Welcome Guest [Log In] [Register]

MAY THE ODDS BE EVER IN YOUR FAVOR



[ INACTIVE ]
TERM 9: 2193 - 2194




[+] Topik AU: 4/5
[+] Visualisasi Asia: 3/3
[+] Capitol: 5/5
[+] Distrik Satu: 4/5
[+] Distrik Dua: 4/5
[+] Distrik Empat: 5/5
[+] Distrik Tiga Belas: 2/5
[+] Balita/Dewasa: 5/5



IndoCapitol


TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL
PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH
PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI
TRAINING CENTER || ARENA




Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain.

PEMENANG
HUNGER GAMES 54



{DISTRIK 1}



KREIOS EPHRAIM


MUSIM PANAS



21,3° - 23,6° C
21 Juni - 20 September
Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan.



WAKTU INDONESIA BAGIAN BARAT (JAKARTA)




Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

TWITTER & CHATBOX


Twitter
Chatbox



FORUM LOG
Waktu Update
Sabtu, 11 April 2015 Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out!

PEMBERITAHUAN
Kepada Informasi
Semua Member Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum
Semua Member Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2)
Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda.

Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru.

Bergabunglah bersama kami!

Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum:


Username:   Password:
Locked Topic
Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA
Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,773 Views)
Redemptus Maleveich
Member Avatar

Posted Image

Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala.

Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan.

Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena.

Empat puluh lima detik.

Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus.

Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi.

Tiga puluh detik.

Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa.

Lima belas detik.

Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian?

Terlambat.

KABOOM!

Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian.


Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol.
Offline Profile Goto Top
 
Replies:
Hada Atala
Member Avatar

DISTRIK 4 || HP: 85 || POSISI: 8
TARGET: FLOYD ORDYN (D12) & CORALINE ESTELLE (D6) || AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] || KS: [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result] & [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result]
2 kapak, 1 korek api, 1 tempat air minum 2 liter



DIH KENA LAGI.

Sumfeh, ini pertama kalinya Hada benar-benar menyerang orang pake kapak sungguhan, bukan latihan. Dan rasanya jauh beda saat kapaknya benar-benar menembus kulit lawannya...

YA DEWA POSEIDON, maafkan Hada!

Colleen kenapa? Kenapa dia nggak diserang? Kenapa cuma Hada yang diserang, gusti....Hada juga kan nggak salah apa-apa. Salah banget woi, ngekapak anak orang gitu. Dalam hati Hada menyesal, mengutuk perbuatannya sendiri. Dia paling nggak suka sama orang macam Dimitri Kruchev tapi lihat gimana dia sendiri sekarang.

Menyerang orang, melukai orang dengan kapaknya. Ini mimpi terburuknya. Lebih serem daripada mimpi dikejar ikan hiu....Sumpah nggak bohong.

Perih, sakit. Luka itu nyata ada ditangannya, bukan mimpi. Sekarang dia semakin khawatir sama Floryn, gimana dia ya kalau barus ngerasain sakit kayak begini? Duh, mikirinnya aja Hada udah nggak tega.

"MAAF YAAAAAAA!" Dia ayunkan lagi kapak itu, masih ke lawan yang sama. "Tolong biarkan aku melindungi Floryn!"

Setengah meminta, setengah memberi ultimatum. Dia akan melakukan apa saja untuk mempertahankan hidup seorang Floryn Lee.
Offline Profile Goto Top
 
Coraline Estelle
Member Avatar

Distrik #6 || HP: 57 || Posisi: 2
Target: Hada Atala (D4-M) || AP: [result]2&2,1d9,0,2&1d9[/result] || KS: [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] ||
(Satu tempat air minum ukuran dua liter, satu botol madu, satu kompas, satu kotak biskuit)


Tuh kan.

Apaan cubit-cubit.

Habis tiba-tiba Cora ingat kalau dulu dia nakal ibunya sering mencubitnya. Jadi tadi kan si pemuda dari Empat itu nakal ya ke Cora, makanya Cora cubit. Walau rasanya dia yakin kalau sebentar lagi si pemuda itu bakalan menyerangnya lagi dan lagi, jarak mereka teelalu dekat. Duh, Cora, kamu kok ya ceroboh banget sih. Apa kata ibunya? Apa kata Regulus—sang adik tiri—dan apa kata para pendahulunya dari Enam, yang kebanyakan mati di tangan karier. Duh. Hentikan meracaunya tolong, tapi gimana ya kalau enggak meracau, Cora kadang butuh pengalihan perhatian agar dia bisa fokus pada hal yang sedang dia lakukan. Aneh memang, padahal biasanya kalau ada orang yang diganggu mereka malah kerepotan dan akhirnya malah marah-marah.

Pasti tadi cubitannya sakit. Sakit pake banget.

Hebat gitu, Coraline Estelle. Dan mungkin satu-satunya peserta dari Enam yang suka nyubit-nyubit di antara peserta lainnya yang sedang saling tebas. Cora enggak banget kalau pakai acara tebas-tebasan, habis dia juga enggak punya apa-apa buat nebas orang lain. Agak miris memang. Dan ini harus panjang ya narasinya, duh repot emang. Kok rasanya Cora yakin dia enggak bakal bisa lari dari si pemuda Empat. Pemuda dari Dua Belas juga sedang melawan pemuda dari Empat, tuh kan mereka bisa jadi duo cari mati melawan karier dengan tangan kosong padahal karier melawan dengan kapak.

Ih tadi kalau Cora lebih cepat pasti dia bisa mengambil kapaknya dan enggak bakal melawan pakai tangan kosong, masa iya Cora harus pakai acara bela diri? Dia enggak pernah belajar bela diri masalahnya. Kecuali kalau cubit-cubitan atau main tendang-tendangan dia bisa. Banyak darha yang mengucur dari bekas lukanya barusan. Belum lagi Cora masih berdiri di dekat pemuda Empat, sehingga dia bisa melukai Cora sekali lagi. Di tempat yang sama. “Sakit oi.” Semoga Edgar—pelatih dari Enam, eh bener gak sih?—mendengar kalau Cora sedang kesakitan. Dan tiba-tiba membawa Cora pergi. Habis agak enggak mungkin juga sih ya.

Oi, Altessa kemana!

Calyx, Remy kayaknya sudah enggak bisa diharapkan. Remy mungkin malah sudah menemui ajalnya semenjak menginjakkan kakinya di Arena ini. Bocah malang, titip salam ya buat Lee sama Valene di alam sana. Habis ini Cora nyusul kok, tenang aja. Nanti kita di sana main bareng-bareng, kita bagi permen lagi ke semua orang yang ada di sana. Matanya berkaca, perih karena memorinya dengan Remy, Valene, dan Lee ditambah dengan perih dari bekas sabetan kapak dari pemuda Empat. Mereka sekarang harus bunuh-bunuhan, kok agak serem ya rasanya. Walau itulah kenyataan yang harus dia hadapi sekarang. Mungkin dia benar-benar enggak bisa kabur sekarang, dia sudha enggak bisa lari dari kenyataan yang dia hadapi sekarang. Dia sudha enggak bia membohongi dirinya sendiri, sok memasang wajah ‘aku-enggak-kenapa-kenapa-kok’ di hadapan peserta lain. Sekarang dia mau menangis.

Umurnya tujuh belas tahun dan dia mau menangis di hadapan seorang pemuda dari Empat yang jelas lebih muda dari pada Cora. Satu tendangan ia layangkan ke tulang kering pemuda Empat. Nasib dia tidak punya senjata untuk memberikan serangan yang lebih berarti kepada di pemuda Empat. Nasib dia tidak punya tenaga lebih untuk melawan seorang pemuda dari Empat, kali ya anak perempuan lawan anak laki-laki dari karier. Belum lagi anak perempuannya itu enggak bisa bela diri macam Cora. Nasib deh, Cora.

Pemuda Dua Belas nampaknya juga akan melancarkan serangan ke pemuda Empat, hanya saja Cora sendiri tidak tahu serangan macam apa yang akan dilancarkan oleh di pemuda Dua Belas, duh, Cora benar-benar payah kalau soal mengingat nama orang.
Offline Profile Goto Top
 
Pinoy Annelli
Member Avatar

DISTRIK 5 || HP: 75 || POSISI: 1
TARGET: DISTRIK 10 (Tume Tinkham) || AP: [result]8&8,1d9,0,8&1d9[/result] || KS: [result]15&15,1d24,0,15&1d24[/result]
satu kotak biskuit, satu tempat minum kulit, satu belati, satu bungkus dendeng



Meleset.

Tangannya mungkin belum seterampil yang dia bayangkan. Tapi, tidak apa-apa. Ada sedikit celah sebelum dia melirik pada pembasalan yang ditunggu. Pemuda bermarga Annelli ini berhasil menghindar. Dia berhasil membiarkan lawannya, Shinzo Kawabata, menyabet udara kosong. Tentunya ini bukan sesuatu yang dia patut kecewakan karena paling tidak skor mereka imbang. Pinoy nyengir. Ia merasa tidak perlu ada alasan mengapa dia mulai bermain-main dengan belatinya. Benda di tangannya ini bukan senjata pembunuh yang keren tetapi cukup untuk melukai. Capitol suka permainan, bukan? Nah, dengan segala keterbatasan yang dia punya, Pinoy kemudian berusaha menciderai lawan terdekat.

Ia mengangkat wajahnya kini, memandangi sekitarnya. Ia harus membalas serangan dari Shinzo, tapi kedengarannya lucu. Lagi pula, ada orang lain yang mendekat ke arahnya dan tampak berusaha melawan sosok tinggi besar berkulit cokelat. Ia yakin telah melihat Tume Tinkham berada tidak jauh dari dirinya dengan berusaha melawan Gavyn Owyn dari distrik sebelas.

“Oi, Kerdil!”

Dia jadi ingat Remy.

“Kamu berani sekali.”

Ini bukan cemoohan tanpa dasar.

“Coba kalau kamu bisa lawan aku.”

Paling tidak tubuh Pinoy tidak sebesar tubuh Gavyn dan meskipun Gavyn memiliki serangan yang tidak tepat sasaran, dia merasa mesti menghabisi makhluk kerdil itu terlebih dahulu baru mengurus yang lain. Jadi, Pinoy menghunuskan belatinya ke arah Tume dan membiarkan Shinzo untuk sementara waktu.
Offline Profile Goto Top
 
Stephanie White
Member Avatar

DISTRIK 7 || HP: 75 || POSISI: 7
TARGET: DISTRIK 2 [Pietronella Hart] || AP: [result]7&7,1d9,0,7&1d9[/result] || KS: [result]15&15,1d24,0,15&1d24[/result]
(ransel sedang, kompas, pisau, satu set panahan)


Ini seperti menari diatas api, pertarungan darah. Benar-benar Bloodbaths. Tubuhnya yang kecil terus menghindar, bukannya ia tidak mau menyerang. Tadi dia sudah menyerang, Eve akan memberikan reaksi ketika ada aksi yang mendesaknya. Bahkan jika perempuan sialan itu tidak mengejarnya dan tidak berniat untuk menghabisi nyawa Bronwyn, ia tidak mau repot-repot menggunakan senjatanya, sungguh. Sayang kalau dipakai, mengingat setelah ini masih banyak pertarungan sengit antar individu. Sulit membedakan mana yang akan menjadi sekutu dan mana yang harus dijadikan tumbal. Ia sudah tak berpikir untuk mencari sekutu karena tugasnya hanyalah menghabiskan sebanyak mungkin nyawa.

Tidak, Eve bukan pembunuh. Eve tidak memiliki darah dingin, tidak seperti Clause yang bisa mencekik siapa saja yang mengganggu Eve. Sisi lain Stephanie White merasa frustasi, tidak ada gunanya ‘kan mengeluh? Bahkan ketika Hart semakin mengejarnya dengan kilatan mata yang sulit ditebak, ia nyaris tak punya waktu melihat serangan lain yang bisa datang darimana saja. Terlalu banyak peserta karir disini, ia kesulitan untuk menyerang meskipun notabane ia lebih untuk melarikan diri dan sayangnya tidak mungkin. Paling tidak ia haru mengambil sebanyak apapun benda yang bisa dibawanya pergi. Jangan berlari, itu tidak sportif. Anggap saja, anggap saja ini permainan.

……………. MANA BISA!

“Awas!” Ia berteriak ketika Hart terlebih dulu menyerang Bronwyn, sisi kemanusiaannya masih tersedia, Eve merenggut bajunya sendiri, ia terus menggapai benda-benda lain, mungkin senter, kompas, apapun, senjata? Oke, dia sudah mengambil panahan, lalu apa lagi yang bisa dipakai? Tolong siapapun, jangan serang dia dulu.

“Bedebah kau!” Ia merangkak menjauhi sabetan tombak dari Hart, mengambil pisaunya yang meleset, tembakan yang tadi tidak mengenai sasaran karena tangannya gemetar. Sekali lagi ia memungut pisaunya dan mencoba melemparkan kembali ke bagian tubuh manapun milik Hart.
Offline Profile Goto Top
 
Zephaniah Lore
Member Avatar

DISTRIK 1 || HP: 90 || POSISI: 6
Target: Antonio Shadowsong - D9 (KS: [result]15&15,1d24,0,15&1d24[/result] ) dan Kristeen Franscois - D8 (KS: [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result] )
AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result]
Membawa: ransel besar, 1 kapak, 1 belati, 2 pistol udara




Tidak melawan...?

Sebenarnya ini menguntungkan, tapi juga tidak mengasyikkan. Zephaniah ingin merasakan ketegangan yang sebenarnya ketika lawan yang diserang balas menyerang dengan ketakutan. Oh, ini aneh. Kenapa ia merasakan gairah yang begitu ganjil terpompa dalam dirinya? Apakah ini semacam euforia? Berbeda dengan saat ia menghabisi nyawa ibunya... juga Zia. Ia merasa puas ketika serangannya mengenai sasaran. Apakah Zinnia juga merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan sekarang? Rasa senang, seolah ia sedang diberikan mainan paling mahal sedunia.

Uhuk... uhuk...

Ternyata menjadi pemburu seperti ini rasanya menyenangkan.

Sekali lagi Zephaniah mengayunkan kapaknya, kali ini sambil terkekeh. Berharap dalam hati agar lawannya balas menyerang. Tapi tak masalah jika tidak. Toh, ia memang ingin membunuh orang. Haha... ingin membunuh orang... kalau Maria tahu apa yang ia rasakan sekarang, barangkali Maria akan menangis tersedu-sedu karena tuan mudanya yang manis ini berubah menjadi monster.

Ia tak peduli. Maria sudah mati. Ia sendiri yang membunuhnya.

Ia... sudah terbiasa membunuh, eh? Jadi candu?

Uhuk... uhuk...

"Matilah," seru Zephaniah. Ia mengayunkan kapaknya sekuat tenaga ke arah pemuda yang sama. Lalu dengan cepat mengayunkan kapak ke arah gadis dari distrik delapan. Mati saja. Zephaniah ingin melihat darah lebih banyak lagi keluar dari tubuh sasarannya. "Buat aku senang."
Offline Profile Goto Top
 
Urie Tommy
Member Avatar

DISTRIK 1 || HP: 100 || POSISI: 6
TARGET: DISTRIK 11(Nigel) ||
AP: [result]12&10,1d10,2,12&1d10+2[/result] || KS: [result]22&22,1d24,0,22&1d24[/result]

Satu belati, satu Pisau, satu dendeng sapi, satu tempat minum dua liter

Urie masih menjerit.

Mulutnya masih membuka, meneriakkan huruf A, sambil berlari. Berteriak untuk apa? Tidak hanya untuk memacu adrenalin dan meramaikan suasana, namun juga untuk mengeluarkan rasa takutnya. Dia takut. Jujur, ia takut, tentu saja. Sekilas tadi terpampang bayangan di otaknya dimana dirinya terkapar tak bernyawa dan keluarganya menangisinya. Menyedihkan. Tahu ciri-ciri orang yang menangis histeris hingga menjerit-jerit? Itulah Urie sekarang. Semangat, takut, dan sedih bercampir jadi satu. Suara teriakannya terdengar amat memilukan.

(Tidak, dia tidak akan meneteskan air mata.)

Mengikuti orang-orang yang lainnya, Urie juga menuju tumpukan barang dan memindai senjata yang ada. Belati, ambil satu. Ambil yang kecil-kecil saja, seperti... ah, pisau ini. Kapak--? Tunggu, gimana cara bertarung pakai kapak? Membelah tubuh jadi dua, begitu? Seram banget hei. Urie tidak mau ambil kapak itu. Urie anak baik, Kakak~

(Anak baik tidak main bunuh-bunuhan.)

Selain senjata, dia juga mengambil dendeng sapi dan satu tempat minum dua liter. Nah, selesai sudah. Sekarang, yang ada di sekitarnya... rata-rata karier. Hei Urie tidak sebodoh itu sampai mengganggu karier duluan, ya! Dia mengayunkan belatinya ke arah seorang peserta yang sepertinya dari distrik sebelas.

Urie tidak biasa melukai orang, tapi... game on.


serangan ini dianulir. Nigel sudah diserang oleh Jester dan Ethan.
Edited by Jonathan Duprau, Sunday Jun 2 2013, 01:27 AM.
Offline Profile Goto Top
 
Ferina Secret
Member Avatar

DISTRIK 4 || HP: 100 || POSISI: 6
TARGET: DISTRIK 10 CE#2 (Silvertongue; belati) || AP: [result]7&5,1d10,2,7&1d10+2[/result] || KS: [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result]
2 pistol udara (5) — tempat minum — belati

Cih. Meleset. Tempat minumnya kembali ke tangannya semula, terima kasih kepada tali yang mengikatnya.

Adalah salah satu ketidaksukaannya kalau pada akhirnya ia tidak mencapai target yang dimaksud. Tidak melihat rasa sakit yang diakibatkan oleh tangannya sendiri adalah salah satu hal yang merupakan bencana baginya (atau setidaknya bagi sisi lain seorang Ferina Secret yang turun ke arena). Melihat peluru yang ia tembakkan tidak mengenai lelaki distrik rendahan—sepuluh, ya?—dan tempat air minumnya tidak mengenai kepala si gadis sepuluh membuatnya muak. Sebegitu mudahnya, kah, menghindari serangannya? Apakah itu sepadan, dengan apa yang akan gadis anonim itu rasakan? Mengingat gadis Secret ini sekarang bukanlah lagi Ferina Dorian Secret yang dulu, yang mudah terkesima terhadap Capitol. Mengingat gadis Secret sekarang ini sudah menjadi perpanjangan tangan malaikat maut, bukankah akan menyakitkan bagimu untuk melawan? Lebih baik diam dan nikmati saja, sayangku.

Terlebih lagi, gadis itu berusaha melawan. Mengacungkan tinjunya ke bagian dada—cih. Tidak dapat senjata, ya, sayangku? Kasihan sekali. Ferina pada akhirnya mencekal tangan si gadis tersebut, mencegahnya mengenai perutnya. Sakit, sayangku? Rasakan. Salah siapa, hm, menyerang gadis sulung Secret ini?

Dia akan selamat—lalu mengantarkan salah satu teman sedistriknya untuk pulang, kalau bukan dirinya sendiri yang akan pulang. Gadis itu bertekad, demi Maggie, demi ibunya di rumah.

Demi Isaac.

Bahkan tak diacuhkannya rekan sedistriknya, Ethan Nastor yang menyerang gadis itu, sama seperti dirinya. Pada akhirnya, mereka adalah karier, bukan begitu? Membunuh, bisa dikatakan adalah takdir.

Tubuh gadis itu lunglai, dan belatinya ia arahkan ke bagian dada.


[/small]harusnya kamu offroll, sayangku. Aku anggap kamu lunglai ke tanah, ya.
Offline Profile Goto Top
 
Floyd Ordyn

DISTRIK 12 || HP: 55 || POSISI: 2
TARGET: Hada Atala || AP: [result]9&9,1d9,0,9&1d9[/result] || KS: [result]1&1,1d24,0,1&1d24[/result]
kantong plastik, 1 dendeng, 1 madu


Sialan... Sudah punya satu masih kurang rupanya. Serakah, cih.

Ya, Floyd baru saja mendapatkan luka perdananya di bloodbath ini. Terima kasih kepada pemuda Atala sontoloyo itu. Pemuda karir itu masih saja berteriak-teriak tentang Floryn, bah! Urus dulu saja lawan mu di sini, masih ada Floyd dan gadis dari Enam yang siap menyubit-nyubit tubuhnya itu.

Sekarang yang ia fokuskan yaitu merebut salah satu kapak yang dimiliki pemuda itu. Sial, rupanya gerakannya kurang gesit saat mengambil senjata itu. Jangan salahkan bunda mengandung bila saat ini Floyd sedang memikirkan cara mengambil kapak itu sambil menghindari serangan yang mungkin akan datang lagi. Kenapa hanya tersedia dua kapak di tempat ia berada sekarang? Kenapa Capitol sepelit itu, heh?

Tapi rupanya Floyd tidak salah mengambil kantong plastik itu. Dengan cepat saja Ordyn muda membungkus muka pemuda itu dengan plastik dan menariknya dari belakang. Semoga saja pemuda dari Empat itu kehabisan napas lalu mati. Huah, sebuah harapan yang muluk dari Floyd Ordyn. "Hey Enam! Kau mau bantu?" Ia berteriak kepada gadis dari Enam itu. Kali saja cubitan mautnya dapat melancarkan serangannya kali ini sebelum ada serangan selanjutnya, hih...
Offline Profile Goto Top
 
Yasmine Silvertongue
Member Avatar


DISTRIK 10 || HP: (harusnya 66) salah rekap & salah tag2x (offroll 1/2) = 66-5 = 61 || POSISI: 6
TARGET: -|| AP: - || KS: -
empat bungkus dendeng sapi




Bayangkan jika yang berada di posisinya kini bukan dirinya, melainkan Leira atau Jess. Baik dua tahun lalu maupun tahun ini, mereka tetap tidak pantas mencicipi kegilaan yang tengah dialami sulung Silvertongue tersebut. Dikepung oleh tiga Karier—oh keparat, tambah satu lagi rekan Urie Tommy—dan itu baru mereka yang terdekat. Belum terhitung peserta lain yang berada dalam jarak jangkaunya. Yasmine harus selamat, no? Ia harus bisa.

Sejenak, tas ransel yang tersampir pada salah satu bahunya ia biarkan meluncur turun. Dengan sigap dirinya membuka isi tas, mengambil satu macam benda yang berpengaruh terhadap bobot ransel. Sebuah pistol udara. Masih kosong, belum terisi obat bius tetapi well, biarlah. Ia mengabaikan rasa sakit dan lelah yang mulai menjalari sekujur tubuhnya, baik di luar maupun di dalam. Melukai orang sungguh bukan dirinya. Tetapi dengan menjadi seorang martir takkan membawa banyak kebaikan pada sang gadis. Lagipula, mereka yang telah menang pasti telah mengotori tangan mereka.

Ia tidak ingin pulang cepat, terlebih dengan sebuah peti mati dari kayu yang tidak begitu layak.

Yasmine mengangkat pistol udara tersebut, hendak membalas serangan kepada satu di antara dua orang biadab—dirinya juga akan menjadi biadab dalam hitungan detik, chill—Kau tahu? Capitol itu menjijikan.

191 MSW’s words
Offline Profile Goto Top
 
Pietronella Hart
Member Avatar

DISTRIK 2 || HP: 95 || POSISI: 7
TARGET: DISTRIK 9 (Stephanie White) & DISTRIK 3 (Patricia Bronwyn) || AP: [result]7&5,1d10,2,7&1d10+2[/result] || KS: [result]16&16,1d24,0,16&1d24[/result] & [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result]
2 pistol udara, 1 tombak, 1 belati



(.... tahu kampret?)

"AH!"

Itu, tahukah, teriakan histeris. Semakin lama, rasanya semakin lelah pula menaruh nasib secara keseluruhan kepada hal yang sifatnya coba-coba. Tidak, tolong, jangan beri alasan apapun untuk membuatnya mundur begitu saja. Pikirmu, ia tak pakai tenaga untuk bisa sampai disini. Sejauh ini. Sejak detik hitungan pertama kali diucap oleh entah siapa yang suaranya terdengar menggema, kemudian kedengaran bom yang baru saja diluncurkan. Semua itu, semuanya terekam dan tergambar amat jelas dalam pikirannya yang setengah menerawang. Ia tak mungkin berakhir disini, begitu saja. Malu, rasanya bagai mempermalukan diri di bawah kawanan karier yang lain.

............dan well, kedua cecunguk ini.

Terima kasih, sudah menyia-nyiakan tenaganya yang kemudian asal terbuang. Pula, menyita waktunya yang paling tidak, cukup berharga untuk menjarah sisa-sisa barang yang ada disini. Kemampuannya, oke, tolong jangan pernah membuatnya tampak lebih rendah dibandingkan sekarang. Guratan air mukanya semakin menunjukkan, bahwa kondisinya sekarang sama sekali tidak tenang.

Lagi, ia masih menggunakan cara yang sama. Entahlah, tangan kanannya baru saja bergerak maju, menyorongkan bogem mentah kepada Gadis White. Lantas, menggerakkan mata tombaknya kepada Gadis Bronwyn yang tampaknya, mulai haus akan semangat.
Offline Profile Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
Go to Next Page
« Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic »
Locked Topic


Theme design by Drama, theme coding by Lewis. of Outline and edited by Ntin, Ubi, and Ilma.