|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Bloodbaths - Cornucopia; HANYA UNTUK PESERTA | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM (12,772 Views) | |
| Redemptus Maleveich | Saturday Jun 1 2013, 07:46 AM Post #1 |
![]()
|
Posted Image Keempat puluh delapan peserta telah naik dari tabung di ruang peluncuran menuju Arena. Sebagai perayaan Quarter Quell kedua, Redemptus Maleveich dan Pembina Permainan lainnya telah menyiapkan suatu taman bermain indah bagi gerombolan remaja kiriman dari distrik. Kau bisa melihat Cornucopia emas berada di tengah padang rumput hijau dengan rumpun-rumpun bunga indah di sana-sini. Langit pun ikut bersorak menyambut hari besar ini dengan warna biru cerahnya dan tumpukan awan putih empuk bak bantalan. Kau bahkan bisa mendengar dan melihat burung-burung penyanyi berwarna cerah berterbangan di atas kepala. Jauh di sana, terdapat padang rumput yang luasnya hingga bermil-mil. Di satu sisi, terdapat hutan lebat menyerupai labirin tanaman, sedangkan di sisi lain, bisa dilihat adanya gunung yang berselimutkan salju pada puncaknya. Sungai pun menghantarkan aliran air jernih di hutan maupun gunung. Buah-buahan dan bunga warna-warni juga turut mempercantik taman bermain yang dipersiapkan. Intinya, arena tahun ini adalah tempat paling mempesona, lebih mempesona daripada arena tahun-tahun lalu. Membuatmu terbuai dalam imajinasi sejenak sebelum disesatkan lebih jauh oleh fakta di lapangan. Semua telah siap. Semua terkendali. Redemptus memerintahkan hitungan mundur mulai dijalankan, dimulai dari detik keenam puluh. Kedua birunya memperhatikan angka yang silih berganti muncul, sementara semua orang di ruang kendali mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pembukaan Quarter Quell kedua. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri dengan campuran karamel, dia mengawasi pekerjaan bawahannya yang terus mengutak-atik peralatan kendali yang mengatur jalannya Arena. Empat puluh lima detik. Deretan bom siap meledak jika ada peserta yang berani melangkah keluar dari piringan logam kurang dari waktu enam puluh detik. Asyik, bukan? Redemptus selalu menantikan setidaknya ada salah satu peserta nekat melarikan diri dari tempatnya sebelum waktu enam puluh detik usai. Sempat bertaruh dengan adik tirinya juga—salah satu kebiasaannya setiap kali Hunger Games diadakan—tapi sejauh pengamatan pemuda turunan Maleveich, sepertinya tidak ada yang berani melanggar aturan main yang telah dibuat. Tahun belakangan ini belum ada yang berani meledakkan dirinya hingga berkeping-keping dengan cipratan darah dan potongan daging manusia segar tersebar di Cornucopia. Sedikit kecewa, memang. Justru pemandangan itu yang diinginkan Redemptus. Suatu kebanggaan jika potongan tubuh kalian yang telah tercerai berai menjadi koleksi berharga Maleveich ini. Redemptus memang menginginkan koleksi berdarah semacam itu sejak awal. Kalau memang dia berhasil mendapatkannya, dia akan menata sejumlah potongan tersebut secara artistik dengan warna-warna semarak yang jauh dari istilah menyeramkan. Tidak buruk jika dijadikan pajangan di dinding ruang tamu, tapi sangat disayangkan jika dijual kepada kolektor barang karena bernilai tinggi. Tiga puluh detik. Kalian pikir kalian bisa kabur? Coba saja kalau berani. Jangan harap kalian bisa kabur dan berharap bisa berlindung pada salah satu sudut tempat tanpa sepengetahuan kami. Alat penjejak telah dipasang di tubuh kalian saat kalian dalam perjalanan kemari dengan pesawat ringan sehingga kami dapat terus melacak keberadaan semua peserta. Ini Capitol, bukan distrik kampung asal kalian. Semua telah dipersiapkan agar kalian saling berhadapan, saling bunuh, saling tebas, bukan mati tolol bunuh diri dari puncak tebing. Medan gaya sudah diaktifkan, jadi sia-sia saja bagi kalian yang berencana bunuh diri. Tidak ada jalan kabur hingga satu orang tersisa. Lima belas detik. Pemuda Maleveich memberikan perintah bersiap-siap. Beberapa kursor mulai bergeser sesuai yang telah direncanakan. Tersisa beberapa detik lagi sebelum menyaksikan keempat puluh delapan peserta berlarian keluar menuju terompet emas dan persediaan yang tersebar di sekitarnya. Jumlah ransel menjadi dua kali lipat disesuaikan dengan jumlah peserta, begitu pula dengan barang-barang yang bertambah banyak tersebar pada beberapa titik di seputar terompet emas. Setiap tahun melihat kelakuan bocah bau kencur di sana mengerumuni pusat Cornucopia bak semut, tentu kejadian tidak jauh berbeda akan terulang kembali tahun ini. Bagaimana rasanya, dear? Sudah ucapkan salam pada malaikat kematian? Terlambat. KABOOM! Bunyi meriam telah bergema, penanda bahwa Hunger Games kelima puluh, Quarter Quell kedua telah dimulai detik ini juga. Empat puluh delapan peserta. Dua belas distrik. Pertumpahan darah. Karier dan non-karier. Penentuan sponsor. Pias yang tergambar di wajah masing-masing. Ketakutan dan keinginan menang. Hidup dan mati. Sejumlah kejutan sudah dipersiapkan untuk menyambut para peserta. Semoga beruntung, hm? Ya, ya, selamat mandi darah, tributes. Warnai Cornucopia dengan darah kalian seindah mungkin atau ada kejutan lain menunggu kalian. Silahkan baca Panduan di dalam Arena terlebih dahulu. Jika kurang mengerti, silahkan layangkan pertanyaan ke topik Pertanyaan atau @indocapitol. |
![]() |
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Kristeen Franscois | Saturday Jun 1 2013, 02:47 PM Post #81 | |
|
DISTRIK 8 || HP: 75 || POSISI: 6, TARGET: DISTRIK 1 || AP: [result]9&9,1d9,0,9&1d9[/result] || KS: [result]4&4,1d24,0,4&1d24[/result] 1 bungkus dendeng sapi, 1 lentera, 1 kotak biskuit, 1 tempat minum kulit. Orang bilang surga hanya bisa dilihat oleh orang mati, tapi sekarang... Ini seperti surga sungguhan, meskipun secara halus sebetulnya orang-orang dibalik Hunger Games hanya membuat neraka yang indah. Sungguh indah. Nyatanya bukan sesuatu yang mudah untuk menyadari apa yang terjadi sekarang, karena bahkan untuk melepaskan diri dari ketertarikan bentuk arena saja sulitnya bukan main. Aroma udaranya yang harum minta ampun, nikmatnya visual semacam ini, membuat banyak peserta terlena hingga tak menyadari Hunger Games ke-50 sudah benar-benar dimulai ketika suara meriam menjadi penandanya. Like devil’s sound— Mereka bilang mati itu menyakitkan, maka dia yang amatir saja sudah bergerak cepat-cepat melompat dari atas piringan, mengejar beberapa orang yang berlari menuju terompet emas raksasa dengan segala macam kebutuhan selama di arena yang kalau beruntung bisa banyak ia dapatkan. Atau sial-sialnya hanya mandi darah saja sekalian. Kakinya terus berlari mengikuti peserta lain yang berfikir sama; jika bergerak lebih jauh ke Cornucopia maka bisa mendapatkan sesuatu yang lebih pantas dibanding cari aman dengan benda-benda di belakang sana. Matanya sempat melihat Kyle yang berada beberapa meter di belakang (dia akan cepat-cepat bergegas kesana setelah dapat senjata), atau malah hanya sempat merasa jijik karena bocah perempuan dari empat dapat bergerak lebih cepat menuju puncak terompet tanpa ganguan untuk berhura-hura dengan senjata bagus miliknya. Ia sempat diam beberapa detik untuk memutar kepalanya berkali-kali tapi tidak berhasil menemukan panahan. Lantas kakinya melaju tak sampai satu meter dan cepat-cepat menarik sebuah ransel paling dekat yang bisa diraihnya. Disana ada tombak berdiri seperti tiang yang ia abaikan karena tombak adalah senjata lempar yang tidak bisa digunakan berkali-kali, lagi, besar kemungkinan untuk meleset saat dilemparkan. Tadinya cukup banyak pistol udara bersandar dihadapan kotak-kotak plastik, kapak, dan beberapa belati tapi sudah tak bersisa untuknya. Ia terlalu lamban hingga melewatkan semuanya apalagi kini ia berada dalam jarak serang tak kurang dari lima peserta lain. Hingga tiba-tiba ia dengar suara hantaman keras di sampingnya. Lelaki dari distrik satu menghantamkan kapak tepat di punggung peserta dari sembilan. Kristeen cepat-cepat menjatuhkan diri ke tanah ketika ada gerakan menyerang lain untuknya. Ia berjengit ketika menyadari beberapa detik yang lalu benda itu hendak merobek perutnya dan ia berhasil menghindar. Entah bagaimana refleksnya cepat ketika itu, kakinya gemetar ketika peserta dari satu itu kembali mengayunkan kapak ke arah lehernya dan si pemuda sembilan. Ia berhasil berguling, kemudian kembali membuat serangan ketiganya meleset. Dengan cepat ia meraih sebongkah batu seukuran dua kali telapak tangan yang ada disamping kepalanya dan menghantamkan batu itu ke lutut si karier sinting. serangan ke Zephaniah dianulir. senjata yang diambil sudah diedit. Edited by Jonathan Duprau, Saturday Jun 1 2013, 05:09 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Tume Tinkham | Saturday Jun 1 2013, 02:51 PM Post #82 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 5 (Pinoy Annelli) || AP: [result]9&9,1d9,0,9&1d9[/result] || KS: [result]1&1,1d24,0,1&1d24[/result] dua tempat minum kulit, satu belati, satu lentera Ya, ampun. Semuanya tampak seperti kerasukan setan. Tume agak gemetar. Dia memilih untuk menerima begitu saja ketika belatinya tidak menggores tubuh dari Gavyn sedikitpun. Dan ia nyaris saja kena balasan yang dahsyat kalau saja tidak berhasil menghindar tepat waktu. Dia masih selamat. Gavyn menggunakan tinjunya untuk membunuhnya dalam sepersekian detik dan untungnya Tume berhasil berkelit. Suasana agak semrawut untuk saat ini. Dan dia hampir kehilangan arah. Dengan serabutan anak laki-laki berumur sepuluh tahun ini kemudian berusaha kabur, tapi teriakan menggelegar datang dari sisi telinganya. Begitu Tume menoleh, dia berhasil menghindar dari serangan keduanya hari ini. Bukan datang dari Gavyn. Pinoy Annelli dari distrik lima berusaha untuk melawannya. Kali ini bukan tinju yang diarahkan untuknya, tapi belati. Oh, oh. Sepertinya Tume terlalu menarik perhatian sehingga dirinya kena serangan dari dua orang. Permainan baru dimulai dan Tume sudah berkeringat sedemikian banyaknya. Jantungnya berdegup kencang dan dengan gemetar dia berusaha mengarahkan pisaunya ke arah Pinoy. Harapannya dirinya bisa memerikan perlawanan yang berarti. Untuk saat ini dia berharap seandainya dirinya bisa segera kabur daripada mesti bersusah payah seperti ini. Ya, ampun. Edited by Tume Tinkham, Saturday Jun 1 2013, 03:01 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Madeleine Lethbridge | Saturday Jun 1 2013, 02:51 PM Post #83 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 95 || POSISI: 5 TARGET: DISTRIK 3 (Patricia Brown) & DISTRIK 9 (Kevin Fremuzar) AP: [result]9&7,1d10,2,9&1d10+2[/result] || KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result] & [result]1&1,1d24,0,1&1d24[/result] 2 pistol udara, 1 botol madu, 1 dendeng sapi Dan yang ini berhasil. Oh, god. Madeleine tidak bisa menahan diri untuk tidak melukiskan senyum lebar yang benar-benar lebar. Pisau itu ditarik dari perut Patricia Brown yang malang. Berbalur darah, pisau itu kini. “Jimatmu sudah luntur mukjizat, barangkali.” Tuturnya lugu. Dan kau tahu, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh. Di perutnya, gejolak perasaan puas yang membuncah hebat. Dan yang mengejutkan, adalah keinginan untuk melukai lebih dan lebih lagi. Sampai habis, kucurkan darah sebanyak mungkin, her stomach said. Padahal Madeleine ini supposed to be clumsy girl; gadis coward yang tidak bisa melakukan apa-apa sendirian dan tanpa bantuan. Ia ini suka dilindungi alih-alih melindungi. Tetapi Madeleine yang sekarang berbeda. Mata gelapnya itu kini tampak bersinar, sedikit—tapi dengan pasti makin dan makin berbinar. Senyumnya benar-benar lebar. “Apa yang kaurasakan?” Tanyanya benar-benar penasaran tanpa sedikitpun niat menghina kegagalan perempuan itu untuk menghindari serangannya. Beri tahu dia apa yang kaurasakan, Patricia—karena segera dia akan memberimu lebih. Beringsut mendekat, ia kali ini mengincar tempat yang sama. Perut gadis itu harus dikoyak, kata sebuah suara di kepalanya. Dan, well, yang lantas dilakukan Madeleine adalah hanya menuruti suara itu. Tidak menunggu lebih lama, ia menyerang lagi. Satu luka tapi besar akan lebih berkesan ketimbang banyak luka tapi kecil dan tidak bermakna. Bukan begitu? Oh, dan Kevin Fremunzar, jangan senang dulu dan merasa bebas. Karena di detik tangan kanan Madeleine diarahkan ke perut Patricia, dia dengan tangan kirinya membidikmu tepat di dada. Cepatlah mati, Kevin—agar tidak lagi kamu dibuat sebegini menderita. Terluka pelan-pelan untuk nanti mati kemudian dengan sengsara. |
|
![]() |
|
|
| Hada Atala | Saturday Jun 1 2013, 02:57 PM Post #84 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 85 || POSISI: 8 TARGET: FLOYD ORDYN (D12) & CORALINE ESTELLE (D6) || AP: [result]6&4,1d10,2,6&1d10+2[/result] || KS: [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result] & [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result] 2 kapak, 1 korek api, 1 tempat air minum 2 liter UDAH AH GAK PAHAM LAGI. KENAPA SERANGANNYA KENA TERUS. #akudisayangDDR Sumpah Hada nggak bermaksud melukai dua lawannya itu sampai segininya. Tapi ya gimana...dia harus tetap melindungi dirinya sampai dia ketemu Floryn. DIA NGGAK BOLEH MATI SEKARANG. KALAU DIA MATI SIAPA YANG BAKALAN LINDUNGIN FLORYN, DEWAAAA. Hada, drama king sekali kamu heh. Kena kapak, kena cubit, untung tadi tendangan si cewek Enam berhasil dihindarinya. Huaaah. Cewek pun bisa berubah menjadi menyeramkan ya di Arena. Tapi ya mau gimana, Hada juga menyerang dia dengan kapak sih. Jadi bisa dibilang, impas.Memang begitu kan Hunger Games? Diserang lagi, tapi Hada berhasil menghindar juga. Fuuh. Apa jadinya kalau kapak yang jadi rebutannya itu menancap lagi di badannya. Horror. HORROR. "Lepasin dong kapaknya, ini buat Floryn!" Macam berebutan main aja dehini. Tapi Hada mau jaga-jaga, siapa tau Floryn nggak punya senjata buat ngelindungin diri. Kalau Floryn nggak mau, kapaknya tetep buat Hada. Biar Hada bisa kayak Wiro Sableng dengan kapak saktinya itu. Itu apaan lagi. "Kalian kompak banget deh!" Sempet-sempet muji dua non karier yang kerja sama melawannya.lalu Hada melirik ke arah Colleen. Coba Floryn yang ada di sini, pasti lebih kompak. "Colleeeeeen! Jangan diem ajaaaa!" Sadar woi sadar. Hada mengayunkan kapaknya lagi ke tubuh Dua Belas dan Enam. |
|
![]() |
|
|
| Coraline Estelle | Saturday Jun 1 2013, 02:58 PM Post #85 | |
|
Distrik #6 || HP: 57- 4 (Hada) – 5 (Salah rekap; keduluan) : 48|| Posisi: 2 Target: Hada Atala (D4-M) || AP: [result]6&6,1d9,0,6&1d9[/result] || KS: [result]22&22,1d24,0,22&1d24[/result] || (Satu tempat air minum ukuran dua liter, satu botol madu, satu kompas, satu kotak biskuit) Keduluan. Cuih. Cuih. Cuih. Ya demi siapa aja boleh sih, Cora enggak bakal bisa kabur dari si pemuda Empat kalau kayak gini rasanya. Padahal dia punya impian kecil—keciiiil pake banget—kalau dia bisa sampai dua puluh empat besar dia pasti sudah bisa bikini bunya bangga. Setidaknya sedikit. Walau Cora sendiri berpotensi akan menjadi peserta pertama yang gugur setelah ini, eh, kedua atau ketiga ya setelah Calyx dan Remy. Altessa juga enggak ada kabarnya nih, jadi sepertinya tinggal Cora sendirian yang berjuang di tempat ini. Altessa… Cora kangen ih. Jangan-jangan gadis itu juga sedang menghadapi kawanan karier di tempat lain, habis Cora juga enggak bisa lihat ke tempat lain selain pemuda Empat yang ada di dekatnya sekarang. Cora mundur perlahan. Mencoba untuk mengambil jarak yang cukup supaya pemuda Empat itu tidak bisa mengenainya lagi, walau sempat sebelum Cora mengambil jarak setelah serangannya tadi tidak berhasil memberi efek apa-apa kepada tulang kering pemuda Empat itu, dia masih bisa memberikan satu sabetan lagi ke pudak Cora. Darah mengucur lebih banyak. Belum apa-apa dia sudah bermandikan darah. Mungkin kalau dia bisa kabur dari pemuda Empat itu, dia juga enggak bakal bisa bertahan lebih lama. Lukanya terlalu parah omong-omong, tiga luka dalam waktu yang cukup dekat. Mungkin karier memang mendapat pelatihan khusus dari pelatih mereka, sehingga mereka sepertinya terlihat begitu biasa menganyunkan senjata ke arah lawan walau tampaknya lawan terlihat sangat ingin menangis persis seperti Cora sekarang. Pemuda Empat itu berkata sesuatu. Ingin melindungi… siapa? Cih, kalau begitu Cora juga mau melindungi Remy, walau eksistensi bocah berambut merah itu juga masih nihil di mata Cora. “Aku juga mau nyariin Remy tau.” Ucapnya sambil kembali menendang tulang kering pemuda Empat itu, siapa tahu kali ini serangannya berhasil. Habis kok rasanya miris ya serangannya tadi enggak berhasil, atau kalau bisa tiba-tiba ada senjata jatuh gitu, semacam panah gitu. Jadi dia bisa melawan pemuda Empat itu dari jauh. Hah?! Apa-apaan… Si pemuda Dua Belas sedang mencoba untuk membungkus kepala si pemuda Empat, pintar sih idenya. Nanti si pemuda Empat itu kehabisan napas dan kemungkinan si pemuda Empat itu akan kehabisan napas adalah sangat sangat kecil sekali. Iya hiperbola kelewat akut. Ya kali kapak lawan plastic, masih mending kemoceng lawan gada lah—sayangnya enggak ada senjata kemoceng atau gada di tempat ini, gada hanya ada di pelatihan ya. Sayang sekali padahal pasti Cora akan terlihat macho kalau bawa-bawa gada kemana-mana, tapi bawa saja belum tentu bisa. Jadi pasti akan jadi macho gagal. Krik dobel dobel ya. Cora cuma bisa tendang-tendang pemuda Empat itu masalahnya. Dia enggak bsia ebrbuat apa-apa lagi, soalnya kalau dia ikut-ikutan mainan plastic buat menghabisi si pemuda Empat, nampaknya mereka berdua—dia dan pemuda dari Dua Belas—akan mati kehabisan darha duluan dari serangan kapak pemuda Empat itu. “Bantuin apaaan?!” Panik, makanya pake tanda seru segala. Padahal biasanya Cora enggak pernah sepanik ini seumur hidupnya. Ya, soalnya kan ini antara hidup dan mati coy, makanya Cora bisa sepanik ini, kalau enggak bawa-bawa hidup dan mati dia juga enggak bakal sepanik sekarang. Omong-omong pundaknya sakit parah, dasar pemuda Empat sialan. Awas kalau sampai ketemu di dunia sana, Cora sumpahin hidupnya enggak bakalan selamat. Mampus tuh disumpahin orang tersiksa, orang tersiksa doanya manjur coy. |
|
![]() |
|
|
| Jester Holt | Saturday Jun 1 2013, 02:58 PM Post #86 | |
|
Berdoalah, Jester. Tuhan akan mendengarkan dan mengabulkan segala yang kita inginkan. Oh, Really? Lalu apakah Tuhan akan mengabulkan apapun itu? Lalu apakah Tuhan juga akan mengabulkan sebuah kejahatan juga? Kalau itu yang terjadi bukankah Tuhan juga mempunyai cela? Mungkin akan baiknya bagi sepasang entitas ini untuk berdoa akan keselamatan mereka pada sosok Tuhan. Bukankah Tuhan akan mengabulkan segala yang kita inginkan. "Last wish, please." Ujar pemuda Holt ini sembari memberikan senyuman berdukanya begitu tebasan keduanya bersarang tepat di tengkorak pemuda yang ada didepannya. Kematian hanya masalah waktu saja. Dan sepertinya sekarang sang waktu tengah menjemput sisa dari perjuangan si pemuda yang begitu terlihat menyedihkan. Tanpa perlawan, hanya bisa menunggu ketika kematian menjemputnya. Cih, kasihan. Sebagai penghormatan terakhir, pemuda Holt ini tersenyum congkak. Salam perpisahan dari dirinya untuk pemuda menyedihkan ini. Lalu, kapak keduanya bermain pada korban selanjutnya. Si gadis yang entah siapa namanya itu. Melukiskan pola kematian di kulit mulut gadis itu. Sekarang hanyalah sebuah permainan, apapun jenis kelaminmu tak menentukan apapun. Kau tak bisa menggunakannya sebagai tamengmu, meringkuk melolongkan pertolongan. Kematian tak mengenal siapa pun, nona. Suara benda tajam yang mengoyak kulit berlapis lemak itu menggema di pendengaran Jester. Suara yang merupakan pembuktian bahwa dialah kaki tangan si kematian itu sendiri. Nah, selamat datang ke dunia kematian, nona dan tuan. Nikmati penderitaan untuk terakhir kalinya karena kau tak akan pernah merasakannya lagi. Edited by Jonathan Duprau, Saturday Jun 1 2013, 04:58 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Pietronella Hart | Saturday Jun 1 2013, 02:58 PM Post #87 | |
![]()
|
DISTRIK 2 || HP: 95 || POSISI: 7 TARGET: DISTRIK 9 (Stephanie White) & DISTRIK 3 (Patricia Bronwyn) || AP: [result]7&5,1d10,2,7&1d10+2[/result] || KS: [result]15&15,1d24,0,15&1d24[/result] & [result]4&4,1d24,0,4&1d24[/result] 2 pistol udara, 1 tombak, 1 belati Kalau sudah seperti ini, ia harus bilang apa? Berhasil, oke. Lagipula, memang seharusnya hal semacam itu yang ia dapatkan sejak kali pertama melayangkan serangan kepada siapapun manusia yang ia targetkan. Distrik dua, hih, mau ia kemanakan titel mengenaskan yang mesti disandangnya tersebut. Harus ia akui, sudah menjadi kodratnya umat manusia, apabila mereka terlahir ke dunia dan amat jarang merasa puas dengan apa yang mereka dapatkan. Sudah kodrat baginya, untuk meminta lebih dari apa yang barusan ia capai. Keduanya. Patricia Bronwyn, mungkin cukup beruntung, karena sabetan tersebut hanya mampu mengenai permukaan kulitnya. Sama sekali bukan luka yang dalam, lantas membuat liquid merah segar itu merembas keluar. Ah, betapa rasanya ia menginginkan kejadian semacam itu benar-benar mendapat apresiasi. Hanya segores kecil saja, mana mampu membuat gadis ini tersenyum lebar? Tee-hee. Rahangnya masih mengatup kuat, serta mengubur dalam-dalam rutukan demi rutukan yang hendak meluncur keluar. Oh ya, 'selamat, kau beruntung'-nya itu masih tersimpan. Takut apa yang terjadi malah sesuai dengan yang keluar dari mulutnya. Mata tombak itu, masih berupaya ia angsurkan kepada sosok Bronwyn. Untuk kali pertamanya pula, ia mampu menyerang Stephanie White. Haha, tolol. Entah bagaimana bisa, ia tampak selemah ini jika dibandingkan dengan karier yang lain. Atau hanya perasaannya saja? Yes, semoga. Kali ini, ia memutar balikkan tombaknya. Kemudian, menyorongkan pegangan tombak ke arah torso sosok White yang tak berpelindung, kecuali pakaian peserta yang tengah dikenakannya itu. Kalau sudah begini, ia harus berharap kepada siapa? Meminta yang terbaik, kan, tentu saja. |
|
![]() |
|
|
| Shinzo Kawabata | Saturday Jun 1 2013, 02:59 PM Post #88 | |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 75 || POSISI: 1 TARGET: DISTRIK 11 (Gavyn Owyn) || AP: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] || KS: [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] Tiga tempat minum kulit, satu belati Neraka alami. Shinzo mendesah. Dia baru saja memberikan perlawanan diri berupa melawan dengan belati miliknya, tapi putra Annelli itu sepertinya jago berkelit. Alhasil, dirinya menjadi orang yang salah sasaran. Belatinya menyabet udara kosong. Hening di antara mereka untuk sesaat dan Shinzo bisa melihat cengiran dari wajah Pinoy. Pemuda dari distrik lima itu seharusnya merasa bersalah. Tapi, mereka impas sekarang. Shinzo menunggu adanya serangan lanjutan, tapi Pinoy nampaknya tertarik pada orang lain. Tume Tinkham dari distrik sepuluh menjadi sasaran berikutnya. Dan Shinzo merasa agak tidak adil mengingat Tume sedang melawan Gavyn. Kalau begitu, Shinzo mendapatkan Gavyn yang tampak tidak memiliki lawan. Tanpa perlu meminta izin, Shinzo segera melompat ke arah Gavyn sambil mengarahkan belatinya kepada orang berkulit gelap itu. Kena atau tidak itu urusan lain. Yang penting dia harus menyerang sebelum dirinya diserang. Siapa tahu Gavyn kehilangan lawan dan menyerangnya lebih dulu. Sebelum diserang lebih dulu, Shinzo harus menyerang orang itu lebih dulu, bukan? Hm. Jadi, kena atau tidak, eh? Ini bukan saat yang tepat untuk tidak melukai siapapun. Ini adalah saat di mana dirinya harus menunjukan kepada Capitol bahwa seorang Shinzo Kawabata juga bisa menjadi sosok yang pemberani di arena dan bukan hanya bisa lari saja meskipun dia ingin segera lari dari tempat itu sebenarnya. |
|
![]() |
|
|
| Stephanie White | Saturday Jun 1 2013, 03:01 PM Post #89 | |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 59 || POSISI: 7 TARGET: DISTRIK 2 [Pietronella Hart] || AP: [result]1&1,1d9,0,1&1d9[/result] || KS: [result]5&5,1d24,0,5&1d24[/result] (ransel sedang, kompas, pisau, satu set panahan) Dia dibuat buta dengan segalanya, tidak mengerti, tidak bisa membedakan mana teman-temannya bahkan Kevin. Matanya mendadak awas tidak tahu Fremunzar dimana, pikirannya melayang terlalu cepat. Eve memilih mewaspadai petarung dari distrik dua ketimbang harus mencai teman sekutunya, siapapun. Bukannya ia tidak peduli, bukannya ia tidak mengedepankan kepentingan distriknya tapi ini soal nyawa. Eve tidak menyerah, benar-benar belum menyerah, sekalipun ia akan terkapar berlumuran darah. Tidak demi Clause, Clause masih ingin melihatnya hidup. Ia tidak akan mati setidaknya belum dan ini baru awal. HAHAHA baru awal sudah terkena bogem mentah. Sudah berapa kali mengingatkan agar ia tidak lengah dengan keadaan sekitar sampai-sampai ia bisa dibogem mentah oleh perempuan kurus berwajah pembunuh. Eve tidak terima, ia bukan lagi gadis manis yang merengek untuk pulang kalau sudah disentuh kulitnya. Aksinya meludah. Rasanya seperti besi. Berani taruhan gadis ini pasti lahir pas orangtuanya bersin. Tangannya kasar sekali seperti pekerja tambang, membuat Eve meragukan apakah dia benar berasal dari distrik dua. Darah segar mengucur dari bibirnya, menatap kesal lawannya. Bukan lagi tatapan sekadar kesal, bahwa ia ingin sekali menusuk Hart tepat di jantung dengan pisaunya. Kali ini ia harus mengaku kalau tadi dia lengah, sedikit lengah sampai tangan itu dapat menyentuh kulitnya. Sialan, Eve berusaha memuntir tangan Hart, kalau bisa setelah ini dia mengayunkan kakinya untuk mematahkan tulangnya supaya gadis itu tidak bisa berjalan. |
|
![]() |
|
|
| Madeleine Lethbridge | Saturday Jun 1 2013, 03:02 PM Post #90 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 95 || POSISI: 5 TARGET: DISTRIK 3 (Patricia Brown) & DISTRIK 9 (Kevin Fremunzar) AP: [result]4&2,1d10,2,4&1d10+2[/result] || KS: [result]18&18,1d24,0,18&1d24[/result] & [result]20&20,1d24,0,20&1d24[/result] 2 pistol udara, 1 botol madu, 1 dendeng sapi Kesombongan itu sukar berbuah manis. Hmm. Sayang sekali. Tuhan barangkali marah pada Madeleine yang tadi malah jadi lupa segala akibat keberuntungan berturut-turut yang ia dapatkan. Beberapa kali membidik dengan tepat, tapi lantas untuk kali terakhir, Kevin Fremunzarnya terselamatkan. Lolos. Gagal mutlak, ia tadi. Sedih, Madeleine jadi murung dan mengerucutkan bibir. Tapi jangan khawatir, ia sedikit terhibur akibat Patricia Brown yang lagi-lagi berhasil terkena serangannya walau hanya berupa goresan kecil dan tidak banyak melukai. “Kena lagi,” terkekeh kecil dan manis. Madeleine menatap Patricia Brown dengan pandangan polos. Ini semua hanya ‘permainan’, kan? Dan Madeleine sebelum ini sudah memutuskan kalau ia akan jadi pemain sungguhan. Bukan lagi sebuah bayang-bayang yang akan dijaga dan dilindungi seperti biasa. Ia ingin melakukan sesuatu. Ia ingin... dilihat. Sama sekali tak berminat untuk memberi kesempatan bagi Patricia Brown, ia tetap berusaha menusuk bagian perut gadis itu yang terluka. Gunakan waktu sebaik-baiknya, dan Madeleine tidak akan memberi barang cuman sedetik untuk Patricia membalasnya. Setelah itu, ia berlari ke arah lain. Ke tempat di mana Kevin Fremunzar berada. “Kamu lolos tadi. Bagaimana bisa?” berdiri di depan pemuda itu, Madeleine menatap kesal. Tapi tidak lama. Karena di detik berikutnya, pisau berbalur darah Patricia Brown tadi ia arahkan untuk menusuk lengan pemuda itu. Karena bila lengan itu masih berfungsi, Madeleine ada kemungkinan kalah tenaga. Oh, that’s why she hates men. |
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
![]() Join the millions that use us for their forum communities. Create your own forum today. Learn More · Sign-up Now |
|
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |














9:33 PM Jul 11