|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Arena Tiga - Gunung Berapi | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Tuesday Jun 4 2013, 07:51 PM (2,437 Views) | ||
| Lisette Bass | Tuesday Jun 4 2013, 07:51 PM Post #1 | |
|
Second Day. Jika tadi kalian disuguhkan pemandangan spring—musim semi, maka kali ini bolehlah dara Bass ini mempersilahkan yang lain untuk mengunjungi musim dingin mereka—their winter, right? Dara Bass itu masih berada di balik panel yang sama untuk beberapa minggu ke depan, memastikan dia melaksanakan tugasnya sebagai Game Maker dengan baik. Bersama partnernya, (Oh, great, she got partner—boo) Redemptus (but she prefers to call him Red—as the colors she likes) dan dua asisten Pembina Permainan, (mantan) Pembina Permainan tahun lalu, Aron Aaroo—The Aron ones, and Karenina Hale—The Nina ones. Penampilannya telah serba merah, mengikuti tren yang dibuat sepupunya, pun untuk menghormati darah yang akan keluar banyak pada Hunger Games tahun ini. Dua kali lipat peserta, yang artinya dua kali lipat Game Maker juga—pft. Lucu, lucu sekali. Sudah hari kedua dan kali ini obsidian kelam yang bersinar jernih itu melihat ke arena dengan sudut lain, gunung yang berselimutkan salju yang putih bersih tanpa menyisakan sedikitpun titik tanah berwarna kecokelatan di bawahnya. Tempat ini menawarkan banyak tempat persembunyian, namun tempat penuh jebakan arena lainnya. Gunung itu tinggi dan terletak di arah timur arena berlatarkan selimut salju putih yang menggambarkan musim dingin yang dingin dan sepi. Sedikit bunyi samar dari angin yang bertiup halus dan beberapa jejak hewan-hewan hutan kecil yang bertahan hidup di musim dingin. Gunung itu dipenuhi dengan pepohonan yang tandus tanpa banyak dedaunan berwarna hijau—namun pepohonan itu rapat-rapat, memenuhi hamparan putihnya salju di permukaan gunung tersebut. Hanya ada putihnya salju, birunya langit, dan cokelatnya pepohonan kering. Tidak ada hewan buas, tidak ada bahaya apapun yang akan muncul begitu saja. Hutan itu dingin, kuat, tenang dan tampak berbahaya. Yes, darl. It's dangerous. Tentu saja berbahaya, Liz sudah memastikan lahar di dalam gunung bersalju tersebut akan aktif sewaktu-waktu. Jika dilihatnya nanti pertarungan akan berjalan membosankan, dia akan menekan tombol berwarna senada dengan nail artnya—warna merah. Tapi masih tidak ada niatan untuk melakukan hal itu, Arena baru berjalan dua hari. Hari pertama dia sudah dengan baik hati memberikan hujan untuk mereka. Dan bagi mereka-mereka yang mengerti bahwa semua yang ada di Arenanya kali ini adalah racun, tentu mereka akan mengerti untuk memanfaatkan pemberiannya yang sedang berbaik hati itu. Tapi kali ini Liz sedang ingin memperhatikan situasi kedua puluh tiga peserta yang tersisa. Apakah mereka akan menunjukkan sesuatu yang hal menarik untuknya atau tidak. But you all better be, darl. Make our Lisette Andromeda Bass satisfied, would ya?
|
|
![]() |
|
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Urie Tommy | Thursday Jun 6 2013, 06:10 PM Post #21 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 121-5= 116 || AP: - || KS: - || Jarak Serang: 10 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] || Dice Kejutan: 10 + [result]8&8,1d12,0,8&1d12[/result] Ransel besar, ransel kecil, satu belati, satu pisau, satu dendeng sapi, satu tempat minum dua liter Urie melangkah, kedua kakinya bergantian menginjak rumput-rumput basah, membuat beberapa jejak kaki sesuai jalur jalannya. Dia tidak melihat satu pun peserta sedari tadi, membuatnya gelisah dan paranoid sendiri; apakah para peserta lain sedang saling bekerja sama untuk mengeroyoknya, misalnya. Selagi berjalan, tangannya iseng menyusuri pohon dan tanaman-tanaman yang ia temui. Iya, dia tahu bahwa memegang apapun di tempat ini agak berisiko, anggaplah ini keusilannya. Urie tidak pernah hidup di tempat yang banyak tanaman sebelumnya. Tanaman itu makhluk hidup, kan? Apakah agak tidak berperikemanusiaan--atau berperiketanaman--kalau para peserta nantinya saling bunuh disini? Bukankah itu merupakan pemandangan yang frontal untuk makhluk hidup sekelas tanaman sekalipun. Ditambah lagi kalau mereka saling bantai hingga merusak tanaman yang ada. Berarti mereka membunuh manusia, juga membunuh tanaman. Urie mengelus barang-barang pohon terdekat, seakan meminta maaf untuknya. Tak lama lagi kalian tidak akan disini lagi, tidak akan membuat pemandangan hutan ini indah lagi. Maaf. ... Ck. Apa yang dipikirkannya disaat begini, sih? Tangannya masih diletakkan di pohon, ketika tiba-tiba ia merasa kakinya bergetar. Urie menganggap mungkin dirinya hanya kelelahan saja, tapi kemudian pohon di telapak tangannya juga ikut berguncang. Dengan sigap lelaki ini melihat sekelilingnya, lalu terkesiap mendapati pemandangan dimana bumi berguncang dan pepohonan jatuh. Hampir saja pohon yang ia sentuh tadi menimpanya kalau ia tidak langsung lari kabur dari maut. Gempa bumi! Tanah retak, membuat Urie harus lari secepat mungkin supaya ia tidak terjatuh dalam perut bumi. Urie bahkan tidak lagi memikirkan arah kemana dia berlari, lawan yang bisa saja memburunya di tengah ini semua, atau duri yang dapat membuat kulitnya bengkak dan bernanah. Dua bahkan tidak peduli apakah bunyi yang dia dengar tadi adalah suara meriam, yang berarti ada korban lagi. Dia hanya menatap ke depan, ingin selamat dari bencana alam ini, menemukan lawan dan membunuhnya. Urie tidak ingin mati oleh gempa, oke? Tidak jantan. Ketika Urie menyadari bahwa gempa sudah berhenti, saat itu juga dia menyadari bahwa dirinya tidak lagi dikelilingi pohon-pohon besar. Dia justru berdiri di sebuah lokasi yang terlihat seperti gunung berapi. Dia berlari cukup jauh, eh? Ternyata kakinya bisa diajak olahraga juga. Dia tidak sempat berpikir seberapa jauh kakinya membawanya, karena telinganya menangkap suara seseorang. Bukan lawan, bukan. Suara itu memanggil namanya, dan Urie bisa melemaskan bahu sedikit ketika melihat sosok si empunya suara. Ah, paling tidak ia tidak tersesat dan bisa punya teman ngobrol. "Miss Roosophire," Urie tersenyum pada rekan sedistriknya tersebut. "Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?" Kondisi mereka berdua nampak masih sempurna, cocok untuk bekerja sama. "Mau jalan berdua?" Suatu permintaan yang ambigu, yang mana Urie akan lebih senang kalau mengucapkan hal seperti itu di pusat kota sambil memegang bunga. |
|
![]() |
|
|
| Colleen Roosophire | Thursday Jun 6 2013, 07:21 PM Post #22 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 120-4(duri)= 116 TARGET: - || AP: - + AP dari senjata: - || KS: - JARAK SERANG: 10+2+1 = 13 + [result]11&11,1d12,0,11&1d12[/result] || KEJUTAN: 10+4+ [result]11&11,1d12,0,11&1d12[/result] satu bungkus dendeng — pisau — tombak — kompas Kerusakan yang dibuat oleh gempa bumi tadi pada Arena ini lumayan besar dan parah. Banyan pohon-pohon yang rubuh dan patah. Mungkin kali ini para pembina permainan benar-benar berniat membunuh para peserta yang berada di dalam Arena. Jahat sekali. "Aku baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkanku." ucapnya. Memang dirinya bilang bahwa ia baik-baik saja, tapi sebenarnya ia memiliki dua bengkak yang disebabkan oleh duri-duri beracun. Dan sepertinya ketika ia berlari tadi, ia kurang hati-hati, jadinya ia terkena duri beracun lagi. Berita baik baginya, bahwa teman sedistriknya itu baik-baik saja dan masih sehat walafiat. Tidak sekarat seperti beberapa peserta lainnya. Gadis pirang itu mengambil daun mint yang ada di ransel ukuran besarnya, dan mengoleskannya di bengkak yang baru saja terbentuk. Lama-lama, ia jadi semakin benci dengan duri-duri itu. Rasanya seperti duri-duri itu ada di seluruh sudut Arena. Menyebalkan sekali. Dirinya sudah muak tertusuk oleh duri itu, dan dia juga sudah muak melihat bengkak dan nanah yang ada di sekujur tubuhnya. "Boleh. Tapi lindungi aku ya." ucapnya polos, diikuti dengan senyuman manis. Jawabannya tadi memiliki arti bahwa ia setuju untuk membentuk aliansi kecil yang terdiri dari dirinya dan pemuda Tommy itu. Mungkin jika mereka menyatukan kekuatan, mereka akan menjadi tidak terkalahkan. Manik birunya menangkap dua sosok lainnya. Kedua sosok itu bukan berasal dari sekutunya, dengan kata lain, mereka adalah para peserta non-karir yang akan menjadi mangsanya berikutnya. Untung saja ada Urie disini. Jadinya ia tidak perlu repot-repot menghabisi keduanya. Satu non-karir untuk satu karir. "Urie lihat! Mangsa baru!" ucapnya sambil menunjuk kedua bocah yang berdiri di dekatnya. Mereka seperti sedang menunjuk-nunjuk sesuatu. Benda yang ditunjuk itu seperti mayat seseorang. Mungkin mayat sekutu mereka. Gadis bermanik biru itu mengeluarkan pisaunya. Bersiap-siap untuk bertarung. Tap sepertinya ia harus isthirahat sebentar. Karena bengkak barunya itu masih terasa perih. "Kau serang duluan saja." tangan kirinya menepuk pundak pemuda dari Satu di sebelahnya. Memberikan tanda bahwa ia bisa maju duluan. Dice jarak ditambah dengan Urie karena sekutu. Offroll karena kejutan. PMIIW Edited by Jonathan Duprau, Thursday Jun 6 2013, 08:20 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Tume Tinkham | Thursday Jun 6 2013, 09:27 PM Post #23 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 50 + 5 = 55 ||AP: [result]8&8,1d8,0,8&1d8[/result] + AP SENJATA: [result]2&2,1d2,0,2&1d2[/result] || KS: [result]11&11,1d24,0,11&1d24[/result] || TARGET SERANGAN: Urie Tommy (D1) || DICE KEJUTAN: 20 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] || JARAK SERANG: 11 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] 2 tempat minum kulit, 1 belati, 1 lentera Tidak salah lagi. Itu pasti Winona. Gadis dari distrik delapan yang menjadi sekutu dari Pinoy. Tume mengenalinya dari rambut lurus berwarna cokelatnya juga rahang keras milik gadis itu. Namun, tidak ada tanda-anda bahwa gadis itu akan segera bangkit dan melawan atau menyapa Pinoy dengan pertanyaan membingungkan seperti mengapa mereka berada di tempat ini. Gadis itu sekarat, eh? Tume menelan ludah dengan gugupnya. Perhatian dari Pinoy pasti teralihkan oleh tubuh lemah itu. Ini adalah kesempatan bagi Tume untuk menemukan celah serangan. Dia tidak berharap bisa memberikan banyak darah dari Pinoy, tapi paling tidak dia harus lebih dulu menyerang sebelum musuh menyerang. Dan inilah yang kemudian terjadi. Hm. Bocah laki-laki dari distrik sepuluh ini mengacungkan belatinya segaris dengan kepala milik Pinoy yang ditumbuhi rambut cokelat kemerahan yang gelap dan bergerak cepat di antara salju untuk menghampiri Pinoy. Ia berusaha tida menimbulkan suara terlalu banyak dalam pergerakannya untuk membuat lawan tidak mengetahui apa yang sedang ia rencanakan. Sosok itu masih ada di sana dan tentu saja lumayan sulit untuk mengelak bila sedang diliputi perasaan campur aduk tentang rekannya. “Maaf. MAAF!!!” Peserta Quarter Quell berumur dua belas tahun ini membuat gerakan menusuk ke arah Pinoy. Ia tahu bila Pinoy sedang dalam keadaan brduka—kalau ternyata Winona bukan pingsan melainkan mati—tetapi nyawanya jauh lebih penting. Tume tidak ingin menukar nyawanya dengan sedikit belas kasihan. Ia tahu apa yang harus dilakukannya dan dia yakin Gutsche akan membenarkan apa yang dilakukannya—bahkan seluruh Panem akan melakukan hal serupa bila berada di posisinya. Tume sudah membunuh perasaan lemah dari dalam dirinya dan menjadi sosok yang mandiri. Ia tidak tahu mengapa dia bisa berpindah lokasi dengan cepat hanya setelah gempa bumi. Huh. Capitol pasti ingin bermain-main lagi. Lalu, entah mengapa yang dia lakukan hanyaah mengikutinya. Apa boleh buat. Dia memang diharuskan untuk membunuh agar bisa pulang ke distrik sepuluh. Dan Tume akan melakukannya walaupun harus mengotori tangan berumur dua belas tahunnya. Serius! Tapi, di detik terakhir sebelum belati itu mengenai sosok Pinoy, Tume langsung mengubah gerakannya. Telinganya menangkap ada pergerakan lain di dekat mereka dan otomatis langsung meloncat ke arah bayangan yang dilihatnya muncul sembari menghunuskan belatinya. sori kalo dopos. koneksi. Silakan dicek Edited by Corialonus Snow, Thursday Jun 6 2013, 10:40 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Pinoy Annelli | Thursday Jun 6 2013, 09:33 PM Post #24 | |
![]()
|
DISTRIK 5 || HP: 65 + 5 = 70 || AP: [result]8&8,1d8,0,8&1d8[/result] + AP SENJATA: [result]2&2,1d2,0,2&1d2[/result] *berdoa* *humbalahumbala* || KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result] || TARGET: Urie Tommy (D1) || DICE KEJUTAN: 20 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] || JARAK SERANG: 11 + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] 1 kotak biskuit, 1 tempat minum kulit, 1 belati, 1 bungkus dendeng, 1 panahan, 1 kaos kaki Gadis itu sudah tidak bernyawa? Pinoy masih mencoba menilai realitas yang ada di depannya. Ia berusaha tidak membuat ilusi yang tidak disukainya. Gerakan Pinoy terasa melambat ketika dia berusaha berjongkok dan membalik tubuh gadis itu. Berat, hangat, dan tetap tak bergerak. Apa artinya itu? Winona meninggal. Diam untuk sesaat sementara angin dingin menerpanya. Ia merasa bersedih, sebuah perasaan yang sengaja ditekannya daritadi sejak kepergian Aidy. Baginya Winona adalah gadis yang cukup tangguh dan meskipun mereka tidak memiliki pergerakan yang cukup dengan gadis yang dinilainya bergerak cukup lambat itu, Pinoy menyukainya. Winona sudah mengusahakan yang terbaik untuk tim mereka dan yang bisa Pinoy lakukan hanyalah membiarkan Winona beristirahat dengan tenang. Pemuda bermarga Annelli ini akhirnya membiarkan tubuh Winona terbaring di sana dan tangan dari laki-laki ini segera bergerak mengambil panah milik Winona juga busurnya. Lumayan. Dan kaos kaki milik perempuan itu juga diambilnya—pemberian Gavyn kalau kalian masih ingat. Kaos kaki akan begitu ia butuhkan di tempat seperti ini. Hutan terlihat lebih menarik tentunya daripada tempat yang dinilainya beradadi suatu tempat yang tinggi. Di mana ini? Gunung? Jadi, dia sudah sejauh itu dari Cornucopia, eh? Seingatnya gunung terletak cukup jauh dari Cornucopia. Tapi, Pinoy tidak mau bersenang dulu karena mereka sudah cukup lama meninggalkan Cornucopia dan itu adalah pertanda bahwa kawanan karier pasti sudah bergerak cukup jauh juga dari Cornucopia kalau mereka lebih memilih rasa haus darah mereka daripada bersantai di Cornucopia yang jelas cukup aman—bahkan tempat teraman dari tempat manapun yang ada di arena. Pemuda ini sudah selesai mengambil kaos kaki milik Winona dan memakainya ketika bunyi napas terdengar. Bunyi napas yang berat, khas untuk seseorang yang sudah kewalahan akan permainan ini. Ia tidak sadar kedatangan Tume di sisinya dan bersiap menahan rasa sakit untuk bahunya ketika bocah laki-laki itu beralih target menuju bayangan orang lain yang muncul. Pinoy melompat berdiri, mempersiapkan anak panahnya dan memasangnya di busur. Ia menarik, menahan, dan melepas anak panahnya ke arah target yang berhasil dikenai Tume dengan belatinya. sori kalo dopost. lewat hp Edited by Corialonus Snow, Thursday Jun 6 2013, 10:20 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Urie Tommy | Thursday Jun 6 2013, 10:47 PM Post #25 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 120-4=116 || TARGET: Tume Thinkam (belati), Pinoy Anneli (pisau) || AP: [result]7&4,1d8,3,7&1d8+3[/result] + AP dari senjata: [result]1&1,1d2,0,1&1d2[/result] || KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result] & [result]17&17,1d24,0,17&1d24[/result] Jarak Serang: 24 + [result]3&3,1d12,0,3&1d12[/result] || Dice Kejutan: 18 + [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result] Aliansi bersama Roosophire Ransel besar, ransel kecil, satu belati, satu pisau, satu dendeng sapi, satu tempat minum dua liter Jujur saja, sebenarnya Urie agak gelisah berada disini. Dia ingin kembali ke hutan tadi, dengan satu alasan... Yasmine Silvertongue tentunya. Dia ingin bertemu gadis itu lagi, tersenyum lagi padanya, mengucapkan satu persatu kalimat manis layaknya kata-kata yang ia ucapkan di hari pertamanya di Capitol. Dirinya ingin bertarung melawan gadis itu, melukai kulitnya, mendengar jeritannya, memandangi ekspresi panik dan tegangnya. Dia ingin tubuh gadis itu tergeletak tak bernyawa di tangannya, dan tidak ingin dia mati karena orang lain. Sadis? Posesif? Bisa jadi. Tapi Urie bukan orang aneh yang akan mengajak teman seperjalananya untuk masuk kembali ke dalam hutan hanya untuk mencari seorang perempuan sebagai pemuas keposesifan gilanya. Benar, dirinya kepada Miss Silvertongue itu lebih cocok disebut keposesifan gila, karena Urie tidak ingin gadis itu mati, tetapi dirinya ingin menjadi pembunuh gadis itu. Gila, psikopat. Tenang saja, Urie tidak merasakan hal yang sama kepada partner barunya ini, Roosophire, meski dia seorang perempuan. Yah... mungkin hanya belum? Urie sendiri tidak sadar sebelumnya bahwa ternyata dia memiliki kecenderungan sebagai psikopat. Yeah, keberadaan Roosophire sudah cukup menyadarkan Urie untuk tidak memikirkan Silvertongue lagi. Dia sedang di arena, dan tugasnya sekarang adalah membunuh. Membunuh semua, dan bukan hanya putri Silvertongue. Masih ada belasan peserta yang harus ia bunuh untuk memenangi ini semua. Bahkan ia nantinya harus melawan Roosophire, karena hanya akan ada satu pemenang diantara mereka. Well. Itu sih urusan nanti, sekarang lawanlah musuh yang ada... seorang lelaki Non-Karier. Oh, berani sekali dia melawan Urie yang seorang Karir--dan notabene sedang berjalan bersama seorang Karir juga. Sasaran empuk. Namun Urie agak panik ketika menyadari bahwa yang menyerangnya tidak hanya seorang, tapi dua! Belati dan panah. Dua-duanya sukses merobek kulitnya. Kulitnya. Kulit mulusnya, Kawan. "S-sialan..." Urie tersenyum, namun ini bukanlah senyum manis yang ditunjukkannya saat ingin merayu wanita. Senyum menyeramkan, lebih tepatnya. "Roosophire, bantu aku?" Pertama ia mengayunkan belatinya ke arah si pemuda belati, kemudian berlari cepat ke arah pemuda panah dengan mengayunkan pisau. Cmiiw Edited by Corialonus Snow, Thursday Jun 6 2013, 11:09 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Exodus Kruchev | Thursday Jun 6 2013, 10:49 PM Post #26 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 127 – 5 (gempa) = 122 || AP: - || KS: - TARGET: - || DICE KEJUTAN: 16 + [result]3&3,1d12,0,3&1d12[/result] || JARAK SERANG: 32 + [result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result] 1 tombak, 1 pedang bermata tunggal, 1 panahan, 1 pisau Perjalanannya yang masih belum dibayangi pertarungan berdarah terhalang oleh hal sepele. Dia merasakan perih di bagian bawah tubuh. Awalnya, pemuda itu mengira perih tersebut berasal dari serangan hewan liar yang dilepas Capitol demi membuat permainan menjadi semakin menarik. Ah, mungkin memang benar, semua cerita usai pembantaian di hari pertama Arena tanpa ada dentum meriam yang menandakan kematian peserta tampak membosankan. Rasanya seperti sedang melakukan perjalanan wisata alam terbuka sekaligus perburuan jika melihat banyaknya benda dan perlengkapan lain yang dibawa pemuda Kruchev. Tombak, pedang bermata tunggal, busur beserta anak panah, dan pisau—belum lagi pangan yang dijarahnya seusai banjir darah. Dugaannya tidak terbukti. Ternyata dia baru saja melewati kerumunan semak belukar dengan duri tajam yang tampak menantang dan siap mencabik. Sabetan yang dihasilkan belukar liar menimbulkan garis merah berdarah pada betisnya. Perlahan luka itu mulai membengkak, menyebabkan ukuran betisnya lebih besar daripada ukuran normal selama beberapa waktu, kemudian yang terjadi berikutnya, nanah pekat dan berwarna buruk keluar dari bekas luka. Menjijikan sekali. Sejenak Exodus hanya mematung mengamati luka itu. Boleh dikata dia memang kurang peka dengan luka yang diderita tubuhnya. Pemuda itu tidak pernah mengobati lukanya, kecuali kalau memang terpaksa karena luka berat dan dipaksa dengan alasan kuat yang mampu menggoyahkan bentengnya. Biasanya dia hanya mengabaikan sakit dari lukanya seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi, kali ini dia tidak lagi bereaksi demikian. Argumen lain mengenai Arena dengan medan berat dan musuh yang masih berkeliaran berhasil menguasai isi pikirannya. Ransel yang dibawa segera dibuka dan Kruchev itu mulai mengamati isinya lagi. Ada daun mint yang telah dihaluskan menjadi serbuk halus dan mungkin dia bisa menggunakannya pada betis yang masih membengkak dan mengeluarkan nanah. Exodus memercikkan serbuk itu secara langsung, tapi masih belum ada reaksi apa-apa. Ukuran betisnya masih belum mengempis. Dia menghela nafasnya lalu mengambil tempat minum yang berisi air yang diperolehnya dari langit. Tanpa sengaja, pemuda itu menumpahkan sepersekian isinya pada betis itu karena lengah. Dia memaki dalam hati kemudian mengelap bekas air yang membasahi bengkak di betis. Gosokannya terhenti saat menatap betisnya. Tidak ada lagi bengkak di kaki, begitu pula perih yang tadinya dirasakan. Ukuran kaki Exodus kembali normal. Dia bersyukur karena berkat kecerobohannya, akhirnya khasiat serbuk mint itu ketahuan. Pemuda itu menarik nafas lega dan mulai melanjutkan langkahnya. Beberapa meter di depan sana, dia merasakan tanah sekitarnya mulai bergetar. Gempa. Exodus segera menjauhkan diri dari pepohonan, setengah menarik Maddy ikut pergi. |
|
![]() |
|
|
| Ethan Nestor | Thursday Jun 6 2013, 10:53 PM Post #27 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 61 – 5 – 15 = 41 || AP: - + AP dari senjata: - || KS: - || TARGET: - || DICE KEJUTAN: 34 + [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result] || JARAK SERANG: 72 + [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result] Offroll. Pedang bermata satu, tombak, dan trisula Sudah berapa hari berlalu? Sehari? Atau mungkin dua hari? Ethan hanya bisa memastikan bahwa ini adalah pagi hari. Matahari sudah tak malu lagi keluar dari peraduannya. Sementara itu, ia melipat kantong tidur dan membereskan peralatannya. Tidak banyak yang dikeluarkan, hanya memakan secuil dendeng yang ia makan sehemat mungkin. Baru saja ia selesai membereskan bawaannya, tiba-tiba terasa goncangan yang cukup keras. Gempa bumi. Tidak hanya sedetik atau dua, tetapi lebih dari itu. Matanya melihat Ferina dan Hada sekilas, memastikan bahwa kedua rekannya baik-baik saja. Ia sendiri berpegangan pada sebuah pohon yang tidak terlihat berbahaya atau menjatuhkan sesuatu. Selama beberapa saat diombang-ambingkan dengan getaran bumi, akhirnya berhenti juga. Sebenarnya arena apa ini? Yang ia khawatirkan bukanlah gempa bumi, melainkan akibat yang ditimbulkan oleh gempa tersebut. Ini adalah arena gunung dan bersalju. Siapa tahu karena gempa, tiba-tiba ada longsor salju yang dapat membenamnya kapanpun. Dan jika ia tidak bisa bebas dari tumpukan longsor salju dalam lima belas menit, bisa dipastikan nyawanya tercabut. Tidak, Ethan tak ingin mati konyol seperti itu. Pemuda Nestor itu memperhatikan keadaan sekitar. Sepertinya aman, tidak ada sesuatu yang membahayakan. Sementara itu, terdengar dentuman lebih dari satu kali. Ia memejamkan mata sejenak. Hanya sikap formal, semacam pencitraan di hadapan para penonton (karena siapa tahu ada kamera yang sedang mengarah padanya). Entah siapa yang mati, paling tidak bebannya membantai orang sedikit berkurang. Meskipun begitu rasanya tidak menyenangkan jika hanya di sini bertiga. Apakah Capitol menyuruhnya untuk membantai rekannya sendiri? “Ayo, kita harus bergerak. Lebih baik jika kita segera—“ Kalimatnya terpotong mendadak. Hidungnya membaui sesuatu yang aneh dan menyebabkan dadanya terasa sesak seketika. Pemuda itu terbatuk, sesekali megap-megap seperti ikan yang kekurangan nafas. Tubuhnya kembali ambruk, menggeliat di salju akibat kesulitan mengambil nafas. Belum cukup sampai situ, tubuhnya mendadak kejang-kejang hebat. Bau apa barusan? Apakah aroma beracun? Ethan benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya. Tubuhnya berkhianat, tak mau berhenti kejang. Butuh berapa lama? Apakah ia akan mati dengan cara seperti ini? Bersyukur hal itu tak berlangsung lama. Kira-kira semenit lamanya, tubuh Ethan berhenti kejang. Namun rasa lemas luar biasa membuat pemuda itu bahkan tak kuat bangkit. Ia harus bertumpu pada tombak, bahkan berdiri pun bersandar pada pohon di dekatnya. “Ayo, segera pergi dari sini,” ucapnya lirih dengan nafas terengah-engah. Sial, Ethan merasa tubuhnya semakin lemah, tak bisa berkompromi lagi. |
|
![]() |
|
|
| Colleen Roosophire | Friday Jun 7 2013, 08:35 AM Post #28 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 116 + 5 = 121 || AP: - + AP dari senjata: - || KS: - || TARGET: - || DICE KEJUTAN: 25 + [result]9&9,1d12,0,9&1d12[/result] || JARAK SERANG: 27 + [result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result] Pisau, tombak, satu bungkus dendeng, dan kompas Benar sekali. Benda yang tergeletak disana itu mayat. Mayat orang. Dan jika dilihat lebih detail lagi, itu adalah mayat perempuan. Sepertinya dia mati karena gempa bumi barusan, bukan karena ada yang membunuhnya. Jika ada yang membunuhnya, pasti sang pembunuh berada di dekat sini, dan yang berada di dekat sini hanyalah dirinya, Urie Tommy, Tume Tinkha, dan Pinoy Anelli. Seingatnya, ia belum membunuh siapa pun setelah bloodbath, jadi pilihan terakhirnya, kalau bukan Urie, ya kedua pemuda non-karir itu. "Roosophire, bantu aku?" "Siap!" Urie yang sudah mulai menyerang duluan, diserang balik oleh kedua non-karir itu. Manik birunya melihat Urie terserang oleh belati dan panah. Sedangkan Urie menyerang dengan belati dan pisaunya. Well, ia tidak ingin pekerjaannya hanya menonton seperti kejadian waktu itu dengan Hada Atala. Seketika ia ingin menyerang, tiba-tiba langit menjadi gelap dan tetes air mulai berjatuhan. Hujan, itulah yang dara Roosophire itu tahu. Hujan ini sangat tepat untuk saat seperti ini. Ia sudah haus sejak beberapa menit yang lalu, dan hujan ini adalah hal yang tepat baginya. Dirinya membuka mulutnya dan mendongakkan kepalanya ke atas, agar air hujan bisa memasuki mulutnya. Kotor? Menurutnya tidak, sejak ia sudah kehausan dan hujan adalah salah satu cara untuk mendapatkan air di Arena. Begitu ia sadar kembali dari acara meminum air hujan, maniknya kehilangan sosok dua bocah itu. Yang ia lihat hanya ada Urie seorang. Kemana dua bocah lainnya? Tadi sesaat mereka ada disini. Tepat sebelum hujan ini turun dan membasahi rambut dan tubuhnya. Sial. Dia kehilangan mereka. Padahal mereka adalah sasaran empuk. Tapi mungkin gadis Roosophire itu akan bertemu dengan kedua bocah non-karir itu lagi. Sejak Arena sangat luas, dan sudah semakin sepi, pasti cepat atau lambat, ia akan menemui kedua bocah itu lagi. Dan jika pada saat mereka bertemu lagi, gadis pirang itu berjanji untuk membunuh mereka dengan kedua tangannya. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya pada pemuda Tommy itu. Boleh kan bertanya seperti itu karena sang pemuda diserang oleh dua lawan? PMIIW |
|
![]() |
|
|
| Urie Tommy | Friday Jun 7 2013, 11:31 AM Post #29 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 116-5(salah rekap HP)-15(kejutan)= 96fml... || OFFROLL || Jarak Serang: 37 + [result]3&3,1d12,0,3&1d12[/result] || Dice Kejutan: 30 + [result]4&4,1d12,0,4&1d12[/result] Aliansi bersama Roosophire Ransel besar, ransel kecil, satu belati, satu pisau, satu dendeng sapi, satu tempat minum dua liter Oh, bisa dibilang tingkat nafsu membunuhnya saat ini sudah naik menjadi sepuluh persen. Ninety more to go, tapi ini jauh lebih baik lah daripada saat dia di hutan tadi, di mana kerjaannya hanya jalan-jalan mencari lawan hingga merasa keburu ngantuk sendiri. Alasan nafsu membunuhnya naik? Ya karena dia menemukan dua anak domba untuk menjadi korbannya, dong. Meski terbukti dua orang itu tidak harus diremehkan (salah satu dari mereka berhasil menggores kulit Urie), tapi Urie yakin dia masih lebih hebat daripada mereka. Apalagi dengan bantuan dari Roosophire. Ah, akhirnya dia bisa mencium bau besi darah lagi. ... tidak juga. Urie terbengong. Kedua sasarannya menghilang. Dirinya dan Roosophire berjalan terlalu jauh! Aaaaahhhhh! Urie sampai menjambak-jambak rambutnya sendiri karena kebodohannya. Bah... sayang sekali. Padahal Urie ingin sekali membunuh salah satu dari mereka, kau tahu? Karena mereka lelaki, bukan perempuan. Urie sih nggak masalah, malah senang, kalau bisa mencabut nyawa sesama jenis. Paling tidak, dirinya tidak akan merasa bersalah layaknya saat dia membunuh gadis Delapan. "Aku tidak apa-apa," Jawabnya pada pertanyaan yang dilontarkan rekan sedistriknya yang enak dipandang mata itu. "Sungguh. Mereka tadi hanya melukaiku sedikit--uh?" Urie refleks berhenti melangkah ketika indera penciumannya mengendus aroma memabukkan dari angin yang berhembus. Tidak hanya itu, namun indera yang sama juga, sekali lagi, mencium aroma racun yang berbau beda tapi tetap mirip--dengan kata lain, itu memabukkan. Tubuhnya terjatuh meringkuk ke tanah yang kotor dan berbatu. Indera penciumannya yang dikagetkan aroma itu tidak lagi bisa berfungsi normal. Tidak ada cukup udara masuk ke dalam rongga hidungnya, juga tidak ada udara kotor yang bisa Urie keluarkan dari mulutnya. Urie tak dapat melakukan aktivitas respirasi dengan semestinya, napasnya tercekat! Seakan sesak napas belum cukup menghantuinya, kali ini indera geraknya yang tidak dapat berfungsi normal. Tubuhnya gemetaran, bergerak tidak terkontrol oleh dirinya sendiri. Kejang. Ah, bodoh. Kenapa harus mendapatkan pengalaman memalukan begini di depan cewek, coba? |
|
![]() |
|
|
| Tupai | Friday Jun 7 2013, 11:48 AM Post #30 | |
![]()
|
SIAAAAAAAAPPPP, GRAK! Sersan Tupai is at your service, Sir. Kekekeke, akhirnya bisa ngeksis juga. Kolonel Molotov (eh, sepertinya namanya salah) menahannya terlalu lama, padahal ia sudah tidak sabar untuk menunclepkan giginya yang sekuat beton ini untuk menembus kulit, merobek daging, hingga mengeluarkan darah dari tubuh banci-banci itu. Kenapa banci? Karena mereka bukan keturunan atau mengikuti pelatihan dari moyang Adolf Squitler. Kata moyang Squitler, siapapun yang tidak pernah berlatih dengannya adalah seorang banci kaleng. JADI BERSIAPLAH, WAHAI KALIAN, PARA BANCI, KARENA SERPAI (SERSAN TUPAI) SEDANG TIDAK INGIN MAKAN KACANG DAN KENARI. BALIK KANAAAAAN, GRAK! Arah dua belas, Sir yes Sir. Ada segerombolan orang di daerah gunung berapi. Menurut pengamatan dari teropongnya, mereka tidak hanya terdiri dari para banci Karier, tapi juga banci non-Karier. Kekeke. Kolonel Molotov baik sekali mau memberikannya makanan sebanyak ini. Tahu saja mulutnya yang besar bisa menampung begitu banyak daging. Tapi kali ini, dia tidak mau berburu-buru. Maaf moyang Squitler, tapi penumpasan massal bukan lagi jamannya. Sekarang adalah era penuh kuota, termasuk kuota Teman Pintar. Siapa Teman Pintar? Dia temannya Simpati. NAH SEKARANG, BERSIAPLAH UNTUK MENYERANG! Merunduk, Serpai menyiapkan senjata terbaiknya. Granat Kenari, kekeke! Ini adalah salah satu penemuan terbaik di masa moyang Squitler yang sampai sekarang masih bisa digunakan untuk melukai kalian semua. Sambil membidik dengan akurat, Serpai memerhatikan mangsanya satu per satu. Dengan restu langsung dari Jendral Snow, akan ia tumpas semua banci kaleng ini. Kekekeke, rasakan dahasyatnya kekuatan muttan utusan Kolonel Molotov. TEMBAAAAAAAAAAAAAAAAK! LAPORAN. HARAP DIBACA!
|
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |














9:33 PM Jul 11