|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
- Pages:
- 1
- 2
| Arena Dua - Padang Rumput | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Tuesday Jun 4 2013, 07:33 PM (734 Views) | ||
| Lisette Bass | Tuesday Jun 4 2013, 07:33 PM Post #1 | |
|
First day. —isn't this really fascinating? Lisette Bass, atau dara yang sering dipanggil Liz, wanita berusia awal dua puluhan itu tengah berada di ruangan penuh dengan panel dan layar yang memperlihatkan dua puluh tiga peserta yang tersisa, masing-masing wajah mereka memenuhi layar, tidak ada satupun yang lepas dari pengawasannya. Hari pertama setelah Bloodbaths selesai, ketika para tikus-tikus kecil itu berlari kabur dari jeratannya. Bunyi dentuman meriam sebanyak dua puluh lima kali terdengar setelah Cornucopia tampak sepi. Yang tersisa hanya amis darah sementara tubuh-tubuh para peserta yang mati sudah diangkat dengan pesawat kecil dan diamankan untuk dikembalikan ke distriknya masing-masing. Sungguh menyenangkan rasanya mengingat beberapa waktu yang lalu para peserta itu terlihat sangat bersemangat membunuhi masing-masing dari mereka. Pft. Obsidiannya melayang ke salah satu arena yang dia buat, padang rumput luas yang letaknya tak jauh dari Cornucopia. Alangkah malangnya mereka yang mendapatkan tempat ini, tak ada tempat persembunyian tentu. Padang rumput ini hanya berisikan rerumputan hijau buatan yang tampak alami sepanjang mata kaki. Beberapa rumpun bunga warna-warni dengan batu-batuan eksotis terlihat menghiasi padang rumput yang luasnya hampir dua hektar itu. Pemandangan yang tak jauh berbeda dengan Cornucopia kecuali minus terompet emas besar itu, ya. Arena Dua ini adalah jarak yang paling dekat dengan Cornucopia, membarkan peserta terlihat jelas tanpa adanya sedikitpun tempat persembunyian. Tempat yang tepat untuk menyuguhi mereka yang menyukai pembantaian. Spring? Mungkin inilah inti dari tempat itu, berbeda jauh dengan arena satu lagi. Ah, jangan lupa akan selalu ada harum semerbak dengan kupu-kupu bersayap pelangi yang mengitari padang rumput dan rumpun bunga warna-warni itu. Pemandangan yang benar-benar menunjukkan visualisasi dongeng anak-anak penuh imajinasi yang terpetakan jelas. Dara Bass ini menyukai hal-hal yang indah, kau tahu. Indah dalam artian ekstrem seperti membekukan mayat tribute yang masih utuh untuk dipajang di apartemennya, rasanya bukan hal yang buruk jika tubuh mayat itu indah. Pft. Ah—yes, karena baru hari pertama, dara ini berbaik hati memberikan hujan yang turun. Ditekannya tombol yang membuat hujan yang tidak lebat namun juga bukan hujan gerimis agar para tribute itu dapat beristirahat sementara sebelum melakukan pembantaian kembali. Ah, how lucky you are—pft. Sungguh baik hati, dara Bass satu ini.
|
|
![]() |
|
|
| Flavea Vorfreude | Tuesday Jun 4 2013, 11:16 PM Post #2 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 82 + 35 (Ransel&Jarahan) + 10 (Arena) = 127 || AP: - + AP dari senjata: - || KS: - TARGET: - || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: - || JUMLAH KATA: [result]1&1,1d3,0,1&1d3[/result]x180kata 1 Panahan, 1 Kapak, 1 Plastik, 1 Pisau Ada dua puluh lima meriam yang berbunyi, ada dua puluh lima wajah yang terpampang di langit luas. Lebih dari setengah dari seluruh peserta Quarter Quell telah terenggut nyawanya dan itu hanya dalam satu hari saja. Dua puluh tiga yang tersisa dan kini tersebar di berbagai penjuru arena, dara Vorfreude itu salah satunya, masih selamat dari tusukan-tusukan yang diterimanya. Kakinya menginjak rerumputan hijau dan memandang hamparan padang luas di hadapannya, tanpa tempat persembunyian. Namun ia bukanlah mangsa yang akan dilahap bulat-bulat, seperti apa yang akan orang pikirkan ketika melihatnya. Di sini ia lah predatornya, dengan berbagai senjata menemaninya untuk membantunya menjatuhkan mangsa. Ia tak menangis lagi, sudah lelah menangis. Sudah lelah menyesali diri untuk saat itu, kini yang perlu dilakukannya hanyalah membuat dirinya berguna agar tak ada lagi orang yang mati lagi karenanya. Kapak ditangannya adalah hasil jarahan di bloodbath, begitu pun dengan senjatanya yang lain. Membuatnya lebih peralatan yang jauh lebih lengkap untuk membantai orang lain. Ia memasang wajah berani, ia tak mau terlihat lemah lagi. Mungkin tak ada yang mencintainya hingga membuatnya menjadi tak berharga, namun ia dapat membuktikan bahwa ia berharga dengan cara menunjukan pada mereka bahwa Flavea Vorfreude kini berubah, berubah menjadi seorang predator dan bukan parasit yang tak diharapkan. Ia tak akan mendapatkan kastil dan pangeran serta pakaian-pakaian indah jika ia tak berusaha untuk menang, no? Ada hujan yang turun membasahi dedaunan di sana. Ia meletakan barang-barangnya di atas rumput dan membentuk kedua tangannya menjadi mangkuk, berniat meminum air hujan tersebut. Sesedikit air pun rasanya seperti menemukan harta karun ketika kau berada di arena. Hujan tersebut kecil dan tak berlangsung terlalu lama, namun air yang ia minum cukup untuk menghilangkan daganya. Harus benar-benar menghemat segalanya kecuali kemauan untuk membunuh. Jika ia sudah membunuh satu, membunuh dua jadinya tak mengapa kan? Sungguh sayang kecantikan padang rumput ini akan berkurang karena merah yang menodainya. Atau justru terlihatnya akan semakin indah? Semakin menambah warna bersama dengan bunga-bunga putih yang sesekali terlihat, dengan suasana musim semi yang seharusnya menenangkan. Tuhan, Ibu, Ayah, maaf Flavea harus melakukan ini. 1 Ransel Besar + Tiga Plastik dan Satu Pasang Kaus Kaki = 12 Adinia Erasto: 1 Ransel Kecil , 1 belati, 1 dendeng sapi, 1 lentera, 1 tempat minum kulit = 13 Jarahan dari Curnocopia: 1 Panahan, 1 Pedang Mata Tunggal, 1 kompas, 1 tombak, 1 korek api, 1 pisau, 1 bungkus dendeng, 1 kotak roti capitol = 10 Jumlah HP tambahan = 12 + 13 + 10 = 35 |
|
![]() |
|
|
| Altessa Lychnia | Wednesday Jun 5 2013, 08:23 AM Post #3 | |
![]()
|
DISTRIK 6 HP: 29 + 10 (air hujan) + 3 (ransel kecil) = 42 || AP: - + AP dari senjata: - || KS: - Jarak Serang: - || Dice Kejutan: - (-) Rasanya, Altessa tidak berlari begitu jauh dari Cornucopia. Ternyata, dia masih berada di area yang tidak jauh berbeda. Padang rumput, lagi. Walau sedikit lebih berbeda dibandingkan dengan Cornucopia, well. Sama luasnya, sama hijaunya—tak ada darah, tapi—dengan rumpun bunga berwarna-warni seperti imajinasi dunia seorang anak kecil. Tempat ini tidak memiliki tempat persembunyian, omong-omong. Semua orang yang berdiri sini, tentu saja akan terlihat dengan jelas. Altessa kelihatannya datang ke tempat yang salah, karena dia akan merasa sangat khawatir dengan siapa yang akan ia temui nanti. Dan lagi, dia tidak membawa apa-apa. Hanya ransel saja, karena saat ia mengambil pun, sudah diserang terlebih dahulu oleh dua orang itu. Ia harus berhati-hati, mengingat tempat ini berbahaya. Jadi... apakah dia sudah siap, sebenarnya? “…Ugh.” Nostalgia, lagi? Ini mirip dengan padang rumput yang selalu ia kunjungi di Enam, lho. Dimana ia menikmati waktu luang setelah pulang sekolah maupun kerja sambilan sebagai Router. Tapi, hal itu tak akan berlaku lagi. Dan disaat tungkai Altessa masih melangkah, ia mendapati hujan yang tak lebat dan tak sedikit turun, seperti berkah. Altessa meminumnya. Ia haus, dan menurutnya air hujan ini aman untuk dikonsumsi. |
|
![]() |
|
|
| Flavea Vorfreude | Wednesday Jun 5 2013, 10:46 AM Post #4 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 127 || AP: [result]8&5,1d8,3,8&1d8+3[/result] + AP dari senjata: [result]3&3,1d5,0,3&1d5[/result] || KS: [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result] TARGET: Altessa Lychnia (D6) || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: - 1 Panahan, 1 Kapak, 1 Plastik, 1 Pisau and you're beautiful, honey because honey, you taste better than honey and you were born to wear that crown so keep your head held high Tatkala hujan terhenti, gadis itu mengambil kapaknya dan mengangkut busur dan panahnya, dua senjata yang hanya dapat digunakan sekali di satu waktu. Sebenarnya ia memiliki banyak senjata lain, namun seluruhnya tersimpan di dalam tasnya. Ia tak terlalu yakin akan mengapa ia membutuhkan senjata sebanyak itu, namun makanan-makanan yang ada disyukurinya. Ia hanya mendapatkan sedikit makanan dari ransel dan hasil ambilan dara Erasto yang dibunuhnya, tambahan roti capitol dan air minum tidaklah buruk. Cukup untuk beberapa hari jika ia memang hidup selama itu. Ia ragu bahwa apa pun yang berada di sekitar sini dapat dimakan, hasil mempelajari makanan apa saja yang tersedia di alam arena terasa tak ada karena tak ada sedikit pun yang terlihat dapat dimakan. Kecantikan biasanya menutupi keburukan di dalam, kata mereka. She wonders, apakah hal tersebut dapat diaplikasikan padanya juga? Banyak yang menyebutnya sebagai seorang gadis yang cantik. Namun entah mengapa terkadang ia merasa sebutan tersebut palsu, meski pada akhirnya ia hanya menerima dan tak berpikir lebih jauh lagi, lebih memilih untuk menganggap segala pujian baginya terucap secara tulus. Dan sekarang ketika ia hidup di tempat dimana tak ada ruang untuk berdelusi, ia bertanya-tanya seberapa persen dari pujian tersebut yang benar-benar tulus. Padang rumput tersebut sepi, ia tak menemukan sedikit pun orang. Jika ada banyak orang di sini, maka rerumputan akan sudah basah oleh darah. Sesekali ia memandang ke arah hutan yang terlihat misterius dari kejauhan. Jika tak salah memang banyak yang kabur ke daerah sana, mungkin menjadi tempat yang dianggap jauh lebih amat karena tak terlihat secantik padang rumput musim semi yang dihiasi lebih dari satu warna, tak seindah gunung yang dibaluti oleh serbuk-sebuk putih salju. Mungkin memang aman di sana, mungkin justru sebaliknya. Ia tak akan tahu sebelum datang ke sana. Ia tetap berjalan, mencari mangsa. Masih menjadi seorang predator yang bukan mencari mangsa karena kehausan darah, namun seorang predator yang tengah mencari mangsa untuk dijadikan bukti bahwa ia adalah seorang predator. Seorang gadis berambut coklat terang terlihat tak jauh dari tempatnya berjalan, sendirian. Memandang gadis itu dari kejauhan dan memandang kapaknya. Memiringkan kepala. Hmm, should she? Memjamkan matanya sejenak dan kemudian membukanya lagi, menatap target tak bergerak di kejauhan. Ia mengambil pisau di ranselnya yang disimpannya tak terlalu jauh di dalam dan kemudian menjatuhkan ransel tersebut agar tak merepotkannya ketika menyerang. Panahnya pun ia simpan. Kapak. Mari coba peruntungannya dengan kapak. Ia berlari ke arah gadis itu berada, gadis yang tak dapat dikenalinya dari kejauhan. Kapaknya ada di tangan, semakin mendekati gadis itu semakin siap untuk digerakan. Tiga meter, dua meter, satu meter....dari jarak kurang dari satu meters, ia mengayunkan kapaknya ke arah gadis tak berdosa itu. |
|
![]() |
|
|
| Altessa Lychnia | Wednesday Jun 5 2013, 03:24 PM Post #5 | |
![]()
|
DISTRIK 6 HP: 42 - 11 (Flavea) = 31 || Target: D1 (Flavea) || AP: [result]1&1,1d8,0,1&1d8[/result] + AP dari senjata: - || KS: [result]1&1,1d24,0,1&1d24[/result] Jarak Serang: - || Dice Kejutan: - (-) Altessa tidak pernah mengharapkan ini semua akan terjadi. Hujan berlangsung tidak begitu lama, tapi Altessa merasa lebih baik dari yang sebelumnya. Lelahnya memang belum hilang seluruhnya. Ia masih melangkahi padang rumput penuh warna yang indah, berbeda dengan gunung berapi yang nun jauh disana, atau hutan yang sepertinya memiliki lebih banyak pendatang dibandingkan tempat ini. Ya, sepi. Perasaannya mendadak tidak enak. Tepat saat itu juga, ia mendengar suara langkah yang mengarah kepadanya. Langkah ini bukanlah milik Altessa, dan sebuah ayunan kapak datang berasal dari seorang gadis yang tak dikenal. Sepertinya seorang peserta Karier karena bawaannya yang lebih banyak dari peserta pada umumnya. Serangan kapak itu mengenai lengannya, dan perlahan mengeluarkan darah. “Ouch!” Binar kebiruannya menatap dalam sang gadis yang membawa kapak itu. Ia jauh lebih kuat, jauh lebih siap dibandingkan dengan Altessa. Apa ia akan mati di tangan gadis ini? Harapannya adalah tidak. Tanpa bersenjata apapun, Altessa hanya bisa bertaruh pada keberuntungannya sendiri. Maka, sebuah tonjokan yang cukup keras ia arahkan pada sebelah pipi milik sang gadis yang terlihat cantik itu. Peduli amat akan merusak wajahnya apa tidak—itu bukan urusannya. karena salah tag, post selanjutnya harus offroll 1x serangan d' 'b Edited by Jonathan Duprau, Thursday Jun 6 2013, 11:58 AM.
|
|
![]() |
|
|
| Flavea Vorfreude | Wednesday Jun 5 2013, 04:08 PM Post #6 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 127 || AP: [result]8&5,1d8,3,8&1d8+3[/result]+ AP dari senjata: [result]1&1,1d5,0,1&1d5[/result] || KS: [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result] TARGET: Altessa Lychnia (D6) || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: - 1 Panahan, 1 Kapak, 1 Plastik, 1 Pisau Kapak itu mengenai salah satu bagian tubuh gadis itu, mengoyak daging dan kini terlapisi oleh darah basah yang cukup banyak. Ketika akhirnya ia dekat, ia dapat mengenali bahwa gadis itu berasal dari distrik enam. Namanya sulit diingat, hasil hafalannya akan seluruh peserta sudah mulai mengabur dan tak terasa penting lagi. Nafasnya datang bergantian dengan ritme yang cepat, kapaknya sudah ditarik dan kini ia memandangi luka besar yang dihasilkan oleh kapak tersebut. Menunggu sebentar, memastikan gadis itu masih hidup atau tidak setelah terkena serangannya yang cukup fatal. Ia sendiri tak dapat membayangkan bagaimana jika dia yang diserang seperti itu. Tak mau membayangkan pula. Rasanya masih enggan untuk menyerang lagi tapi…kegelisahannya harus dikesampingkan, katanya. Dada gadis yang ternyata berambut kepirangan itu masih naik dan turun, tubuhnya masih bergerak. Masih hidup, rasanya mengagumkan. Namun pasti ada rasa sakit luar biasa yang dirasakan oleh gadis itu sekarang, sakit yang membuatnya ingin mati saja. Ia tidak tahu sesakit apa, namun ia yakin gadis itu pasti akan menderita jika terus menerus hidup dengan luka macam itu. Jadi biarlah ia menganggap bahwa ia membantu gadis itu dengan terus menerus membunuhnya. Orang yang dibunuh akan masuk surge, ia mencoba mempercayai itu. Surga adalah tempat yang jauh lebih baik dibandingkan dunia ini dan ia mengirim gadis itu ke sana. Menjadi seorang kaki tangan malaikat kematian yang akan segera menemui malaikat kematian itu sendiri. How funny. Ia ingin mengucapkan sesuatu kepada gadis itu, mengucapkan maaf. Mengucapkan selamat tinggal. Mengucapkan bahwa ia akan lebih bahagia di dunia sana dan setelah ini mereka tak akan bertemu satu sama lain lagi. Namun ia tak mau berbicara pula, suaranya akan terdengar bergetar dan menunjukan kerapuhannya. Maka dari itu ia memilih keheningan sebagai kawannya. Jika ia berbicara, maka orang akan tahu bahwa ia masih lemah. Ia tak berbicara seperti ia tak mau memandang mata lawannya agar mereka tak melihat bagaimana dirinya sesungguhnya. Gadis itu membalas dengan berusaha menonjoknya, namun gagal ketika ia bergerak untuk menghindari serangan tersebut. Jelas bahwa Flavea adalah pihak yang lebih memiliki keuntungan saat itu, ia memiliki banyak senjata dibandingkan ketiadaan senjata lawannya. Dara Vorfreude itu mengangkat kapaknya lagi dan mengarahkannya ke tubuh gadis itu untuk yang kedua kalinya. |
|
![]() |
|
|
| Altessa Lychnia | Wednesday Jun 5 2013, 08:30 PM Post #7 | |
![]()
|
DISTRIK 6 HP: 22 || AP: [result]5&5,1d8,0,5&1d8[/result] + AP dari senjata: - || KS: [result]1&1,1d24,0,1&1d24[/result] Target: D1 (Flavea) || Jarak Serang: - || Dice Kejutan: - (-) Ia memang lebih lemah dibandingkan dengan gadis yang tak dikenalnya ini. Pukulannya sama sekali tidak mengenai wajah sang gadis, dan lagi dibalasnya dengan sebuah serangan kapak yang kali ini mengenai tangannya—refleks karena Altessa mencoba untuk menahan kapak itu—iya, Altessa memang agak bodoh. Tapi, ia juga tahu kalau hidupnya tidak akan bertahan lama lagi disini. Sia-sia saja kalau ia tidak memberi perlawanan. Setidaknya, ia ingin menyerang, membuktikan bahwa ia masih memiliki keberanian untuk menyerang—atau bahkan membunuh? Hasilnya sudah cukup jelas kalau ia akan kalah. Tangannya nyeri, darah masih terus mengucur dari lengan. Kini darah juga keluar dari tangannya. Altessa akan mati kehabisan darah kalau begini, dibandingkan dengan mati karena dihantam oleh serangan kapak. Altessa harus berbuat apa, sekarang? Tangannya bukanlah tangan yang diperuntukkan untuk menonjok dan melukai orang. Tapi untuk mengantarkan barang yang telah diproduksi oleh pabrik Enam ke orang yang membutuhkannya. Sayangnya, ini adalah Hunger Games, kawan. Tidak ada waktu untuk memikirkan apakah bisa atau tidak—ini adalah masalah dimana apakah kau bisa bertahan hidup dan membunuh peserta lainnya. Sebuah tendangan ia tujukan kepada gadis Karier itu. |
|
![]() |
|
|
| Flavea Vorfreude | Wednesday Jun 5 2013, 10:54 PM Post #8 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 127-5 (telat post...kayaknya) = 122 || AP: [result]8&5,1d8,3,8&1d8+3[/result] + AP dari senjata: [result]4&4,1d5,0,4&1d5[/result] || KS: [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] TARGET: Altessa Lychnia (D6) || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: - 1 Panahan, 1 Kapak, 1 Plastik, 1 Pisau Keheningan dan kesepian padang rumput adalah sesuatu yang menguntungkan bagi Flavea. Tak seperti di bloodbath dimana ada banyak suara yang mengalihkan fokusnya, apalagi dengan pikirannya yang sudah memiliki dua suara yang berbeda, dengan kabut-kabut yang membuatnya pening. Dua suara yang memerintahkannya untuk melakukan dua hal yang kontradiktif. Salah satu suara sudah memenangkan ketaatannya, dituruti kata-katanya oleh satu-satunya putri keluarga Vorfreude itu. Ia tahu bahwa ia menuruti kata-kata suara yang salah, namun kata-kata suara yang benar tak dirasanya akan menguntungkan dirinya. Ia selalu mengkonsiderasikan dirinya sendiri sebagai orang baik. Selalu. Namun itu dahulu, hanya sampai beberapa hari yang lalu. Kini, ia tahu benar dan yakin bahwa ia tak lagi seseorang yang baik. Ia adalah orang yang akan melakukan segalanya untuk menang dan mendapatkan kehidupan yang ia mau. Dan ia terus menerus mengucapkan mantra tersebut untuk membuatnya terus dapat menyerang. Jika pun ia mati, setidaknya ia mau mati setelah membuktikan diri pada dirinya sendiri bahwa ia lebih kuat dari Colleen, Exodus, dan semuanya. Bahwa ia lebih cerdik dengan memilih tempat ini meski akhirnya ia berjalan sendirian. Semakin banyak darah, semakin banyak luka di tubuh gadis itu. Namun Flavea bahkan tak dapat menatap luka yang dihasilkan oleh senjatanya sendiri, tak sanggup menatak daging yang terkoyak oleh tajam dan beratnya kapak. Sulit berpura-pura bahwa ia adalah seseorang yang benar-benar keji sepenuhnya. Jika ia memang berubah menjadi tanpa hati dan tanpa perasaan, maka akan ditebasnya gadis itu berulang-ulang tanpa jeda waktu. Namun pada kenyataannya, ada jeda waktu di tiap serangannya, menandakan keraguannya. Ia membiarkan gadis yang kini kulitnya dihiasi merah darah itu mendapatkan kesempatan untuk membalasnya. Meski gagal, meski pada akhirnya ia hindari karena rasa sakit dari dua luka tusukan yang tak terobati sudah cukup untuk saat ini, sudah cukup menyiksanya. Ya, iya tahu dua luka itu tak seberapa dibandingkan banyak luka yang biasanya diderita seorang peserta. Tapi… “Maaf, aku harus melakukan ini,” lirihnya, pelan, seakan tak ingin didengar oleh siapa pun meski hanya ada mereka berdua di sini. Mungkin saja ada kamera Capitol yang menangkap gambar mereka, merekam tiap suara yang ada. Entah mengapa ia tak terlalu nyaman dengan Capitol memperhatikan setiap gerakannya, meski mereka adalah mimpinya. Kapaknya mengayun lagi, mengarah ke perut gadis itu dengan gerakan yang pasti dan cepat. Ia dan kapak, tak pernah terpikirkan, huh? Ia sendiri tak pernah berpikir bahwa kapaklah yang akhirnya menjadi senjata membunuhnya. In her defense thou’, she had never think that she would kill anyone. |
|
![]() |
|
|
| Redemptus Maleveich | Thursday Jun 6 2013, 09:50 AM Post #9 | |
![]()
|
Dari ketiga Arena, padang rumputlah yang hanya didatangi tiga orang. Satu perempuan Satu, satu perempuan Enam, dan satu lelaki Sebelas. Lebih sedikit dibandingkan Hutan Beracun dengan sekian banyak sisa peserta dan Gunung Berapi dengan lima orang Karier Dua dan Empat. Dia dapat menyimpulkan pertarungan di padang rumput berlangsung santai dengan fokus utama terpusat hanya pada kedua perempuan yang sedang saling bertarung. Sisanya hanya rerumputan alami dengan bunga dan batuan yang terlihat di padang rumput. Lisette Bass telah berbaik hati menurunkan hujan untuk para peserta agar dapat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pembunuhan. Hujan yang berlangsung tidak terlalu lama, juga tidak terlalu cepat usai. Dilihat kembali, padang rumput yang terhampar luas itu tidak memberikan tempat persembunyian yang menjanjikan pada para pendatang baru. Mungkin ini yang ditunggu-tunggu oleh para pemirsa sekalian. Mengharapkan adanya suguhan luka dan darah yang mampu memanjakan visualisasi setelah sempat dihibur dengan atraksi di Cornucopia. Pemuda itu juga mengharapkan demikian, tapi nyatanya, belum ada tanda-tanda tubuh manusia di sana akan segera diangkut oleh pesawat ringan. Padang rumput masih berjumlah sama. Tiga orang. Belum ada perubahan. Dia menyukai aksi kapak-mengapak yang dilakukan perempuan asal Distrik Satu terhadap lawannya. Melihat korban yang sepertinya kewalahan mempertahankan serangan bertubi-tubi, pemuda itu berusaha menyabarkan dirinya. Kedua lengannya terlipat dan sepasang iris tajamnya terpaku pada gambar. Dia menyaksikan bagaimana Satu membantai Enam dan bagaimana Enam berusaha melawan balik, meski hasilnya berujung sia-sia. Mungkinkah nasib Enam seperti pendahulu? Seharusnya ini semua cepat berakhir, tapi mungkin juga tidak. Tatapannya sudah tidak berada lagi di layar. Redemptus mulai tidak sabar ikut campur. Dari jauh, tentunya. Tidak sabar lagi, dia mengeluarkan kejutan untuk para peserta di padang rumput. OOC: Tunggu kejutan melakukan post, baru para peserta diperbolehkan melanjutkan balasan pada topik arena. |
|
![]() |
|
|
| Aron Aaroo | Thursday Jun 6 2013, 01:16 PM Post #10 | |
![]()
|
[ KEJUTAN ARENA; ESOK HARI – 06.00 ] Matahari sudah tak lagi menyembul malu-malu di bagian timur Arena. Bahkan sudah tersenyum cerah, menyapa korban gempa bumi kita. Rise and shine, sleepyhead. Pembina permainan lainnya nampak masih terlalu sibuk ongkang kaki dan mengangkat hidung mereka tinggi-tinggi dan lupa bahwa Capitol mulai bosan dengan permainan saling kejar selama satu hari terakhir. Ia tahu bahwa mereka sibuk di saat pra Arena dengan segala proposal pengajuan dan segudang ide untuk Arena ini. Breath-taking. Aron Aaroo dikalahkan dalam hal ide oleh salah seorang Bass. Brengsek? Ralat. Itu sangat brengsek sekali, saudara-saudari. Keluarga Aaroo tidak pernah bisa sejalan dengan keluarga satu itu, ya ya. Banyak yang membicarakan mereka; desas-desus itu dan serombongan komplimentari serta gunjingan. Pujian disusul hinaan. Shakespeare. Romeo dan Juliet. Itulah Aaroo dan Bass. Maniknya memberat. Seharusnya ia bisa tidur. Pil yang diminumnya satu jam lalu tak membantunya sama sekali. Dengan tangan yang dilipat di depan dada, sudah tiga kali ia menguap diam-diam karena rasa kantuk yang menyerang. Beberapa orang di balik panel lainnya menyuruh pemuda Aaroo itu untuk tidur—setidaknya Karenina mungkin akan ada untuk menggantikan posisinya sementara waktu. Tetapi, ego ya ego. Aron bersikukuh dalam posisinya. Menggeleng dan kembali mengomando. Aron Aaroo hanya sedang bosan. Sudah lewat dari nyaris dua belas jam dan mereka masih seperti itu. Alih-alih mengeluarkan sosok muttan pembunuh, pemuda itu beranjak menuju panel lainnya. Sudah tiga puluh menit berlangsung dari sedikit guncangan hebat pada ‘surga’ milik Capitol kali ini harusnya tak berefek banyak. Gempa bumi bukan hal baru di Arena, bukan? Apa lagi kali ini? Seringai lain di wajah Aron; yang kali ini mewakili kepuasannya. Hanya padang rumput yang membuatnya senang. Peserta disana masih aktif membunuh, meskipun lambat alurnya. Kejutan yang mungkin akan dikeluarkannya—dalam tahap ini Aron sudah siap melemparkan sumpah serapahnya karena korslet di kepingan memori genetika itu—sudah dipilah-pilih, menggunakan beberapa yang lama; yang dianggap sukses dalam memancing para peserta untuk saling mendekat. Mereka akan segera muncul. Tak lama. WAJIB DIBACA
|
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |
- Pages:
- 1
- 2











9:32 PM Jul 11