Welcome Guest [Log In] [Register]

MAY THE ODDS BE EVER IN YOUR FAVOR



[ INACTIVE ]
TERM 9: 2193 - 2194




[+] Topik AU: 4/5
[+] Visualisasi Asia: 3/3
[+] Capitol: 5/5
[+] Distrik Satu: 4/5
[+] Distrik Dua: 4/5
[+] Distrik Empat: 5/5
[+] Distrik Tiga Belas: 2/5
[+] Balita/Dewasa: 5/5



IndoCapitol


TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL
PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH
PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI
TRAINING CENTER || ARENA




Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain.

PEMENANG
HUNGER GAMES 54



{DISTRIK 1}



KREIOS EPHRAIM


MUSIM PANAS



21,3° - 23,6° C
21 Juni - 20 September
Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan.



WAKTU INDONESIA BAGIAN BARAT (JAKARTA)




Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

TWITTER & CHATBOX


Twitter
Chatbox



FORUM LOG
Waktu Update
Sabtu, 11 April 2015 Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out!

PEMBERITAHUAN
Kepada Informasi
Semua Member Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum
Semua Member Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2)
Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda.

Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru.

Bergabunglah bersama kami!

Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum:


Username:   Password:
Locked Topic
Arena Tiga - Gunung Berapi
Topic Started: Tuesday Jun 4 2013, 07:51 PM (2,438 Views)
Lisette Bass

Second Day.


Jika tadi kalian disuguhkan pemandangan spring—musim semi, maka kali ini bolehlah dara Bass ini mempersilahkan yang lain untuk mengunjungi musim dingin mereka—their winter, right?

Dara Bass itu masih berada di balik panel yang sama untuk beberapa minggu ke depan, memastikan dia melaksanakan tugasnya sebagai Game Maker dengan baik. Bersama partnernya, (Oh, great, she got partner—boo) Redemptus (but she prefers to call him Red—as the colors she likes) dan dua asisten Pembina Permainan, (mantan) Pembina Permainan tahun lalu, Aron Aaroo—The Aron ones, and Karenina Hale—The Nina ones. Penampilannya telah serba merah, mengikuti tren yang dibuat sepupunya, pun untuk menghormati darah yang akan keluar banyak pada Hunger Games tahun ini. Dua kali lipat peserta, yang artinya dua kali lipat Game Maker juga—pft. Lucu, lucu sekali.

Sudah hari kedua dan kali ini obsidian kelam yang bersinar jernih itu melihat ke arena dengan sudut lain, gunung yang berselimutkan salju yang putih bersih tanpa menyisakan sedikitpun titik tanah berwarna kecokelatan di bawahnya. Tempat ini menawarkan banyak tempat persembunyian, namun tempat penuh jebakan arena lainnya. Gunung itu tinggi dan terletak di arah timur arena berlatarkan selimut salju putih yang menggambarkan musim dingin yang dingin dan sepi. Sedikit bunyi samar dari angin yang bertiup halus dan beberapa jejak hewan-hewan hutan kecil yang bertahan hidup di musim dingin. Gunung itu dipenuhi dengan pepohonan yang tandus tanpa banyak dedaunan berwarna hijau—namun pepohonan itu rapat-rapat, memenuhi hamparan putihnya salju di permukaan gunung tersebut. Hanya ada putihnya salju, birunya langit, dan cokelatnya pepohonan kering. Tidak ada hewan buas, tidak ada bahaya apapun yang akan muncul begitu saja. Hutan itu dingin, kuat, tenang dan tampak berbahaya.

Yes, darl. It's dangerous.

Tentu saja berbahaya, Liz sudah memastikan lahar di dalam gunung bersalju tersebut akan aktif sewaktu-waktu. Jika dilihatnya nanti pertarungan akan berjalan membosankan, dia akan menekan tombol berwarna senada dengan nail artnya—warna merah. Tapi masih tidak ada niatan untuk melakukan hal itu, Arena baru berjalan dua hari. Hari pertama dia sudah dengan baik hati memberikan hujan untuk mereka. Dan bagi mereka-mereka yang mengerti bahwa semua yang ada di Arenanya kali ini adalah racun, tentu mereka akan mengerti untuk memanfaatkan pemberiannya yang sedang berbaik hati itu. Tapi kali ini Liz sedang ingin memperhatikan situasi kedua puluh tiga peserta yang tersisa. Apakah mereka akan menunjukkan sesuatu yang hal menarik untuknya atau tidak.


But you all better be, darl.


Make our Lisette Andromeda Bass satisfied, would ya?


  • Perhatikan deskripsi saya baik-baik.
  • Post pertama tidak diperbolehkan menyerang.
  • Tetap perhatikan Panduan Hunger Games #50.
Offline Profile Goto Top
 
Replies:
Ferina Secret
Member Avatar

DISTRIK 4 || HP: 110 - 4 = 106
TARGET: - || AP: - + AP dari senjata: - || KS: -
JARAK SERANG: 43 + [result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result] || KEJUTAN: 18 + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result]
trisula — pedang mata ganda — tombak — belati
offroll (2/2)
aku sayang ddr. pake banget. nih, cium tjintah. :*

Salahkah kalau gadis ini berlaku demikian?

Salahkan umurnya yang masih belia, salahkan perasaaan nyaris gila ditambah berkabung kehilangan yang membuat pikirannya campur aduk, tak bening sewarna air laut distrik empat. Hormon, bahwa ia masih anak berumur enam belas tahun yang meskipun bisa dibilang sudah mengecap asam-garam kehidupan, tapi pada dasarnya ia memang hanya anak-anak, jauh dari dalam hatinya. Anak kecil yang terperangkap di tubuh yang sudah terlanjur dewasa. A child by heart, and nothing more.

Gadis itu pernah merasa kehilangan—tapi tak pernah separah ini.

Kehilangan—kehilangan sosok bapak yang diidamkan. Bahwa dulu ia berharap, dulu, kalau Daniel Secret tak jahat dari sananya, bahwa ayahnya itu pernah baik kepada ibunya, kepada dirinya sewaktu ia lahir. Pernah merasa bahagia—setidaknya. Ataupun kalau semua itu benar, ia setidaknya berharap bahwa ayahnya adalah seorang bajak laut yang jarang sekali pulang, tetapi menyayangi istri dan anaknya. Tetap setia di laut lepas, membawa foto kecil istri dan anak setiap hari. Dan walaupun mendapatkan akhir yang menyedihkan, tetap saja dia, gadis Secret mempunyai ayah kandung yang menyayanginya.

Tapi idaman itu hanya idaman semata, kan? Hanya sebuah impian yang akan menghempaskanmu ke batu karang sekuat ombak pasang. Pada akhirnya, ia dihadapkan dengan sebuah kenyataan bahwa gadis itu memang mempunyai ayah dengan perilaku rendah, seorang ringan tangan yang tak pernah punya hati. Di mana hari kematiannya justru menjadi penenang, titik balik dari kehidupan keluarganya yang hancur walaupun mereka berusaha memasang topeng kuat setiap hari.

Dan sekarang, ini. Ia sadar betul, bahwa gadis Lee itu adalah perekat di antara mereka. Bagai lem, karena kalau tanpa Flo, bagaimana mereka berdua bisa bertahan selama di Capitol? Bagaimana entitas lainnya dapat duduk bersama di lantai empat, menonton siaran ulang Hunger Games, mengomentari beberapa kejadian yang terjadi, juga membicarakan—apapun yang mereka bicarakan selama di gedung tempat tinggal para peserta? Pun selama ini, gadis itu menutup diri, tanpa berinteraksi dengan para peserta distrik lain. Menutup diri dari berbagai kemungkinan, bahwa ia tidak ingin membunuh siapapun yang ia tahu karena jelas rasanya akan sakit sekali. Mempersempit pergaulannya ke distrik empat semata—dan para karier.

Bahkan kepada kawanan karier saja—ia tak mau membunuh mereka, terlepas mereka sudah membunuh berapa dan impresi pertama gadis Secret kepada mereka. Zephaniah Lore, termuda di antara mereka selain Floryn, yang kakaknya pun pernah masuk ke arena. Urie Tommy dengan innocent face-nya. Colleen dan Flavea. Jester Holt dengan tingkahnya yang jauh dari pikirannya, ego yang dijunjung tinggi dan arogansi berlebih, setidaknya menurutnya. Exodus Kruchev, adik dari pemenang tahun lalu. Pietronella yang kemarin membantu membunuh gadis distrik rendah—n'ah, sekaran pun dia sudah lupa siapa saja yang ia bunuh—serta Madeleine. Karena sesungguhnya adalah mengerikan rasanya kalau kau membunuh orang-orang yang kau kenal, sebagaimanapun tidak sukanya kau terhadap mereka.

Bukankah begitu?

Gadis Secret ini masih punya hati, ia bisa meyakinkanmu itu.

Gadis itu memalingkan wajah sementara Ethan memberikan pengertian kepada Hada, tak sanggup untuk melihat, tak sanggup untuk mendengar. Sekuat apapun gadis itu berusaha memasang tembok penghalang, maka sekuat itulah daya untuk mendobrak dindingnya, menerobos perlindungan. Pandangannya justru semakin kosong, dan secara tak sadar, ia menyentuh suatu rimbun duri yang berada di dekatnya, membuatnya kembali dari kenyataan.

Mirip dengan yang arena tahun lalu, bukan begitu?

"Here, I think I know the antidote." Gadis itu mengobrak-abrik tasnya, mencari sebentuk wadah yang menampung sesuatu—entah apa isinya. Dan ditemukannya wadah itu, dan dibukanya, secara langsung tercium bau mint yang tak asing. Walaupun di distrik ia tak pernah menemukan obat seperti ini dijual murah, tetapi setidaknya, ia tahu bagaimana cara pengobatannya, bukan begitu? Walaupun ia bukan Healer, walaupun ia hanya longliner biasa yang bertugas di tengah laut.

Ditaruhnya sedikit bubuk daun mint itu pada tutup wadah, diberikan beberapa percik air hujan yang mereka tampung kemarin, lalu diaduknya menggunakan jarinya yang sehat. Hanya sedikit, karena siapa yang tahu akan masa depan? Siapa tahu mereka menemukan perdu seperti itu lagi, dan mereka hanya bisa mengantisipasi tanpa tahu pasti.

Dioleskannya formula itu pada tangannya yang terkena duri, dan secara instan, nyeri di tangannya pun membaik. Juga ditariknya tangan si lelaki Nestor, serta dibalurkannya formula itu pada permukaan tangan Ethan secara paksa, tanpa izin. "Jangan lupa dikeluarkan nanahnya."

Semua ini berkat Maggie yang memaksanya menonton Hunger Games walaupun seluruh kegiatan membunuh itu menakuti adik kecilnya.


Dan mengingat Maggie, mau tak mau mengeluarkan air mata baru.


Semua deskrip berizin. Izin godmod tangannya Ethan, tapi.
Offline Profile Goto Top
 
Exodus Kruchev
Member Avatar

DISTRIK 2
HP: 146 || AP: - || KS: -
TARGET: - || DICE KEJUTAN: 7 + [result]9&9,1d12,0,9&1d12[/result] || JARAK SERANG: 22 + [result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result]
1 tombak, 1 pedang bermata tunggal, 1 panahan, 1 pisau



Semua di sini terasa sepi. Yang didengar oleh pemuda ini hanya deru angin yang sewaktu-waktu kencang dan berlalu tidak lama kemudian. Tidak ada hiruk pikuk yang dirasakan. Hanya dingin dan putih yang tertangkap sejauh tubuhnya bergerak. Dia mendengarkan balasan dari Maddy atas pertanyaan yang baru saja terlontar dan muncul pertanyaan berikut.

“Entahlah,” jawabnya. “Tidak mungkin kalau Holt dan Hart mojok berdua di suatu tempat.” Jelas terdengar tidak mungkin. Terdengar konyol untuk kawanan Karier, tapi bisa saja terjadi demikian. Siapa yang bisa menduga kalau hal itu menjadi kenyataan? “Kurasa mereka tidak jauh dari kita.” Hanya sekadar menenangkan gadis itu, padahal dia tidak juga menjamin rekan sedistrik yang lain benar-benar berada tidak jauh darinya. Kumpulan Dua yang tadinya berjumlah empat orang telah terpisah sejak Bloodbaths usai dan yang dia ketahui hanya Maddy berada bersama dirinya. Dua yang lain entah bergerak ke arah mana. Juga sama berdua seperti yang dia alami atau malah berjalan sendiri-sendiri.

Dinginnya udara yang dirasakan Exodus seakan membuat saraf-saraf pendeteksi rangsangan di kesepuluh jarinya mati rasa. Jari-jari tangan pemuda itu seperti membeku dan agak susah merasakan benda apa saja yang dipegang dan diraba. Dia butuh kehangatan, tapi hal itu agak mustahil didapat mengingat mereka berada di wilayah bersalju dan dingin layaknya es. Kemudian dia teringat akan sejumlah korek api yang disebarkan Capitol saat acara penjarahan barang bagi Karier dimulai, berlanjut ke ingatannya akan barang-barang apa saja yang dibawanya dalam ransel. Sepertinya dia memang tidak membawa satu pun korek api demi menghangatkan diri. Tidak terbersit dalam pikirannya akan arena yang bisa bersuhu sedingin ini. Harusnya sebagai langkah antisipasi lebih jauh, dia membawa satu atau dua kotak untuk berjaga-jaga. Ya, harusnya, kalau dia memang bisa membuat musuh tidak mendatangi mereka. Asap yang ditimbulkan oleh bara api bisa sewaktu-waktu mengundang tamu yang tak diundang dalam lingkar pertahanan mereka. Bahaya jika demikian. Apalagi ada Maddy di sini yang secara tidak langsung menjadi tanggungan baginya.

Sejak kapan dia merasakan gadis itu sebagai tanggungan di Arena? Mereka di sini kapan saja bisa berubah menjadi musuh. Kawan menjadi lawan. Seperti yang terjadi sejak permainan dulu.

Lantas, dia merasa ada suatu benda yang melingkar di lengan yang membuatnya terasa lebih berat. Dilihatnya gadis itu tengah melingkarkan tangan di lengannya dan berucap bahwa dengan cara itu tidak terasa dingin. Dasar gadis pemalu. Exodus mengembangkan senyumnya saat mendapati kelakuan Maddy yang terkesan polos, meski sebenarnya dia telah menghabisi cukup banyak nyawa saat Bloodbaths masih berlangsung. Kesan yang didapat Exodus pada Maddy masih polos bersih tak bernoda. Ah, di mana-mana gadis yang pemalu dan polos memang manis, apalagi yang malu-malu mau.

Tidak dapat dipungkiri, dia dapat merasakan sedikit kehangatan dari lingkar lengan Maddy. Pemuda itu sebenarnya juga merasakan hawa dingin yang merasuk, tapi sepertinya gadis Lethbridge lebih merasakan dingin. Exodus menarik pergi lengannya yang tengah dikalungi Maddy dengan kehangatan yang dipancarkan tubuhnya lalu lengan itu beralih ke bagian belakang tubuh sang dara dan mulai mendekap erat tubuhnya—seakan menarik gadis itu lebih dekat.

“Ini yang lebih tidak dingin.” Semacam dalih pembenaran atas kelakuannya (dan terserah para penonton mau menganggapnya apa). “Hati-hati melangkah. Jalannya licin,” ucapnya pelan sambil mengatur langkahnya agar tetap aman. Irisnya memperhatikan sekeliling lalu berpindah ke sosok di sampingnya setelah dirasa tidak ada musuh yang bisa menjangkaunya. Surai gelap dara Lethbridge sekilas terlihat kontras dengan salju yang memenuhi tempat itu.
Offline Profile Goto Top
 
Hada Atala
Member Avatar

DISTRIK 4 || HP: 170-4= 166 || AP: - + AP dari senjata: - || KS: -
TARGET: - || DICE KEJUTAN: 12 + [result]11&11,1d12,0,11&1d12[/result] || JARAK SERANG: 53 + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result]
1 kapak, 1 tombak, 1 trisula, 1 tempat minum air ukuran 2 liter



Muka Ethan sama Ferina nggak ngenakin, serius.

Dua-duanya memasang tampang muram dan itu cuma ngebuat Hada semakin ngerasa suram. Padahal dia di sini sedang mencoba denial lho, menganggap apa yang tadi dikatakan sama cewek rekan satu distriknya itu sebagai candaan. Candaan yang sebenernya sama sekali nggak lucu dan salah waktu, yang juga ditanggapi dengan pertanyaan tololnya. Tapi, meskipun bocah Atala ini berharap kalau ini hanya candaan, faktanya menyebut hal yang berlawanan. Buktinya, Ethan dan Ferina nggak ketawa.

Dan hardikan Ferina terasa seperti kapak yang dihujamkan tepat di dadanya.
.
.
.
Fer, selera humormu jelek banget deh...

"Haha...ha..." tawa yang keluar dari mulut Hada terdengar datar. Mendadak wajahnya jadi pucat pasi, dengan ekspresi shock yang terlihat jelas. Jantungnya berdegup kencang sekarang, terlalu kencang sampai denyutan yang keras itu rasanya bisa saja membuat organ pemompa darah miliknya tiba-tiba meledak. Baru semenit yang lalu Hada mencoba memijakkan kedua kakinya di atas tanah yang diselimuti salju seputih awan, tapi mendadak dia merasa kehilangan segenap kekuatan untuk berdiri tegak. Limbung, Hada mencari sesuatu yang bisa menopang badannya.

Floryn sudah tenang dan bahagia bersama kakaknya?

Hahahaha mana mungkin. Alethea Lee kan sudah tiada. Sedangkan Floryn....tadi masih ada dalam dekapannya kan? Iya kan? Setelah berjuang melawan para peserta non karier dan bahkan membunuh tiga orang di antaranya, Hada berhasil sampai ke puncak terompet di Cornucopia. Dipanjatnya puncak itu supaya dia bisa melihat dengan jelas dimana posisi Floryn berada, dan dia menemukannya. Iya, Hada berhasil menemukan Floryn dan menyuruh si mungil itu menyusul ke tempatnya. Dengan bawaan segunung, gadis Lee cilik itu menghampirinya dan Hada sendiri yang menarik tubuh ringan itu sampai ke atas puncak terompet. Mengerahkan tenaganya yang tersisa hanya supaya dia bisa memeluk Floryn dan menenangkan gadis malang yang sedang ketakutan itu.

Itu semua bukan khayalannya, kan? Bukan mimpi, kan?

Tolong katakan pada Hada, Floryn Lee masih hidup.

Gadis kecil itu sebentar lagj akan muncul dari belakangnya dan memanggil namanya dengan lantang, menyambutnya dengan senyuman riang yang hangatnya melebihi sinar matahari sekalipun. Lalu gadis cilik itu akan menarik-narik tangannya dan mengajaknya bermain dengan salju. Mungkin membuat bola-bola salju untuk dilempar ke muka Ethan dan Ferina supaya mereka lebih sering ketawa atau membuat boneka salju yang mirip dengan Reef (plus dengan poni alaynya). Mereka akan tertawa dan bergura bersama sampai-sampai mereka lupa kalau mereka masih berada di Arena Hunger Games.

Hei, Floryn, kamu masih hidup, kan?

Iya, Hada menolak untuk percaya pada kenyataan yang begitu kejam ini. Dia berusaha menyangkal dan berandai-andai. Memikirkan hal-hal positif yang terjadi pada Floryn dan bukan sebaliknya. Tapi, sekeras apapun dia mencoba, dia tau. Jauh dalam lubuk hatinya yang terdalam, perasaannya tidak mudah dia bohongi.

"Nggak mungkin...." bergumam pelan pada dirinya sendiri. Matanya terasa panas, ada air yang siap menetes dari kelenjarnya dalam hitungan detik. "Ini nggak mungkin terjadi..." dan satu tetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Satu tetes lagi menyusul kemudian. "Floryn...Floryn..." tubuhnya jatuh dalam posisi berlutut. Kedua tangannya mengepal di atas salju yang dingin membeku.

"FLORYN!"

Dan teriakan terakhirnya itu terdengar bagaikan lolongan pilu yang memecah keheningan.
Offline Profile Goto Top
 
Ethan Nestor
Member Avatar

DISTRIK 4 || HP: 75 + 5 || AP: - + AP dari senjata: - || KS: -
TARGET: - || DICE KEJUTAN: 24 + [result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result] || JARAK SERANG: 55 + [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result]
Pedang bermata satu, tombak, dan trisula



Ethan masih sibuk memencet nanahnya agar keluar dan berhenti mengalir. Tetapi gagal. Sudah berapa kali tunpukan salju ia tuang untuk menghentikan aliran cairan putih itu juga tak berhasil. Bahkan tangannya sampai kebas dan mati rasa. Namun denyut kesakitan itu membuat Ethan tahu bahwa tangannya belum sembuh. Sedang dirinya tak terlalu tahu pengetahuan tentang obat-obatan. Apalagi tentang tumbuh-tumbuhan. Bisa dikatakan ia buta walaupun masih tahu beberapa tumbuhan yang beracun maupun tidak. Itu berkat ajaran ayahnya. Bersyukur ibu tidak pernah tahu bahwa kedua orang terkasihnya diam-diam mempersiapkan kematian.

Ethan tahu, ayahnya pun juga tak tega memberi pelatihan itu. Setiap pulang bekerja atau sekolah, di sela waktu luang, ayah selalu mengajarinya menggunakan senjata. Meski hanya menggunakan kayu sebagai peragaan, Ethan tahu bahwa dirinya cukup bakat menggunakan senjata jarak dekat. Pisau dan belati pernah ia gunakan untuk berlatih ketepatan sasaran. Ayah membuat target semacam papan dart dan ia menggunakan pisau dapur untuk berlatih. Tentu saja tanpa sepengetahuan ibu. Kalau sampai ketahuan, ibu akan berteriak histeris, kalap beberapa saat dengan ceramah panjang mengenai arena dan harapan agar tidak terkena pemungutan.

Di hadapan ibunya, ia memang mengangguk patuh. Tentu setelah itu melirik ayah, mengamini untuk berlatih esok hari. Mencari tempat yang lebih tersembunyi, menggunakan berbagai macam alasan mengapa pulang terlambat. Sekarang pelatihan secara otodidak itu berguna juga. Walau sepertinya mengenaskan karena pada akhirnya Ethan mengikuti acara pembunuhan massal, dengan kemungkinan besar ia juga ikut terbunuh.

Bagaimana kabar di rumah? Apakah ibunya lebih kalap dan tidak terima bahwa anaknya bisa mati kapanpun? Apakah ayah tetap mengawasinya dari televisi, untuk memastikan putera satu-satunya akan keluar sebagai pemenang? Mungkin mereka sedang mengirimkan doa untuk dirinya, sekaligus kutukan untuk peserta lain. Haha.

Matanya melirik Ferina ketika gadis itu berkutat dengan sesuatu yang dikeluarkan dari tas. Syukurlah, ada yang bisa mengobatinya. Jangan sampai tangannya tidak berfungsi saat penyerangan berlangsung atau ia akan tewas lebih cepat. Ethan mengamati bagaimana gadis itu mencampur sesuatu (yang berbau mint, kalau penciumannya benar) dengan air. Kemudian dioleskan pada tangan gadis itu yang juga terkena semak duri. Ferina menarik paksa tangan Ethan dan melakukan hal yang sama. Tenang, nanahnya sudah dikeluarkan. Seiring dengan obat yang dioles oleh Ferina, denyut kesakitan itu makin berkurang. Tangannya tak lagi begitu sakit, pun terlihat hampir normal dengan tangan satunya. Tak ada cairan putih kental yang keluar. Ethan menatap takjub, sekaligus mengutuki diri sendiri akan kurangnya pengetahuan mengenai obat-obatan. Apa yang terjadi kalau tadi terus dibiarkan? Bisa-bisa badannya miring karena berat sebelah di bagian tangan.

Tetapi ada yang salah. Ethan melihat Ferina mengeluarkan air mata. Matanya menyipit, tak mengerti mengapa gadis itu menangis. Ia mendekatkan wajahnya, memastikan bahwa Ferina benar-benar menangis. Ah, pasti karena sesuatu. Reflek, Ethan mengusap air mata Ferina dengan jarinya yang bersih bersamaan dengan hujan turun.

"Jangan menangis," bisiknya pelan masih mengusap pipi dara Secret itu. "Kau tak ingin membuat adikmu di rumah makin sedih, 'kan? Ayo, kau harus kuat," tersenyum tipis, berharap Ferina tak akan meneruskan tangisannya. "Terima kasih untuk obatnya, omong-omong." Dan Ethan Nestor mengeluarkan wadah air minumnya dari tas, berusaha menampung air dari langit. Lumayan, untuk persediaan.

Namun demi mendengar teriakan Hada, Ethan kembali melenguh pelan. Ethan tahu, semuanya tak bisa diterima dengan mudah, termasuk kematian Floryn. Tetapi seharusnya pemuda Atala itu mengerti bahwa fisik Floryn pun tidak terlalu mendukung untuk permainan ini. Meskipun, yeah, gadis kecil itu berhasil membunuh sehingga membawa senjata yang cukup banyak (yang kemudian dibebankan pada Hada) namun untuk melewati bloodbaths tidak mudah. Tak heran, jika gadis kecil itu harus pergi terlebih dahulu. Beruntung hujan dapat menyamarkan suara Hada, tetapi Ethan tak tahu berapa lama hujan ini akan berlangsung.

"Ini kenyataan!" desis Ethan penuh tekanan pada Hada. "Kau harus bisa belajar menerima dan bertahan hidup demi Floryn. Kau harus dan pasti kuat!"

Mungkin di antara mereka bertiga, hanya Ethan yang tak mempunyai beban pada siapa-siapa. Ia tak punya adik yang harus dijanjikan untuk pulang. Hanya sahabat dan orang tua yang mengerti akan pilihannya. Di antara mereka bertiga, mungkin hanya Ethan yang paling kuat, karena tak ada beban meninggalkan dan ditinggalkan.
Offline Profile Goto Top
 
Redemptus Maleveich
Member Avatar

Redemptus mengawasi kinerja kelima Karier sambil ditemani secangkir kopi yang masih mengepulkan panas. Pada Arena ini, fokusnya hanya terbelah pada dua kelompok. Kelompok pertama berisi tiga orang peserta Distrik Empat, sementara kelompok kedua berisi dua orang peserta Distrik Dua. Lima orang Karier tanpa ada satupun peserta dari distrik kelas bawah, kejadian apa yang bisa diharapkan selain kematian peserta akibat kondisi geografis Arena? Tapi sejauh ini, mereka masih terlihat cukup tangguh melawan dinginnya cuaca yang diturunkan.

Perhatiannya teralih ketika melihat salah seorang pemuda dari kawanan Distrik Empat berlutut ke atas tumpukan salju dan meneriakkan nama seorang gadis yang Redemptus ketahui berasal dari kelompok mereka. Dia baru mengetahui distrik hasil laut itu bisa bertindak semelankolis tadi. Belum lagi kedua rekannya yang berusaha menenangkan dan si gadis menyembuhkan luka pemuda kedua akibat duri semak belukar. Lain halnya dengan sepasang dari Distrik Dua. Dia memiringkan kepalanya dengan dahi berkerut saat kedua irisnya menangkap adegan yang belum pernah dia lihat selama Arena bertahun-tahun. Karier menurutnya identik dengan barbar dan tidak memiliki rasa manusiawi, tapi dia tidak melihatnya pada kedua kawanan. Skip adegan barusan. Pemuda Maleveich enggan menyaksikan lebih lanjut kelakuan kelima orang Karier di sana.

Dia memainkan panel, mengawasi Arena yang lain, kemudian kembali lagi pada Arena Gunung Berapi. Pemuda Maleveich tidak suka drama. Rasanya sudah tidak sabar lagi memberikan apa yang bisa mereka peroleh secara gratis dari Capitol, maka dia menekan salah satu tombol untuk mengirimkan hadiah cuma-cuma.

Cuaca di daerah Gunung Berapi yang cenderung suram, dingin, dan gelap semakin dirasa menambah kemuraman daerah tersebut. Dia pun tahu lingkungan di sana adalah bekas gunung berapi yang masih aktif. Sebuah tombol telah dipersiapkan untuk memicu ledakan lahar dari dalam gunung berselimutkan salju putih. Tombol berwarna merah, sesuai dengan ciri khas Arena tersebut. Merah, api, dan panas, tapi belum saatnya dia menekan tombol itu dan memberikan hadiah tumpahan lahar. Ada kejutan lain yang lebih pantas mereka peroleh terlebih dahulu sebelum mendapatkan simpanan jackpot.


OOC: Tunggu kejutan melakukan post, baru para peserta diperbolehkan melanjutkan balasan pada topik Arena.
Offline Profile Goto Top
 
Aron Aaroo
Member Avatar


[ KEJUTAN ARENA; ESOK HARI – 05.30 ]



Matahari sudah tak lagi menyembul malu-malu di bagian timur Arena.

Pembina permainan lainnya nampak masih terlalu sibuk ongkang kaki dan mengangkat hidung mereka tinggi-tinggi dan lupa bahwa Capitol mulai bosan dengan permainan saling kejar selama satu hari terakhir. Ia tahu bahwa mereka sibuk di saat pra Arena dengan segala proposal pengajuan dan segudang ide untuk Arena ini. Breath-taking. Aron Aaroo dikalahkan dalam hal ide oleh salah seorang Bass. Brengsek? Ralat. Itu sangat brengsek sekali, saudara-saudari. Keluarga Aaroo tidak pernah bisa sejalan dengan keluarga satu itu, ya ya.

Anggap saja seperti keluarga dari Romeo dan Juliet.

Itulah Aaroo dan Bass.

Maniknya memberat. Seharusnya ia bisa tidur. Pil yang diminumnya satu jam lalu tak membantunya sama sekali. Dengan tangan yang dilipat di depan dada, sudah tiga kali ia menguap diam-diam karena rasa kantuk yang menyerang. Beberapa orang di balik panel lainnya menyuruh pemuda Aaroo itu untuk tidur—setidaknya Karenina mungkin akan ada untuk menggantikan posisinya sementara waktu. Tetapi, ego ya ego. Aron bersikukuh dalam posisinya. Menggeleng dan kembali mengomando.

Aron Aaroo hanya sedang bosan. Sudah lewat dari nyaris dua belas jam dan mereka masih seperti itu. Alih-alih mengeluarkan sosok muttan pembunuh, pemuda itu beranjak menuju panel lainnya. Sudah tiga puluh menit berlangsung dari sedikit guncangan hebat pada ‘surga’ milik Capitol kali ini harusnya tak berefek banyak. Gempa bumi bukan hal baru di Arena, bukan?

Apa lagi kali ini?

Seringai di wajah Aron mewakili lelahnya.

Pun sudah dikumpulkan di satu titik, jika rupanya mereka masih saja menganggap arena yang dirancang oleh pembina permainan pada tahun ini sebagai wadah untuk adu lari seperti itu. Kejutan yang mungkin akan dikeluarkannya—dalam tahap ini Aron sudah siap melemparkan sumpah serapahnya karena korslet di kepingan memori genetika itu—sudah dipilah-pilih, menggunakan beberapa yang lama; yang dianggap sukses dalam memancing para peserta untuk saling mendekat. Mereka akan segera muncul.

Tak lama.




WAJIB DIBACA
Edited by Aron Aaroo, Thursday Jun 6 2013, 01:53 PM.
Offline Profile Goto Top
 
Ferina Secret
Member Avatar

DISTRIK 4 || HP: 98 - 5 = 93
TARGET: - || AP: - + AP dari senjata: - || KS: -
JARAK SERANG: 67 + [result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result] || KEJUTAN: 20 + [result]3&3,1d12,0,3&1d12[/result]
trisula — pedang mata ganda — tombak — belati
aku sayang ddr. pake banget. nih, cium tjintah. :*

"...."

Pipinya dielus, ditenangkan sementara tangisnya keluar tanpa mau dihentikan. Kata-kata penghiburan keluar, dan gadis ini tak bisa merasa bersyukur karenanya. Bersyukur bahwa ia tak bersama rekan yang mempunyai hati seperti batu, bersyukur bahwa gadis itu setidaknya masih mempunyai.. teman. Gadis ini tersenyum kecil, juga menggumamkan kata terima kasih pelan sementara menghapus air mata yang keluar.

Lelaki ini mengingatkannya pada Isaac, entah kenapa—tapi setidaknya, perasaan itu membuat hatinya tak begitu kelu.


Dan pada akhirnya, Hada mengerti segalanya, walaupun penerimaannya tidak baik.

Tapi gadis ini mengerti kalau semua itu tidak mudah. Jelas tidak akan mudah. Mau bagaimanapun, kehilangan orang yang kau sayangi sesungguhnya adalah sebuah derita, sebuah cabikan di hati yang tak akan sembuh kecuali oleh waktu. Adalah satu selain hal itu yang membuatnya merasa lebih baik, yaitu ikhlas.

Tapi dirinya sendiri tidak memiliki konsep tersebut.

Baginya, hidup hanyalah suatu siklus yang akan berulang terus menerus, tanpa ampun. Tanpa tombol pause untuk memberhentikan untuk sementara, tak ada tombol rewind untuk mengulang. Karena kalaupun ada, gadis itu akan berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan alat seperti remote control semesta itu, bukan? Untuk menghentikan waktu, berusaha agar dunianya tetap seimbang. Atau untuk menghentikan sementara waktu, demi mengubah saat pemungutan, merubah keadaan agar tangan duta Capitol tidak memilih Halle dan tiga rekannya, melainkan orang lain yang tidak ia ketahui siapa. Membuatnya hidup di distrik lebih lama, membuat mereka bertiga hidup lebih lama. Bahkan mungkin, gadis itu bisa bersama dengan Isaac, sekarang.

Tapi sekali lagi, arena mengubah segalanya, dan gadis ini tak bisa mengubah waktu, memutarnya agar berulang kembali..


Sementara lelaki Nestor itu berusaha menguatkan Hada yang meraung membelah langit, gadis ini tak berhenti bertanya-tanya, kenapa tidak gadis Secret ini saja yang pergi?

Sungguh, kenapa tidak ia saja? Kehidupan gadis Lee kecil itu sesungguhnya masih panjang, masih berliku. Masih seusia Maggie. Masih bisa melanjutkan hidupnya, sekolah, lulus, meniti karir, berdekatan dengan orang yang ia cintai, menikah, lalu mempunyai anak. Walaupun siklus yang dilalui begitu monoton, tanpa suatu hal yang berbeda dari kebanyakan orang, tapi setidaknya ia masih bisa berbahagia.

Sementara gadis Secret ini, apa yang bisa ia lakukan? Selain menghidupi keluarganya, gadis itu sudah tak punya apa-apa lagi. Tentu ia mempunyai Isaac, tapi apakah ada jaminan akan hal itu setelah Isaac mengetahui segalanya? Apakah dengan dirinya sekarang ini berada di arena, semuanya tak akan berubah? Gadis itu setidaknya masih bermimpi, masih berharap, tapi apakah harapan itu akan menjadi nyata?


Gempa, dan gadis sulung Secret hanya bisa merunduk memeluk bumi. Berdoa agar tak ada pohon yang tumbang (lagipula, mereka toh berada di tempat terbuka, ya kan?), sampai pada akhirnya goncangan itu berhenti. Sudah mulai bosan, hm, Capitol?

Kalau begitu, nonkarier—dimana?


Cmiww deh. Bingung . .) HP dari panduan.
Offline Profile Goto Top
 
Colleen Roosophire
Member Avatar

DISTRIK 1 || HP: 125 - 5 = 120
TARGET: - || AP: - + AP dari senjata: - || KS: -
JARAK SERANG: 10 + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] || KEJUTAN: 10 + [result]4&4,1d12,0,4&1d12[/result]
Satu bungkus dendeng — Satu pisau — Satu tombak — Satu kompas


Sesaat, dirinya sedang menyembuhkan luka bengkak bekas tusukan duri beracun yang berada di lengan kirinye dan betisnya dengan daun mint yang ia dapat dari tas berukuran sedangnya. Tas yang ia dapat dari pemuda dari Tujuh, si Mario Spielberg. Dan sesaat berikutnya, seluruh benda-benda di sekitarnya dan lingkungan di sekitarnta mulai bergetar kencang. Bergetar sangat kencang, sampai-sampai ada beberapa pohon yang rubuh. Tidak salah lagi, ini adalah yang namanya gempa bumi.

Tidak perlu pikir panjang atau pikir dua kali, untuk dirinya untuk melarikan diri dan menyelamatkan diri. Tungkainya berlari kencang. Berlari entah kemana. Dirinya saat ini sedang kehilangan arah. Entah ke kanan atau ke kiri ia berlari, yang penting ia harus mencari keselamatan. Tentunya selama ia berlari, ia harus berhati-hati. Jangan sampai ia tertiban pohon, atau tersandung batu. Atau yang lebih parah, terkena duri beracun lagi.

Selama kekacauan ini terjadi, telinganya menangkap suara meriam lainnya. Pasti ada seorang peserta yang mati akibat gempa bumi ini. Entah matinya bagaimana. Mungkin tertiban pohon, atau mungkin tersandung batu ketika berlari. Atau mungkin saja, peserta itu mati bukan karena gempa bumi, malahan oleh alasan lain. Seperti diserang mutan atau diserang oleh peserta lainnya. Pokoknya dirinya tidak tahu, dan tidak peduli. Yang penting sekarang, ia harus lari dan menyelamatkan diri.

Entah ia sudah berlari berapa jauh dan sudah berlari berapa lama, tetapi ia terhenti di sebuah tempat berupa gunung berapi. Salah satu fasilitas dari Arena ini. Kalau tidak salah, ada lima karir lainnya yang berada disini. Mungkin gadis Roosophire ini bisa bertemu mereka.

Gempa bumi itu terhenti. Keadaan kembali tenang. Sungguh rendah bagi para pembina permainan, membuat gempa bumi untuk memanaskan situasi permainan. Terlebih lagi, yang mati dari hasil kekacauan buatan mereka hanya satu. Pasti para penduduk Capitol menginginkan korban yang lebih banyak.

BUUUM!

Meriam lainnya dibunyikan. Seorang peserta lainnya tewas. Entah itu siapa. Mungkin para non-karir itu dan semoga saja bukan salah satu dari karir. Alasan kematiannya pun bisa berbeda-beda. Bisa saja ia mati karena dibunuh, atau mungkin saja akibat gempa bumi barusan.

Tidak berniat untuk kembali ke hutan, gadis pirang itu berencana untuk melanjutkan perjalanannya di gunung berapi ini. Mungkin saja ia bisa bertemu dengan karir lainnya. Dari pada ketika di hutan, dimana seluruh karir berpencar-pencar. Padahal mereka lebih kuat jika bersama-sama.

Sebelum ia melangkahkan kakinya, manik birunya melihat satu sosok yang lumayan ia kenal. Sosok yang berasal dari distriknya dan juga sosok itu adalah sekutunya. Sosok itu adalah Urie Tommy.

"Urie! Dari mana saja kau?" panggilnya sambil berlari ke arah pemuda itu. "Kau tidak apa-apa?" pertama-tama, Colleen harus mengetahui dulu keadaan pemuda itu. Apakah ia sehat, atau ia sekarat? Setidaknya, gadis dari Satu itu senang mengetahui salah satu temannya baik-baik saja.


Bersama Urie Tommy. HP bedasarkan panduan. PMIIW
Offline Profile Goto Top
 
Tume Tinkham
Member Avatar

DISTRIK 10 || HP: 55 ||AP: - || KS: - || TARGET SERANGAN: - || DICE KEJUTAN: 10 + [result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result] || JARAK SERANG: 10 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result]
2 tempat minum kulit, 1 belati, 1 lentera



Tidak kena.

Ia melihat sosok itu membanting tubuh ke samping dan membentur pohon. Lalu, beberapa detik kemudian tampak sesak entah atas dasar apa dan mulai kejang. Ia sadar Yasmine baru saja menjerit tentang Shinzo yang juga mengalami hal yang sama dengan Pinoy. Entah apa yang terjadi pada mereka karena dilihatnya Gavyn pun kejang. Ini mengerikan.

“Ayo, bergerak! Bergerak! Ada sesuatu yang beracun di sini!”

Ini hanya kepanikan saja. Dia otomatis berteriak seperti itu dan berusaha menyeret tubuh Shinzo untuk bergerak. Tubuh Shinzo memang lebih kurus dari dia tetapi umur mereka terpaut jauh dan mungkin pengalaman hidup Shinzo membuat tubuh pemuda itu menjadi sulit untuk diseret. Ume memberi kode kepada Yasmine untuk membantunya menyeret Shinzo dan membiarkan lawan mereka sibuk dengan entah zat apa yang membuat mereka sesak dan kejang. Tume tidak ingin menaruh peduli kepada mereka karena ia yakin begitu dia mendekat, belati milik Pinoy akan menebas lehernya. Oleh karena itu, dia buru-buru mengambil lagkah menjauh dari kawanan Pinoy.

Saat itu juga dia mendengar raungan dari mulut Gavyn.

Mengerikan.

Mereka benar-benar akan habis di tangan distrik sebelas kalau berada dalam jarak satu meter saja. Hujan turun dan Tume membuka mulutnya sekali lagi untuk meminum sebanyak mungkin air yang bisa ia terima sebelum mereka diberi status dehidrasi.

Di saat itu ia merasa goyangan hebat dari tanah yang ia injak. Tume berhenti berlari dan mencoba merasakan dan tanah bergetar menjadi-jadi. Ini adalah gempa bumi. Gempa yang dibuat oleh Capitol untuk menyemarakkan suasana. Dan ia merasa sekelilingnya berpusing dengan cepat dalam pusaran warna dan ia merasa hempasan hebat. Dirinya tertarik dan dilempar ke dimensi lain yang ketika ia membuka matanya, di sekitarnya ada tempat lapang berselimutkan salju. Suasana begitu dingin. Tume mencoba mencari di mana sekutunya dan hanya melihat Pinoy serta sosok tubuh tak bergerak di atas salju berada tidak begitu jauh darinya. Ia bingung omong-omong. Gempa bumi tadi rupanya telah memisahkan dia dengan sekutunya Pinoy juga pasti bingung.

Lalu, Winona.

Eh, tubuh yang di sana itu Winona, bukan?
Offline Profile Goto Top
 
Pinoy Annelli
Member Avatar

DISTRIK 5 || HP: 70 || AP: - || KS: - ||TARGET: -|| DICE KEJUTAN: 10 + [result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result] || JARAK SERANG: 10 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result]
1 kotak biskuit, 1 tempat minum kulit, 1 belati, 1 bungkus dendeng



Pinoy merasakan tetesan hujan kembali mengusiknya. Ia membuka mulutnya sekali lagi dan membiarkan dirinya minum sepuasnya dari mata air alam yang berasal dari langit itu.

Permainan masih terus berlanjut.

Gavyn marah dan Pinoy hanya terkekeh saja. Mereka tidak mungkin melepas mangsa seperti itu. Saling bunuh akan terjadi beberapa saat lagi. Pinoy melihat Gavyn begitu bersemangat untuk mengejar musuh dan Pinoy tahu dalam waktu beberapa detik saja sosok besar dari sekutunya itu sudah mendapat tikus mainannya. Tume Tinkham berhasil menghindari ancaman pisau yang diberikan oleh Gavyn dan Shinzo maju untuk melindungi bocah berumur dua belas tahun itu. Anneli sulung ini bergegas membantu dengan menusukkan pisaunya ke arah bahu kiri milik Shinzo. Menurutnya, dia akan mendapat darah dengan mudah karena Shinzo pasti terdistraksi oleh kegagalannya menyerang Gavyn.

Sebuah senyuman penuh kemenangan muncul di wajah Pinoy. Mereka bermain kucing-kucingan daritadi dan akhirnya Pinoy berhasil mengejar mereka hingga sedekat ini. Mereka tidak akan pernah lepas. Tidak akan. Ia akan menghabisi tiga orang itu tanpa ragu-ragu. Ia juga tidak peduli apakah Winona akan menjerit ketika melihat Pinoy menghabisi rekan sedistriknya. Winona pasti tahu siapa yang lebih kuat untuk diikuti. Jelas tim miliknya sat ini lebih kuat.

Winona tidak akan mengkhianati pertolongan Pinoy dan Gavyn dalam membebaskannya dari Cornucopia.

Pasti.

Saat itu ia merasa hutan akan aman-aman saja tetapi selang beberapa saat kemudian tanah mulai bergetar dan pemandangan sekitarnya mulai raib. Lehernya mendadak terasa kering. Apa yang terjadi? Pinoy merasa ada sinar putih menyilaukan kemudian mengganti raibnya pemandangan hutan di sekitarnya dan ketika sinar itu hilang, ia merasa terdorong ke depan dan jatuh mencium tumpukan salju. Pemuda ini memicingkan matanya. Ia berada di tempat yang berbeda dari sebelumnya. Tume tergeletak tidak begitu jauh darinya dan tampak kebingungan. Tidak ada siapapun selain mereka berdua di sini. Pinoy berusaha berdiri dan kakinya menyenggol satu tubuh yang tergeletak di dekatnya.

“Winona?”


Rekap HP Pinoy sama Tume berdasarkan mention staf tentang HP terakhir chara ini. CMIIW. Sudah tidak jelas rekapannya bagaimana :")
Offline Profile Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Create a free forum in seconds.
Learn More · Register for Free
Go to Next Page
« Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic »
Locked Topic


Theme design by Drama, theme coding by Lewis. of Outline and edited by Ntin, Ubi, and Ilma.