|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,775 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | |
|---|---|
| Kyle Blackthorn | Saturday Jun 1 2013, 02:07 PM Post #51 |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 62 || POSISI: 4 TARGET: Distrik 10 Freida Hayworth || AP: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] || KS: [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result] 1 belati, 1 kotak biskuit, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit "HAI!" "APA KABAR?" Berseru ceria. Seceria matahari terik di atas sana—iya bahas matahari dan cuaca itu penting. Senyumnya lebar sekali hingga kedua sudut bibirnya hampir mencapai telinganya. Padahal ini adalah arena, bloodbath lebih tepatnya, tempat darah ditumpahkan sebanyak mungkin, tempat banyak peserta akan terhenti langkahnya di sini, dan menyebabkan orang-orang terkasih mereka menangisi nasib sang peserta. Tempat yang tidak akan menjadi akhir baginya. Tidak, ini masih sangat awal, terlalu awal baginya untuk menemui kakaknya. Belum, dia akan mempertahankan nyawanya selama mungkin supaya dia punya muka untuk bertemu dengan kakaknya. Kyle bisa membayangkan kakaknya yang akan mengejeknya jika dia tewas di bloodbath. Bukan bayangan yang ingin dilihatnya dalm kenyataan. Karena itu, dia akan berusaha sebaik mungkin, tidak akan cepat menyerah. Lagipula, ini masih sangat permulaan sekali. Baru saja satu dua menit yang lalu mulainya. Masih terlalu pagi untuk menyerah kalah. Lagipula menyerah itu sangat tidak Kyle Blackthorn sekali. Dia mau menemui kakaknya dengan tubuh tegap, dada membusung, dagu terangkat, supaya kakaknya bangga melihat adiknya masih terus melakukan perlawanan hingga saat-saat terakhir. Malu dong kalau pas ketemu Kyle tidak punya kepala? Kalau Kyle yang berhasil membawa kepala baru bangga. "Heyah! Jangan marah padaku ya!" Kyle mengacungkan tinjunya ke lengan salah seorang peserta yang sedang membelakangi Kyle. Tidak tahu siapa. Perempuan sepertinya. Dan kayaknya hendak lari ke hutan. O tidak bisa. Kyle harus menahannya terlebih dahulu. Kyle ingin pamer kalau dia bisa menyerang juga nih, tidak kalah dari karir-karir yang asal main tebas sana tebas sini. Kyle ingin menunjukkan juga kalau ia bisa menyerang dengan tangan kosong. Bahwa Distrik Depalan yang terkenal dengan tekstilnya bisa meninju juga selain menjahit dan merajut. Senyumannya masih sangat lebar, hingga wajahnya terlihat sangat menyenangkan walaupun dia baru saja melayangkan tinju pada lawannya. Masih sangat ceria, padahal ini bukanlah taman bermain atau padang rumput seperti yang biasa didatanginya setelah pulang sekolah untuk menunggu waktu makan malam tiba. Sekali lagi, ini adalah arena, tempat di mana Kyle begitu menikmati eksistensinya berada di sini. Tidak sekalipun dia protes karena terpilih menjadi tribute. Cari tahu saja. Dia tidak bohong kok. Sungguh. Kyle kapan pernah bohong coba? Dan Kyle ingin menunjukkan performa terbaiknya hari ini. Supaya kakaknya di surga sana bangga punya adik pemberani seperti Kyle. Pemberani dan sehat karena makan banyak selama di Capitol. Ahah. Post yang sebelum ini salah, ketuker akun ;___; Udah lapor |
![]() |
|
| Yasmine Silvertongue | Saturday Jun 1 2013, 02:07 PM Post #52 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 70 || POSISI: TARGET: DISTRIK 4 (CE;bare hands)|| AP: [result]3&3,1d9,0,3&1d9[/result] || KS: [result]13&13,1d24,0,13&1d24[/result] empat bungkus dendeng sapi Tabung itu bergerak. Namun bukan tentang bagaimana Yasmine menenangkan hati dan menguatkan imannya dalam perjalanan menuju permukaan. Seantero Panem tidak akan melihat para peserta yang berada dalam tabung menuju Arena yang tidak diketahui siapapun kecuali para Gamemakers. Siapa yang tahu, mungkin segelintir dari mereka bahkan menangis meraung-raung karena tidak akan bisa kembali, kecil kemungkinannya. Sementara para kawanan Karier—yang kini berjumlah dua belas orang, sudah setengah peserta Hunger Games biasanya—mungkin seperti hewan liar yang tak bisa diam di dalam kurungan, aggitated to feel else’s blood. Yasmine hanya memejamkan matanya. Degup jantung sang gadis tidak pernah seliar ini. Kala sinar matahari—bagus, Arena tahun ini masih berada di tempat terbuka—memberikan terang melalui kelopak matanya, ia bergidik membayangkan di kiri dan kanan sudah berkumpul empat puluh tujuh peserta dengan satu harapan yang sama : pulang. Perlahan ia membuka mata, terkejut sang gadis mendapati Arena ini tidak terdapat aura maupun sentuhan kejam seperti yang terdahulu. Ini bukan Distrik Sepuluh atau Capitol, ini suatu habitat yang baru. Seolah memanggilnya untuk santai sejenak. Ah, apakah ia sudah mati? Ini… Surga? Sayup-sayup ia dapat mendengar dentum meriam berbunyi, belum ada yang bergerak? Memang, ini tampaknya bukan Arena. Terlalu manis, terlalu indah, terlalu… palsu. Gadis Silvertongue itu tersentak dari lamunan panjangnya. Semerbak aroma bunga-bungaan dan bahkan udara tampak memiliki cita rasa manis membuatnya terhipnotis barang sejenak. Dilihatnya satu peserta telah melangkah begitu jauh, dilihatnya pula orang-orang di sekelilingnya baru juga tersadar akan tujuan utama mereka berada disini. Tujuan utama gadis ini? Lari yang utama. Ia melangkah keluar dari tempat ia berdiri. Bergegas ke satu titik dimana ia dapat meraup barang sebanyak mungkin dan sepraktis mungkin sebelum segera hengkang dari Cornucopia. Tetapi dengan begitu banyaknya manusia berhamburan disini, tidak mungkin satu dapat melarikan diri begitu saja. Semua ingin selamat. Semua ingin kabur. Tetapi tidak ada yang bisa kabur dengan damai jika Cornucopia tidak bermandikan darah segar dan dipenuhi mayat bergelimpangan. Capitol tidak ingin gagal lagi. Namun Yasmine juga tidak ingin gagal pertama. Tangannya dengan cepat merampas satu ransel berukuran sedang yang tergolong berat. Mata hazelnya dengan cepat memindai keadaan sekeliling. Sangat cepat sehingga ia merasakan transisi ini membuatnya pusing ditambah dengan deru napas tak beraturan dan tekanan batin akan waktu yang tak banyak tersedia untuknya. Tak lupa, ia membekali diri dengan dua bungkus dendeng sapi. Siapa yang ingin terus menerus menjadi herboviora? Ia sebisa mungkin tidak. Saatnya pergi? Saatnya berusaha untuk pergi. Senjata? Gadis itu hendak melangkah ketika baru ia sadari keberadaannya semakin terlihat, juga keberadaan peserta lain yang terlihat sangat jelas olehnya dan sangat dekat. Tiga karir, tiga lagi dari Delapan, Sembilan, dan Sebelas. Salah satu karir ia kenal, Urie Tommy. Sejenak, Yasmine menggeleng samar pada Urie, tolong jangan, pintanya. Ia mengerling sejenak ke arah Kristeen Franscois, mengangguk samar dan keduanya maju. Yasmine mengelak sebisa mungkin dan dengan ilmu bela diri ala kadarnya, ia meninju sang lawan di bagian ulu hati. 473 MSW’s words. Deskrip sesuain dibuku. Aliansi dengan Kristeen. Geleng-geleng kepala ke Urie, bang. |
![]() |
|
| Kathleen Halvorsen | Saturday Jun 1 2013, 02:07 PM Post #53 |
![]()
|
DISTRIK 12 || HP: 70 || POSISI: 1 TARGET: Kyle Blackthorn - Distrik 8 || AP: [result]8&8,1d9,0,8&1d9[/result] || KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result] satu buah belati, satu buah tempat minum kulit, satu kotak biskuit dan satu kotak korek api Jika ini adalah sebuah cerita di mana Kathleen Halvorsen menjadi penulisnya. Gadis dengan surai panjang berwarna coklat muda ini akan bercerita mengenai hal-hal yang indah serta menyenangkan. Karena ia selalu ingin hidup menjadi selalu menyenangkan dan indah. Tipikal impian yang selalu didambakan oleh khalayak ramai, tentu saja. Dia tidak menginginkan hal yang macam-macam. Dia, Kathleen Halvorsen, akan menulis bahwa kehidupannya sederhana dan baik-baik saja. Mum dan Dad bekerja dan mendapatkan upah yang layak. Alph akan selalu menganggu dan melindunginya secara bersamaan, menjadi sebuah sosok kakak yang sangat sempurna. Mereka semua akan tinggal di sebuah rumah yang sederhana; bercat coklat dan putih dengan teras yang menghadap ke arah di mana matahari terbenam, memudahkan keluarga Halvorsen untuk duduk santai— sekedar untuk minum teh atau memakan camilan ringan dan memandangi langit petang yang selalu membuat hati berdebar-debar bahagia. Namun, semua hal itu ada miliknya. Dan kini, sayangnya, Kathleen Halvorsen adalah milik Capitol. Mainan Capitol. Dia tahu jika setidaknya dia berusaha dengan baik, dia dapat menang. Jika tidak menang dan mendapatkan tahta tertinggi di permainan ini, di dalam kehidupannya. Karena, Kathleen Halvorsen akhirnya dapat menjadi seorang yang mandiri dan diingat karena telah mengerahkan seluruh tenaga. Di sini terlalu banyak wajah-wajah yang tidak dikenal. Terlalu asing. Semua ini terlalu asing. Kathleen Halvorsen untuk yang kesekian kalinya merasa takut kepada dunia dan arena, seperti biasa sebenarnya, tentu saja. Dunia gadis berumur empat belas tahun bernama Kathleen Halvorsen ini tidak pernah lagi sama setelah kematian mendiang kakak tersayang, Alph. Alph pernah mengatakan bahwa dirinya adalah salah satu yang terbaik yang pernah dimiliki oleh sang kakak laki-laki. Kathleen tahu, karena dia juga merasakan hal yang sama. Entah bagaimana, nampaknya, ada sebuah tarikan. Mungkin hanya untuk para pemegang marga Halvorsen ini. Dia, kakaknya, masuk ke dalam Arena. Di mana para remaja dipaksa untuk melakukan hal bar-bar. Membunuh satu yang sama dengan mereka. Terlalu kejam. Kathleen tidak mengerti mengapa. Ini terlalu berat. Kehidupan seperti ini terlalu riskan untuk dijalani. Jika boleh terlahir kembali, nanti, di masa depan. Kathleen Halvorsen menginginkan kehidupan yang lain dan berbeda. Yang lebih damai dari kehidupan yang seperti ini. Kathleen Halvorsen berharap bahwa dunia ini akan menjadi lebih baik. Keadilan, sopan santun serta hidup damai diajarkan secara menyeluruh. Tidak akan ada lagi kegiatan bar-bar seperti ini. Dia berhasil, beberapa berusaha untuk meraihnya. Dia pergi, berlari, bergerak dengan cepat. Ia harus mengerahkan seluruh tenaga. Dia menendang seseorang yang menghalangi langkahnya. Maaf, tapi aku harus. Ia membatin dalam hati. 386words tanpa TAG dan OOC ETA: ANULIR. KYLE SUDAH DISERANG FREIDA & FLORYN Edited by Corialonus Snow, Saturday Jun 1 2013, 03:42 PM.
|
![]() |
|
| Tume Tinkham | Saturday Jun 1 2013, 02:08 PM Post #54 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 11 (Gavyn Owyn) || AP: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result]|| KS: [result]1&1,1d24,0,1&1d24[/result] dua tempat minum kulit, satu belati, satu lentera Tume hanya mampu berlari sebentar saja sebelum tangannya mulai mencari apa saja barang terdekat yang bisa dia raih. Baginya ini seperti bermain tikus dan kucing. Semua peserta sudah bergerak serabutan di sekitarnya dan dia hanya berharap dirinya tidak mencolok. Putra Tinkham ini mulai mengambil secara acak barang seperti apa saja yang bisa ia ambil dalam kesempatan kecil seperti itu. Dia berhasil meraih satu kotak biskuit, satu tempat minum kulit, satu belati, dan satu bungkus dendeng. Wow! Belati! Ya, dia berhasil memperoleh senjata. Senjata yang tidak terlalu ribet cara pakainya pula. Bolehlah dia merasa senang sekarang. Tapi, kesenangan itu tidak berlangsung lama. Begitu cepatnya suasana berubah ketika beberapa sosok mendekatinya dan mulai sibuk. Tume mendapati satu tubuh besar di dekatnya dan mengenalinya sebagai Gavyn Owyn, pemuda dari distrik sebelas. Mungkin Tume bisa memberi sedikit luka kepada pemuda itu sebelum melarikan diri. Bukan cari gara-gara tetapi ini jauh lebih baik daripada tidak ada sasaran sama sekali. Jadi, Tume Tinkham segera menghunuskan belatinya ke arah Gavyn dan beraharap pemuda itu tidak balas mencelakakan dirinya. |
![]() |
|
| Madeleine Lethbridge | Saturday Jun 1 2013, 02:09 PM Post #55 |
![]()
|
DISTRIK 2 (beransel besar) || HP: 95 || POSISI: 5 TARGET: DISTRIK 3 (CE) (pistol udara) & DISTRIK 9 (CO) (pistol udara) || AP: [result]8&6,1d10,2,8&1d10+2[/result] || KS: [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] & [result]24&24,1d24,0,24&1d24[/result] 2 pistol udara, 1 botol madu, 1 dendeng sapi Lari, lari, lari. Madeleine Lethbridge mengincar apa yang memang selalu menjadi andalannya ketimbang benda lain. Pistol. Tidak main-main, ia lantas mengambil dua buah pistol udara yang dengan sengaja sudah dipersiapkan dan tersebar di Arena. Ia harusnya bersyukur, harus—karena hari ini entah kenapa ia seolah mendapat kemujuran lebih. Tak jauh dari tempatnya tadi berlari, ia mampu menjangkau sebuah tas ransel berukuran besar. Yang tanpa pikir panjang langsung ia ambil dan seret buat menjauh dari kerumunan lain sebelum diserang. Pun bersamanya, sepanjang berlari, ia mengambil apa-apa yang sekiranya ada di hadapan. Di saat seperti ini, well, hal-hal yang tak kauduga malah bisa jadi berarti banyak demi kelangsungan hidup; dan dalam kasus Madeleine, well, yang ia ambil adalah bungkusan berbau mirip olahan daging sapi serta sebotol madu. Lari, lari, lari. Dan ia terus berlari tanpa tahu tempat sebenarnya ia berada. Tempat ini amat luas. Bermil-mil lebarnya. Dan Madeleine kini malah merasa tersesat. Dan ia melihat lawan, dari jarak jauh. Bersembunyi di balik pepohonan, secara sekaligus ia mengarahkan pistol ke dua orang yang di depan, yang berlokasi sama dengannya. 1 2 3 SHOT! SHOT! |
![]() |
|
| Coraline Estelle | Saturday Jun 1 2013, 02:10 PM Post #56 |
|
Distrik #6 || HP: 68 || Posisi: 2 Target: Hada Atala (D4-M) || AP: [result]7&7,1d9,0,7&1d9[/result] || KS: [result]8&8,1d24,0,8&1d24[/result] || (Satu tempat air minum ukuran dua liter, satu botol madu, satu kompas, satu kotak biskuit) Sekarang dia mau bilang; mampus. Iyalah gimana enggak mampus, lima ratus empat puluh itu angka yang… fantastis. Mau diisi apa coba nanti? Terserah sih ya, tapi yang jelas ketika meriam sudah berbunyi, Coraline mulai lari secepat yang ia bisa walau fakta mengatakan kalau dia bukanlah atlit lari yang handal, dia hanya bisa satu jenis lari yaitu lari dari kenyataan. Kalau lari dari kejaran peserta karier kok kayaknya agak enggak mungkin gitu ya, tuh kan pesimis lagi. Habis kalau lihat wajah atau ekspresinya peserta dari karier itu kayak horror, muka ditekuk kemana-mana, deskripsi singkatnya horror emang. Walau kalau melihat kawana peserta dari Empat kadang Cora sampai harus berpikir berkali-kali apakah mereka akan tega membunuh di Arena. Terus kembali sadar ketika mengingat kalau pemenang Hunger Games 48 itu dari Empat. Intinya peserta dari karier itu horror dan sebaiknya untuk menjaga ketenangan hidup Cora sendii, ia menjauhi mereka. Tapi begitu Cora lari dan berhenti untuk mengambil sebuah ransel dan beberapa barang yang ada di dekatnya, Cora enggak bisa ngomong apa-apa lagi waktu lihat ada dua orang karier yang juga lagi di sana. Menjajah ransel dan barang-barang yang ada. Meh. Dari Empat dan Satu omong-omong, satu lagi ada seorang pemuda dari distrik non-karier. Oh, berarti seenggaknya walau Cora nanti bakalan di serang habis-habisan sama duo karier ini, dia masih punya seorang non-karier yang kemungkinan juga akan membantu menghabisi peserta karier itu. Walau Cora juga enggak yakin bisa meyakinkan pemuda dari Dua Belas—iya gak sih?—untuk membantunya. Tangannya mengambil sebuah ransel berukuran sedang, ukuran ransel yang biasa dipakai oleh anak-anak untuk berangkat sekolah tapi kemudian makin jiper ketika melihat bahwa karier tadi ngambil dua ransel berukuran besar. Kok rasanya Cora pesimis bisa lari dari duo karier ini ya? Di ransel besar itu pasti ada banyak senjata dan bahan makanan, sedangkan di ransel sedang milik Cora… paling beruntung ada setengah dari isi ransel besar yang dimiliki oleh kawanan karier. Duh ya ini terus gimana dong? Cora asal nyamber barang-barang di dekatnya. Yang setelah dia amati baik-baik dia sempat mengambil sebuah botol berisi air mineral, itu persediaan penting omong-omong. Kan enggak lucu kalau nanti Cora mati gara-gara dehidrasi atau kekurangan air mineral. Manusia enggak bisa hidup lebih lama dari pada 5 hari tanpa air dan Arena ini kemungkinan berlangsung berhari-hari. Aha. Terus kenapa ambil madu juga? Tenaga, manis-manis atau makanan yang manis dan mengandung glukosa akan menambah tenaga lebih cepat bukan? Walau sebenarnya Cora akan jauh lebih senang kalau mendapatkan permen atau coklat edisi khusus ketimbang madu. Ya sudahlah syukuri saja. Terus kompas, ini sih sederhana, dara Estelle itu jelas buta arah. Sekarang saja dia tidak tahu kalau dia bisa lari dari dua karier yang ada di hadapannya apakah dia bisa berlari sejuah mungkin, takutnya kalau dia bisa lari eh malah ketemu karier lain. Mati saja lah, Coraline. Terus dia mau ambil kappa. Tapi keduluan si pemuda dari Empat. Facepalm. Tak lama karena Cora masih cengo dan enggak tahu harus berpikir apa. Sebuah kapak dilayangkan menuju Cora. Ada rasa perih. Asem ih. “Oi bagi kapaknya ‘napa.” Pekiknya sambil mencoba menghindar dari serangan selanjutnya—ya siapa tahu saja datang lagi serangan-serangan berikutnya. Dengan wajah cemberut sok unyu menahan sakit, Cora berpindah mendekat ke pemuda dari Empat yang nampaknya tengah mencari temannya. Kemudian satu tindakan gila dia lakukan….. mencubit lengan pemuda itu yang tidak sedang memegang kapak. Maklum ya childish-nya entah kenapa tiba-tiba kumat. |
![]() |
|
| Pietronella Hart | Saturday Jun 1 2013, 02:18 PM Post #57 |
![]()
|
DISTRIK 2 || HP: 95 || POSISI: 7 TARGET: DISTRIK 9 (Stephanie White) & DISTRIK 3 (Patricia Bronwyn) || AP: [result]7&5,1d10,2,7&1d10+2[/result] || KS: [result]15&15,1d24,0,15&1d24[/result] & [result]9&9,1d24,0,9&1d24[/result] 2 pistol udara, 1 tombak, 1 belati Tidak kena, ugh. Pada akhirnya, kegagalan toh hanya membuatnya melontarkan dengus. Kesal, kesal, dan kesal. Tangan kanannya yang sibuk mengayunkan belati itu, ternyata tidak mampu mengenai sang target. Berbahagialah, sialan, keberuntungan itu mungkin tengah malas berpihak pada gadis yang notabene terlindung di bawah atap Distrik dua. Pelatihannya selama bertahun-tahun tentu tidak boleh berbuah mengenaskan semacam ini. Sudah dipastikan, ia semestinya melakukan semuanya lebih daripada sekarang. "Ups." Ia menghindar. Buruk. Kegagalan yang intensitasnya hanya sekali itu, tentu tidak akan membuat pantang seperti ditiup angin saja, no? Ia masih mencoba mengangsurkan mata belatinya itu kepada sesosok gadis asal distrik sembilan yang berada tepat di sebelah kanannya. Kabur, bukan berarti kabur bisa dijadikan alasan alih-alih jalan tengah. Tidak, untuk sekarang ini. Kemenangan, paling tidak, harus berada di tangan pihak karier. Menghias, ia masih mau menghias permukaan kulit sang gadis alias mengukirnya seindah mungkin. Tahu kan, hal tersebut jelas-jelas menyita waktunya. Jadi, berterima kasihlah, karena perlawanannya kali ini masih terbungkus dengan cara yang lebih baik. Satu lagi, hal yang membuat Gadis Hart ini tersenyum penuh kemenangan. Ia toh, mampu mengenai lawannya dengan sekali tinju. Tidak masalah kalau ternyata seorang Pietronella Hart ini besar kepala, bukan? Salah satu tungkainya diayunkan kepada Gadis Bronwyn. This, for the twice. |
![]() |
|
| Floryn Lee | Saturday Jun 1 2013, 02:19 PM Post #58 |
![]()
|
└(∵┌)└( ∵ )┘(┐∵)┘ DISTRIK 4 || HP: 95 (*`д´)b POSISI: 10 (ALHAMDULILLAH) ke 4 ☆ミ(o*・ω・)ノ[ FLAVEA ] || AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] TARGET: KYLE (D8) || KS: [result]20&20,1d24,0,20&1d24[/result] TARGET: KATHLEEN (D12) || KS: [result]10&10,1d24,0,10&1d24[/result] DUA BELATI, SATU TENDA(...) & SATU PEDANG BERMATA GANDA(...); Ih wow. Kena, tjoi. Floryn mengerjap, tak percaya dengan kemampuannya sendiri. Pasalnya, dia memang tidak cocok sama sekali dengan pedang yang panjangnya seperti apapun. Tubuhnya yang mungil dan kurus memuatnya terlihat bahwa belati saja sepertinya tidak cocok jika harus dimain-mainkan di tangannya. Lalu ia menoleh—sempat banget, lho. Memberikan cengiran serta tatapan tak percaya lainnya ke arah rekannya. Bang Hada mungkin juga akan kaget melihatnya begini. Tenang, babang. Kamu saja kaget, apalagi pemilik surai pirang itu. Padahal mah Hada dimana, lah dia dimana. “Wow. Bisa kena.” Omong-omong, si kecil itu tidak merasa kenampakan arena ini buruk-buruk amat. Dia suka bau manis dari rerumputan, bagaimana awan di atas kepalanya tampak empuk dan enak seperti gula kapas. Rasa-rasanya, kalau kalau ini bukan arena untuk saling senggol bacok, Floryn mau banget disuruh berkemah disini atau bahkan tinggal lebih lama. “Flavea, Flavea.” Dia menoleh lalu mulai berusaha mengangkat pedangnya lagi. Badannya kurus, mungil—lalu dengan nekatnya memilih tenda dan pedang. Belati sih masih oke, pas gitu sama tubuh kecilnya. Ya sudahlah. Toh Floryn memang ingin membuktikan pada Capitol bahwa gadis sekecil dirinya bisa membela diri. “Kamu.” Dia menatap sebal ke gadis dari distrik dengan angka besar; karena seingatnya memang begitu, sih. “Nggak bisa ya nggak main-main?” Floryn Lee, setengah waras karena mengingat bagaimana Capitol bisa menyiksa kakaknya. Dia nggak mau ada distrik lain yang mengulang kisah itu padanya. Sama sekali. |
![]() |
|
| Shinzo Kawabata | Saturday Jun 1 2013, 02:20 PM Post #59 |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 5 (Pinoy Annelli) || AP: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] || KS: [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] Tiga tempat minum kulit, satu belati Tempat ini bak neraka. Saling bantai. Shinzo sudah seperti orang kalap dengan berlari ke titik acak dan menyambar ranselnya. Dia juga kapal mencari benda-benda di sekelilingnya yang bisa berguna untuk dirinya kelak. Baginya ini seperti perjamuan darah terdahsyat, bagian dari mimpi buruknya. Lagi pula, kapan dirinya bisa pulang kalau begini ceritanya. Pemuda ini berhasil mengambil serangkaian benda entah apa dan begitu dia beridir, sudah ada yang berniat menyerangnya. Shinzo mengetahui dari bayangan yang ditimbulkan dan berhasil menghindar tepat waktu. Pinoy Annelli dari distrik lima berusaha membunuhnya!!! Pemuda Kawabata ini kaget. Dia tidak ingat punya salah apa pun dengan pemuda dari distrik lima ini. Tapi, semuanya memang menjadi begitu jahat sejak meriam dibunyikan. Shinzo merasa pusing. Untungnya dia berhasil menghindar dari serangan belati maut milik distrik lima. Tanpa berpikir panjang Kawabata segera memberikan perlawanan berupa mengarahkan belatinya ke arah Pinoy. Tidak akan ada dendam, oke? Ini hanay mekanisme pembelaan diri. Lagi pula, dia tidak pernah ingat harus membunuh orang yang bahkan bicara dengannya saja sepertinya tidak pernah. |
![]() |
|
| Hada Atala | Saturday Jun 1 2013, 02:21 PM Post #60 |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 85 || POSISI: 8 TARGET: FLOYD ORDYN (D12) & CORALINE ESTELLE (D6) || AP: [result]11&9,1d10,2,11&1d10+2[/result] || KS: [result]8&8,1d24,0,8&1d24[/result] & [result]22&22,1d24,0,22&1d24[/result] 2 kapak, 1 korek api, 1 tempat air minum 2 liter Untuk pertama kali dalam 15 tahun usia hidupnya, Hada Atala melukai orang dengan tangannya sendiri. GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA... Hih. Begini ya rasanya melukai orang lain? Horror banget. Sampai rasanya dia jadi mual sendiri melihat darah segar dan bau amis yang keluar dari luka menganga yang dialami lawan akibat serangannya. Kalau bukan arena, dia pasti sudah sujud sungkem sekarang. Tapi ini Bloodbaths, kalau dia tidak menyerang, melawan...siapa yang bakal melindungi Floryn? Cuma karena pikiran itu saja Hada bertahan. Cuma itu. Makanya, luka yang juga menganga di kulitnya dia abaikan saja. Meski ada rasa perih yang lhar biasa dia rasakan. Dicubit pula. Darah. Darah. DIA PUSING. "Colleen! Kamu nggak apa-apa, kan?" berusaha memastikan kalau rekan kariernya juga baik-baik saja. Jangan anggap modus atau perhatian berlebihan ya. Karena hidup dibesarkan oleh ibu dan kakak perempuannya, dia terbiasa harus memperlakukan seorang perempuan dengan baik. Biarpun Colleen bukan dari Distrik Empat. Biarpun Colleen bukan Floryn. "Kau lihat Floryn nggak!?" Hada bertanya cepat, sambil tetap waspada. Jaga-jaga kalau dua non-karier yang baru diserang dengan kapaknya menyerang balik dirinya. Dia berdiri mendekati Colleen, berharap bisa akur dan bekerja sama sampai dia menemukan Floryn. Antisipasi, Hada mengarahkan kapak di tangan kanannya kembali ke arah...hng...Distrik Dua Belas cowok dan Distrik Enam cewek, ya? "Aku cuma mau cari Floryn!" Masih nggak ingat siapa namanya. satu kapak rebutan ya oy. |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |

















9:33 PM Jul 11