Welcome Guest [Log In] [Register]

MAY THE ODDS BE EVER IN YOUR FAVOR



[ INACTIVE ]
TERM 9: 2193 - 2194




[+] Topik AU: 4/5
[+] Visualisasi Asia: 3/3
[+] Capitol: 5/5
[+] Distrik Satu: 4/5
[+] Distrik Dua: 4/5
[+] Distrik Empat: 5/5
[+] Distrik Tiga Belas: 2/5
[+] Balita/Dewasa: 5/5



IndoCapitol


TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL
PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH
PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI
TRAINING CENTER || ARENA




Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain.

PEMENANG
HUNGER GAMES 54



{DISTRIK 1}



KREIOS EPHRAIM


MUSIM PANAS



21,3° - 23,6° C
21 Juni - 20 September
Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan.



WAKTU INDONESIA BAGIAN BARAT (JAKARTA)




Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

TWITTER & CHATBOX


Twitter
Chatbox



FORUM LOG
Waktu Update
Sabtu, 11 April 2015 Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out!

PEMBERITAHUAN
Kepada Informasi
Semua Member Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum
Semua Member Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2)
Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda.

Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru.

Bergabunglah bersama kami!

Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum:


Username:   Password:
Locked Topic
Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA
Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,739 Views)
Redemptus Maleveich
Member Avatar

Posted Image

Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala.

Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan.

Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena.

Empat puluh lima detik.

Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus.

Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi.

Tiga puluh detik.

Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa.

Lima belas detik.

Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian?

Terlambat.

KABOOM!

Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian.


Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol.
Offline Profile Goto Top
 
Replies:
Jester Holt

DISTRIK 2 || HP: 90 || POSISI: 5
TARGET: DISTRIK 11 (Nigel) & DISTRIK 7 (Scott) || AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] || KS: [result]22&22,1d24,0,22&1d24[/result] & [result]15&15,1d24,0,15&1d24[/result]
2 Pistol Udara, 1 Kapak, 1 Belati



Waktu semakin memburunya, ia harus segera mengakhiri permainan dengan sepasang manusia ini. Sebenarnya cukup menyenangkan bermain dengan mereka, namun sepertinya permainan ini harus segera di akhiri oleh si pemuda itu. Sungguh sangat di sayangkan.

Maniknya tanpa sengaja melihat beberapa anggota aliansinya tengah bermain dengan lawannya. Para bocah ikan berbau amis itu juga terlihat terlibat permainan yang cukup seru. Ia ingin bergabung di sana, setidaknya ikut bermain dengan mereka namun sepasang manusia ini menghambat semuanya.

Pemuda Holt ini mencengkram kapaknya yang tadinya tertancap di tempurung kepala si pemuda berkulit gelap itu. Membersihkan bilah kapak itu di rerumputan nan hijau sehingga mencemarinya dengan cairan lengket kehitaman itu. Kemudian mengangkat kapak itu dan menghantamkan kembali ke kepala si korban. Berharap kali ini bisa memecahkan tempurung kepala si korban, jika membelah kepala si korban tidak mungkin di lakukan.

“Kau tahu apa yang akan kuperbuat dengan otak kosongmu itu, teman?” Tersenyum sedih, kau pintar sekali bermain opera sabun murahan, Jester Holt. “Membelahnya atau setidaknya meremukkan otakmu yang sepertinya tidak berfungsi dengan baik.” Sungguh baik hati kau, Jester Holt.
Kapaknya kembali menghantam di kepala pemuda itu, berharap kali ini akan segera mengakhiri segalanya.

Lalu binernya melihat kawanannya, dari distriknya, Exodus dan Hart. Kemana Lethbridge, eh? Pemuda itu bergerak ke arah Exodus, melihat orang yang dari tadi keukeuh menghindar dari serangan si pemuda dingin satu itu. "Oi, mate. Kalau mau bunuh orang itu harus gini," Sok memberi nsehat, Jester mengayunkan kapaknya ke arah si pemuda anonim yang bahkan dia tak tahu berasal dari distrik berapa. Sedikit sok jumawa gitu. "ngerti, kan?"

Minta ditabok.
Offline Profile Goto Top
 
Flavea Vorfreude
Member Avatar

DISTRIK 1 || HP: 82 || POSISI: 4 → Curnocopia
TARGET: - || AP:- || KS: - & -
3 Lembar Plastik dan 1 Pasang Kaus Kaki
Diserang: -


She's floating, no anchor keeps her to the ground. She knows life without anchor is a life of nothing.

Ia kembali membeku, tak melakukan apa-apa lagi. Sinapsis-sinapsisnya seakan bekerja kembali, membuatnya kembali selemah pada saat ia awalnya berada. Plastiknya terjatuh dan ia bergerak mundur, tak lagi menyerang. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri seperti seseorang yang tengah kebingungan, matanya mengedar ke tubuh-tubuh tak bernyawa, menatap keadaan mereka. Matanya kemudian terpaku pada satu-satunya tubuh yang telah ia renggut nyawanya, membuat tubuh tersebut tanpa guna lagi.

Ia lagi-lagi hanya dapat terdiam, berusaha memroses semua yang telah terjadi. Bagaimana dia berubah hanya dalam waktu beberapa menit. Bagaimana ia tak merasa seperti dirinya sendiri lagi. Ia membiarkan orang lain mengambil alih sasarannya, mendadak tak ingin menyerang lagi dan kini lagi-lagi menjadi beban bagi orang lain. Hanya dapat menatap dan meratap. Menatap banyak orang lagi terbunuh, menatap karier lain membunuh, menimbulkan pertumpahan darah, memenuhi tugas mereka.

Ia? Ia hanyalah pengganggu, seseorang yang tak akan dipedulikan orang lain jika ia mati. Dan ia bertanya-tanya, apa gunanya sekarang ia masih hidup?

Dara Vorfrude itu menyeret dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu yang berguna. Mengambil barang-barang dari dara Erasto yang tak akan terpakai lagi sebagai suplai bagi dirinya sendiri. Matanya menatap letupan-letupan di udara, penanda bagi tiap seseorang yang kini telah melangkah memasuki surga sebelum ia berjongkok dan mengelap belati rampasannya ke rumput yang tak ternoda darah, kemudian memasukannya ke dalam tasnya. Terkadang ia juga menatap para tribut yang kabur, sedikit bertanya-tanya bagaimana mereka bisa selamat dengan luka yang mereka alami.

Ia hanya mengambil berbagai macam barang yang tercecer dan berpikir. Tak ada emosi yang terpampang di wajah, datar. Masih mencerna. Kepalanya sakit memikirkan semuanya. Suara-suaranya yang mengganggunya kini sudah pergi, namun ia tak juga merasa tenang.

Ia terus melangkah mendekati Curnocopia. Ada letupan lain di tengah perjalanan dan kepalanya kembali mendongak. Ada satu wajah yang sangat dikenalinya, wajah yang bersama dengan dirinya hampir sepanjang keramaian Bloodbath.

Dan saat itulah, kedataran ekspresinya tergantikan dengan ekspresi sedih dan ia kembali menangis. Menangis yang lebih hebat dibandingkan ketika dadanya tertusuk. Ia berlari ke arah curnocopia namun menjauh dari daerah dimana Hada, Zephaniah, dan Floryn. Merasa ia tak pantas berada di sana, merasa bahwa ia memang tak seharusnya berada di sana.

Ini salahnya, kan?

Floryn tidak akan mati kalau gadis kecil itu tak melindunginya. Floryn tak akan mati kalau saja ia bisa melindunginya, bisa melindungi dirinya sendiri. Seandainya ia lebih kuat, maka keadaan bagi mereka akan lebih baik. Entah bagi orang lain, namun Flavea menganggap semua yang di karier adalah keluarganya. Kehilangan mereka rasanya sama seperti kehilangan keluarga.

"Maaf...maaf...maaf...

Ia bersandar ke dinding dingin curnocopia dan merosot dan menangis sepuas yang ia bisa, terus menerus mengucapkan kata maaf.

Kenapa bukan ia yang mati?

The worthless one, the unwanted one, the unloved one...
Edited by Flavea Vorfreude, Sunday Jun 2 2013, 10:45 PM.
Offline Profile Goto Top
 
Ethan Nestor
Member Avatar

DISTRIK 4 || HP: 65 || POSISI: 6
TARGET: Scarlett Reed & Nigel Sugsweye || AP: [result]3&1,1d10,2,3&1d10+2[/result] || KS: [result]11&11,1d24,0,11&1d24[/result] & [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result]
Tombak, 2 Pistol udara, 1 air minum



Siapa yang harus disalahkan jika semua serangannya gagal? Salah kemampuannya? Atau pelatih yang patut disalahkan? Oh, berarti sama saja Reef-lah yang menyebabkan kegagalan serangan yang ia derita saat ini. Benar-benar—pemuda itu tak bisa diharapkan keberadaannya. Haha, mungkin terkesan tidak bersyukur karena masih lebih baik distriknya mempunyai pelatih daripada tidak sama sekali. Tetapi tetap saja, yang mencetaknya jadi seperti ini adalah pelatih Distrik Empat.

Huh.

Ethan menggeram kesal karena serangannya gagal. Demi apapun, permainan ini baru saja dimulai dan ia sudah kehilangan banyak hal. Dimulai dari ketampanan, kemulusan kulit, ketajaman mata, leher jenjang yang menggoda—dan itu semua dirampas oleh distrik bawah. Ha! Jangan ia kira Yasmine akan lolos begitu saja dari tangannya. Dendam kesumat, sayang rasa itu sudah terpatri semenjak Yasmine berhasil melukainya.

Ia lebih mempersempit jaraknya dengan Scarlett sementara ujung runcing itu masih mengincar bagian kulit manis milik Scarlett. Tinggal serang dan bunuh apa susahnya, sih? Ia memicingkan mata, untuk memastikan pengelihatannya benar, kemudian ia kembali menancapkan tombaknya pada punggung Scarlett.

Sementara itu ia kembali mengincar Nigel yang sempat terlupakan. Ah, sejak kapan ia tak pandai menghitung situasi? Padahal hal tersebut sudah diasah ayahnya sejak kecil, tentu saja dengan diam-diam. Ibu akan histeris kalau tahu bahwa ayah mengajarinya bertahan hidup jika kesialan menghadangnya untuk terjun di Arena.

Seperti sekarang.

Serangannya pada Nigel harusnya tepat, karena Ethan melemparkan tombak itu mengarah pada kepala Nigel. Posisinya agak jauh, sehingga tak memungkinkan untuk melipir ke sana kemari untuk menyerang dua orang. Jika kena, seperti ini lebih hemat waktu dan tenaga, toh?
Offline Profile Goto Top
 
Jester Holt

DISTRIK 2 || HP: 90 || POSISI: 5
TARGET: DISTRIK 11 (Nigel) () & DISTRIK 3 (Scott) () || AP: [result]3&1,1d10,2,3&1d10+2[/result] || KS: [result]9&9,1d24,0,9&1d24[/result] & [result]20&20,1d24,0,20&1d24[/result]
2 Pistol Udara, 1 Kapak, 1 Belati



Belasan tubuh tak bernyawa itu bertebaran di rumput yang begitu nyaris tanpa cela. Cairan kental bewarna kelam itu alih-alih mengotori rumput malah terkesan menghidupkan suasana. Ya, sebuah warna yang diciptakan dari nyawa yang sia-sia. Tubuh-tubuh diam itu begitu mengerikan, beruntunglah jika tubuh mereka masih utuh.

Pemuda Holt itu tertawa kering efek dari tubuh-tubuh yang bergelimpangan di dekatnya. Mereka yang membasmi tubuh-tubuh itu. Namun kenapa kau terlihat takut, Jester Holt?

Genggamannya di kapak kembali mengerat. Ia bukan takut, hanya sedikit heran. Pembasmian ini memiliki durasi tercepat yang pernah ia lihat. Belasan tubuh berubah kaku dalam sekejap meninggalkan jejak-jejak darah di sana. Meriam meletus dan pesawat ringan itu muncul kemudian mengangkat satu persatu tubuh-tubuh kaku itu. Capitol, bagaimana mereka begitu cepat bekerja. Seperti sudah diatur sebelumnya.

“Kau lihat mayat-mayat itu?” Tanyanya sambil menunjuk sebuah mayat gadis yang tergeletak di depannya dengan dagunya. “Kau akan membuatmu menjadi bagian dari mereka.” Pemuda itu berpaling ke arah Kruchev yang berhasil membuat serangannya. Tambahkan tiupan pistol bius pada pemuda anonim itu supaya tidak kabur, jelas. Nah, jangan kabur ya? Hahah.

Kapak itu kembali menghantam kepala si pemuda. Sebentar lagi kapak itu akan membelah kepala kosong si pemuda. Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini, teman.

“Nah, sekarang berdoalah pada Tuhanmu, minta perlindungan pada-Nya.”
Tutup mulut manismu Holt, mereka tak akan butuh rasa kasihanmu. Mereka hanya butuh kau cepat memutus siklus respirasi mereka.
Offline Profile Goto Top
 
Exodus Kruchev
Member Avatar

DISTRIK 2
HP: 78 || POSISI: 7
TARGET: Terry Scott (D7) || AP: [result]3&1,1d10,2,3&1d10+2[/result] || KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result]
7 kotak biskuit dan 1 tempat minum



Pemuda itu terkekeh lagi ketika memandang tubuh tak berdaya di sana. Terlihat mulai tidak waras seiring melihat kesakitan dan penderitaan yang diterima Tujuh hina di sana. Ah, kenapa kamu tak melawan, Scott? Exodus lebih suka kamu memberikan perlawanan balik padanya, bukan cuma diam dan menunggu ajal menjemput. Menyerang saja dan akan Exodus beri hadiah lain yang akan kau ingat sampai mati. Lebih baik begitu, jadi ke mana fokusmu melangkah, sobat? Kita masih di Bloodbaths. Camkan itu.

Nah, tiba-tiba acara main-mainnya diganggu dengan Jester Holt (entah kenapa Exodus lebih senang memanggilnya Jejes, hah!). Pamer ceritanya. Tiba-tiba datang, tiba-tiba sotoy. Exodus mengangguk-angguk pelan memperhatikan apa yang menurut Jester Holt benar, meski sebenarnya dia tidak terlalu menaruh perhatian lebih pada tindakannya karena meleset. Yah, anggap saja angin lalu, apa salahnya jika Exodus menganggapnya demikian.

“Benar begitu, Holt?” Dia berusaha menahan geli, memandang tubuh begundal itu lalu berganti ke pemuda Holt. “Bagaimana kalau begini?”

Lantas, dia memberikan tinjuan ke wajah korban. Terima saja kalau tidak mau melawan balik. Ngomong-ngomong, di mana kedua gadis yang lain? Harusnya mereka bisa menjaga diri mereka. Dipandangnya lagi pemuda mengenaskan itu, masih menginginkan melayangkan serangan lagi sebelum dirinya mulai kalap.
Offline Profile Goto Top
 
Kathleen Halvorsen
Member Avatar

[l a s t p o s t]

Pada akhirnya semua yang ia miliki akan ia lepas juga.

Gadis Halvorsen itu pernah mendengar kata-kata itu di sebuah tempat, atau mungkin kakaknya yang mengatakannya? Ia tidak dapat mengingatnya lagi, waktunya semakin sedikit, eh? Selama waktunya berada di Capitol, mungkin awalnya ia tak menerima keramahan palsu mereka, sampai sekarang mungkin, tapi awalnya gadis Halvorsen ini begitu takut dengan konsep ‘kematian’. Apa yang akan terjadi setelah ini? Mungkin itu tanda tanya yang paling besar.

Tapi sampai di titik ini? Ia memutuskan untuk melepaskan semuanya yang ada di dunia ini.

Selain itu, gadis Halvorsen ini juga tak memiliki apapun, satu-satunya mungkin yang masih membuatnya berat hanyalah Dianne Halvorsen, ibunya. Mungkin seiring berjalannya waktu, sejak pria yang notabene adalah ayahnya sendiri meninggalkan keluarga mereka, wanita Halvorsen itu sedikit berubah. Saat mum memilih meninggalkan rumah untuk mencari ‘dad’ Kathleen sadar benar kalau sudah waktunya ia untuk tumbuh dewasa.

Ia bukan anak kecil lagi sekarang, usianya empat belas tahun.

Belum dewasa secara legal, ia belum bebas dari segala jerat maut Hunger Games yang membawanya ke titik ini, tapi ia mungkin memang terlihat lebih dewasa daripada gadis seusianya. Ia memikirkan banyak hal yang sebelumnya ia tidak pikirkan. Mungkin sejak mum menghilang hari itu, dan memang ia kembali, walaupun bukan sebagai orang yang sama, ia masih gadis ceria itu, tapi ia jauh lebih mandiri. Ia mengambil beberapa peran yang sudah tak mampu wanita Halvorsen itu lakukan, Kathleen sungguh mengkhawatirkan keadaannya sekarang.

Apa yang ia lakukan sekarang? Apakah ia dapat bertahan?

Apapun yang terjadi ia masih wanita yang sama, wanita yang mengajarinya segala hal soal dunia yang tertutup, atau lebih tepatnya ditutupi oleh pengaruh pemerintah di Capitol. Penghuni distrik, terutama distrik rendah sepertinya dipaksa untuk sekedar puas dengan dunia yang terbatas, dunia yang dibatasi oleh sebuah pagar dengan kawat berduri yang notabene dialiri listrik. Dan masyarakat Panem telah hidup di dalamnya, entah berapa tahun telah berlalu. Padahal banyak kan penduduk Panem yang masih haus akan rasa keingintahuan?

Seperti Alph, mungkin?

Memang benar, sejak kepergiannya gadis Halvorsen ini berubah cukup drastis, dari gadis yang ceria ia menjadi gadis yang pendiam, tidak ada yang berani bertanya, semua orang tahu sebabnya. Acara yang wajib ditonton seluruh warga Panem itu menunjukkan kekerasan yang berlebihan, yang malah dipuja oleh masyarakat Capitol. Dan ketika gadis Halvorsen ini melewatkan satu tahun penuh dengan berkabung, ketika ia merasa ia sudah cukup kuat untuk melanjutkan hidupnya, nampaknya dunia berkonspirasi lagi, eh?

Atau mungkin, Capitol?

Awalnya ia merasa sangat terbeban, ia bahkan sempat berpikir bahwa mungkin, dalam sebuah cara, keluarga Halvorsen dulu pernah melakukan sesuatu yang salah kepada Panem, sehingga mereka berkonspirasi seperti ini? Entah kenapa, ia merasa sedikit lega saat mendengar nama-nama familiar di Capitol, beberapa nama.. yang tidak asing, di tiga Hunger Games terakhir paling tidak. Apakah mereka semua pendosa? Mereka semua orang-orang yang memiliki niat untuk memberontak? Atau mungkin ini hanya sekedar kebetulan bodoh yang begitu... kebetulan?

Memikirkannya berlebihan toh tak akan membantunya kemanapun, eh?

Floyd sudah menunggu, mungkin? Keadaan bloodbath sangat kacau, bahkan ia hampir tak sadar kalau ia telah kehabisan semua darahnya, tubuhnya menolak untuk berkerjasama dengan jiwanya, ia menjadi seorang penjelajah, siap menempati tempat baru. Sedikit menyesal karena begitu paranoid dengan orang-orang dari distrik lain, selain karir, selain gadis yang telah membunuhnya secara bar-bar dan terang-terangan. Padahal gadis itu tak jauh berbeda usianya dengannya, eh? Dan kakaknya.. juga di dalam Hunger Games yang sama dengan Alph?

Mereka semua toh akan disatukan kembali nantinya, setelah semua kematian menyakitkan ini.

Dulu ia pernah mendengar sebuah konsep tentang neraka dan surga. Apakah ada hal seperti itu? Kathleen tidak yakin ia ingin bertemu dengan gadis karir yang menyeramkan setelah ia mati. Setelah mereka mati, bukannya seharusnya tidak ada kebencian lagi? Bukannya mereka berarti membuka lembaran baru, melupakan apapun yang terjadi? Tapi gadis ini masih takut akan apa yang mereka perbuat, jujur. Dan ia memutuskan untuk tak memikirkannya lagi, bukan sekarang, paling tidak.

Apa yang harus ia katakan kepada Alph? Setelah dua tahun tidak bertemu, sebelumnya ia selalu berpikir pemuda Halvorsen itu agak membencinya, tapi ia seorang yang terus mencoba, dan rasanya, sedikit atau banyak, ternyata pemuda itu menyayanginya, sebagai satu-satunya adik perempuan yang ia miliki. Ia takut merasa tak cukup baik di depan kakaknya. Ia tahu Alph selalu mengamatinya, mungkin. Atau mungkin ayahnya, dari suatu tempat yang ia tak ketahui, dan Kathleen tak cukup baik, bagaimana perasaan mereka?

Rasanya berspekulasi terlalu banyak akan membuat waktunnya lekas habis disini.

Ia siap untuk melepaskan semuanya di sini, ia telah melepaskan semuanya.

Dan menuju ke dunia yang tidak kasatmata untuk para orang hidup, menuju kakak laki-lakinya yang belum ia temui selama 2 tahun.

last.
Offline Profile Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
ZetaBoards gives you all the tools to create a successful discussion community.
« Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic »
Locked Topic


Theme design by Drama, theme coding by Lewis. of Outline and edited by Ntin, Ubi, and Ilma.