|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Arena Tiga - Gunung Berapi | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Tuesday Jun 4 2013, 07:51 PM (2,436 Views) | ||
| Lisette Bass | Tuesday Jun 4 2013, 07:51 PM Post #1 | |
|
Second Day. Jika tadi kalian disuguhkan pemandangan spring—musim semi, maka kali ini bolehlah dara Bass ini mempersilahkan yang lain untuk mengunjungi musim dingin mereka—their winter, right? Dara Bass itu masih berada di balik panel yang sama untuk beberapa minggu ke depan, memastikan dia melaksanakan tugasnya sebagai Game Maker dengan baik. Bersama partnernya, (Oh, great, she got partner—boo) Redemptus (but she prefers to call him Red—as the colors she likes) dan dua asisten Pembina Permainan, (mantan) Pembina Permainan tahun lalu, Aron Aaroo—The Aron ones, and Karenina Hale—The Nina ones. Penampilannya telah serba merah, mengikuti tren yang dibuat sepupunya, pun untuk menghormati darah yang akan keluar banyak pada Hunger Games tahun ini. Dua kali lipat peserta, yang artinya dua kali lipat Game Maker juga—pft. Lucu, lucu sekali. Sudah hari kedua dan kali ini obsidian kelam yang bersinar jernih itu melihat ke arena dengan sudut lain, gunung yang berselimutkan salju yang putih bersih tanpa menyisakan sedikitpun titik tanah berwarna kecokelatan di bawahnya. Tempat ini menawarkan banyak tempat persembunyian, namun tempat penuh jebakan arena lainnya. Gunung itu tinggi dan terletak di arah timur arena berlatarkan selimut salju putih yang menggambarkan musim dingin yang dingin dan sepi. Sedikit bunyi samar dari angin yang bertiup halus dan beberapa jejak hewan-hewan hutan kecil yang bertahan hidup di musim dingin. Gunung itu dipenuhi dengan pepohonan yang tandus tanpa banyak dedaunan berwarna hijau—namun pepohonan itu rapat-rapat, memenuhi hamparan putihnya salju di permukaan gunung tersebut. Hanya ada putihnya salju, birunya langit, dan cokelatnya pepohonan kering. Tidak ada hewan buas, tidak ada bahaya apapun yang akan muncul begitu saja. Hutan itu dingin, kuat, tenang dan tampak berbahaya. Yes, darl. It's dangerous. Tentu saja berbahaya, Liz sudah memastikan lahar di dalam gunung bersalju tersebut akan aktif sewaktu-waktu. Jika dilihatnya nanti pertarungan akan berjalan membosankan, dia akan menekan tombol berwarna senada dengan nail artnya—warna merah. Tapi masih tidak ada niatan untuk melakukan hal itu, Arena baru berjalan dua hari. Hari pertama dia sudah dengan baik hati memberikan hujan untuk mereka. Dan bagi mereka-mereka yang mengerti bahwa semua yang ada di Arenanya kali ini adalah racun, tentu mereka akan mengerti untuk memanfaatkan pemberiannya yang sedang berbaik hati itu. Tapi kali ini Liz sedang ingin memperhatikan situasi kedua puluh tiga peserta yang tersisa. Apakah mereka akan menunjukkan sesuatu yang hal menarik untuknya atau tidak. But you all better be, darl. Make our Lisette Andromeda Bass satisfied, would ya?
|
|
![]() |
|
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Ferina Secret | Friday Jun 7 2013, 11:49 AM Post #31 | |
![]()
|
tes tes (...hujan.) Cepat-cepat Ferina menengadahkan wajahnya, berkedip, lalu mengekstensikan tangan. Membiarkan berkah langit membasahi telapak tangannya—kesempatan yang seperti ini barangkali tidak akan datang lagi, kan. Tidak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Ini gurun pasir, untuk apa mengharapkan hujan datang 24/7? Gadis itu akan belajar memprioritaskan kebutuhannya selama di arena, dimulai dari... memulihkan daya tahannya. Ia tentu saja tidak akan terjun ke medan perang hanya dengan berbekalkan lengan dan tungkai yang penuh gores, tidak, ia akan bertahan sampai a k h i r— Midnight sun is a state of mind. Time makes no sense in this world. You can leave your watch in your suitcase, because this day has no end. —belajar bersyukur, juga, walau ia tidak bisa mengharapkan hujan turun lumayan deras, bisa merasakan rintik demi rintik menetesi permukaan kulitnya, lukanya seolah dipulihkan perlahan walau hanya nol koma sekian persen. Guncangan yang diterimanya akibat gempa bumi membuat kepalanya sedikit berputar, then again, ...kepalanya yang berputar, atau dunianya yang berputar? Ferina membenamkan wajahnya ke telapak tangan, sikunya bertumpu pada paha. Sebelah tangan masih bertahan demi persediaan air yang cukup. Mereka telah berjalan cukup jauh. Tidak ada yang perlu ditakutkan, sejauh ini... Samar, ia bisa mendengar Ethan Nestor membuka suara, samar—kepalanya dipenuhi orang-orang yang berbicara, atensinya terbelah menjadi begitu banyak bagian. Maka gadis itu menengadah, membiarkan air hujan membasahi wajahnya. Tariklah ia kembali ke dunia, sebab...! Yikes. ...batuknya tidak terdengar baik-baik saja. "Ethan," Ferina menolehkan kepala, "You okay?" Ia merutuk, pertanyaannya kedengaran tidak masuk akal. Tidak, bodoh, tentu saja tidak! Gurat-gurat halus mulai nampak pada kening gadis itu ketika dilihatnya pemuda dari distriknya kesulitan bernapas, seperti tercekik sesuatu. Tangannya mengepal, kepalanya ditolehkan curiga. Ia tidak merasakan simtom-simtom yang dirasakan Ethan, tapi lagi-lagi, ia dibuat bertanya. Mengapa. Satu yang diharapkannya, sakit yang dirasakan aliansinya itu tidak permanen. Muluk, tapi dia tidak bisa kehilangan siapa-siapa lagi. Tidak setelah Floryn. "Here, kubantu," maka ditutupnya tempat minum, memasukannya kembali ke dalam tas. Ferina beranjak, menghampiri Ethan. Melingkarkan lengan pemuda yang bebas di pundaknya. Lalu ia mengedikkan kepalanya pada Hada, sebuah isyarat untuk melanjutkan perjalanannya. Lagi. Edited by Corialonus Snow, Friday Jun 7 2013, 12:08 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Winona Curealight | Friday Jun 7 2013, 12:25 PM Post #32 | |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP:- || AP:-) || KS:-||TARGET: -|| DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: - 1 pasang kaus kaki, 1 Panahan Winny berlari terus berlari agar ia dapat menyerang gadis bodoh dan menyebalkan itu. Ya, ia telah melepaskan anak panahnya tadi. Ia sendiri melepaskan dengan senyum kejam yang mengembang di bibirnya. Winny akan melakukan apapun untuk bertahan hidup lebih lama. Winny bersama sekutunya harus bertahan hingga tinggal mereka sendiri menjadi lawan. Kupu-kupu bersayap pelangi terbang ke arahnya. Winny berusaha menghindarinya. Ia tahu efek apabila terkena sengatannya . Ia akan merasa pusing dan mual selama enam puluh menit. Kupu-kupu bersayap pelangi itu terus mengejarnya dan berhasil menyengat lengannya. Winny merasa pusing dan mual. Perutnya bergejolak meminta Winny mengeluarkan isinya. Perutnya tidak berisi cukup makanan, yang ada hanyalah air hujan yang sempat dirasakannya tadi. Enam puluh menit sudah, ia berusaha sembunyi di balik pohon untuk menunggu efek dari sengatan kupu-kupu bersayap pelangi hilang. Saat ini, kepalanya sudah tidak merasakan pusing dan mual lagi. Winny bangkit dan siap melakukan penyerangan lagi. Namun, tiba-tiba terjadi gempa bumi saat Winny mau berdiri. Tubuh Winny semakin lemah. Bahkan ia sekarang kesulitan bernapas. Ia masih bisa melihat pinoy tak jauh darinya. Winny merasa hidupnya tidak lama lagi. Ia berusaha keras melepaskan gantungan anak panah di belakangnya. Sesak rasanya. Tiga puluh menit sudah gempa terjadi. Winny seperti berpindah tempat sekarang. Dalam posisi setengah sadarnya ia bisa melihat arena hutan menjadi arena gunung berapi. Buruk. Sangat buruk. Winny sudah tidak bisa lagi merasakan bagian tubuhnya. Hanya matanya saja yang dapat melihat visualisasi di sekelilingnya. Ia bisa melihat pinoy mengambil panahan dan kaos kaki yang dipunyainya. Winny tidak bisa bergerak bahkan berbicara. Ia bisa melihat wajah Pinoy. Winny merasa bersalah. Ia sudah tidak berguna menjadi sekutu. Dada Winny semakin sesak. Napasnya sudah tersengal-sengal. Napas hanya tertinggal satu tarikan napas saja. Selamat tinggal Capitol. Selamat tinggal Pinoy. Setidaknya Winny tidak mati mengenaskan. Gempa bumi yang membuatnya tewas. Winny tersenyum untuk terakhir kali. Angin menemani hembusan napas terakhirnya. |
|
![]() |
|
|
| Colleen Roosophire | Friday Jun 7 2013, 02:41 PM Post #33 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 121 - 5(telat post) - 15(kejutan) = 101 || AP: - + AP dari senjata: - || KS: - || TARGET: - || DICE KEJUTAN: 34 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] || JARAK SERANG: 40 + Offroll Pisau, tombak, satu bungkus dendeng, dan kompas Pemuda Tommy ini depresi sekali. Hanya karena mereka kehilangan dua mangsanya, dia sampai menjambak-jambak rambutnya. Gadis pirang itu jadi merasa kasihan pada pemuda itu. Mungkin mentalnya sedikit terluka karena sesuatu. Atau jangan-jangan karena pemuda itu kehilangan kedua mangsanya ketika pemuda itu sedang nafsu-nafsunya. Setaunya, seorang Urie Tommy itu suka pada perempuan, bukan pada sesama jenis, jadi tidak mungkin Urie nafsu karena tubuh kedua bocah itu, pasti nafsu membunuh mereka. "Iya aku percaya kok." ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak pemuda yang berjalan di sebelahnya. Colleen jadi merasa semakin kasihan pada pemuda itu. Selama di Arena, dara Roosophire itu bagaikan seseorang yang tembus pandang. Tak satupun peserta menyerang gadis pirang itu. Selama ini, gadis itu hanya terluka karena duri-duri beracun yang ada di hutan. Hanya itu. Baru berjalan beberapa saat, tiba-tiba tubuh Urie terjatuh di tanah. Dilanjutkan dengan kejang-kejang. "Urie!" teriak dara Roosophire itu sambil berjongkok di sebelahnya. Pemandangan ini sangat lah menyeramkan. Pemuda temannya, yang baru saja ia temukan, tiba-tiba terjatuh dan kejang-kejang. Bagaikan pemuda itu sekarat dan sedang menunggu ajal. "Urie! Kau kenapa!? Apa kau baik-baik saja!?" Sesuatu yang memiliki wangi aneh memasuki lubang hidungnya. Sesaat kepalanya pusing, dan di saat berikutnya, tubuh gadis bermanik pirang itu terjatuh di sebelah tubuh pemuda Tommy itu. Apakah ia akan kejang-kejang? Sebelum kesadarannya hilang, ia melihat sebuah sosok kecil dan banyak mendatangi Urie. Entah itu apa, tapi sosok itu bertubuh kecil, memiliki ekor yang pandang, dan berbulu. Mungkin mutan. yang diutus untuk membunuh mereka. Tiba-tiba tubuh gadis itu mulai bergetar. Sepertinya ia mulai memasuki tahap kejang-kejang seperti pemuda Tommy itu. Gawat. Siapa yang akan melindungi mereka selama gadis dan pemuda dari Satu itu kejang-kejang. Terutama dengan kedatangan mutan, keadaan sama sekali tidak membaik. Bagaimana jika ada peserta lain yang melihat mereka seperti itu, pasti mereka akan memanfaatkan saat seperti ini untuk membunuh kedua orang dari Satu itu. Ini gawat. Maaf lama -_-" PMIIW. Offroll kejutan |
|
![]() |
|
|
| Ethan Nestor | Friday Jun 7 2013, 04:55 PM Post #34 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 41 + 5 = 46 || AP: - + AP dari senjata: - || KS: - || TARGET: - || DICE KEJUTAN: 46 + [result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result] || JARAK SERANG: 84 – 10 (dari si Tupai dan Ferina belum ngurangin) + 3 + [result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result] Pedang bermata satu, tombak, dan trisula Ethan tak banyak protes ketika Ferina membantunya berjalan. Kalau ia tetap egois dan sok kuat, yang ada malah ambruk di tengah jalan. Itu sama saja menyusahkan aliansinya. Seperti ini saja sudah menyusahkan. Efek kejang tadi cukup menguras tenaganya. Ditambah lagi nafasnya masih pendek-pendek akibat sesak nafas dadakan. Dadanya masih cukup sakit, meski sudah bisa bernafas cukup lega. Entah apa yang menyerangnya barusan. Yang pasti, dua detik setelah ia mencium aroma aneh di dekatnya, rasa sesak itu datang tiba-tiba. Rasanya jauh lebih tidak menyenangkan dibanding kejang otot saat berenang tanpa pemanasan. Bodoh, ia lemah sekali di hadapan perempuan. Di mana kekuatan yang sering ia pamerkan? Mungkin dialah yang paling lemah di antara semua orang ini. Ethan berjalan pelan sambil bertumpu pada tombak dan Ferina, menyisakan bekas tusukan dan jejak di belakang. Ia menoleh sekilas, ragu hendak mengaburkan jejak atau tidak. Siapa tahu peserta lain dapat mengikuti jejaknya dengan mudah, ‘kan? Dan jika mereka beraliansi, dengan mudah dapat menyerang dari belakang. Tetapi Ethan menghapus pikiran itu. Ia masih bisa bergerak dengan gesit. Meski terasa lemas, ia bisa menyerang menggunakan tombak atau pedang. “Terima kasih.” Untuk kedua kalinya atas pertolongan gadis Secret itu. Padahal jika tega, bisa saja Ferina menghabisi Ethan ketika sedang kejang. Satu menit memang singkat. Tetapi dalam keadaan kejang tadi, satu menit adalah waktu yang sangat luang untuk menusuk jantungnya beberapa kali. Ethan tak tahu apakah membunuh rekan sendiri sudah ada di pikiran Hada atau tidak. Atau mungkin mereka juga masih membutuhkan bantuannya untuk menghabisi peserta yang lain? Rintik hujan kembali turun dan Ethan merasa lebih baik. Paling tidak ada sesuatu yang membuatnya segar. Ia menengadahkan kepalanya sambil berjalan, membuka mulut untuk menghapus rasa dahaga. Dengan begini, ia tak akan mengurangi persediaan minumnya. Perutnya masih cukup kenyang dengan sepotong kecil dendeng serta biskuit. Namun sepertinya ia masih membutuhkan banyak asupan untuk memulihkan tenaga. “Aku sudah baik-baik saja,” tersenyum singkat melepaskan tangannya dari pundak Ferina. Meski begitu, ia masih bertumpu pada tombak. Tangannya merogoh sisi ransel, mengambil biskuit yang tersisa sambil memakan pelan-pelan. |
|
![]() |
|
|
| Urie Tommy | Friday Jun 7 2013, 05:24 PM Post #35 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 96-15(kejutan)= 81wtf || OFFROLL || Jarak Serang: 40+OFFROLL || Dice Kejutan: 34 + [result]8&8,1d12,0,8&1d12[/result] Aliansi bersama Roosophire Ransel besar, ransel kecil, satu belati, satu pisau, satu dendeng sapi, satu tempat minum dua liter Ini benar-benar gawat, kau tahu? Seakan nasib suka sekali mempermainkannya. Setelah jatuh meringkuk, sesak napas, dan kejang-kejang, kondisi buruknya tidak berakhir sampai situ saja. Rasa sakit di tubuhnya ini bahkan masih berlanjut sampai sekarang, meskipun ia sudah berkali-kali mencoba berguling di tanah dan menggerakkan indera geraknya seperti biasa. Sesak napas ini masih menyakiti alat respirasinya, tubuhnya masih tidak bisa bergerak semestinya, dan parahnya adalah tidak ada yang bisa menolongnya. Ia sempat melirik ke arah rekan sedistriknya untuk meminta pertolongan. Siapa tahu, seperti saat kulitnya membengkak dan mengeluarkan nanah tadi, juga ada obat penyembuhnya tersimpan di dalam ransel. Dia ingin meminta rekannya itu, Miss Roosophire, untuk mengecek isi ranselnya—atau isi ransel kecil yang dijarahnya dari gadis Delapan—siapa tahu ada sesuatu mirip obat yang bisa menyembuhkannya. (Sebenarnya dia juga bingung, memangnya ada obat untuk mengobati sesak napas dan kejang?) Namun pemandangan yang ia tangkap selanjutnya cukup membuatnya makin kejang parah—kalau itu memungkinkan karena sedari tadi juga dirinya sudah kejang cukup parah. Roosophire terjatuh di sebelahnya, seperti ingin menenangkan dan meringankan kesakitan Urie, tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Tubuh Roosophire ikut bergetar hebat, sama seperti yang dirasakan Urie beberapa waktu yang lalu, lalu gadis itu terjatuh di sebelahnya. Kalau bisa, muka Urie yang sudah pucat ini semakin pucat lagi. Jangan bilang kalau Roosophire ikut kejang. Hei... kenapa bisa begini? Apakah mereka tidak sengaja menginjakkan kaki di tempat yang salah, atau ini salah satu rencana sang takdir—untuk menghabisi mereka? ”Eum...” Urie membuka mulutnya, dengan susah payah tentu. ”K—kau... t, tidak apa...?” Sepertinya tidak. Mereka tidak bisa melanjutkan jalan mereka untuk sementara. Oh Tuhan... apa yang akan terjadi pada mereka? Sakit bersama di tengah arena? Hah, bisa jadi sasaran empuk para peserta lain. Jangan sampai kondisi mereka yang menyedihkan ini disiarkan di TV Panem, deh, memalukan. Ia bagaikan Karier gagal, tahu. Oh, semoga mereka tidak akan diserang oleh peserta—ataupun makhluk aneh. |
|
![]() |
|
|
| Hada Atala | Friday Jun 7 2013, 05:59 PM Post #36 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 156 (sesuai yg tercantum di panduan) -16= 140 || AP: - + AP dari senjata: - || KS: - TARGET: - || DICE KEJUTAN: 23 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] || JARAK SERANG: 87 + [result]6&6,1d12,0,6&1d12[/result] 1 kapak, 1 tombak, 1 trisula, 1 tempat minum air ukuran 2 liter Singkat kata, Hada skip. Habis meriakkan nama Floryn lalu habis itu dia jadi blank. Pikirannya benar-benar kosong, sampai mungkin hanya tersisa sedikit kewarasan dalam otaknya sekarang. Dia marah--frustrasi karena ditinggal mati oleh seseorang yang ingin dia lindungi dengan nyawanya sendiri. Kalut, karena merasa gagal dalam misi yang diembankan pada dirinya sendiri. Melindungi satu nyawa gadis cilik saja dia tidak mampu. Apa memang Hada Atala selemah itu? Mau diletakkan di mana mukanya saat nanti dia bertemu dengan Alethea Lee di alam sana? Hada nggak berguna, memang. Sok-sokan mau jadi abangnya Floryn, sok-sokan mau melindungi Floryn--haaah. Tapi dia gagal. Dan kenyataannya, adik perempuan ketemu gedenya itu bahkan telah tewas tanpa sempat bertemu dengannya. Kamu banyak bacot, Hada. No action, talk only. Sampah. Apa yang Ethan dan Ferina ucapkan padanya tidak digubris oleh Hada, semata karena fokusnya tidak berada dalam dirinya lagi. Semuanya telah melebur dan menyatu menjadi kemarahan yang membara. Kekecewaan yang dalam yang dirasakan jauh dalam lubuk hatinya. Dia geram, mencoba mencari jalan untuk menyalurkan adrenalin yang berdesir dalam tubuhnya. Kalau dia tidak bisa melindungi Floryn, lalu untuk apa dia masih diizinkan hidup sekarang? Nyawanya sudah tidak berharga lagi. Semak belukar. Ah ya, dia sempat terkena duri beracun dari tumbuhan menjalar itu. Meninggalkan luka bernanah yang begitu perih seolah membakar kulitnya. Tak banyak bereaksi, Hada hanya mengambil salep daun mint dalam ranselnya, membukanya dan mengoleskannya pada lukanya. Dia tau karena itulah yang Ethan lakukan. Dan lukanya berhasil teratasi untuk sementara. Lalu hujan. Entah bagaimana menjadi berkah dalam arena yang indah namun mencelakakan ini. Semua yang ada di Arena begitu beracun dan berbahaya, termasuk air yang mengalir. Hada memanfaatkan kesempatan ini untuk menampung air hujan dalam tempat minum kulit miliknya. Tidak tau untuk apa, mungkin akan berguna untuk Ethan atau Ferina nanti. Karena dia bahkan sudah tidak peduli pada nasibnya sendiri. Hada hanya berjalan dalam diam, mengikuti dua rekannya tanpa tujuan. Wajahnya masih muram karena masih ada hal yang dipikirkannya. Selang berapa saat, seekor makhluk kecil berbulu (tupai, tebakannya) menyerangnya dengan beringas. Menyebabkan luka yang lumayan dan membekas. Hada meringis kesakitan, namun selebihnya dia tidak peduli. Bahkan terlalu malas untuk membalas serangan tupai itu lagi. "Katakan padaku," akhirnya dia bersuara. Ethan dan Ferina yang berada di depannya diajaknya bicara. "Siapa yang membunuh Floryn?" Kalau Hada tidak bisa melindunginya, biarkan dia membalaskan kematiannya. |
|
![]() |
|
|
| Ferina Secret | Friday Jun 7 2013, 07:58 PM Post #37 | |
![]()
|
...kenapa tidak kaubunuh saja Ethan, Ferina? Well, daaamn. Akan ada waktunya, gadis itu memutar bola mata, akan ada waktunya ketika lengan yang kini digunakannya untuk membantu, pada akhirnya digunakan sebagai senjata terakhir—mematahkan leher si pemuda, barangkali. Atau kaki ini, kaki yang digunakan Ferina untuk membantu menopang beban tubuh Ethan Nestor yang kelihatan luarbiasa sakit, akan berakhir menendang tulang keras pemuda itu. Akan tiba sampai saatnya segala perbuatan yang dilumuri gula lamat-lamat tergantikan oleh substansi berwarna likoris yang menguarkan bau amis—tetapi tidak sekarang. Mereka lemah, sekarang ini, kematian Floryn Lee memberikan bayangan yang seolah menduduki pundak ketiga individu dari Empat yang tersisa. Apa yang membuat Ferina Dorian sanggup melangkahkan kakinya lebih jauh lagi masihlah rintik hujan yang menghidupkan kembali sel-sel syaraf yang sempat mati rasa, pasrah kalau-kalau saja hujannya akan berhenti. Maka ketika didengarnya Ethan mengucap terima kasih, lalu melepaskan diri darinya, gadis itu menyalak tawa lemah. "Kau berhutang padaku," menampilkan seringai di sudut bibir. "Bercanda." Ia menoleh ke belakang, memperhatikan jejak yang dipatri baik dirinya maupun Ethan, atau Hada... bahaya, apabila jejak ini nantinya dilihat oleh lawan. Niatan awalnya adalah untuk menghapus jejak kaki yang tercetak lumayan dalam, efek sepatu—lalu kelopak matanya mengerjap. Untuk apa, lagipula. Mereka akan terus berjalan, dan jejaknya pula akan terus memanjang. Berdecak, kecil. Didapatinya Hada, yang berjalan di belakang mereka, langkahnya seolah terombang-ambing. Ferina memperhatikan, seperti, ...ada lubang yang menganga besar di dalam diri Hada Atala. Bibirnya mengatup, kini dia tidak lagi berjalan berdampingan dengan Ethan, tetapi Hada. ...here comes hell. "—siapa yang membunuh Floryn?" "Dia kehabisan darah," jawabnya singkat, tidak berusaha menyertakan nada. "Bila kau menganggapnya dibunuh, maka—tidak secara langsung," sambungnya lagi, kini mengusap kedua telapak tangannya. Mengulik memori, Ferina tentu saja melihat Floryn, bertarung dengan... siapa... Hayworth wathevs, dia tidak peduli untuk tahu. "Yang membunuhnya adalah pertarungannya dengan siapapun-itu-yang-dilawan-Floryn di Bloodbath, kukira. Berangsur-angsur, Floryn tidak menerima pukulan di manapun yang membuatnya kehilangan darah begitu saja... you know..." mengedikkan bahunya. Ferina tidak akan menangis. Walau, ya—kaulihat itu? Aurora, di sudut matanya. OOC: HP 103 karena di post sebelumnya, 98 + 5 saja, dan seharusnya tidak dikurangi 10. CMIIW, staff, soalnya saya yakin bener di topic error serve minta edit untuk mengurangi jarak serang, bukan HP. |
|
![]() |
|
|
| Tume Tinkham | Friday Jun 7 2013, 09:25 PM Post #38 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 50 + 5 (hujan) – 8 (Urie) = 47 || AP: [result]6&6,1d8,0,6&1d8[/result] + AP SENJATA: [result]1&1,1d2,0,1&1d2[/result] || KS: [result]20&20,1d24,0,20&1d24[/result] || TARGET SERANGAN: Pinoy Annelli (D5) || DICE KEJUTAN: 21 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] || JARAK SERANG: 11 + 10 (tupai) = 21 + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] 2 tempat minum kulit, 1 belati, 1 lentera Gunung adalah tempat yang minim dengan deskripsi. Serius. Tume merasa dirinya kedinginan. Tapi, bisa menahannya sedikit lagi. Ia gagal menyerang orang yang baru datang itu. Urie Tommy? Oh, karier. Akhirnya mereka bersua juga setelah Cornucopia menelan Freida. “Halo.” Heh? Tume merasa dia baru saja melawan orang yang salah. Tapi, tidak apa-apa sebenarnya. Dia masih bisa lari, tapi gerakan cepat dari peserta distrik satu itu membuatnya tidak sempat melarikan diri. Memang beda serangan dari distrik karier dengan distrik nonkarier. Refleks Tume belum pernah diuji ketika melawan karier. Rasa nyeri yang hebat segera menjalar di tubuhnya ketika benda tajam milik Urie menembus kulitnya. Rasanya seperti baru saja diberikan luka tanda peringatan agar Tume berhati-hati. Sekarang yang perlu dilakukan oleh bocah ini hanya mundur saja sembari mengambil jarak dari karier yang ganas itu. Lagi pula, ia belum mau mati sedini ini. Pinoy juga masih berada di sisi lawan. Ia akan mati konyol kalau berusaha melawan karier. Urie juga berusaha melawan Pinoy, tapi kelihatannya gagal. Diam-diam Tume iri mengapa Pinoy tidak mendapat luka yang serupa dengannya. Tume berusaha tidak membuat gerakan terlalu banyak dan menunggu serangan berikutnya. Tapi, karier malah melangkah pergi seolah-olah tidak tertarik untuk bermain-main dengan mereka. Tidak mungkin mereka pergi karena rasa belas kasihan. Peserta dari distrik sepuluh ini terus bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang akan segera terjadi sehingga mereka memutuskan untuk pergi dari tempatnya berada dan menyadarinya beberapa menit kemudian ketika seekor tupai melompat ke arahnya dari pohon terdekat dan berusaha menggigitnya! “Tupai apa kamu, hah! Dasar tupai jejadian!” Tume meronta dan berhasil melepaskan diri dari makhluk kecil tetapi mendadak berbahaya itu. Untunglah dia belum digigit. Tume tidak akan tahu bagaimana rasanya bila dia sampai digigit padahal sudah ada luka dari belati milik Urie yang ia miliki. Sebelum tupai itu bisa memberinya serangan lagi, Tume memutuskan untuk bergerak kabur dari tupai dan mengejar Pinoy. Berilah serangan selagi dia bisa, pikirnya. Dan Tume Tinkham pun mengayunkan belatinya sekali lagi. Hidup di sini hanya ada dua, yaitu membunuh atau dibunuh. |
|
![]() |
|
|
| Pinoy Annelli | Friday Jun 7 2013, 09:31 PM Post #39 | |
![]()
|
DISTRIK 5 || HP: 70 + 5 (hujan) – 7 (serangan Tume) = 68 || AP: [result]1&1,1d8,0,1&1d8[/result] + AP SENJATA: [result]1&1,1d2,0,1&1d2[/result] (belati) KS: [result]24&24,1d24,0,24&1d24[/result] || TARGET: Tume Tinkham (D10) || DICE KEJUTAN: 21 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] || JARAK SERANG: 13 + 10 (muttan) = 23 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] 1 kotak biskuit, 1 tempat minum kulit, 1 belati, 1 bungkus dendeng, 1 panahan, 1 kaos kaki Kepergian Winona cukup mengusiknya sebenarnya. Ada mayat di dekatnya dan itu membuat pemuda ini merasa tidak memiliki kekuatan untuk melawan sosok yang baru datang itu. Sebuah pisau diarahkan ke arahnya dan Pinoy bersyukur dia memiliki refleks terlatih untuk banyak hal termasuk serangan dadakan sehingga berhasil menghindari ujung pisau yang tajam itu. Malang bagi Tume yang barusan terkena belati. Urie Tommy adalah karier pertama yang dilihatnya lepas dari arena. Dan ini adalah pertanda bahwa posisi mereka sudah sedemikian acaknya hingga Pinoy yakin di tempat lain pun mungkin sudah ada pembantaian besar-besaran. Pinoy menunduk, memanggul busurnya serta tabung berisi anak-anak panahnya, dan bergegas pergi dari sana. Hujan masih turun dan ia membiarkan air segar itu masuk ke mulutnya. Ia tidak ingin dikejar oleh kawanan karier. Pinoy tidak mau tahu soal Tume. Distrik sepuluh bisa mengurus dirinya sendiri. Hal terakhir yang dia tahu tentang Urie yang baru saha mencoba menyerangnya adalah bahwa karier yang itu sudah menghilang dengan cepat seolah-olah hanya muncul sesaat saja untuk menyapa mereka barangkali. Cukup mendadak dan perginya juga mendadak. Bukankah ini terdengar cukup lucu, eh? Dia tidak habis pikir apa yang tengah direncanakan oleh pihak karier dengan campur tangan Capitol. Ia bergegas maju sambil berusaha mengecek seberapa mematikannya gunung ini ketika dia mendengar langkah cepat di belakangnya. Sosok Tume Tinkham muncul dengan cepat dan berusaha menikamnya. Heran. Dia tidak pernah mendapat informasi kalau peserta dari distrik sepuluh adalah mereka yang penuh akan dendam. Padahal Pinoy sudah berbaik hati hendak memberikan jalan hidup lebih lama untuk bocah kecil itu tetapi rupanya lawan kecilnya ini memilih untuk tetap meletakkan nama Pinoy sebagai orang yang harus dibunuh. “Kau...,” Pinoy menggeram sembari berputar dan membuat gerakan menyabetkan belatinya ke arah Tume. Sialan. Perih! Padahal dia ingin bertahan hidup lebih lama. Dia ingin mencari Gavyn, sekutunya yang hilang entah ke mana. Menurutnya Gavyn bisa saja masih di hutan. Mereka berpisah dimensi saja gara-gara gempa tadi. Edited by Jonathan Duprau, Saturday Jun 8 2013, 04:05 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Tume Tinkham | Saturday Jun 8 2013, 07:35 PM Post #40 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 59 dari Panduan + 5 (hujan) = 64 || AP: [result]2&2,1d8,0,2&1d8[/result] + AP SENJATA: [result]1&1,1d2,0,1&1d2[/result] || KS: [result]21&21,1d24,0,21&1d24[/result] || TARGET SERANGAN: Pinoy Annelli (D5) || DICE KEJUTAN: 22 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] || JARAK SERANG: 23+ [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] 2 tempat minum kulit, 1 belati, 1 lentera HUAAAAH. Kena! Betapa girangnya bocah berumurdua belas tahun ini ketika akhirnya dia merasa dirinya berhasil mengenai tubuh dari peserta distrik lima itu. Padahal tidak sampai membunuh. Hanya berhasil mengenainya saja. Itu sudah cukup membuat Pinoy merasa bahwa Tume bukan sembarang bocah. Yah, paling tidak Tume juga bisa melukai lho. Entah apa pendapat Gutsche untuk yang satu ini. Sejauh ini Tume dikenal sebagai anak usil yang tidak pernah sampai membuat rasa nyeri pada tubuh orang lain. Ya, itu kalau di distriknya—distrik sepuluh yang damai beserta lenguhan sapinya—tetapi kali ini dia berada sangat jauh dari distrik kelahirannya. Ia berada di alam berbeda yang sepertinya hasil imajinasi para Capitol. Hm. Tume baru hendak mundur mengambil jarak ketika Pinoy sudah memberikan balasan yang menurut Tume adalah pertanda bahwa peserta dari distrik sepuluh ini berhasil membuat peserta dari distrik lima marah. Ada harga yang harus dibayar oleh Tume dan harganya cukup mahal omong-omong.Ia terkena sedikit sayatan di daerah lengan bawah tangan kirinya. “Awww.” Mengaduh kesakitan untuk pertama kalinya sejak da berada di arena kelihatannya. Ini bukan pertanda yang bagus. Dia butuh obat untuk membuat sayatannya ini tidak kena infeksi atau apa pun itu namanya. Tume buru-buru mundur dua langkah dari Pinoy. Ia meringis kesakitan sembari memandangi pemuda berambut cokelat kemerahan itu. “Kau oke juga.” Ini pujian yang tidak sengaja keluar dari mulutnya. Tume Tinkham awalnya mengira Pinoy Annelli ini adalah orang yang tidak pandai dalam membalas tetapi rupanya tidak. Buktinya di Cornucopia mereka tidak bisa berhasil saling memasukkan serangan ke lawan. Mungkin semuanya sudah berubah. Hah. Sudah lewat entah berapa jam sejak mereka meninggalkan Cornucopia dan Tume yakin dia sudah kehilangan orientasi waktu gara-gara tidak punya jam dan di sini tidak ada matahari atau karena dia pindah dimensi sehingga bisa saja ini sudah dua minggu sejak arena dibuka. Hujan masih turun dan Tume membuka mulutnya dua detik barang merasakan anugerah itu. Terserah. Terserahlah. “Sekali lagi, ya.” Ia kembali menyiapkan belatinya dan membuat gerakan menusuk ke arah Pinoy. Edited by Jonathan Duprau, Sunday Jun 9 2013, 11:44 AM.
|
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |















9:33 PM Jul 11