|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,776 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Zephaniah Lore | Saturday Jun 1 2013, 02:00 PM Post #41 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 100 || POSISI: 6 Target: Antonio Shadowsong - D9 (KS: [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result] ) dan Kristeen Franscois - D8 (KS: [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result] ) AP: [result]4&2,1d10,2,4&1d10+2[/result] Membawa: ransel besar || Mengambil: 1 kapak, 1 belati, 2 pistol udara Ketegangan memuncak begitu suara ledakan terdengar memecah di udara. Kaki-kaki mulai melangkah keluar dari lingkaran masing-masing. Ia pun sama. Berbekal kecepatan berlari yang memang dimiliki keluarga Lore, Zephaniah melesat menuju ke tempat senjata-senjata berserakan. Ia adalah karir. Ia tidak akan lari. Sekalipun tubuhnya tidak sekuat karir yang lain, sekalipun usianya termasuk yang termuda dari semua peserta... ia bukan seorang pengecut. Ia akan bertindak seperti layaknya seorang karir. Ia tidak akan kalah dari Zinnia yang pernah berjuang di tempat ini. Setidaknya, sebelum ia pulang, ia harus melakukan sesuatu yang akan membuatnya bisa berhadapan dengan Zinnia dan ibunya dengan bangga. Uhuk... uhuk... Senjata. Ia perlu senjata yang bagus agar bisa bertahan hidup di bloodbaths. Kapak. Hanya ada dua di tempat yang ditujunya. Zephaniah melesat, mengambil kapak berat itu dengan tenaga yang ia punya. Lalu dengan cepat ia mengambil sebilah belati yang langsung ia simpan dalam saku celana, lalu dua buah pistol udara. Ia akan membutuhkan benda itu untuk membuat lawannya kehilangan kesadaran untuk sesaat. Itu akan menguntungkannya. Uhuk... uhuk... Sial. Semoga paru-paru tolol ini tidak mengkhianatinya. Sekarang, ia harus berhati-hati agar tidak salah menyerang para karir. Ia melirik sekilas pada Urie, Ferina, dan Ethan yang berada tidak jauh darinya. Lalu... ia memutuskan siapa targetnya... pemuda dari distrik 9, berambut pirang. Tanpa aba-aba, Zephaniah mengayunkan kapaknya sekuat tenaga ke arah punggung pemuda yang lebih tinggi darinya itu, lalu dengan ayunan yang sama mengarahkannya ke perut seorang gadis berambut gelap dari distrik 8. Maaf saja kalau ia mengejutkan kedua orang itu, tapi beginilah bloodbaths. Menyerang atau diserang. Membunuh atau dibunuh. Suka atau tidak. Mereka semua tidak benar-benar punya pilihan yang lain. Pilihan Zephaniah tentu saja menyerang, dan membunuh. |
|
![]() |
|
|
| Ferina Secret | Saturday Jun 1 2013, 02:00 PM Post #42 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 100 || POSISI: 6 TARGET: DISTRIK 9 CO#2 (Shadowsong; pistol) & DISTRIK 10 CE#2 (Silvertongue; tempat air minum) || AP: [result]6&4,1d10,2,6&1d10+2[/result] || KS: [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] & [result]7&7,1d24,0,7&1d24[/result] 2 pistol udara (6) — tempat minum kulit — belati Game on. Adalah dua kata yang membayangi pikirannya begitu ia melesat dari tabung tempatnya berdiri sejak tadi, setelah bom dinonaktifkan dan mereka bisa keluar dari kerungkung. Bagaimana semua peserta keluar dari tabungnya, mencari persenjataan dan juga bahan makanan yang menumpuk dari Cornucopia. Bagai semut mendatangi gula—sebuah perumpamaan yang sangat menjijikkan mengingat gadis sulung Secret ini sama sekali tak menyukai serangga. Biner birunya menyipit, mencari—memilah barang apa saja yang akan ia bawa, setidaknya dalam upacara pembuka dari acara TV yang penuh darah serta rasa sakit, brought to you by Capitol tersayang—sambil berlari menghindari serangan-serangan yang sudah diluncurkan beberapa lawan. Tas berukuran besar yang setahunya digunakan untuk camping (atau backpacker di masa lalu, ketika Panem belumlah menjadi Panem, setahunya) berwarna coklat tua disambarnya, membuat langkahnya sedikit limbung saat memakainya. Tas yang setahunya disebut sebagai tas carrier—tsche, ironi mengingat yang mengambilnya adalah salah satu dari kawanan karier, bukan begitu? Dua pistol udara disambarnya, dipeluknya dengan satu tangan sementara binernya tak sengaja menangkap siluet gadis Lee kecil pergi ke puncak kornukopia. Baguslah, setidaknya gadis kecil itu bisa mendapatkan suplai senjata untuk melawan nonkarier, bukan begitu? Pun, ia rasa ada Hada yang nanti akan menjaganya. Gadis Secret itu tak perlu memikirkan nasib teman adiknya itu kali ini, fokusnya hanya untuk menghabisi cecurut-cecurut menyebalkan yang menodai kornukopia. —seperti aku saja, eh, Ferina? Shut up, you. Tangannya meraup belati yang langsung ia lekatkan di ikat pinggang, juga tempat minum dari kulit yang ia pegang dengan tangan kanan. Dan melihat ada yang bergerak ke arahnya, ia melemparkan tempat minum dari kulit tersebut ke seseorang tersebut—perempuan. Cih, mana dia peduli distriknya dari mana. Lalu meniupkan peluru dari ke lelaki distrik rendahan yang berada dekat dengan anak lelaki distrik satu yang seusia dengan Maggie. Nah. Mimpi indah, boy. Edited by Enrico Fooster, Saturday Jun 1 2013, 05:06 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Kyle Blackthorn | Saturday Jun 1 2013, 02:01 PM Post #43 | |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 70 || POSISI: 4 TARGET: Distrik 12 Kathleen Halvorsen || AP: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] || KS: [result]17&17,1d24,0,17&1d24[/result] 1 belati, 1 kotak biskuit, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit Tandanya sudah terdengar. Kyle terlambat sedetik untuk bergerak, saking tegangnya dia saat ini. Jantungnya berdegup kencang, berdebar-debar menyenangkan, antusias, bersemangat, tapi juga takut. Siapa memangnya yang tidak takut menyambut kematiannya sendiri? Kyle tahu bahwa dirinya gemetar saat pikiran itu terlintas di kepalanya. Bahwa dia sedang masuk ke dalam pelukan kematian sejak namanya disebutkan sebagai tribut laki-laki dari distrik delapan. Bahwa dia takkan kembali hidup-hidup. Tapi dia mengabaikan orang tuanya yang jelas sekali tampak menahan diri untuk tidak terlihat bersedih di hadapannya. Entah apa alasannya. Mungkin supaya dia kuat saat di arena nanti sehingga berkesempatan untuk pulang. Dia lebih senang jika orang tuanya menangis meraung-raung karena sadar bahwa mereka telah kehilangan anak-anak mereka. Tak ada lagi anak-anak yang akan berlari-lari di sekitar mereka, kecuali mereka membuat yang baru. Ahah. Kakinya berlari, terus berlari tanpa mempedulikan sekitar. Dia mengincar sebuah ransel. Badannya direndahkan sementara tangannya meraih benda-benda yang bisa diambilnya sepanjang perjalanan menuju ransel incarannya. Dia butuh benda-benda lain selain apa yang ada di dalam ranselnya. Dia butuh senjata, dia butuh... apa saja yang bisa didapatkannya. Dia sampai pada ranselnya dan segera memakai ransel itu lalu melihat ke sekelilingnya, memperhatikan dan berjaga-jaga jika ada yang mendatanginya. Dia menunduk, memperhatikan benda-benda yang berhasil disambarnya dalam perjalanan menuju ransel incarannya. Ada makanan berupa sekotak biskuit dan sebungkus dendeng. Ternyata tangannya memang magnet yang bagus, tahu saja kalau dia memang sangat butuh makanan di arena. Malah kalau bisa, dia mau mengambil semua makanan di arena ini. Ada banyak macamnya, lumayan, bisa buat kenyang. Yang lain ambil senjata juga boleh deh. Dia mau makanannya saja. Tapi jangan ya, nanti dia bertarungnya bagaimana. Masa lawannya dilempari pakai makanan? Buang-buang makanan itu namanya. Kalau di Capitol buang-buang makanan itu bolehlah. Tapi kalau di sini, di mana makanan saja terbatas (cuma dendeng dan biskuit mana bisa kenyang?), Kyle tidak mau buang-buang makanan. Jadi, kabar baiknya tangannya juga menyambar belati, senjata untuk mempertahankan dirinya, dan juga tempat minum kulit. Ada yang mendekat, dia segera melakukan serangan dengan menendang tungkai orang ini. Agak pelan tapi mau dibilang pelan sekali juga tidak sampai sepelan itu. Pokoknya Kyle berusaha menyerang orang yang berada sangat dekat dengannya. Supaya pada minggir dan beri Kyle jalan begitu. Kyle mau lari-lari nih! "HEYAAAA!" Kyle, jangan teriak-teriak. Nanti dikira tidak serius. |
|
![]() |
|
|
| Kathleen Halvorsen | Saturday Jun 1 2013, 02:01 PM Post #44 | |
![]()
|
DISTRIK 12 || HP: 70 || POSISI: 1 TARGET: Freida Hayworth || AP: [result]8&8,1d9,0,8&1d9[/result] || KS: [result]13&13,1d24,0,13&1d24[/result] satu buah belati, satu buah tempat minum kulit, satu kotak biskuit dan satu kotak korek api ---------------------------------- Akhirnya hal yang selama ini ditakuti oleh gadis yang kini masih menatap ngeri ke arah depan tersebut terjadi. Maniknya bergulir ke mana-mana, memperhatikan dan bergidik ngeri. Empat puluh delapan manusia akan saling bertarung dan memperebutkan satu-satunya tahta tertinggi. Pulang membawa kejayaan dan kebanggaan kepada distrik di mana mereka berasal. Dua puluh empat. Hanya satu yang akan keluar menjadi pemenang. Menjadi pemegang kasta tertinggi di tempat ini. Pun menjadi favorit di Capitol. Membawa kejayaan serta kemakmuran bagi distrik asal, setidaknya untuk satu tahun ke depan. Dan dia, Kathleen Halvorsen, memiliki probabilitas sebesar satu per dua puluh empat untuk menjadi pemegang tahta tertinggi tersebut; menjadi pemenang dan mengangkat derajat distrik asalnya, yaitu distrik dua-belas. Satu, hanya satu. Kecil, namun memberikan secercah harapan bagi gadis berumur empat-belas tahun ini. Jika bukan dia yang menang, setidaknya, salah satu dari empat rekannya. Gadis ini ingin sekali ada seseorang yang mengangkat dan membawa nama distrik dua-belas ke kasta yang lebih tinggi. Udara cerah dengan langit berwarna biru. Awan tipis menghiasi langit seperti gula-gula kapas. Angin berhembus perlahan dan lembut, namun diam-diam tertawa melihat perilaku para manusia yang kini tidak jauh berbeda dengan manusia bar-bar. Oh, tungguh, bukan hanya mereka yang kini berada di dalam Arena yang berperilaku bar-bar. Namun, juga mereka yang turut mendukung dan memberikan kontribusi atas berlangsungnya acara bar-bar ini. Capitol. Ya, Capitol dan segala isinya. Mereka juga manusia bar-bar dengan pakaian warna-warni dan gaya esentrik mereka. Yang mengatakan bahwa esensi dari acara bar-bar ini adalah untuk menyenangkan hati mereka. Memberikan pertunjukan yang menarik untuk dilihat; topik konversasi yang hebat. Sepuluh detik. Kathleen Halvorsen bersumpah di dalam hati bahwa hari ini dia akan berusaha menjadi yang terbaik. Delapan detik. Kathleen Halvorsen berjanji tidak akan merepotkan siapa pun. Tidak kepada Alph yang sudah beristirahat dengan tenang di atas sana. Tidak kepada Floyd Ordyn. Lima detik. Jantungnya berdegup dengan cepat, tidak lagi mengikuti ritme ketukan seperti biasanya. Semua perasaan bercampur menjadi satu. Asa-nya terbakar, jantungnya digerogoti oleh rasa takut, hatinya ditutupi dengan kabut asap yang tebal. Dia ingin memberontak, namun tiap sel di tubuhnya menolak untuk melakukan tersebut. After all, she is just a little girl. Tidak. Dia adalah Kathleen Halvorsen. Jika memang takdirnya membawa dirinya ke maut, dia akan menerimanya—walau sebenarnya hati serta tubuh berteriak ketakutan—dengan segenap jiwa. Jiwanya sudah siap. Dia akan berusaha dan tidak akan merengek meminta bantuan. Karena, dia siap. BOOM! Suara tersebut keras, memekakkan telinga. Maniknya bergulir, menatap satu per satu wajah-wajah asing yang akan menjadi teman di Arena ini. Sekilas di antara selang waktu yang sempit, Kathleen Halvorsen bersumpah bahwa dia merasakan ada Alph serta Mum yang mendorong batinnya; mengisi penuh keberaniannya. Semua berlari. Ia juga berlari. Semua terjadi dengan begitu cepat. Barang-barang berceceran. Tidak ada waktu untuk berpikir. Kathleen dengan sigap mengambil satu buah belati, satu buah tempat minum kulit, satu kotak biskuit dan satu kotak korek api dan sebuah ransel kecil. Pandangannya kacau. Mereka semua bergerak, terlalu cepat bagi Halvorsen muda ini. Dia butuh perlindungan. (Siapa yang tidak?). Ada seseorang yang mendekat. Dan detik berikutnya Kathleen Halvorsen baru saja memulai sebuah pertikaian yang tidak pernah ia harapkan. Lengannya bergerak begitu saja—memukul sebuah sosok di belakangnya dengan tas ransel kecil miliknya. Ini adalah perangnya, dan hal tersebut sudah dimulai. Sekarang waktunya. 506words tanpa TAG dan OOC |
|
![]() |
|
|
| Floyd Ordyn | Saturday Jun 1 2013, 02:01 PM Post #45 | |
|
DISTRIK 12 || HP: 68 || POSISI: 2 TARGET: Hada Atala || AP: [result]3&3,1d9,0,3&1d9[/result] || KS: [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result] kapak, kantong plastik, satu bungkus dendeng, dan madu. Semua orang berlarian ke sana dan ke sini. Sudah mulai terlihat juga orang-orang mulai menyerang satu sama lain. Floyd tidak boleh diam begitu saja. Walaupun dia yakin akan mati di arena tapi setidaknya dia tidak akan membuatnya mudah, ia akan tetap melakukan perlawanan. Pesimis tapi tetap berjuang—aneh. Tanpa buang-buang waktu kakinya berlari dan matanya melihat ada senjata nganggur, eh. Tak hanya senjata, ada juga berbagai benda lainnya. Tapi bukan ia seorang yang ada di tempat itu ngomong-ngomong. Rupanya ada 2 orang kawanan karir entah dari distrik mana ia tidak memperhatikan, seorangnya perempuan dan seorangnya lagi laki-laki. Ada juga seorang gadis lain yang sepertinya bukan kawanan karir. Oh well sepertinya ini akan menjadi double date, huh? Fokus matanya tertuju pada kapak yang ada di atas padang rumput itu. Ia tau bukan dirinya seorang yang menginginkan barang itu. Apa lagi mengingat ada para karir yang akan dengan senang hati menghabisi nyawanya. Tapi tidak untuk saat ini, kawan.. Dengan cepat Floyd mengambil kapak itu. Ia juga mengambil kantong plastik, entah akan dia pakai untuk apa yang penting dia mau mengamankan itu dulu. Lalu tak jauh dari situ ia melihat ada dendeng dan madu. Oke lah ambil juga kedua barang itu. Sekarang dia sudah merasa lebih leluasa untuk menhadapi para karir. “Apa kamu! Mau apa sekarang, hah?” Lalu Floyd mengayunkan kapaknya ke arah pemuda itu. salah rekap HP. post selanjutnya harap HP dikurangi 5. senjata kapak silahkan rebutan dengan Hada Atala Edited by Jonathan Duprau, Saturday Jun 1 2013, 02:15 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Jester Holt | Saturday Jun 1 2013, 02:01 PM Post #46 | |
|
BOOM. Meriam itu berbunyi, akhirnya. Semua permainan ini memacu adrenalin gilanya, terlalu besar hingga membuat jantungnya nyaris berpindah ke lutut. Ini bukan sebuah permainan berhadiah barang rongsokan, pemuda Holt ini tahu itu dengan baik. Permainan yang mempermainkan nyawa para bocah ingusan, dan dengan kesombongannya ia mengambil peran didalamnya. Sebuah deklarasi congkaknya menempatkannya menjadi salah satu dari sekumpulan bocah yang berubah menjadi pemuas nafsu akan hiburan para kaum konsumtif itu. Sepasang birunya menyapu sekumpulan bocah yang terlihat seperti tikus got yang takut akan manusia yang sebentar lagi akan membasmi mereka. Yah, membasmi dalam artian sesungguhnya. Dan, ia tak mau seperti para tikus got itu. Ia ingin membasmi bukan dibasmi. Pemuda Holt itu melesat sesaat setelah meriam berdetum, memberikan wajah congkak terbaiknya. Setidaknya itulah yang membedakannya diantara sekumpulan tikus got itu. Penghuni capitol itu harus tahu hal tersebut. Jemarinya segera menyambar tas ransel yang berukuran paling besar —persetan dengan isinya— pemuda itu segera memakainya dan kembali melesat menuju benda-benda yang di dekatnya. Birunya kembali menyapu sekitarnya dengan singkat. Senjata, ia butuh itu. Ia tak butuh tetek bengek lainnya. Senjatalah yang akan membuatmu hidup. Makanan akan mudah didapatkan jika pemiliknya dihancurkan. Dengan tangan sedikit gemetaran oleh pengaruh adrenalin yang tercampur sempurna dengan keinginan mutlaknya, pemuda itu meraih dua buah pistol meskipun ia tak terlalu lihai memainkannya namun terlihat berguna untuk pembasmian jarak jauh. Mengenggamnya erat-eratnya seakan itu benda berharga. Sepasang birunya kembali menyapu sekeliling berusaha mencari apa lagi yang ia butuhkan. Kemana senjata-senjata sialan itu. Sebuah tombak dan kapak menarik perhatiannya dan ia kembali melesat untuk mengambilnya. Persetan dengan isi ranselnya nanti yang mungkin tak akan berisi makanan. Namun melihat ukuran ransel yang ia dapatkan, ia meragukan tak mungkin tak ada makanan didalamnya. Ia bisa mendapatkan makanan dengan membasmi pemiliknya. Ya, membunuhnya. Bukankah itu yang diinginkan oleh para makhluk rakus dan konsumtif itu? Membunuh demi memuaskan nafsu mereka masing-masing. Bocah-bocah tengik ini berevolusi dengan sempurna hingga menjadi makhluk tak mempunyai akal sehat. Bertahan untuk membunuh. Diarahkannya kapak ini ke peserta yang pertama kali dilihat. Laki-laki dari sebelas dan Perempuan dari Tiga yang mendapatkan ayunan kapak darinya. Nah, dimana tangan Tuhan bermain di dalam permainan ini? |
|
![]() |
|
|
| Floryn Lee | Saturday Jun 1 2013, 02:02 PM Post #47 | |
![]()
|
└(∵┌)└( ∵ )┘(┐∵)┘ DISTRIK 4 || HP: 95 (*`д´)b POSISI: 10 (ALHAMDULILLAH) ke 4 ☆ミ(o*・ω・)ノ[ FLAVEA ] || AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] TARGET: KYLE (D8) || KS: [result]24&24,1d24,0,24&1d24[/result] TARGET: KATHLEEN (D12) || KS: [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result] DUA BELATI, SATU TENDA(...) & SATU PEDANG BERMATA GANDA(...); Well, larinya nggak buruk-buruk amat. Dengan cepat dan sigap, Floryn diam di tempat, menatap ke orang-orang di balik punggungnya tadi yang malah sibuk berpesta. Iya, iya. Nggak harusnya begini juga, sih. Malah ongkang kaki, sambil melongok ke persediaan yang ada di dekat tempat ia berdiri. Tapi, si kecil itu hanya mau menunjukkan ke Capitol bahwa meski dua tahun lalu ia dikacaukan jiwanya dengan melihat bagaimana visualisasinya disalin dan gunakan sebagai mesin pembunuh cilik untuk kakaknya, dia masih bisa bertahan. Masih bisa membuat Mags dan Reef mungkin sedikit menghela napas lega karena ia bisa lari secepat kilat alih-alih disenggol bacok oleh peserta lainnya. “Hap, hap.” Dia memang sengaja kok menyuarakan langkah kakinya sendiri. Niatnya cuma buat meyakinkan bahwa ia akan selamat dari mandi darah ini. Jujur, lho. Agak seram begitu melihat secara langsung dan pasti bagaimana para peserta sibuk dengan kegiatan masing-masing. Siapa juga sih yang bakal mengira kalau ternyata setelah meriam diletuskan, langsung ada yang tewas—hih, Flo enggak mau balik ke tempat dimana banyak yang berkumpul hanya untuk saling tusuk. Bukannya tadi cuma mau sok-sokan aja, tapi si kecil itu tahu bahwa kalau tidak diam disini yaah ia akan mencari rekan satu distriknya. Eh, tadi Hada panggil namanya, kan? “HADAAA. AKU DISINI.” Kata Mags dan Reef jangan lupa sama aliansi. Iya, iya. Nih. Ke Flavea, nih. Tapi untuk aliansi Karier lainnya? Huh. Nanti dulu, deh. “Hush, hush.” Floryn mengibaskan tangannya, memberikan gerakan agar lawan dari rekan aliansinya menjauh. Kemudian menatap mereka langsung ke manik masing-masing secara bergantian. Senyum sekali, ia kemudian mengeluarkan satu bilah panjang yang sempat ia ambil di puncak terompet tadi. Enggak sepadan sih sama tubuh mungilnya, tapi apa peduli si cilik Lee? “Jangan ganggu Flavea. Dasar jelek!,” celetuknya (Kyle.red), disusul ekspresi tidak suka yang ditujukan pada sang lawan, ayunan itu diarahkan pada ceruk leher. Hng. “Kamu juga.” Yang satu ini di paha kirinya. (Kathleen.red) Dia benar-benar nggak tahu cara pakai pedang, jadi bisa jadi meleset, sih. |
|
![]() |
|
|
| Freida Hayworth | Saturday Jun 1 2013, 02:03 PM Post #48 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 70 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 12 Kathleen Halvorsen || AP: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] || KS: [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result] (1 belati, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit, 1 pasang kaus kaki) Sejak berada di Capitol, Freida tak pernah melewatkan satu hari pun tanpa bersyukur bahwa Capitol tidak menyiksa mereka sejak awal, bahwa mereka diberi tempat tinggal yang nyaman, fasilitas mewah, serta makanan enak yang berlimpah-ruah. Ia bersyukur untuk itu semua, tentu saja. Seperti yang selalu Rita Hayworth ajarkan padanya sejak kecil. Mensyukuri keadaan, berterima kasih atas segala anugrah yang didapat, karena tidak semua orang beruntung merasakan kondisi yang sama. Karena lebih banyak orang yang lebih menderita daripadanya. Di Distrik Sepuluh yang biasa-biasa saja, Freida selalu mensyukuri semua kecukupannya, terlebih di Capitol yang serba berkelimpahan, ia tak bisa berhenti mengucap syukur, sungguh. Kini, dengan mata yang terbuka separuh—menyipit karena ia terlalu ngeri dengan banyaknya darah yang mulai mengotori padang rumput hijau ini—Freida dapat melihat bahwa yang diserangnya adalah seorang gadis yang pernah ia lihat di Pusat Pelatihan. Gadis yang sama sekali tak berdosa. Maaf, maaf, maaf. Tapi ia harus pergi dari sini, menemui Yasmine dan Tume, dan Freida tidak ingin dihalangi siapapun sekarang. Maka sekali lagi ia membuat gerakan menebas dengan belatinya. Matanya kembali dipejamkan rapat-rapat. Tak sanggup menatap hasil perbuatan tangannya sendiri. serangan dianulir. Kathleen telah diserang Kyle dan Floryn. Edited by Lisette Bass, Saturday Jun 1 2013, 04:45 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Pinoy Annelli | Saturday Jun 1 2013, 02:05 PM Post #49 | |
![]()
|
DISTRIK 5 || HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 7 (Shinzo Kawabata) || AP: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result]|| KS: [result]1&1,1d24,0,1&1d24[/result] [ b ]satu kotak biskuit, satu tempat minum kulit, satu belati, satu bungkus dendeng[ /b] Pinoy berlari secepat yang dia bisa, menyambar sebuah ransel yang teronggok beberapa meter di depannya. Ia menggendong ransel itu dan menoleh ke barang di sekitarnya. Dia melihat beberapa benda berserakan. Refleksnya bergerak cepat meraih benda-benda yang ada di sekitarnya. Ada satu kotak biskuit, satu tempat minum kulit, satu belati, dan satu bungkus dendeng. Baru itu yang sempat dia ambil ketika disadarinya ada pergerakan di dekatnya. Sontak pemuda ini segera menegakkan dirinya. Oh, banyak yang berada di dekatnya, tapi yang paling dekat adalah seorang pemuda dari distrik delapan. Shinzo Kawabata. Mungkin dia tdak perlu membunuh pemuda itu. Mungkin saja. Tapi, dia tidak tahu apakah Shinzo berpikirsan sama seperti dirinya. Jadi, Pinoy mengangkat belatinya dan berlari menyongsong pemuda itu. Baginya ini menjadi semakin mudah bila pemuda itu tidak menyadarinya. Pinoy akan menghabisi Shinzo selagi bisa, selagi belum banyak yang bisa pemuda itu ciderai terhadapnya. Cukup maafkan saja dia, Distrik delapan. Pinoy melakukannya karena terpaksa, karena dirinya sendiri berada dalam marabahaya sehingga pantaslah dia melakukan hal ini untuk melindungi dirinya sendiri. Berhasilkah? |
|
![]() |
|
|
| Stephanie White | Saturday Jun 1 2013, 02:06 PM Post #50 | |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 75 || POSISI: 7 TARGET: DISTRIK 2 || AP: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] || KS: [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] [ b ] (ransel sedang, kompas, pisau, satu set panahan) [ /b ] Jika waktu hanyalah detik yang berputar, ingin kukacaukan saja mesinnya agar diam. Sejak namanya disebutkan sudah merupakan kesalahan, tapi ia tidak berani melawan takdirnya sendiri. Ia tahu Clause akan membencinya karena ia mati-matian menolak untuk digantikan. Eve mengepalkan tangannya, gemuruh terdengar semakin memecah telinganya, seakan mengetahui perang berdarah akan terjadi dalam satu bahkan dua menit ke depan dan semua akan terjadi secara cepat. Awalnya ia ingin menyerahkan diri saja, lebih baik cepat meregang nyawa, ia tak ingin dipersulit sekadar menghembuskan nafas terakhir tapi ia tahu Clause akan kecewa melihat dirinya tak memperjuangkan dirinya sendiri. Apa dia sedang duduk di depan televisi bersama ayah dan ibu? Atau dia sedang duduk di padang rumput melakukan perburuan? Mustahil, tayangan ini wajib dilihat oleh penduduk. Clause, apakah kau melewatkan satu saja dari penampilanku sejak malam pengumuman peserta? Apakah ia melewatkan sedetik saja Eve menjelang detik kematiannya? Eve menggeleng, ia tahu tidak akan dapat bertahan lama, paling tidak ia datang secara sukarela untuk kematiannya. Eve tak berharap menang, setidaknya belum, ia masih mengumpulkan ambisi untuk menghabisi nyawa orang lain seperti ia menghabisi nyawa ribuan kelinci di hutan. Menghirup nafas dalam-dalam, kecepatan larinya seperti tipu muslihat, ia bergegas mengoyak rerumputan, sesekali bergulir ketika arena sudah mulai dihiasi cairan kental kemerahan. Erangan, teriakan, serangan, semuanya ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Tubuhnya berguling, meraih ransel berukuran sedang dengan cekatan bangkit meraih apapun yang tersebar disana. Seperti mainan, begitu juga dengan kejadian selanjutnya, terjadi dengan cepat seseorang menghadangnya. Ia terpaku tetapi tidak lama sebelum serangan pertama, ia sudah harus menghindar. Aku akan tetap hidup Clause, hingga tiba waktunya. |
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |
















9:33 PM Jul 11