berada di dekatnya. Untuk sesaat Pinoy melempar pandangan ke arahnya, lalu lanjut kabur.
Offline Profile Goto Top
 
Ethan Nestor
Member Avatar

DISTRIK 4 || HP: 65 || POSISI: 6
TARGET: Scarlett Reed || AP: [result]11&9,1d10,2,11&1d10+2[/result] || KS: [result]1&1,1d24,0,1&1d24[/result]
Tombak, 2 Pistol udara, 1 air minum



Bantai, Bunuh. Ringkus siapapun yang ada di hadapannya.

Lupakan sejenak Yasmine Silvertongue keparat yang berhasil merusak wajah mulus nan menawan miliknya. Gadis itu bisa diurus nanti, jika keberuntungan lebih berpihak padanya. Mungkin ia bisa merusak wajah gadis itu hingga tak berbentuk lagi. Mungkin akan lebih mengerikan daripada muttan yang pernah diciptakan oleh Capitol. Ethan membuang ludahnya yang bercampur cairan kemerahan. Sialan, kapan penderitaan di matanya segera berakhir?

Sialan, ia tak bisa melihat dengan jelas.

Ethan merangsek, beralih ke tempat lain menjauhi Yasmine. Terima kasih pada Ferina yang mau membantunya menyerang Yasmine. Ia hanya menatap Ferina dalam diam, kemudian berlari menjauh. Sayang sekali, pengelihatannya tidak sejelas dulu. Kalau ya, mungkin sosok Ferina akan terlihat lebih baik, dibandingkan pengelihatan seperti kacamata minus yang tak memakai kacamata.

Kali ini ia mengincar Scarlett Reed dari Distrik Lima. Ethan memasang kuda-kuda menggunakan tombaknya, kemudian ia menyerang gadis itu dari belakang, menusuk punggungnya dengan mantap untuk menghabisinya dalam sekali serang. Tak hanya sekali, ia bahkan menusuk sebanyak tiga kali, berharap serangannya akan berhasil. Ayolah, lama-lama ia juga ingin membunuh satu orang, walaupun rasanya bukan seperti Ethan Nestor yang biasanya. Apakah kalian tahu? Selama ia menusuk seseorang menggunakan tombak, ia membayangkan lawannya adalah seekor ikan. Hal itu ia lakukan menyingkirkan rasa tidak tega atau dialah yang akan disingkirkan.
Offline Profile Goto Top
 
Gavyn Owyn
Member Avatar

DISTRIK: 11 || HP: 75 || ARENA SELANJUTNYA: 1 (bersama Pinoy Annelli)


Sialan.

Dia merasa berada di sini terlalu lama hanya membuatnya menjadi makin gila saja. Adina terbaring di dekatnya dan dia merasa semua menjadi begitu menggila. Dia harus menjaga kewarasannya sendiri. Ia harus berada di tempat yang berbeda dari tempat ini. Dimanapun itu terserah. Toh dia yakin mampu bertahan hidup dalam kondisi apa pun itu—karena di distriknya sendiri mereka selalu berkelahi dengan alam juga Penjaga Perdamaian untuk bertahan hidup. Perbedaannya di sini adalah dia meletakkan setengah nyawanya di pundak Pinoy dan sisanya melayang-layang di depan wajah Capitol.

Hening untuk sesaat ketika dia akhirnya menggerutu dan memandangi sekelilingnya dengan liar. Ia membiarkan Pinoy berlari beberapa langkah di depannya barulah dirinya menyusul. Ia sempat melihat seorang gadis yang tampak bengong.

“Hei, pstt, hei,” Gavyn berusaha menarik perhatian gadis itu. “Kau bikin apa di situ? Ayo, lari!”

Pemuda berkulit gelap ini membuat tanda mengajak Winona, peserta dari distrik delapan, untuk kabur. Gavyn sedang ingin berbaik hati untuk saat ini. Menyelamatkan satu nyawa perempuan tidak apa-apa, kan? Dia pasti akan membalas budi baik Gavyn dengan sepantasnya. Yah, Gavyn tidak terlalu berharap sebenarnya karena berikutnya mereka pasti akan saling bunuh untuk mencapai puncak kejayaan dengan iming-iming hadiah paling diinginkan oleh seluruh peserta yang ada di arena, yaitu pulang ke distrik masing-masing.
Offline Profile Goto Top
 
Jester Holt

DISTRIK 2 || HP: 90 || POSISI: 5
TARGET: DISTRIK 3 (Irvette) (dengan batu) || AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] || KS: [result]24&24,1d24,0,24&1d24[/result]
2 Pistol Udara, 1 Kapak, 1 Belati



Kapaknya kembali menghantam ke tempurung kepala si pemuda kurang beruntung yang entah berasal dari distrik mana itu. Sungguh tujuan sebenarnya adalah membunuh pemuda itu secepat mungkin namun usahanya terhambat oleh perlawan kecil si pemuda itu. Sial. Pemuda Holt ini bermaksud baik untuk segera mengakhiri segalanya agar tak ada rasa sakit lagi yang di derita oleh lawannya itu. Hanya itu, namun kenapa si lawan itu malah memberikan perlawan yang meskipun mereka berdua sama-sama tahu itu adalah sia-sia belaka.

“Kenapa kau mati saja susah, teman?” Geram pemuda Holt itu tak lagi berusaha menutupi kemarahannya.

Kapaknya kembali menghantam ke tempurung kepala si pemuda, mencari akses masuk ke dalam otaknya. Benda itu akan membelah apapun isi dalam kepala pemuda itu, ya itu tujuannya. Membuatnya seakan kayu bakar yang terkadang dibelahnya di saat musim dingin.

“Selamat datang kematian, semoga Tuhan memberkatimu.” Ujarnya dengan nada mengalun yang mengandung kemarahan. Kemudian ia meludah tepat ke arah daging yang terbuka di tempurung kepala lelaki itu agar pemuda itu tahu bahwa ia tak akan bermain-main lagi.

Setelah puas bermain dengan si pemuda berkulit gelap itu, ia beralih pada gadis yang sudah memiliki lubang telinga serta hidung tambahan. Pemuda Holt itu tertawa pelan saat melihat hasil dari pahatan belatinya di wajah si gadis, sedikit puas dengan selera seninya. Jarang-jarang bukan melihat pemuda Holt ini memiliki seni yang bagus eski itu dalam menyayat anggota tubuh manusia, well, it's okay, tho'. Dan gadis itu akhirnya membalas pertanyaannya, eh? Namanya Irvette. Irvette Schawn. Cukup bagus, kalau saja dia tidak galak begini. Dan dia mengingat tendangan tadi, by the way.

"Well, halo nona Irvette Schawn--or should I call you itik buruk rupa as your request?" Tertawa, pemuda itu. Sementara sang gadis terlihat bersungut, dan di sekeliling mereka telah terlihat perkelahian antar peserta dan beberapa yang sudah kabur. "Dan aku tidak stress ataupun nggak punya pikiran atau pun susah move on seperti katamu, itik buruk rupa." Tawa berkontraskan Iblisnya terdengar kembali.

"Memanggilmu dengan nama itik buruk rupa kepanjangan, sepertinya. Umm, or should I call you penjahat kelamin, then?" HUAHAHAHAHA NGGAK TAU YA SAKIT INI DAERAH VITALNYA TADI WOI.

“Kamu……JELEK, PENDEK, KAYAK BEBEK!”


Nona, hati-hati dengan suaramu. Suaramu itu mengalahkan amplifier dengan kekuatan 3000 db sekalipun, lho.

Dan gadis itu membalik badannya dengan gaya ngambek. Pergi kabur tanpa permisi setelah mengata-ngatainya dengan suara sebesar gajah beranak. Jester melihat kesempatan, mengambil kerikil batu di sekitar padang rumput itu dan melemparnya untuk mencari perhatian dari si gadis Tiga tadi.

"HOI, ITIK BURUK RUPA. NAMAKU JESTER HOLT. INGAT, YA? I'LL CATCH YOU LATER, IRVETTE SI PENJAHAT KELAMIN."


Ending yang bagus, kan? Oh, bukan ending. Permulaan yang bagus. Smirk.
Offline Profile Goto Top
 
Exodus Kruchev
Member Avatar

DISTRIK 2
HP: 78 || POSISI: 7
TARGET: Terry Scott (D7) & Altessa Lychnia (D6) || AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] || KS: [result]1&1,1d24,0,1&1d24[/result] & [result]17&17,1d24,0,17&1d24[/result]
7 kotak biskuit dan 1 tempat minum



Aksinya menerjang pemuda itu tidak membuahkan hasil. Cih.

Ditatapnya peserta asal Tujuh dengan penuh keramahan. Siapa saja boleh bersikap ramah seperti yang dia lakukan karena mereka hanya sekadar tahu nama dan asal distrik mereka. Keramahan yang mungkin terlihat seperti topeng palsu yang dibangun dalam waktu singkat. Jadi, apa yang ditunggu lagi, hm? Sebuah tonjokan dilayangkan ke arah perut Terry Scott. Dia tidak memiliki senjata tajam, senjata yang bisa mempercepat kematian, tapi jangan pernah menganggap remeh, kawan.

Ada peserta lain yang ikut menyerang pemuda Tujuh. Gadis yang pernah dilihatnya di pos pelatihan walau hanya sekilas. Berada di tempat seindah ini bersama bidadari cantik kurang indah apa lagi untuk Exodus. Diliriknya perempuan asal Sepuluh itu lalu melemparkan senyum. Lagi. Hanya tersenyum dan belum memulai konversasi dengannya. Mengobrol santai sambil membunuh orang—pfft. Exodus ingin menghadiahkan kepala Tujuh ini untuk gadis manapun yang menarik hormon adam miliknya, tapi sayang, dia tidak memiliki senjata tajam. Urusan kepala, nanti saja, oke.

Ah, jangan lupa masih ada Altessa. Tangan lain yang masih bebas mulai bergerak mengelus wajah Altessa. Dia senang memperlakukan perempuan seperti ini. Karena perempuan seharusnya diperlakukan demikian. Halus, lembut, dan semestinya. “Kenapa diam saja, hm?” Sudah berbuat baik, tapi masih tidak digubris. Cara lembut hanya diacuhkan, jadi bagaimana kalau menggunakan cara kasar? Cara apapun akan diterima Exodus. Tenang saja.
Offline Profile Goto Top
 
Yasmine Silvertongue
Member Avatar

DISTRIK: 10 || HP: 39 || ARENA SELANJUTNYA: 1 | Aliansi : Tume Tinkham Shinzo Kawabata

Cukup.

Yasmine melesat pergi menuju tempat Tume Tinkham berada. Ia bersama beberapa lelaki yang berbadan besar dan bongsor, beberapa juga tidak begitu gigantis tetapi tetap saja lebih besar dari Yasmine. Tak perlu waktu lama. Ia segera mengikuti kemana Tume bergerak. Mereka harus pergi. Pergi dan tidak perlu melihat ke belakang. Ada baiknya jika mereka tidak mendengar dentum meriam. Ia tidak ingin menghitung berapa banyak nyawa yang gugur.

Ia harus selamat. Setidaknya selamat dari Cornucopia dan pesta mandi darah tadi. Luka-luka pada tubuhnya menjerit meminta perhatian. Sekarang dengan adrenalin yang tidak begitu mengalir deras seperti tadi, ia mulai merasakan efek-efek nyeri dan sakit yang tak tertahankan. Semua itu berusaha ia tahan. Well… mereka kehilangan dua rekannya. Kini ada Tume yang termuda, dan Yasmine yang tertua.

“Kawabata?” Ia semacam menyapa pemuda dari distrik Delapan itu. Nama unik yang langsung melekat pada ingatan Yasmine sejak hari pertama. Well, jika Tume memercayai Kawabata, tidak ada salahnya bagi Yasmine untuk turut memercayai pemuda itu.

Mereka berdua yang bisa bertahan melawan tuyul kecil dari Empat itu, kan? Tume, kuat. Ia pasti bisa. Setidaknya, ia harus bisa berada dalam perlindungan Kawabata dan Silvertongue.

“Ayo.”

Dan ketiganya berlari sejauh mungkin dari Cornucopia. Ia dapat mendengar meriam mulai dibunyikan semakin banyak.

Sepuluh…

Sebelas…

Dua belas…

Lima belas…


Tidak menghitung lagi. Ia mengenyahkan memori buruk ini. Masih menyimpan duka akan Freida dan Harry.
Offline Profile Goto Top
 
Colleen Roosophire
Member Avatar

Distrik 1 | HP: 100 | Posisi: 1
Target: CE D9(Stelaria) | AP: [result]11&9,1d10,2,11&1d10+2[/result] | KS: [result]4&4,1d24,0,4&1d24[/result]
1 kompas dan seporong dendeng


Mengapa gadis itu susah sekali sih nurutnya!? Tinggal mati saja, susah banget. Kalau gadis itu menurut seperti bocah Tiga itu dari awal, pasti lebih cepat selesai. Tidak akan memakan waktu selama ini. Juga tidak akan memakan tenaga sebanyak ini. Menyusahkan saja.

Tangan kanannya kembali dikepalkan, lalu diayunkan ke arah perut sang gadis Sembilan itu. Ia pastikan tonjokannya kali ini pasti kena dan akan mengirim gadis itu ke surga atau neraka.

Mampus saja kau!

Maniknya melihat beberapa peserta lain sudah ada yang kabur. Ada yang kabur ke hutan, ada juga yang ke gunung. Pokoknya mereka berpencar bagaikan tikus yang takut dimakan kucing.

Ya, mereka tikusnya. Para karir itu kucingnya. Sudah jelas bukan? Karir adalah kucing-kucing yang tangguh, dan para non-karir itu adalah tikus yang lemah dan sama seperti sampah.

Sampah lebih baik mati saja. Karena itu, Colleen akan membantai sampah yang bernama Stellaria ini. Tanpa pengecualian. Semua yang dilihat dirinya, kecuali para karir, harus mati.

Tentunya gadia pirang itu akan membunuh orang dengan beraih dan rapih. Tidak mau ada adegan darah-berdarah. Karena itu akan menjadi sedikit kotor dan menjijikan. Colleen Roosophire adalah gadis yang bersih. TITIK.
Offline Profile Goto Top
 
Winona Curealight
Member Avatar

DISTRIK : 8 || HP : 21 || ARENA SELANJUTNYA : 1 (ikut Pinoy)



Winny lelah terus berlari tetapi ini caranya untuk hidup. Ia harus menang meskipun terlihat kecil kemungkinannya. Kaki kecilnya sudah hampir mencapai batasnya untuk berlari. Tak yakin ia mampu berlari lebih lama lagi.

Bibir merahnya semakin merah karena Winny telah menggigit bibir bagian bawahnya menahan rasa nyeri di kakinya. Apa ini juga yang dirasakan kakaknya tahun lalu?. Sulit untuk bertahan tetapi kata harus dalam dirinyalah yang membuatnya masih berlari. Dia harus hidup dan bertahan. Tidak tahu sampai berapa lama tetapi setidaknya sekarang dia masih bisah bertahan.

Winny takut. Arena sepertinya akan sudah berganti lagi. Ada seorang lelaki di depannya. Ia melirik ke arah Winny sebentar lalu berlari. Nampaknya lelaki yang mendahuluinya itu bisa diandalkan. Sekarang, Winny harus memiliki seseorang yang dapat diandalkannya agar dapat bertahan. Well, tidak buruk juga.

Winny berlari mengikuti lelaki itu. Kakinya yang nyeri terasa sedikit lebih baik. Mungkin semuanya akan baik meskipun dia tetap tidak boleh menurunkan kewaspadaannya. Winny berlari agak lebih cepat agar tidak ketinggalan. Lelaki itu nampak berasal dari listril 5. Winny mengingatnya dan nampaknya ia mengajak seseorang juga. Lelaki yang nampak kuat. Semoga saja Winny dapat bertahan lebih lama meskipun harapannya tipis.
Offline Profile Goto Top
 
Altessa Lychnia
Member Avatar

DISTRIK 6
HP: 32 || ARENA SELANJUTNYA: [result]2&2,1d3,0,2&1d3[/result]

Altessa sebenarnya hendak mengambil barang selain ransel di Cornucopia, tapi sebuah serangan pisau berhasil mengenai lengannya, dilancarkan oleh pemuda yang berasal dari Satu. Tak hanya itu saja, ia sempat menyayat lengan Altessa dengan kata-kata ‘bosan’. Cih, Altessa tidak bosan. Ia agak frustasi.

Namun, serangan selanjutnya berhasil ia hindari—walau serangan yang diberikan cukup banyak—kalaupun serangannya kena, Altessa seharusnya sudah mati di tempat pertumpahan darah ini, bersama-sama dengan Coraline dan Remy. Lychnia muda ini sudah menyadari bahwa teman-temannya sudah tiada, meninggalkan Altessa sendirian di tempat-yang-harusnya-punya-nama-neraka-ini.

Ia ingin kabur seperti peserta lain, mulai membentuk aliansi bersama peserta distrik lain.

Pemuda yang berasal dari Dua, Exodus Kruchev muncul dan mencoba untuk memuntir pergelangan Altessa. Syukurlah, berhasil menghindar. Tapi sebuah jepitan di lehernya membuat pergerakannya terkunci dan lehernya sakit. Jepitan ini sendiri pun bertahan cukup lama. Kepalanya bisa putus, sungguh.

“…”

Wajahnya dielus—what? Tapi ia menghindar. Dan akhirnya Altessa mencoba untuk kabur dengan melepaskan jepitan itu sekuat tenaga. Persetan apakah ia akan kelelahan saat ia melangkah nanti. Altessa tidak tahu apa yang harus ia perbuat.

Tungkai Altessa berlari, acak. Yang penting kabur.

Offline Profile Goto Top
 
Exodus Kruchev
Member Avatar

DISTRIK 2
HP: 78 || POSISI: 7
TARGET: Terry Scott (D7) & Altessa Lychnia (D6) || AP: [result]3&1,1d10,2,3&1d10+2[/result] || KS: [result]4&4,1d24,0,4&1d24[/result] & [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result]
7 kotak biskuit dan 1 tempat minum



Sudah pada kabur, eh? Jangan kira bisa secepat itu kabur dari lingkaran setan, darling.

Dalam jarak pandangnya, pemuda itu mulai menyadari Cornucopia mulai terasa sepi. Belasan korban telah berjatuhan dan sisa berpencar berusaha melarikan diri. Masih hidup dan berpikir bisa keluar dari Arena secepatnya, mungkin. Exodus mendengus pelan menyaksikan apa yang terlihat oleh kedua iris birunya. Dialihkan perhatiannya pada badan yang telah membujur kaku di sana. Darah mulai merembes ke tanah. Hijau mulai bercampur dengan warna merah darah.

Skip. Yang tadi hanya distraksi sesaat. Balik lagi ke targetnya. Aneh, susah benar Tujuh ini mati. Cepatlah, mati saja sana biar urusannya cepat berakhir. Kaki Exodus menendang pinggang Scott. Jangan berharap bisa kabur, heh. Kubur impianmu dalam-dalam. Pikirmu, bisa kabur dan melenggang sesukamu di Arena nanti? Not so fast. Dia terkekeh geli menatap tubuh hina di dekatnya. Lalu, dia teringat akan apa yang pernah dilakukan di Hunger Games tahun lalu. Dua lawan Tujuh dan sekarang dia mengulang kembali sejarah itu.

Masih merasakan bagaimana lekuk wajah menawan yang dimiliki dara Distrik Enam. Jemari kekar yang dimiliki Exodus mencoba untuk merasakan bagaimana kemulusan dan kehangatan yang terpancar dari wajah secantik Altessa. Apa salah dia memuji penampilan fisik gadis itu di saat pertarungan masih terus berjalan, hm? Anggap saja sebagai selingan di tengah kekacauan yang terjadi selama Bloodbaths.
Offline Profile Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Free Forums with no limits on posts or members.
Go to Next Page
« Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic »
Locked Topic


Theme design by Drama, theme coding by Lewis. of Outline and edited by Ntin, Ubi, and Ilma.