|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Arena Tiga - Gunung Berapi | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Tuesday Jun 4 2013, 07:51 PM (2,435 Views) | ||
| Lisette Bass | Tuesday Jun 4 2013, 07:51 PM Post #1 | |
|
Second Day. Jika tadi kalian disuguhkan pemandangan spring—musim semi, maka kali ini bolehlah dara Bass ini mempersilahkan yang lain untuk mengunjungi musim dingin mereka—their winter, right? Dara Bass itu masih berada di balik panel yang sama untuk beberapa minggu ke depan, memastikan dia melaksanakan tugasnya sebagai Game Maker dengan baik. Bersama partnernya, (Oh, great, she got partner—boo) Redemptus (but she prefers to call him Red—as the colors she likes) dan dua asisten Pembina Permainan, (mantan) Pembina Permainan tahun lalu, Aron Aaroo—The Aron ones, and Karenina Hale—The Nina ones. Penampilannya telah serba merah, mengikuti tren yang dibuat sepupunya, pun untuk menghormati darah yang akan keluar banyak pada Hunger Games tahun ini. Dua kali lipat peserta, yang artinya dua kali lipat Game Maker juga—pft. Lucu, lucu sekali. Sudah hari kedua dan kali ini obsidian kelam yang bersinar jernih itu melihat ke arena dengan sudut lain, gunung yang berselimutkan salju yang putih bersih tanpa menyisakan sedikitpun titik tanah berwarna kecokelatan di bawahnya. Tempat ini menawarkan banyak tempat persembunyian, namun tempat penuh jebakan arena lainnya. Gunung itu tinggi dan terletak di arah timur arena berlatarkan selimut salju putih yang menggambarkan musim dingin yang dingin dan sepi. Sedikit bunyi samar dari angin yang bertiup halus dan beberapa jejak hewan-hewan hutan kecil yang bertahan hidup di musim dingin. Gunung itu dipenuhi dengan pepohonan yang tandus tanpa banyak dedaunan berwarna hijau—namun pepohonan itu rapat-rapat, memenuhi hamparan putihnya salju di permukaan gunung tersebut. Hanya ada putihnya salju, birunya langit, dan cokelatnya pepohonan kering. Tidak ada hewan buas, tidak ada bahaya apapun yang akan muncul begitu saja. Hutan itu dingin, kuat, tenang dan tampak berbahaya. Yes, darl. It's dangerous. Tentu saja berbahaya, Liz sudah memastikan lahar di dalam gunung bersalju tersebut akan aktif sewaktu-waktu. Jika dilihatnya nanti pertarungan akan berjalan membosankan, dia akan menekan tombol berwarna senada dengan nail artnya—warna merah. Tapi masih tidak ada niatan untuk melakukan hal itu, Arena baru berjalan dua hari. Hari pertama dia sudah dengan baik hati memberikan hujan untuk mereka. Dan bagi mereka-mereka yang mengerti bahwa semua yang ada di Arenanya kali ini adalah racun, tentu mereka akan mengerti untuk memanfaatkan pemberiannya yang sedang berbaik hati itu. Tapi kali ini Liz sedang ingin memperhatikan situasi kedua puluh tiga peserta yang tersisa. Apakah mereka akan menunjukkan sesuatu yang hal menarik untuknya atau tidak. But you all better be, darl. Make our Lisette Andromeda Bass satisfied, would ya?
|
|
![]() |
|
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Pinoy Annelli | Saturday Jun 8 2013, 07:47 PM Post #41 | |
![]()
|
DISTRIK 5 || HP: 25 berdasarkan panduan + 5 (hujan) = 30 || AP: [result]1&1,1d8,0,1&1d8[/result] + AP SENJATA: [result]1&1,1d2,0,1&1d2[/result] (belati) KS: [result]21&21,1d24,0,21&1d24[/result]] || TARGET: Tume Tinkham (D10) || DICE KEJUTAN: 21 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] || JARAK SERANG: 24 + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] 1 kotak biskuit, 1 tempat minum kulit, 1 belati, 1 bungkus dendeng, 1 panahan, 1 kaos kaki Ya, ya, ya. Terserah saja sebenarnya. Dia sempat berpikir mungkin Tume dan dirinya bisa jalan bersama dan memberantas peserta lain sambil menunggu apakah mereka bsia bertemu Gavyn atau Yasmine dan Shinzo kembali—Pinoy yakin arah hutan dari tempat ini bisa ditempuh paling tidak setengah hari kalau mereka berdua mau—tetapi anak laki-laki dari distrik bawah ini memilih untuk bertarung seorang diri. Perasaan sakit yang dibuahkan Tume kepadanya adalah pertanda bahwa mereka memang tidak akan pernah bisa bekerja sama. Arena membuat Tume Tinkham menjadi ganas rupanya. Ini tentu membuat Pinoy yakin bila seandainya dia disuruh untuk memilih hendak bermusuhan dengan siapa maka dia memilih untuk tidak bermusuhan dengan Tume. Habisnya anak itu rupanya sekali menjadi musuh maka akan tetap menjadi musuh. Tume memberikan serangan balasan yangbisa dihindari dengan mudah oleh Pinoy. Laki-laki dari distrik lima ini sudah lebih waspada sekarang. Tiada maaf untuk kedua kalinya karena tubuhnya tidak kebal terhadap benda tajam tentu saja. Pinoy Annelli mengacungkan belatinya lagi kepada Tume. “Mati saja kau, Bocah!” Ia meraung dan berlari menyongsong tubuh distrik sepuluh itu. Sasaran dari Pinoy adalah jantung Tume. Ia mengarahkan belatinya ke arah dada kiri Tume. Di sana adalah letak kehidupan seluruh peserta. Bila bagian itu rusak maka semuanya akan menjadi rusak juga minus pembantaian kepala tentunya. Mau kena atau tidak, Pinoy sudah tidak begitu peduli. Dia bukan dilahirkan untuk pesimis tetapi baginya, dia berada di jarak sedekat ini dengan Tume sehingga mau tidak mau pastilah harus kena sebenarnya, kecuali Tume mendada dirasuki entah siapa yang memiliki refleks yang sangat bagus. Tapi, sepertinya hal tersebut tidak mungkin terjadi mengingat distrik yang berada di depannya ini hanyalah anak laki-laki dengan umur belia sehingga sangat mungkin untuk tidak bisa menghindar—bahkan karier pun kalau dalam jarak sedekat ini tidak akan bisa membuat pertahanan dengan cepat. Hahaha. |
|
![]() |
|
|
| Urie Tommy | Saturday Jun 8 2013, 08:45 PM Post #42 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 69 sesuai panduan + 5 (kejutan)= 74 || AP: - || KS: - || Jarak Serang: 40 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] || Dice Kejutan: 42 + [result]7&7,1d12,0,7&1d12[/result] Aliansi bersama Roosophire Ransel besar, ransel kecil, satu belati, satu pisau, satu dendeng sapi, satu tempat minum dua liter Menyebalkan. Kurang ajar. Sialan. Brengsek. Sakit!! Tubuhnya sakit! Paru-parunya sakit, tubuhnya kelelahan! Sudah berapa lama Urie mengalami sesak napas dan kejang-kejang begini? Sewaktu ia terpilih sebagai peserta, dia pikir Hunger Games adalah ajang bunuh-bunuhan semata. Kenapa Urie malah dapat bonus dari alam sekitarnya, coba? Ini sih dia tidak akan mati karena dibunuh, tapi mati karena diserang alam berkali-kali! Ironisnya adalah betapa Urie menampilkan performa yang amat baik di Bloodbaths, bahkan sempat membunuh salah satu peserta dan menjarah barang bawaannya, namun berlaku amat buruk--bahkan tidak beruntung--setelah dirinya terlepas dari peristiwa menegangkan itu. Apa mungkin performanya di Bloodbaths itu sekadar keberuntungan semata? Bisa jadi. Lihat betapa ngetrollnya sang Dewi Fortuna kepada dirinya. Hari juga baru beberapa kali berganti, dan keberuntungan telah memperlakukannya berbeda. Seratus delapan puluh derajat. Seakan keputusannya untuk menolong putra Tommy kemarin itu adalah suatu kesalahan fatal. Urie merasa tubuhnya semakin melemah. Paru-parunya semakin sakit, dan kesadarannya menipis. Apakah dia sudah di ambang kematiannya? Bisa jadi. Ah, sial. Ayah, Ibu, maafkan putra sulungmu yang membuat malu nama keluarga karena mati akibat diserang alam. Adik, maaf ya karena tidak bisa lagi menemanimu bermain lagi. Miss Roosophire, maaf karena aliansi ini tidak berguna. Aaaahhh... dia merasa tenang. Tubuhnya sudah lemas, beristirahat dalam diam, layaknya tubuh tak bernyawa. Urie juga dapat merasakan hidungnya mengambil napas dengan tenang. ... apa? Dia berusaha menggerakkan jari-jari tangannya. Berhasil. Tungkainya? Berhasil. Tunggu. Tarik napas, buang, tarik napas, buang. ... tidak sakit dan rasanya normal. Urie langsung terduduk, menatapi tangan dan kakinya yang sudah bisa bergerak normal. Tangannya (yang sudah tidak kejang lagi) memegang dadanya dimana paru-paru berada. Dia sudah bisa bernapas dengan normal! Dia merilekskan tubuhnya, hujan yang turun semakin membuatnya santai. Dia seperti hidup kembali, kau tahu? "Roosophire, kau tak apa-apa? Ayo jalan lagi..." |
|
![]() |
|
|
| Exodus Kruchev | Saturday Jun 8 2013, 10:57 PM Post #43 | |
![]()
|
DISTRIK 2 HP: 112 || AP: - || KS: - TARGET: - || DICE KEJUTAN: 19 + [result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result] || JARAK SERANG: 37 + 10 (muttan tupai) + [result]7&7,1d12,0,7&1d12[/result] 1 tombak, 1 pedang bermata tunggal, 1 panahan, 1 pisau Kira-kira hanya sebentar saja gempa itu berlangsung. Exodus berusaha mengatur keseimbangan badan dan geraknya agar tidak mengikuti gerakan tanah yang mulai terombang-ambing. Ini tidak mungkin karena urusan tidak disengaja. Pengalamannya mengamati jalannya Arena sejak masih kecil membawanya pada satu pemahaman bahwa ini adalah kerjaan Capitol. Mereka rupanya mulai bosan dengan semua ini. Hei, siapa bilang Exodus tidak bosan? Dia juga merasa bosan berjalan-jalan di tengah tumpukan jalanan bersalju dengan cuaca dingin yang masih menyayat kulit. Kepalanya mendongak sedikit ke atas memperhatikan langit yang terlihat kelam kemudian beralih ke sekeliling. Pepohonan di sekitar tempat itu terlihat menyimpan sejuta misteri dan kejutan yang menunggu kedatangan para peserta yang masih tersisa. Exodus memastikan semuanya kembali agar tidak ada satupun yang terlewat dari biru tajam sang pemuda. Tidak ada tanda-tanda gempa susulan atau gangguan lain. Begitu pula dengan kedatangan tamu baru dalam jarak pandang pemuda itu. Dia berbalik memandang Maddy. “Tidak apa-apa. Semua baik-baik saja,” ucapnya menenangkan gadis itu. Sejauh ini memang tidak ada apa-apa dan tampaknya memang baik-baik saja, tapi mereka tentu harus selalu waspada dengan intaian musuh. Dia benci mengatakannya secara gamblang, tapi dalam hati pemuda ini memaki karena lagi-lagi tubuhnya tertusuk duri semak belukar. Bengkak dan nanah muncul lagi pada lokasi yang baru. Kruchev itu menghela nafas panjang, antara tidak tahu harus berkomentar apa dan lelah dengan cobaan yang diberikan belukar beracun. Dia bersyukur karena telah mengetahui penangkal akan kecelakaan kecil yang menimpanya. Bubuk mint yang sejuk dan air masih bisa menolong derita kecil yang dialami Exodus pada lengan bawah sebelah kiri, maka untuk kedua kalinya, dia membasuh luka akibat semak belukar dengan campuran berbahan alam yang masih tersisa. Ditunggunya selama beberapa saat, mengamati bagaimana ramuan itu bekerja dan menyembuhkan kulitnya, kemudian mengembalikan sisa-sisa bahan itu ke dalam ransel. Bengkak dan nanahnya telah menghilang. Exodus Kruchev masih baik-baik saja. Yang tadi itu bukan masalah serius yang harus diurusi. |
|
![]() |
|
|
| Colleen Roosophire | Saturday Jun 8 2013, 11:54 PM Post #44 | |
![]()
|
DISTRIK 1 HP: 86 || AP: - || KS: - TARGET: - || DICE KEJUTAN: 35 + [result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result] || JARAK SERANG: 41 + OFFROLL 1 tombak, 1 bungkus dendeng, 1 kompas, 1 pisau Apakah ini kejadian yang memalukan? Mungkin. Kejang di Arena, artinya kejang di depan satu Panem. Satu negara. Dan yang lebih memalukan lagi, kejang di depan seorang laki-laki bernama Urie Tommy yang berasal dari Distrik Satu. Distrik yang sama dengannya. "A-aku ti-tidak ap-apa-apa." ucapnya terbata-bata. Dalam keadaan kejang seperti ini, memang sulit untuk berbicara. Sepertinya pemuda itu sudah membaik. Tidak seperti dirinya. Ketika ia merasa sedikit membaik, sesuatu yang berbau aneh, memasuki hidungnya lagi. Dan satu saat berikutnya, ia mulai merasa pusing lagi dan tubuhnya melemah lagi. Kejang-kejangnya dimulai kembali. Ia hanya bisa melihat pemuda Urie itu. Tangan kirinya menggenggam lengan pria itu keras-keras. "To-tolong." manik birunya menatap pemuda Tommy itu. Tubuhnya merasa seperti ditarik oleh pemuda itu. Mungkin pemuda Satu itu ingin maju lagi. Sayang, tubuh gadis pirang itu tidak bisa membantu keinginan pemuda itu. Maaf ya. Saat ini dara Roosophire itu hanya menjadi beban. Jika saat ini pemuda Tommy itu adalah musuhnya, pasti gadis pirang itu sudah dibunuh olehnya. Karena itu, gadis bermanik biru itu merasa beruntung karena pemuda itu bukan musuhnya dan juga karena pemuda itu berada di sampingnya untuk melindunginya. Gadis dari Satu itu hanya berharap tidak ada mutan yang menyerang mereka. Jika ada, tentu mereka akan berada dalam suatu masalah besar. Terutama, hal yang paling ia tidak inginkan adalah bencana alam lainnya. Seperti gempa bumi barusan. Kali ini ia berharap tidak ada apa-apa. Semoga saja tidak ada gempa bumi lainnya, karena jika ada, gadis dari Satu itu akan tidak bisa menyelamatkan diri, dan mungkin akan tewas. Tiga meriam lainnya sudah dibunyikan. Mungkin ada yang mati karena dibunuh peserta lain, atau bisa juga mereka mati diserang mutan. Tapi paling memalukan jika mati karena kehabisan darah. Kebanyakan peserta tewas karena dibunuh peserta lain atau diserang mutan. Ada kemungkinan kecil, beberapa peserta mati karena dehidrasi atau kelaparan. Pernah dulu sekali, ada yang mati karena kedinginan. Sungguh kematian yang tidak seru. HP seperti rekap. Sudah dikurangi kejutan. |
|
![]() |
|
|
| Tupai | Sunday Jun 9 2013, 01:10 PM Post #45 | |
![]()
|
SIALAAAAN. Bidikannya kurang berasil. Hanya kena si bocah yang baunya amis. Kampret. Apa yang akan dikatakan moyang Squitler jika tembakannya gagal begini? Jika beliau di sini, beliau pasti sudah menyuruhnya push up 100 kali, squat jump 250 kali lalu sit up 130 kali. Melelahkan? Kata siapa jadi muttan enak? Ha! Tapi tentu saja ia tidak mau membangkang kepada Kolonel Molotov. Ia harus berhasil menembak kali ini. ISTIRAHAT DI TEMPAAAAT, GRAK! Serpai merunduk, mempersiapkan amunisi berikutnya. Tentu saja ia masih punya banyak persediaan granat kenari. Kau pikir ia bertempur tanpa persiapan yang matang, hah? Aturan nomor satu: jangan pernah pergi ke medan perang tanpa bekal maksimal. Petuah dari moyang Squitler, tentu saja. Moyang Squitler sangat hebat: pernah mengalahkan seekor singa hanya dengan sekali kedip. Tanya bagaimana caranya? TIDAK BOLEH! Itu sudah menjadi rahasia keluarga Squitler selama bertahun-tahun. SIAAAAAP, GRAK! Kembali ke pukul arah sebelas, sekarang nyaris pukul dua belas. Cih! Mencoba untuk lolos? Tidak akan! Rasakan granat-granat kenarinya yang begitu menyakitkan. Kalian akan mati! MATI, WAHAI PARA BANCI! LIHAT SAJA! TEMBAAAAAAAAAAAK! Aturan soal jarak masih sama, banci(s). |
|
![]() |
|
|
| Ferina Secret | Sunday Jun 9 2013, 02:46 PM Post #46 | |
![]()
|
"Guys," ia membuka suara, lirih. "Tunggu sebentar." Goddamn, nausea. Seems like she's underestimating those Capitols. Something strikes her—memabukkan, tetapi tidak dalam konteks yang baik. Bernapas justru membuat perutnya diguncang lebih keras lagi, seolah ada yang berusaha mengaduk kembali segala sesuatunya yang ditelan dara Secret sepanjang waktunya di arena. Kepalanya dibenamkan pada telapak tangan, lalu jemari yang mencapai keningnya memijit-mijit perlahan, bergerak dalam suatu rotasi. Masuk angin di arena kedengaran bodoh, jadi asumsinya, adalah tangan-tangan jahanam yang menjadi dalang di balik semua efek menyakitkan yang menyerang secara tiba-tiba. Ethan telah mengambil giliran, maka Ferina menjadi target selanjutnya, begitu? Dara terbatuk-batuk, lalu menjatuhkan dirinya sendiri. Dengan kedua lutut menyangga beban tubuhnya, Ferina menumpukan tangannya pada trisula. Napas yang dihela celah antara kedua belah bibirnya menyublim jadi embun, sementara matanya dipejamkan kuat-kuat. Mengusir seluruh sakit yang berenang-renang di kepala, no, no—dia tidak seharusnya dikalahkan oleh perihal sepele macam... mual? Tertawa, dalam hati, sebab Ferina Dorian sudah bisa membayangkan kuap para penonton, yang setelah ini diyakininya tak akan segan-segan mematikan televisi. Melakukan aktivitas yang lebih menyenangkan ketimbang menonton seorang gadis yang dilanda mual, bak dihamili... ...motherfvcker. Menelan ludah. Berkali-kali, gadis itu tidak menghitung. Ia cepat, dan secara tidak sengaja menggigit lidahnya, sebab apa yang merasuki pikiran Ferina saat ini jauh lebih mengerikan dibanding lidah yang berdarah. Merutuk, Dorian muda merutuk. Imajinya terlempar kembali ke Distrik Empat, rumahnya, tempatnya mengais harga diri. Sulit untuk mengakui—tetapi masa kecilnya, lepas dari status tempat tinggal di distrik karier, tidak bergelimang kenangan menyenangkan. Tidak ada petak umpet bersama teman-teman sebaya, tidak ada mendandani boneka seperti halnya bayangan tentang anak-anak dari Distrik Satu. Karena pada dasarnya Ferina Secret tidak memiliki masa kecil untuk dinikmati, maka dia sama sekali tidak tahu apakah ada orang yang benar-benar bisa menolak kekuatannya, menyalahkan pola berpikirnya. Ferina paham, Daniel Secret pun paham. not there, no, dad— —whywhywhywhywhywhy ARE YOU DOING— "...Ethan—" Pants. Ia tersiksa. "—kurasa aku terjengit virus yang sama denganmu, hell..." (dia bahkan tidak tahu rasa mual bisa merasuk jauh ke dalam sukma, mmm) |
|
![]() |
|
|
| Urie Tommy | Sunday Jun 9 2013, 05:34 PM Post #47 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 69 sesuai panduan UrieemangplayboytapikenapaHPnya69terusnggakngerti|| AP: - || KS: - || Jarak Serang: 41+10(tupai)= 51 + [result]8&8,1d12,0,8&1d12[/result] || Dice Kejutan: - (sudah mencapai 48) Aliansi bersama Roosophire Ransel besar, ransel kecil, satu belati, satu pisau, satu dendeng sapi, satu tempat minum dua liter Tanpa sadar, pemuda dari Satu ini menggigit bibir bawahnya. Panik, sungguh. Urie sangat panik. Dia tidak pernah merasa begitu panik sejak Hunger Games dimulai, bahkan tidak merasakan sepanik ini saat gempa bumi tadi menerpanya. Mengapa dia bisa sepanik ini, tanyamu? Sudah beberapa waktu tadi mereka, dirinya dan juga Roosophire, hanya berdiam diri disini, tanpa menyerang maupun diserang. Mereka kesakitan, malah, karena alam yang menyerang mereka. Ketika grupmu terdiri dari dua orang, dan kedua orang itu sama-sama menderita kesakitan, itu bukan hal yang patut dibanggakan, kau tahu? Mereka sudah terlalu lama berdiam diri disini, sementara peserta lain sudah tentu tetap selalu berjalan, dengan kata lain posisi mereka semakin dekat. Dan tentunya posisi Urie dan Miss Roosophire terancam. Rasanya Urie ingin melukai bibirnya saat ini. Terancam diserang ketika kondisi mereka berdua sedang tidak bagus? Hei, jangan bodoh! Mendingan Urie mati di bloodbaths daripada mati karena lengah! ... tidak juga, sih. Ia menghela nafasnya, mengobrak-abrik isi ranselnya untuk mencari obat yang kira-kira bisa menyembuhkan kondisi Miss Roosophire. Kasihan. Mereka partner, satu distrik dan juga satu aliansi, mereka harus saling bantu, no? --kantong tidur, tambang, korek api, obor, lentera, kawat, sarung tangan. Glek. ”Miss...” Gumamnya sambil memerhatikan isi ranselnya dan ransel rampasannya, ”Apa menurutmu ada yang bisa dijadikan obat?” (Kenapa malah kamu yang nanya, Urie.) ”Oh, bagaimana kalau air? Air saja... ya? Setidaknya air bisa membuat orang tenang, ‘kan…?” Baru saja Urie mau mengeluarkan botol air dua liter yang sudah habis setengahnya itu dari dalam ransel, ketika ia menangkap keberadaan sosok kecil yang agak jauh dari mereka. Itu... hewan kecil? Ah! Manis sekali, lumayan bisa jadi cinderamata untuk adiknya nanti kalau Urie berhasil menang, kekeke. ”Hei, lihat, Miss Roosophire!” Telunjuknya mengarah ke bayangan kecil tersebut sambil memasang senyum lebar, ”Disana ada hewan imut, mirip boneka—WUAA!!” Urie kelabakan ketika muncul sesuatu yang kecil, bagaikan peluru, datang dari arah hewan tersebut dan menuju ke arahnya. Ia berlari menghindar secepat mungkin. Tubuhnya langsung merunduk. Ketika sudah aman, dia memerhatikan si ’peluru’—bukan, bukan peluru, tapi... kenari?? ”HEI!! Kamu nggak jadi aku jadikan boneka, ngerti!?” Bentaknya pada makhluk itu. Untung tadi serangannya nggak kena. Dont judge a book by its cover, hah? |
|
![]() |
|
|
| Tume Tinkham | Sunday Jun 9 2013, 07:26 PM Post #48 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 64 dari Panduan + 5 (hujan) = 69 || AP: - + AP SENJATA: - || KS: - || TARGET SERANGAN: - || DICE KEJUTAN: 22 + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] || JARAK SERANG: 24 + 10 (jarak tupai) = 34 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] 2 tempat minum kulit, 1 belati, 1 lentera Serangannya tidak kena. Pinoy menyerang balik dan juga tidak kena. Lalu, laki-laki itu pergi. Pokoknya pergi hingga berada di luar jarak serang Tume. Ini yang bikin dia merasa gagal. Tume ditinggal sendirian. Udara begitu dingin. Peserta dari distrik sepuluh ini teringat ransel kecilnya yang berwarna putih tulang dan memeriksa apakah di dalam sana ada sesuatu yang berharga atau tidak. Ia menemukan sarung tangan dan segera mengenakannya. Juga ada biskuit yang juga segera dibuka pembungkusnya dan dimakan. Baginya ini sudah cukup melindunginya dari hawa buruk. Tume berpikir kalau dia harus mencari tempat untuk bersembunyi dan menunggu sampai dirinya tidak capek barulah mencari hewan buruan untuk dikuliti atau apa. Jujur, dia merasa perubahan arena ini malah menyulitkannya. Udara begitu dingin dan di tempat macam begini ia yakin tidak ada sesuatu yang bisa dimakan. Hujan yang turun adalah satu-satunya sumber air yang bisa ia nikmati tanpa rasa khawatir karena lewat beberapa jam sejak dia mulai mencicipi air hujan itu, tidak ada yang salah akan dirinya. Tume membuka mulutnya lagi ke arah langit dan membiarkan air memasuki mulutnya. Setelah selesai memakan seluruh biskuitnya dan merasa ada tenaga baru berkat biskuit itu, ia memutuskan untuk mengintai ke arah mana Pinoy pergi. Laki-laki dari distrik lima itu pasti belum pergi terlampau jauh mengingat mereka baru saja saling serang beberapa menit yang lalu. Tume mulai melangkah sembari memperhatikan sekelilingnya. Di sekitarnya banyak pohon tetapi pohonnya begitu memilukan. Hanya sedikit dari pohon-pohon tersebut memiliki daun seakan-akan di tempat ini memang sudah dilanda musim dingin setengah abad. Di mana-mana tampak kering dan juga berwarna membosankan. Pemandangan ini jauh berbeda dengan hutan tempatnya berada sebelumnya. Hutan dipenuhi aneka warna tetapi bila membandingkan seberapa berbahayanya dua tempat itu baginya di sini lebih aman karena begitu hening dan dia bisa mendengar sesuatu mendekat dalam jarak beberapa meter sekalipun. Ha. Baru saja dia menarik napas lega karena mengira dirinya sendirian, mendadak bunyi berisik sesuatu bergerak menarik perhatiannya. Tume menoleh dan melihat tupai yang sama dengan sebelumnya kembali menyerang dirinya. Bocah laki-laki ini sontak berlari menghindari peluru-peluru yang diarahkan ke arahnya oleh tupai tersebut. Semula Tume mengira tupai itu akan menggigitnya karena seperti yang dipelajarinya di distrik sepuluh, beberapa hewan pengerat sangat berbahaya bila menggigit. Tapi, yang dilakukan oleh tupai itu adalah bukan mencoba menggigitnya tetapi kembali melempar sesuatu ke arahnya. |
|
![]() |
|
|
| Pinoy Annelli | Sunday Jun 9 2013, 07:50 PM Post #49 | |
![]()
|
DISTRIK 5 || HP: 32 berdasarkan panduan + 5 (hujan) = 37 || AP: [result]3&3,1d8,0,3&1d8[/result] + AP SENJATA: [result]1&1,1d2,0,1&1d2[/result] (panahan) || KS: [result]1&1,1d24,0,1&1d24[/result] || TARGET: Tume Tinkham (D10) || DICE KEJUTAN: 23 + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] || JARAK SERANG: 26 + 10 (muttan tupai) = 36 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] 1 kotak biskuit, 1 tempat minum kulit, 1 belati, 1 bungkus dendeng, 1 panahan, 1 kaos kaki Hujan yang turun membasahi kepalanya makin membuat diri pemuda ini kedinginan. Ia meleset dalam menyerang Tume dan sebelum bocah dari distrik kelas bawah itu sanggup memberi balasan, ia segera berpikir sewaras mungkin dengan melarikan diri. Ia tidak menjamin Tume Tinkham bisa memburunya atau tidak tetapi jelas langkah kakinya lebih panjang dari milik lawannya itu. Entah sudah lewat berapa menit Pinoy berlari tanpa arah. Tujuannya hanyalah membuat jarak sebesar mungkin dengan Tume. Di satu titik akhirnya dia berhenti sembari bersandar di sebuah pohon besar. Ia memegangi sisi tubuhnya. Rasanya sakit karena dirinya sudah berlari cukup jauh nampaknya. Dia berusaha mengambil napas dan mencoba rileks barang sebentar. Kemudian, ia memperhatikan sekelilingnya dan akhirnya memutuskan untuk duduk bersandar di pohon sembari menganalisis apa yang akan dilakukannya di tempat bersalju macam begini untuk bertahan hidup. Tempat ini kelihatannya tenang tetapi Pinoy tetap merasa yakin bila Capitol tidak akan membuat para peserta hidup nyaman sedetik saja. Oleh karena itu, sebelum ada halangan terjadi, pemuda dari distrik lima ini menurunkan ranselnya dan mencari apakah di dalam sana ada benda yang bisa digunakannya untuk mempertahankan diri dari dinginnya lingkungan sekitarnya. Pinoy mendengus kecewa ketika menemukan tidak ada yang bernilai di dalamnya untuk mempertahankan dingin, kecuali korek api tentunya. Pinoy tidak akan membahayakan keberadaannya dengan mencoba menyalakan api. Mungkin nanti saja kalau memang dirinya begitu kedinginan. Lalu, dia teringat akan kaos kaki milik Winona dan itulah yang menurutnya benda yang akan menyelamatkannya dari rasa dingin. Pemuda ini melepas sepatunya dan memasangkan kaos kaki ke sana. Di saat itu rasa nyeri yang dihasilkan Tume mengganggunya. Pinoy seperti sekarat di sini. Ia bingung apakah pelatihnya memperhatikan dirinya atau tidak karena sudah jelas bila Pinoy Annelli membutuhkan sponsor untuk terus bertahan. Tapi, sponsor untuknya belum juga turun. Selang beberapa menit termangu memperhatikan putihnya salju di depanya, Pinoy menutup kembali ritsleting ranselnya dan mengendongnya kembali. Ia kembali berdiri dan bersiap melanjutkan perjalanan dengan kaki yang sedikit nyaman daripada sebelumnya dan melihat Tume Tinkham berlari entah mengapa dari jarak beberapa meter di sebelah timur. Sepertinya bocah itu belum menyadari keberadaannya. Dan Pinoy tentu saja berharap ini yang akan membuat dia menang atas Tume. Pinoy mempersiapkan anak panah serta busurnya dan membidik peserta dari distrik sepuluh itu. Huh. Membidik orang yang sedang berlari itu susah. |
|
![]() |
|
|
| Ethan Nestor | Sunday Jun 9 2013, 08:58 PM Post #50 | |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 36 || AP: - + AP dari senjata: - || KS: - TARGET: - || DICE KEJUTAN: 51 + [result]3&3,1d12,0,3&1d12[/result] || JARAK SERANG: 114 + [result]4&4,1d12,0,4&1d12[/result] Pedang bermata satu, tombak, dan trisula Tubuhnya sudah membaik. Ethan bahkan hampir menghabiskan sebungkus biskuit miliknya. Tetapi kemudian ia menahan nafsunya untuk mengunyah biskuit. Harus ada persediaan untuk makan. Ia tak mau kelaparan di sini. Lagipula pengetahuannya tentang tumbuhan tidak terlalu banyak. Salah-salah malah memakan tanaman beracun dan menimbulkan masalah. Kini tubuhnya sudah bisa tegak, tak perlu bertumpu lagi pada tombak. Nafasnya benar-benar normal. Ia menyimpan lagi biskuit di samping ransel, jaga-jaga kalau nanti membutuhkan camilan seperti tadi. Langkahnya terus bergerak. Ethan melirik sekilas ketika Ferina memilih untuk menemani Hada, menjawab pertanyaan tentang siapa pembunuh Floryn. Ethan memilih diam, mempercayai bahwa Ferina bisa menjelaskan lebih baik. Biasanya pria akan mendengar penjelasan wanita. Awas kalau Hada sampai tidak menurut pada Ferina alih-alih malah menurut pada Ethan. Mengerikan. Langkah Ethan terhenti begitu mendengar suara Ferina yang terdengar tidak baik. Pemuda itu menoleh, mendapati gadis Secret sudah terjatuh dan bertumpu pada trisula-nya. Ethan batal meneruskan jalannya, ia berbalik dan menghampiri gadis itu. Ia ikut berlutut di hadapan Ferina, memastikan apa yang terjadi. Irisnya bergerak ke sekitar mereka, memastikan kalau ada yang menyerang Ferina secara diam-diam. Tetapi hutan di sekitarnya sepi, hanya terdengar desau angin. Gadis itu menyebut kata virus. Virus? Apakah itu yang menyebabkannya sesak nafas dan kejang-kejang tadi? Tetapi apa yang dialami Ferina berbeda. Gadis itu tidak kejang, pun sesak nafas. Sejak tadi Ferina hanya memegang kepalanya. “Apa yang terjadi?” Sepertinya gadis itu sangat kesakitan. Ethan menaruh tombaknya. Tangannya terulur meraih kepala Ferina dan menariknya ke dalam pelukan. Ia mengusap kepala gadis itu pelan masih dengan tatapan mencari siapa musuh yang ada di dekat sini. Atau ini memang kerjaan Capitol? Yeah, walaupun sudah berjalan cukup jauh, tetap saja Capitol masih bisa mengawasi, ‘kan? “Hada, kita berhenti dulu. Kau tahu obat untuk mengatasi ini?” tanyanya pada pemuda Atala. Siapa tahu Hada mengerti tentang obat-obatan sehingga dapat menyembuhkan Ferina lebih cepat. Perasaannya tidak enak. Setelah serangan tupai pada Hada tadi, ia yakin masih ada serangan-serangan lain yang diciptakan Capitol, atau oleh peserta lain. Sudah diizinkan godmod Ferina Secret. |
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |















9:33 PM Jul 11