|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Arena Tiga - Gunung Berapi | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Tuesday Jun 4 2013, 07:51 PM (2,434 Views) | ||
| Lisette Bass | Tuesday Jun 4 2013, 07:51 PM Post #1 | |
|
Second Day. Jika tadi kalian disuguhkan pemandangan spring—musim semi, maka kali ini bolehlah dara Bass ini mempersilahkan yang lain untuk mengunjungi musim dingin mereka—their winter, right? Dara Bass itu masih berada di balik panel yang sama untuk beberapa minggu ke depan, memastikan dia melaksanakan tugasnya sebagai Game Maker dengan baik. Bersama partnernya, (Oh, great, she got partner—boo) Redemptus (but she prefers to call him Red—as the colors she likes) dan dua asisten Pembina Permainan, (mantan) Pembina Permainan tahun lalu, Aron Aaroo—The Aron ones, and Karenina Hale—The Nina ones. Penampilannya telah serba merah, mengikuti tren yang dibuat sepupunya, pun untuk menghormati darah yang akan keluar banyak pada Hunger Games tahun ini. Dua kali lipat peserta, yang artinya dua kali lipat Game Maker juga—pft. Lucu, lucu sekali. Sudah hari kedua dan kali ini obsidian kelam yang bersinar jernih itu melihat ke arena dengan sudut lain, gunung yang berselimutkan salju yang putih bersih tanpa menyisakan sedikitpun titik tanah berwarna kecokelatan di bawahnya. Tempat ini menawarkan banyak tempat persembunyian, namun tempat penuh jebakan arena lainnya. Gunung itu tinggi dan terletak di arah timur arena berlatarkan selimut salju putih yang menggambarkan musim dingin yang dingin dan sepi. Sedikit bunyi samar dari angin yang bertiup halus dan beberapa jejak hewan-hewan hutan kecil yang bertahan hidup di musim dingin. Gunung itu dipenuhi dengan pepohonan yang tandus tanpa banyak dedaunan berwarna hijau—namun pepohonan itu rapat-rapat, memenuhi hamparan putihnya salju di permukaan gunung tersebut. Hanya ada putihnya salju, birunya langit, dan cokelatnya pepohonan kering. Tidak ada hewan buas, tidak ada bahaya apapun yang akan muncul begitu saja. Hutan itu dingin, kuat, tenang dan tampak berbahaya. Yes, darl. It's dangerous. Tentu saja berbahaya, Liz sudah memastikan lahar di dalam gunung bersalju tersebut akan aktif sewaktu-waktu. Jika dilihatnya nanti pertarungan akan berjalan membosankan, dia akan menekan tombol berwarna senada dengan nail artnya—warna merah. Tapi masih tidak ada niatan untuk melakukan hal itu, Arena baru berjalan dua hari. Hari pertama dia sudah dengan baik hati memberikan hujan untuk mereka. Dan bagi mereka-mereka yang mengerti bahwa semua yang ada di Arenanya kali ini adalah racun, tentu mereka akan mengerti untuk memanfaatkan pemberiannya yang sedang berbaik hati itu. Tapi kali ini Liz sedang ingin memperhatikan situasi kedua puluh tiga peserta yang tersisa. Apakah mereka akan menunjukkan sesuatu yang hal menarik untuknya atau tidak. But you all better be, darl. Make our Lisette Andromeda Bass satisfied, would ya?
|
|
![]() |
|
|
| Ethan Nestor | Tuesday Jun 4 2013, 11:16 PM Post #2 | |
![]()
|
BANYAK KATA: [result]3&3,1d3,0,3&1d3[/result]x180 DISTRIK 4 || HP: 86 || AP: - + AP dari senjata: - || KS: - TARGET: - || DICE KEJUTAN: [result]8&8,1d12,0,8&1d12[/result] || JARAK SERANG: [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result] Pedang bermata satu, tombak, dan trisula Sampai detik ini ia masih selamat. Meski matanya tidak berfungsi seutuhnya, tetapi paling tidak ia bisa selamat dari pembunuhan massal yang terjadi sebelum ini. Sebenarnya cukup berat juga karena meninggalkan Floryn di belakang sana. Sayang sekali, gadis kecil itu harus menjemput ajalnya terlebih dulu. Mengorbankan diri di usia yang terlalu dini. Ethan sempat melihat jasad Floryn sebelum ia menyeret Ferina dan Hada pergi dari bloodbaths. Tidak baik bertahan di tempat itu lebih lama. Bisa-bisa malah terbunuh. Lagipula ia harus menyadarkan Hada yang pingsan. Ia membutuhkan tempat yang lebih sepi dan aman. Semoga Floryn mendapatkan kebahagiaan sejatinya di alam sana. Yang patut disyukuri adalah ia berhasil mendapatkan senjata dan makanan tambahan dari peserta yang sudah mati. Ia mendapatkan pedang, trisula, bahkan kantong tidur, serta beberapa barang lainnya. Well, senjata seperti ini yang ia butuhkan. Paling tidak, ia bisa mengurangi kesialannya jika memakai senjata yang cukup ia kuasai. Tidak seperti di bloodbaths tadi, kalah dengan cakaran wanita. “Hati-hati membawa dia,” gumam Ethan ketika memasuki kawasan yang penuh salju serta pepohonan tandus yang rapat. Tempat ini sepertinya dapat menyembunyikan mereka bertiga dengan baik. Meski tak ada daun yang bisa dijadikan persembunyian, namun keadaan pohon yang banyak dan rapat, sepertinya cukup menyulitkan lawan untuk menemukan tiga orang dari distrik empat ini. Ethan berhenti pada sebuah tempat yang cukup lapang namun dikelilingi oleh pohon tandus yang tumbuh rapat. Semoga pohon ini dapat menyamarkannya. “Bagaimana dia?” tanya Ethan pada Ferina. Matanya mengerjap beberapa kali saat memandang Hada. Semenjak Yasmine berhasil menusukkan kuku pada matanya, pengelihatan Ethan menjadi buruk dan harus sering mengerjapkan mata. OOC (barang yang dibawa) : 1 kantong tidur, 1 senter, 1 kompas, 1 korek api, satu tempat minum 2 liter (HP+5),1 kotak biskuit (HP +5) | Sudah diizinkan deskrip Ferina dan Hada. Edited by Corialonus Snow, Tuesday Jun 4 2013, 11:18 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Hada Atala | Tuesday Jun 4 2013, 11:19 PM Post #3 | |
![]()
|
Jumlah kata: [result]2&2,1d3,0,2&1d3[/result] x 180 DISTRIK 4 || HP: 170 (makasih dedek Floryn :”>)|| AP: - + AP dari senjata: - || KS: - TARGET: - || DICE KEJUTAN: [result]8&8,1d12,0,8&1d12[/result] || JARAK SERANG: 12 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] 1 kapak, 1 tombak, 1 trisula, 1 tempat minum air ukuran 2 liter link bukti membunuh Gelap ya. Tapi Hada seperti samar mendengar suara Floryn. Hal yang terakhir Hada ingat, tubuh si kecil Lee itu ada dalam pelukannya. Dia berusaha menenangkan Floryn yang tampak ketakutan dengan mengelus-elus lembut puncak kepalanya sambil berkata bahwa mereka jangan sampai terpisah lagi. Tapi, apakah itu yang sebenarnya terjadi? Matanya membuka perlahan dan dia mulai sadar. Lalu, kenapa Hada ada di sini sekarang? Gunung putih…salju? Dingin? Ini bukan Arena Bloodbaths—bukan Cornucopia. Di depannya ada Ethan Nastar dan Ferina Secret—bukan Floryn Lee. Dahinya mengerut. Heran. Dia mencoba menggerakkan satu per satu anggota tubuhnya yang masih terasa ngilu. “Floryn…mana?” melirik ke kiri dan kanan, lalu ke segala arah, tapi manik cokelatnya sama sekali nggak mendeteksi sosok si mungil teman satu distriknya itu. Bahkan, cuma ada mereka dan dua peserta lain dari Distrik Dua yang ada di sekitarnya. Yang lain kemana? “Bloodbathsnya?” sumpah dia pasti persis banget kayak orang bego sekarang. Celingukan nggak jelas. Wajar sih kalau Hada begitu karena sebenarnya dia nggak sadar kalau dia sempat pingsan begitu dia sampai di Cornucopia. Deg-degan. Dia punya feeling nggak enak… “Floryn mana!?” mengulang lagi pertanyaannya, dengan tampang cemas. |
|
![]() |
|
|
| Ferina Secret | Tuesday Jun 4 2013, 11:54 PM Post #4 | |
![]()
|
Dan ketika jasad kedua yang dibunuh dengan tangannya itu jatuh ke tanah, gadis sulung Secret mau tak mau merasa getir. Gadis itu sudah seperti kesurupan tadi—membantai orang seperti itu dengan belatinya. Bukan dirinya sendiri, seakan-akan binernya menggelap dan melakukan hal destruktif seperti tadi. Tetes air mata berhamburan, rasa bengis dan haus darah yang tadi melandanya seperti gemuruh tsunami lenyap secepat datangnya. Bloodbaths, dan gadis itu jatuh, runtuh dalam pesona membunuh—benar-benar memalukan. Gadis itu tak habis berpikir, apa perasaan Magnolia kalau melihatnya? Bagaimana perasaan Isaac—n'ah, mereka jelas tahu bahwa ia harus membunuh demi memenangkan permainan ini, tapi sekali lagi, apakah mereka... rela? Ferina Dorian, enam belas tahun— —statusnya apa, sekarang? Tetapi, meskipun perasaannya campur aduk hingga mendekati gila, gadis ini bergerak mencari barang jarahan yang lebih mendekati spesialisasinya. Trisula—jelas ada trisula, dan tombak juga pedang menjadi pilihannya pula. Belatinya tak dibuang, dianggap sebagai bitter remembrance, barang yang membangkitkan kenangan pahit. Dentuman meriam tak dihitungnya, dianggapnya angin lalu, berusaha menulikan telinga. Bahkan ia tak tahu apa yang terjadi, sesungguhnya, pada rekan distriknya yang lain. Apatis, bukankah itu yang menjadi spesialisasimu, hm, Ferina? Floryn Lee meninggal, kehabisan darah. Dan begitu mengetahuinya, gadis itu malah terdiam dengan lutut menjadi tumpuan, menangis tanpa isakan. Tujuannya masuk ke arena—tak tercapai. Gadis yang menjadi teman adiknya itu meninggal—sia-sia. Butuh usaha dari Ethan untuk menariknya keluar tempat terburuk itu—karena lututnya terasa seperti jeli, gelatin, tak berguna yang berada di tepian panci saat ibunya memasak makanan penutup kesukaan Maggie di kala hidup di distrik masih mudah karena kemenangan Reef. Dan mau tak mau pula, gadis itu juga menarik Hada yang pingsan, dengan bawaan dua kali lipat karena ada barang Floryn pula yang terkandung di sana. Bitter remembrance, indeed. "I can manage," adalah kata-kata singkat yang diucapkan untuk menimpali rekan satu distriknya. Pula ketika lelaki itu bertanya tentang Hada, gadis itu hanya berkata, "Belum sadar." Tapi kata-katanya terpatahkan ketika lelaki seusia Isaac itu menggeliat dari pingsannya, dan bertanya tentang Floryn. Yang otomatis, membuat air mata tadinya mulai kering, kini mendadak mengalir lagi, deras. Gadis itu tak pernah menangis, bahkan ketika ayahnya meninggal—justru ia menikmatinya—tapi sekarang? Capitol, perhatikanlah, karena kalian sudah memulai suatu drama yang belum pernah dilihat dimanapun. "Flo... Floryn...," rasanya susah, mengeluarkan kata-kata itu, tapi gadis itu... harus, kan? Ethan pun tak memberikan pilihan karena sibuk memperhatikan sekeliling, menjaga mereka, kurang lebih. "...dia sudah tenang—" —tenang apa, Ferina? "—di alam sana. Bersama kakaknya." Mereka di hutan, dan tempat ini dingin, semacam musim dingin yang tak pernah ia lihat secara langsung. Mungkinkah ada musuh di sini, nonkarier disini? Bukti: Polaris, Lockhn. Barang jarahan: 1 kantong tidur, 1 kompas, 1 senter, 1 kotak roti capitol (HP:+5), 1 bungkus dendeng (HP:+5), 1 tempat minum sedang (HP:+5) Edited by Corialonus Snow, Wednesday Jun 5 2013, 08:44 AM.
|
|
![]() |
|
|
| Exodus Kruchev | Tuesday Jun 4 2013, 11:57 PM Post #5 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 78 + 68 (ransel dan barang jarahan) = 146 || AP: - || KS: - TARGET: - || DICE KEJUTAN: [result]7&7,1d12,0,7&1d12[/result] || JARAK SERANG: [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result] || Jumlah kata: [result]3&3,1d3,0,3&1d3[/result] x 180 1 tombak, 1 pedang bermata tunggal, 1 panahan, 1 pisau Dia dapat merasakan dingin yang menusuk. Berkali-kali pemuda itu melemparkan pandang ke sekeliling dengan waspada akan serangan musuh yang kerap bisa datang tanpa diundang, sementara tungkainya tetap melangkah maju. Medan yang sedang dia jelajahi berselimutkan salju putih, bukan lagi warna alam yang dilihatnya ketika Bloodbaths sedang berlangsung. Jauh dari kehangatan yang beberapa hari lalu dia rasakan. Untuk kesekian kalinya, dia menoleh ke sosok di samping. Tahu kalau ada orang selain dirinya yang sedang berjalan di sana. Suara langkahnya saling berirama dengan langkah yang diciptakan Madeleine Lethbridge. Baru sekarang Exodus menyadari kalau dia memiliki jenis senjata yang dulunya dipakai saudaranya. Senjata yang sama. Tombak. Panahan. Lagi. Dia tidak mau memikirkan bagaimana reaksi sang adik begitu menyadari hal ini. Memaki atau memuji atas apa yang dia ambil, terserah. Pemuda ini pun tidak menaruh perhatian lebih saat sedang mengambil sisa persedian di Cornucopia. Yang dia inginkan, maka akan diambil. Sisanya, dibiarkan saja. Angin dingin meniupi surainya dan diaterus melanjutkan langkahnya. Gunung ini dirasa tak berujung bagi pemuda Kruchev. Mungkin merasa masih berada di bagian tengah atau malah sekitar kaki gunung. Lama-lama Exodus merasa bosan juga. Entah di mana kawanan Karier yang lain, terutama Holt dan Hart. Di mana double H itu, hm? Kepalanya berpaling ke rekannya yang masih berada di dekatnya. “Apa kau merasa kedinginan?” Birunya menatap gadis itu lalu teralih ke pepohonan kering. Pantas saja pohon-pohon itu seperti tak bernyawa. Sudah izin deskrip dari PM Madeleine Lethbridge. Link pembunuhan (Stephanie White) dan membawa 1 tombak, 1 pedang bermata tunggal, 1 pisau, 1 kantong tidur, 1 panahan, 1 bungkus dendeng (+5), 1 tempat minum 2 liter (+5), 1 ransel besar (+12), 1 ransel sedang (+6), 7 kotak biskuit (+35), dan 1 tempat minum kulit (+5). |
|
![]() |
|
|
| Madeleine Lethbridge | Wednesday Jun 5 2013, 08:26 AM Post #6 | |
![]()
|
distrik 2 HP: 137 – 10 = 127 AP: - • AP Senjata : - • KS: - TARGET: - • DICE KEJUTAN: [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] • JARAK SERANG: [result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result] + 12 WORD COUNT: [result]2&2,1d3,0,2&1d3[/result] x 180 2 pistol udara, 2 botol madu Madeleine tidak tahu pasti hari apa sekarang secara tepat. Waktu bergulir tanpa ia sempat memprediksikan. Di sini, di arena, ada banyak hal lain yang patut ia beri perhatian lebih dan lebih penting dibandingkan dengan hari. Nyawanya bisa hilang bila sejenak saja ia lengah dan tidak waspada. Aliansi mungkin membantu, kamu tahu, terlebih sebagai Karier; di mana ia seharusnya ditakuti dan dihindari oleh tributes lain alih-alih ia yang bersembunyi dan mencicit takut. Tetapi tidak bisa sedemikian sederhana dan santai, ia. Pikirannya selalu dipenuhi prasangka-prasangka negative yang tidak membiarkannya tenang. Tidak ada yang bisa membuatnya tenang di sini. Tidak sebelum musuh benar-benar telah habis dan menyisakan ia seorang sebagai pemenang. Tidak meski ia punya satu Kruchev yang tepat ada di sampingnya kini. “Iya..” ia berbicara lirih. Kini lantas mendekatkan diri ke pemuda sekawanannya tersebut. “Kemana yang lain?” Madeleine Lethbridge menolehkan kepala ke sekitar, sambil tangannya mencengkram ujung pakaian sang partner satu distriknya yang ia ikuti semenjak bloodbaths berakhir bagus—dengan menyisakan seluruh Karier tanpa terkecuali. Yang atau malah berita buruk; sebab lawannya kelak adalah bukan orang dengan pelatihan sembarangan. Cuaca dingin, bersalju dan bersuhu tidak ramah. Madeleine Lethbridge sesungguhnya agak gemetar saat berjalan. Tetapi, well, berusaha disamarkan dengan gerakan-gerakan tubuh bercontoh seperti sekarang: menyisipkan tangannya ke lingkar lengan pemuda itu dan melingkarkan tangan kemudian. “Begini tidak dingin,” jarahan serta bawaan: panahan, pedang bermata tunggal, trisula, pistol udara, kompas, dan senter. 1 tempat minum kulit, 1 kotak biskuit + 1 tempat minum kulit, 2 kotak biskuit, 1 kantung tidur + 1 ransel besar + 1 ransel kecil + 1 ransel kecil + 1 ransel sedang. Link pembunuhan: here. |
|
![]() |
|
|
| Ethan Nestor | Wednesday Jun 5 2013, 08:26 AM Post #7 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 86 || AP: (off roll) + AP dari senjata: - || KS: - TARGET: - || DICE KEJUTAN: 8 + [result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result] || JARAK SERANG: 14 + [result]4&4,1d12,0,4&1d12[/result] (belum terhitung dengan milik Ferina) Pedang bermata satu, tombak, dan trisula Sementara Ferina mengurusi Hada, Ethan memilih untuk mengawasi sekitar. Musuh bisa muncul dari manapun dan ia masih belum tahu siapa saja lawannya. Kemungkinan non-karier cukup besar, mengingat peserta non-karier masih cukup banyak. Namun tak menutup kemungkinan jika sesama karier harus saling membunuh. Ia masih belum ada bayangan siapa yang harus ia lawan. Pun ia juga masih belum bisa menyusun strategi bagaimana untuk menyerang lawan. Bodoh. Seharusnya ia tak boleh terpengaruh dengan luka yang ia derita di sekujur wajah. Otaknya harus tetap berjalan bagaimanapun kondisinya. Hutan bersalju ini terlihat terlalu sepi dan berbahaya. Hanya sesekali terdengar angin dan itu cukup membuat suasana makin mencekam. Ethan harus benar-benar menajamkan telinganya dan tidak boleh lengah. Apalagi salju ini dapat menyembunyikan suara kaki lawan. Ditambah matanya tidak bisa fokus melihat jarak jauh. Untuk saat ini ia harus benar-benar mengandalkan empat indera yang lain. Sesekali ia memperhatikan kedua teman satu distriknya. Kemudian hatinya mencelos karena seharusnya Floryn harus berada di sini dan distrik empat bisa menjadi lengkap. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika Hada mencari gadis kecil itu, karena setahunya Hada cukup dekat dengan Floryn. Sampai detik ini pemuda itu masih belum sadar dan itu cukup bagus. Yang Ethan khawatirkan adalah jika Hada tidak bisa mengendalikan diri saat mengetahui Floryn sudah gugur lebih dulu. Dan hal itu sudah mulai terjadi. Hada terbangun dan mulai mencari Floryn. Seharusnya Ferina bisa mencari waktu yang tepat untuk memberitahu hal ini. Ethan memejamkan mata sejenak ketika Ferina mengatakan bahwa Floryn sudah bergabung dengan kakaknya. Dalam benaknya, ia mengingat bagaimana ekspresi ceria dan polos milik Floryn. Mungkin seperti itu perasaan Floryn sekarang? Beban gadis itu sudah lepas dan tak ada tanggung jawab yang harus dipikul lagi. Berbeda dengan tiga orang yang ada di tempat ini. Mungkin jika Floryn ada di sini, akan menjadi aliansi yang cukup menyenangkan bagi distrik empat. “Kau tak usah mengkhawatirkan dia lagi, Hada,” gumam Ethan pada pemuda itu. Keadaan sepertinya cukup aman untuk sementara sehingga ia bisa lebih memperhatikan rekan satu distriknya. “Dia sudah tenang dan tak ada yang menyakitinya lagi.” Memang benar, ‘kan? Floryn akan lebih aman bersama kakaknya di alam sana. Kepala Ethan mendongak, memandang langit biru yang terlalu indah untuk menjadi arena pembunuhan. Beruntunglah kau, Floryn, ketika kau tiada masih ada orang yang mencari dan mengenangmu. Tapi hal itu mungkin tak berlaku bagi seorang Ethan Nestor. Ia akan mati sendiri dan dilupakan. Percayalah. Rasanya jahat berkata seperti itu. Laz dan Vale pasti juga akan kehilangan jika ia pergi. Tetapi melihat Hada yang langsung mencari Floryn, mau tak mau ia jadi berpikir tentang dirinya juga. Jika ia tak ada nanti, apakah tetap ada yang mengenangnya dalam kehidupan sehari-hari? Apakah ia akan tetap menjadi perbincangan untuk beberapa waktu ke depan atau dilupakan begitu saja? Ethan tersenyum kecut, menyadari bahwa ia terlalu pesimis. Ha. Bukankah harusnya ia yakin bahwa akan kembali ke distriknya dalam keadaan hidup? Dan itu berarti harus membunuh rekan sedistriknya? Mata Ethan melirik Ferina dan Hada, menatap mereka cukup lama. Rasa itu perlahan timbul di sudut hatinya. Perasaan tidak tega untuk menghabisi mereka di sini. Jika peraturan boleh membawa teman sedistrik pulang, maka Ethan akan benar-benar melakukannya. Tetapi Capitol terlalu kejam dan Ethan memang harus menyingkirkan dua rekannya. Ah, itu urusan nanti. Lebih baik memikirkan tentang siapa lawan yang akan ia hadapi di sini. Singkirkan pikiran yang tadi. Persiapkan diri saja jika ia benar-benar harus membantai sesama Karier. |
|
![]() |
|
|
| Hada Atala | Wednesday Jun 5 2013, 09:20 AM Post #8 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 170 (makasih dedek Floryn :”>)|| AP: - + AP dari senjata: - || KS: - TARGET: - || DICE KEJUTAN: 8+ [result]4&4,1d12,0,4&1d12[/result] || JARAK SERANG: 18 + [result]8&8,1d12,0,8&1d12[/result] 1 kapak, 1 tombak, 1 trisula, 1 tempat minum air ukuran 2 liter Kalau ini bukan arena, Hada mungkin dengan senang hati akan membawa seluruh temannya di kampung halaman untuk piknik disini. Cornucopia mirip padang rumput di surga, gunung bersalju ini mirip es krim raksasa—ya dianggap aja kayak gitu. Nggak usah susah cari deskripsi lain. Lagipula, setelah acara saling basmi dadakan tadi, ia butuh penyegar pikiran, hati, tenaga, dan tenggorokan. Energinya cukup terkuras habis begitu semua acara selesai. Apa ia melewatkan setiap dentuman meriam? Dia harus tahu siapa-siapa saja yang berpulang, sehingga—APAAN?! NGGAK LUCU. ASLI. NGGAK LUCU SAMA SEKALI. Diulang. Sungguh. Tolong diulang ucapan terakhir Ferina dan Ethan; yang satu itu. Hada sontak tegak dan menatap dua rekannya berang. Marah dan murka, bahkan sakit hati. Orang sekecil Floryn, apa katanya tadi? Dengan kakaknya? Maksudnya siapa? Kalau mereka mau bercanda, kebetulan sekali Hada pada detik ini sedang tidak bisa diajak bercanda seperti biasanya. Mode senggol bacok tak bisa ia hindari kalau memang dialog seperti ini dijadikan guyonan. Ada bahan lawakan yang lebih bagus, bro. Seperti—hei, aku sehabis ini akan menjadikan daerah bersalju ini kolam renang raksasa begitu neraka terbuka. Atau lainnya kek; kalian akan menikah di tempat ini dan meminta Hada menjadi wali sekaligus saksi kalian. Begitu lebih baik. “Lawakan kalian garing abis, tahu nggak? Nggak usah bercanda, deh. Floryn mana!?” Tangannya dikebaskan untuk menghilangkan mati rasa akibat serangan demi serangan tadi. Kepalanya masih pusing berat, seperti seseorang melemparkan sekarung ikan kakap raksasa ke atas kepalanya. Maknyus abis. Seluruh badannya sendiri terasa pegal tak karuan. Dia mirip korban amukan demo dibanding orang yang berhasil membunuh beberapa orang. Ahelah, membunuh. Perutnya kembali mulas begitu mengingat hal ini. Mungkin Wiro Sableng memang ikhlas merasukinya sehingga serangan kapaknya nyaris berhasil semua. Nyaris ya, nyaris. Nggak ngerti juga Wiro Sableng teh saha. “Oh. Kalian lagi main petak umpet, ya? Floryn lagi sembunyi? Gitu, kan?,” cerocos adik dari Hana Atala dengan senyum jenaka di wajahnya. Dia sama sekali tak mau menerima bahwa ucapan dari kedua rekannya adalah berita serta pernyataan pasti. Mereka berjanji akan berjuang bersama seperti kakak dan adik—saling bergantung dan melindungi satu sama lain. Nggak mungkin dong ya Floryn tega meninggalkan abangnya sendirian? Jelas nggak mungkin. Seingatnya sih Floryn sama sekali nggak suka bohong. Dia anak baik dan manis. Rasanya sulit membayangkan si kecil itu jadi orang yang suka berbohong seperti Ferina atau Ethan. MUAHAHAHAHA. Ia berusaha denial. |
|
![]() |
|
|
| Ferina Secret | Wednesday Jun 5 2013, 09:48 AM Post #9 | |
![]()
|
Kalau begitu, di antara deskripsi ini, Ethan, gadis Secret ini harus berkata apa? Berkata kalau, 'Tidak, Floryn ada di depan, tadi dia sudah duluan,' atau 'Ooh, dia bergabung dengan kawanan yang lain, kan sekarang kita berpisah,' atau 'Nanti dia menyusul, kok, tenang saja,' begitu? Gadis itu tahu bahwa Hada jelas tidak bodoh, Hada jelas akan mencium segalanya cepat atau lambat, dan mereka tidak mempunyai kuasa apapun untuk mencegahnya. Berkata suatu kebohongan akan menimbulkan dosa yang lainnya, dan walaupun mereka adalah karier yang pada status dan keadaan ini sudah bergelimang darah buruan, tapi tetap saja... A white lie, they said. Tapi Ferina Dorian pun tahu sendiri kalau entitas bernama Hada Atala pun menaruh perhatian lebih—seperti perhatian kakak kepada adiknya—pada Floryn. Semua orang tahu walaupun mereka berdua tidak pernah berkata apapun, semua orang tahu walaupun tak mengatakan. Semua orang tahu karena mereka melihat. Afeksi, kasih sayang, sesungguhnya tak dapat disembunyikan sekuat apapun mereka mencoba. Lama kelamaan, mereka pun akan melihatnya cepat atau lambat. Takdir, atau memang kebetulan? Gadis Secret ini tak pernah percaya soal takdir, sesungguhnya. Bahwa takdir hanyalah suatu kebohongan semata, karangan orang-orang untuk menyerah pada kenyataan hidup. Berpura-pura kalau semua yang berada di dunia ini sudah ada yang mengatur—tsche. Kalau memang seperti itu adanya, kenapa mereka harus berada di tempat seperti ini, bertarung seperti ini? Atau kalaupun kebetulan, kenapa terasa sebegitu menyesakkan? "Kami tidak bercanda!" diucapkan dengan seruan tinggi, berusaha menyadarkan lelaki Atala dari kenyataan. Gadis itu tahu, gadis itu mengerti kalau memang Hada memerlukan waktu untuk berduka (bahkan ia pun begitu, lihat saja dari air matanya yang tak berhenti menetes), tapi sesungguhnya waktu itu sudah dihabiskan si lelaki untuk pingsan. Mereka sudah seharusnya berlari, berlindung dari serangan lawan. Daerah mereka sekarang gunung dan saljunya—terlalu dingin dan terlalu asing. Berbeda dengan distrik mereka yang merupakan distrik laut, bukan begitu? Semakin lama mereka mendaki, semakin tinggi mereka, rasanya napas mereka terasa semakin menyesakkan. Belum lagi pohon-pohon serta perdu yang terasa begitu asing, begitu... abnormal rasanya membayangkan mereka berada di tempat ini. Apakah semua peserta merasa seperti ini? Seperti mereka sekarang, merasa terlalu out of place? Ataukah hanya pemikirannya saja... Pelatihan yang termasuk singkat di Capitol saja tak membuatnya siap, sesungguhnya. Juga, pelatihan panjang di distrik. Tak pernah terasa siap. Arena sesungguhnya, jauh lebih terbayangkan dari yang mereka duga. "MANA BISA MAIN PETAK UMPET DI TEMPAT SEPERTI INI?" Keputusasaan yang menyeruak, kali ini. Seandainya saja ia bisa berpikir seperti lelaki Atala, berpikir bahwa semua ini hanya pura-pura belaka. Seakan-akan mereka hanya bermain petak umpet, bertarung dengan trisula kayu, lalu akan pulang setelah semua ini selesai. Seandainya saja, seandainya saja. Seandainya saja Capitol tidak seperti bilah pedang ekstrimis, dengan kesenangan di sisi satunya dan kekejaman di sisi yang lain. Gadis ini menyukai Capitol, dengan segala kegemerlapannya, riasan rambut dan wajah yang berwarna-warni, pakaiannya, pestanya. Tetapi kalau ia juga harus mengikuti acara seperti ini, kalau adiknya pun harus turut serta seperti ini... Gadis ini tak akan ikhlas, walaupun di neraka sekalipun. I need you to come here and find me, ‘cause without you I'm totally lost. Tapi apa lagi yang bisa ia cari di tempat ini? Kekayaan? Popularitas? Ketenangan hidup? Pada akhirnya, menjadi pemenang hanya memberikan jaminan kepada dirimu sendiri, tak menjamin adikmu, saudara-saudaramu. Lihat Halle Evertsen, yang harus maju menjalani nasib seperti ini kalau ia tak turun tangan untuk mengajukan diri. Bagaimana nasibnya kalau ternyata ia yang berada di arena? Apakah ia bisa bertahan seperti dirinya, Ethan dan Hada? Atau justru berakhir sama seperti Floryn, mengingat mereka berdua seakan dekat? Gadis itu tak bisa membayangkan. Kredit: Pooh, Disneywords. |
|
![]() |
|
|
| Ethan Nestor | Wednesday Jun 5 2013, 02:03 PM Post #10 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 86 – 4 – 5 = 75|| AP: - + AP dari senjata: - || KS: - || TARGET: - || DICE KEJUTAN: 13 + [result]11&11,1d12,0,11&1d12[/result] || JARAK SERANG: 37 + [result]6&6,1d12,0,6&1d12[/result] Offroll Pedang bermata satu, tombak, dan trisula Sudah ia duga hal seperti ini akan terjadi. Sebuah penerimaan. Hada belum bisa mengerti hal itu. Mungkin karena terakhir kali ia melihat Floryn masih bernyawa, kemudian terbangun dengan kenyataan gadis kecil itu sudah tidak ada di dunia lagi. Mayoritas orang sulit untuk menerima kehilangan. Dan ketika hal itu terjadi, biasanya mereka melakukan penolakan diri sendiri. Bertingkah seolah mereka yang memberitahu kematian hanyalah sebuah candaan. Seperti yang dilakukan Hada. Pemuda itu mengira Ethan dan Ferina hanya bercanda. Memang wajahnya terlihat bercanda, heh? Ferina mulai berbicara dengan nada tinggi, berusaha menyadarkan bahwa ini bukan sebuah candaan. Ethan melenguh pelan. Semoga saja arena ini tidak bergema dan salju dapat meredam suara keduanya. Mereka tak bisa bertengkar seperti ini atau akan terjadi pembunuhan di sini. Yang satu tak bisa menerima kenyataan, sementara yang satunya lagi bersikeras membeberkan fakta. Kalau tidak ada yang bisa menjelaskan dengan baik-baik, bukan tak mungkin lagi Hada akan menghunus Ferina. Hal itu tidak boleh terjadi. Tidak sampai hanya tersisa mereka bertiga saja. “Ssh!” Ethan memegang pundak Ferina pelan untuk meredakan emosi gadis itu. Ia juga tahu, Ferina pasti juga masih bersedih atas kehilangan Floryn sehingga hanya emosi yang menguasai dirinya. “Pelankan suaramu, peserta lain bisa mendengar,” ujar Ethan berusaha menenangkan gadis itu. Tatapannya menuntut untuk sabar menghadapi Hada. Jika batu bertemu batu, tidak ada penyelesaiannya. “Kau, dengarkan.” Kini ia beralih pada Hada. Ethan harap dengan cara seperti ini dapat membuat pemuda itu mengerti. Ia tak akan berbohong, lagipula percuma karena akan terbongkar nantinya. Dan biasanya hal itu lebih menyakitkan. Jadi lebih baik beritahu sekarang, rasakan bagaimana sakitnya, kemudian cari cara untuk menyembuhkan. Penerimaan, bukan sesuatu yang mudah untuk diterima. “Floryn sudah meninggal, mengerti? Dia berkorban untuk kita—“ sampai pada kalimat itu, Ethan menelan ludahnya. Gadis sekecil itu harus berkorban untuk membiarkan ketiga manusia yang lebih dewasa ini untuk meneruskan perjuangan. Walaupun pada akhirnya harus ada yang menyusul. “—tidak ada yang bercanda di sini. Ini Arena dan tidak ada waktu untuk bercanda. Mengertilah, Floryn berkorban untukmu.” Selama berbicara, Ethan terus menatap Hada agar pemuda itu dapat paham dan tidak lagi sok denial. Meski tak tahu apakah cara seperti ini berhasil, tetapi paling tidak musuh tak akan terpancing untuk kemari. “Harusnya kita lebih khawatir pada—ahk!!” lengannya terkena duri dari semak ketika Ethan berjalan berkeliling untuk memperhatikan keadaan sekitar. Secara reflek Ethan mengibaskan tangannya. Tak lama kemudian dirasanya luka itu berdenyut, sakit. Dan—sialan. Luka tadi mulai membengkak sehingga memperlihatkan tangannya yang menjadi lebih besar sebelah. Ethan mengernyit menahan sakit yang makin tidak karuan. Matanya meneliti semak berduri tersebut. Memperhatikan seperti apa duri yang berhasil membuat tangannya membengkak. Kini makin membesar dan mulai mengeluarkan cairan kental berwarna putih. Ethan segera kembali ke tempat Ferina dan Hada sembari memegangi lengan kirinya yang terluka. “Kalian harus hati-hati. Ada semak beracun di sekitar sini, dan mungkin sepanjang arena ini,” ujar Ethan seraya mengambil segenggam salju kemudian ia tempelkan pada luka. Sensasi tak menyenangkan langsung terasa. Bahkan pemuda itu harus duduk sembari menekan salju dingin itu pada luka. Keningnya berkerut menahan sakit. Berulang kali Ethan menaruh salju pada luka, mencoba membekukan nanah yang keluar namun sepertinya tak berhasil. Lengannya masih membengkak dan Ethan tak tahu apa yang bisa menyembuhkan luka itu. “Ada yang tahu cara menyembuhkannya? Ouch!” Berikan tepuk tangan pada Capitol yang selalu memberikan kejutan tak terduga. Ethan tahu, ini baru permulaan. Semakin lama ia berada di sini, pasti akan semakin menyeramkan kejutan yang diberikan. Dan ia juga tahu, hal itu dapat memperpendek umurnya sehingga dapat menyusul Floryn kapanpun. Cih. Edited by Jonathan Duprau, Thursday Jun 6 2013, 11:57 AM.
|
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |












9:32 PM Jul 11