Welcome Guest [Log In] [Register]

MAY THE ODDS BE EVER IN YOUR FAVOR



[ INACTIVE ]
TERM 9: 2193 - 2194




[+] Topik AU: 4/5
[+] Visualisasi Asia: 3/3
[+] Capitol: 5/5
[+] Distrik Satu: 4/5
[+] Distrik Dua: 4/5
[+] Distrik Empat: 5/5
[+] Distrik Tiga Belas: 2/5
[+] Balita/Dewasa: 5/5



IndoCapitol


TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL
PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH
PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI
TRAINING CENTER || ARENA




Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain.

PEMENANG
HUNGER GAMES 54



{DISTRIK 1}



KREIOS EPHRAIM


MUSIM PANAS



21,3° - 23,6° C
21 Juni - 20 September
Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan.



WAKTU INDONESIA BAGIAN BARAT (JAKARTA)




Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

TWITTER & CHATBOX


Twitter
Chatbox



FORUM LOG
Waktu Update
Sabtu, 11 April 2015 Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out!

PEMBERITAHUAN
Kepada Informasi
Semua Member Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum
Semua Member Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2)
Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda.

Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru.

Bergabunglah bersama kami!

Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum:


Username:   Password:
Locked Topic
Arena Satu - Hutan Beracun
Topic Started: Tuesday Jun 4 2013, 08:15 PM (4,101 Views)
Redemptus Maleveich
Member Avatar

Sebutlah pemuda Maleveich ini tengah berpuas diri melihat mayat-mayat bergelimpangan di seputar Cornucopia. Senyum tak kunjung usai tergambar jelas pada wajahnya sambil mengganti setiap potongan gambar yang menampilkan wajah-wajah lusuh menyedihkan. Tak henti-hentinya senyum Redemptus muncul dalam raut wajahnya yang pucat. Berikutnya, layar di depan memperlihatkan potongan tubuh yang sudah tercerai berai. Perut yang telah terkoyak secara paksa, bola mata yang sudah tidak utuh lagi, wajah yang masih meninggalkan teror dan ketakutan. Darah di mana-mana.

Akan tetapi, dia masih kecewa belum ada peserta yang nekat meledakkan diri sebelum waktu enam puluh detik usai. Kalah taruhan lagi—seperti tahun kemarin. Biasa.

Meriam dibunyikan sebanyak dua puluh lima kali menandakan jumlah nyawa yang telah bergabung dengan penghuni dunia lain. Semangat yang berkobar di masing-masing peserta sebelum pertumpahan darah dimulai boleh dikata mulai pudar dengan berkurangnya sebagian total peserta, hm? Dua puluh lima yang berpulang, tapi masih ada tanggungan dua puluh tiga lainnya yang harus diurus. Ck. Redemptus lebih memilih meledakkan mereka dalam satu tempat, entah kenapa dia menginginkan cara demikian. Tapi pada akhirnya cara itu tidak ditempuh.

Ekspresi menghina menggantikan senyum di bibirnya kala menyaksikan kumpulan manusia yang mulai bergerak ke satu tempat. Maniknya berpindah ke kumpulan peserta yang berpencar ke berbagai tempat di luar Cornucopia. Tiga arena telah dipersiapkan untuk mereka. Salah satunya adalah hutan cukup lebat dengan rimbunan hijau di sana-sini yang akan menyambut kedatangan anak-anak yang tersesat. Tidak hanya hijau saja yang bisa dilihat, tapi kau bisa melihat warna-warna cerah indah yang menghiasi hutan. Masih sama indahnya dengan penampilan visual yang tertangkap sebelum mereka bergerak saling bantai satu sama lain. Kupu-kupu bersayap pelangi nan indah pun berterbangan sesuka hatinya dengan sengatan dan racun yang membawa mimpi buruk. Kau bahkan bisa menemukan buah-buahan menggiurkan tergantung di antara semak. Beracun, tentunya. Semua di sini beracun. Oh, Redemptus juga tidak lupa menambahkan sungai yang mengalir sebening kristal yang berkilau ketika tertimpa sinar matahari. Kurang baik apa lagi demi memanjakan penglihatan peserta sejenak.

Arena sudah memasuki hari ketiga dan Redemptus masih belum berniat mengubah segalanya. Nah, selamat melanjutkan permainan kalian, tributes.

  • Perhatikan deskripsi saya baik-baik.
  • Post pertama tidak diperbolehkan menyerang.
  • Untuk post pertama, berlaku pengurangan Health Point sebanyak 5 untuk semua peserta yang masuk ke arena ini (deskripsikan kena duri dari hutan beracun atau menghirup racun yang ditebarkan kupu-kupu bersayap pelangi).
  • Tetap perhatikan Panduan Hunger Games #50.

Offline Profile Goto Top
 
Yasmine Silvertongue
Member Avatar

DISTRIK 10 || HP: 39 – 5 + 6 (ransel sedang) = 40 (belum tambah makanan, boleh kan?) || AP: - || KS: -
TARGET: - || DICE KEJUTAN: [result]9&9,1d12,0,9&1d12[/result] || JARAK SERANG: [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result]
empat dendeng sapi


Pilihan mereka sesungguhnya tidak banyak.

Jauh di ujung sana, sebagai pembatas horizon pula, berdiri menjulang sebuah gunung yang tampak bersalju pada bagian puncaknya, sedangkan jika memandang ke sekeliling, sejauh ini hanya merupakan hamparan padang rumput. Sangat terbuka dan Yasmine tidak bisa membayangkan sebuah padang rumput di Distrik Sepuluh yang nyaman dan menjanjikan kedamaian tersebut menjadi tempat pembantaian. Ketiga peserta yang membentuk sekutu baru ini akhirnya melangkah ke dalam hutan.

Yasmine selalu merasa percaya diri berada di dalam hutan. Namun ini… ada yang janggal.

Tepat saat kakinya menapaki lahan yang jauh lebih gembur dan tidak berumput tinggi, ia kira rimbun pepohonan akan memberikannya ketenangan barang sesaat. Hilang dibalik pepohonan lebat. Ya, itu berhasil. Tetapi udaranya begitu palsu. Bahkan rasanya, melihat kupu-kupu yang Yasmine yakin akan menjadi favorit Leira terasa aneh. Ia mungkin terlalu lama diam memaku di tempat dan secara tidak sadar mengatur pernapasan dan detak jantungnya, secara tidak sadar beristirahat.

Salah. Ia nyaris melakukan kesalahan fatal.

Rasanya ia mual dan merinding secara tiba-tiba. Gejala yang menimbulkan kejang-kejang, ia berusaha menahannya. Sial. Memang seharusnya tidak mungkin hutan ini begitu indah. Keindahannya sangat palsu sehingga tersirat kekejian Capitol di dalam sini. Udara beracun yang baru saja ia hirup dalam-dalam. Membuatnya terpaksa berhenti, menghentikan pelarian, menghambat dirinya sendiri, Tume, dan Shinzo.

“Maaf, tunggu sebentar, kurasa.. istirahat.”

Mereka butuh itu, sangat butuh itu. Meski dengan begitu, Yasmine terpaksa harus siap jika mereka menerima kedatangan seorang peserta lain.

Apapun yang terjadi… Ketahuilah kami menyayangimu.

Dan apapun yang terjadi pada diri gadis sulung ini, ketahuilah ia pun menyayangi Jess dan Leira. Tanpa syarat. Mereka tidak seharusnya melihat Yasmine seperti ini.
Offline Profile Goto Top
 
Tume Tinkham
Member Avatar

DISTRIK 10 || HP: 75 – 5 (pengurangan HP) + 3 (ransel kecil) = 73 || AP: - || KS: -
TARGET: - || DICE KEJUTAN: [result]11&11,1d12,0,11&1d12[/result] || JARAK SERANG: 2+[result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result]
2 tempat minum kulit, 1 belati, 1 lentera
(Aliansi dengan Yasmine Silvertongue dan Shinzo Kawabata)



Bocah laki-laki berumur dua belas tahun ini berlari tanpa peduli sekitarnya dan baru berhenti ketika ia melihat pemandangan menakjubkan yang datang dari apa yang ada di sekitarnya. Mungkin dia bermimpi, tapi rasa nyeri di dadanya yang menusuk adalah pertanda bahwa dia sedang tidak tertidur.

Untuk sesaat Tume Tinkham, peserta dari distrik sepuluh yang baru saja meloloskan diri dari pembunuhan massal Cornucopia, merasa dia berada di dunia yang berbeda dari yang selama ini dikenalinya. Barisan pepohonan dengan semak-semak serta beberapa serangga—semacam kumbang—dengan warna-warna cerah mereka sempat menghipnotisnya. Ia juga menghirup bau-bau wangi memabukkan yang sempat membuatnya merasa berada di dunia peri. Ini dunia yang baginya sama sekali tidak cocok sebagai tempat pembantaian. Diam-diam Tume memuji bagaimana arena telah diatur sedemikian rupa untuk membuat para peserta terpesona dan merasa sedikit terhibur. Peserta yang berumur dua belas tahun ini menghabiskan beberapa detik dengan mengamati sekitarnya dan menyadari bila ada gerakan di dekatnya. Ia menoleh dan menyadari kedatangan Shinzo dan Yasmine.

Sebuah senyum mengembang di wajah Tume.

“Hai,” sapaan hangat seolah-olah mereka hanya berada di acara jumpa peserta di Capitol dan bukannya di arena.

Tume berharap mereka bisa beristirahat sebentar. Dia butuh beberapa menit untuk mengatur napas dan membiarkan dirinya mengamati sekitarnya dengan lebih teliti. Kira-kira di mana mereka berada dan apa yang bisa mereka lakukan di tempat ini.

Yasmine meminta mereka untuk beristirahat dan Tume hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
Edited by Corialonus Snow, Wednesday Jun 5 2013, 10:39 AM.
Offline Profile Goto Top
 
Haymitch Abernathy
Member Avatar
Pemenang Hunger Games ke 50

(( BANYAK KATA [result]1&1,1d3,0,1&1d3[/result] x 180 ))
DISTRIK 12 || HP: 96 + 3 (RANSEL) – 5 (ARENA) = 94 || AP: - || KS: -
TARGET: -|| DICE KEJUTAN: [result]8&8,1d12,0,8&1d12[/result] || JARAK SERANG: [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result]
pedang (2) dan pisau (2)





Cornucopia. Dan acara mandi darah.

Detail yang diberikan jelas-jelas bisa membuat semua makanan yang telah susah payah sang adam telan untuk sarapannya tadi. Acara saling tebas leher itu benar-benar sesuai dengan judul makanan pembuka dalam Hunger Games. Cairan pekat amis itu menggenang di berbagai arah. Kali terakhir Abernathy ingat, dua peserta dari distrik dua belas, juga bernasib demikian. Pemuda distrik Dua Belas, selain dirinya, bahkan tanpa manusiawi nyaris dijadikan daging cincang gratis oleh kawanan karier. Tak hanya rekannya; abu badainya sempat memerhatikan salah seorang peserta. Gadis. Kepalanya menggelinding dengan epik di atas rumput ‘surga’ palsu milik Capitol.

Jenius. Bukan sesuatu yang ada dalam mimpimu setiap malam.

Bahkan memimpikan rekan satu distrikmu seperti itu pun kurasa tidak akan pernah bisa. Mungkin kawanan Karier memang setolol itu, hingga mengira bahwa memisahkan anggota tubuh peserta lain akan mendapatkan sambutan yang membahana di seantero Panem. Otak mereka tumpul. Hanya akan ada rasa marah yang sungguh jika boleh pemuda Abernathy deskripkan seenak kepalanya sebagai kemarahan perwakilan dari Dua Belas yang ditahan dan tidak pernah disuarakan. Terbukti dengan mereka hanya menghujat di belakang namun tetap pias tiap kali penjaga perdamaian berlalu lalang di depan mereka. Entah dengan distrik lain. Seumur hidup, Haymitch hanya tinggal di distrik penambang.

Ah, tapi bacotan bocah macam dia apa didengar?

Capitol itu tuli.

Ia mulai melangkah ke dalam hutan. Tanpa menoleh ke belakang, ia menyelipkan pisau pada tasnya. Masa bodoh jika dalam hitungan detik nanti—fantastis, Capitol. Kedua maniknya menatap hal bergerak di depan; dengan warna yang bisa ia pastikan bahwa itu termasuk satu dari sekian banyak genetika milik para bedebah di balik semua ini. Warna yang saling timpang dan aroma yang menusuk. Reflek, pemuda Abernathy berhenti dan memutar balik mencari jalan lainnya. Napasnya sendiri mulai sesak. Abernathy muda kita sedang berpikir sangat jenius dengan mengira semua ini hampir selesai.

Ternyata baru permulaan. Brengsek. Kuadrat.



CMIIW TAG DONG. :))
Offline Profile Goto Top
 
Zephaniah Lore
Member Avatar

DISTRIK 1 || HP: 111 - 5 = 106
Jarak serang: [result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result] || Dice kejutan: [result]7&7,1d12,0,7&1d12[/result]
Link bukti membunuh || Jumlah kata: [result]1&1,1d3,0,1&1d3[/result] x 180
Barang bawaan: 1 ransel besar, 1 ransel kecil, 1 kapak, 1 belati, 1 tombak, 1 bungkus dendeng, 1 karung apel dan kiwi, 1 tempat minum 2 liter, 1 botol madu, 1 kaos kaki, 1 kompas, 1 senter.




...

Tahu-tahu sudah memasuki hari ketiga saja ia berada di arena Hunger Games. Lepas dari bloodbaths yang menyenangkan itu, ia harus beralih ke arena yang sesungguhnya. Dengan gerakan secepat yang ia bisa, ia membereskan semua barang bawaannya, menjarah senjata dan makanan apa pun yang bisa dibawanya. Kapak dan belati tergantung di pinggangnya, tombak ia jadikan tongkat pegangan untuk berjalan (yeah, Zephaniah terlalu malas mengakui tubuhnya mulai kelelahan karena penyakit paru-parunya). Semua makanan yang ia temukan, ia jejalkan dalam ransel besar yang ia bawa, kecuali sekarung buah-buahan yang ia seret-seret.

Keringatnya terus mengucur, napasnya pendek-pendek untuk mengurangi rasa sakit yang menekan dadanya. Ia teringat pada Florynn Lee. Tentu saja ia masih menyayangkan betapa cepat gadis itu mati. Padahal gadis itu luar biasa. Ia sempat melihat gadis itu membantai para peserta non-karir di bloodbaths. Tenaga dan kecepatan gadis itu tidak main-main. Bahkan ia saja hanya sempat membunuh satu orang... dua orang kalau saja Urie itu tidak ikut campur menggorok leher si distrik delapan.

Uhuk... uhuk...

Matanya terus bergerak, memerhatikan sekelilingnya. Hutan yang dimasukinya begitu indah. Tapi ia tahu tidak mungkin keindahan itu tidak ada apa-apanya. Di mana para tribut yang lain, ia masih belum melihat mereka. Tapi permainan akan segera dimulai.

Takkan lama lagi.

Hehehe.
Offline Profile Goto Top
 
Winona Curealight
Member Avatar

Distrik = 8 || HP = (21-5+5+5)=27 (Tambah 2 makanan) || AP= - || KS=- ||TARGET =-|| Dice kejutan = [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result] || Jarak Serang = [result]9&9,1d12,0,9&1d12[/result]
1 Kotak Biskuit, 1 Dendeng, 1 Pisau, 1 Panahan




Winny berlari mengikuti dua lelaki yang telah berlari di depannya. Seseorang dari mereka bahkan mengajaknya. Winny hanya tersenyum sebisanya. Perih di kakinya yang disembunyikan kini sudah memperlihatkan diri. Darah keluar dari kakinya yang digunakannya untuk berlari. Winny memasukki hutan yang berancun. Winny bisa merasakan duri-duri menusuk kakinya. Duri itu beracun. Winny mencoba menghindarinya tapi masih saja ada yang menusuk.

Winny yang mendapatkan 1 kotak biskuit, dendeng, pisau dan panahan. Entah ia harus merasa senang atau tidak. Arena semakin ganas. Peserta yang semakin sedikit membuat bahkan sekutu saja bisa menjadi lawan. Winny tidak terlalu memikirkannya. Ia lebih baik bertahan sebisanya dengan sekutu yang ada didekatnya. Nama mereka kalau winny tidak salah ingat itu adalah Pinoy dan Gavyn.

Winny melihat Gavyn sudah tidak memiliki senjata. Itu buruk. Bagaimana ia bisa bersekutu bahkan melindungi diri saja tidak mampu.

"Kau butuh senjata. Ini ambil pisauku."

Winny menyerahkan pisau yang ada padanya pada Gavyn. Lelaki yang nampak kuat tapi tidak memiliki senjata. Winny juga tidak terlalu pandai menggunakan pisau. Pisau harus digunakan pada jarak dekatkan. Jadi yang berikan saja toh tidak merugikan Winny.

Winny sebenarnya butuh istirahat sebentar tetapi ini arena pertarungan bukan piknik. Karena racun yang masuk melalui duri itu semakin melemahkannya. Winny memakan dendeng dan kotak biskut yang diambilnya saat arena berubah. Setelah memulihkan tubuhnya dengan sedikit makanan itu, Winny harus mengambil jarak serang. Ia harus mengambil jarak serang yang menguntungkan. Ya tahulah, hanya keberuntungan yang dipunyai Winny sekarang apabila melihat keadaannya yang hampir mengenaskan. Satu hal yang mengusik pikirannya. Semoga pilihannya bersekutu dengan mereka, ya kedua lelaki itu, dapat membuatnya bertahan lebih lama. Mereka dari Distrik yang berbeda dari Winny tapi yah mereka cukup kuat. Winny hanya perlu memanfaatkan keadaan untuk bertahan hidup di Arena yang bisa dibilang tidak pernah tidak memiliki kejutan.
Offline Profile Goto Top
 
Pinoy Annelli
Member Avatar

DISTRIK 5 || HP: 75 – 5 (pengurangan HP otomatis) + 6 (ransel sedang) = 76 || AP: - || KS: -
TARGET: -|| DICE KEJUTAN: [result]11&11,1d12,0,11&1d12[/result]|| JARAK SERANG: 9+[result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result]
1 kotak biskuit, 1 tempat minum kulit, 1 belati, 1 bungkus dendeng
(Aliansi dengan Winona Curealight dan Gavyn Onwyn)



Adam dari distrik lima ini mempertahankan laju larinya dan menembus deretan pepohonan yang berdiri rapat. Cornucopia ditinggalnya di belakang. Waja Aidy masih jelas nampak di wajahnya. Sampai kapanpun Pinoy akan menanggung perasaan bersalah ini. Seharusnya dia membantu gadis dengan rambut merah itu. Seharusnya begitu. Dan dia merasa begitu menyesal mengapa hal pertama yang dilakukannya di arena hanyalah meladeni permainan milik Tume Tinkham dan Shinzo Kawabata. Seharusnya dia lebih peka terhadap bahaya yang mengintai rekannya itu.

Suara napasnya menderu.

Pinoy berusaha meninggalkan Cornucopia sejauh mungkin hanya karena di sana ada tubuh tak bernyawa milik Aidy. Ia merasa tidak mampu berada di tempat yang sama dengan gadis itu. Itu saja.

Pemuda ini nyaris terantuk akar pepohonan serta tanpa sengaja menggores ujung pergelangan tangannya dengan duri yang bergelantungan berbahaya di dekatnya. Pinoy berusaha menyambar batang pohon terdekat untuk menjaga kedua kakinya agar tetap menapak di tanah. Di saat itu juga ia tersadar akan lingkungan sekitarnya. Pepohonan yang tumbuh cukup rapat dengan beberapa akar besar yang muncul dari dalam tanah adalah pertanda bahwa dia baru saja mengenyahkan Cornucopia dari pandangan matanya. Ia merasa seidkit lebih tenang sekarang. Entah sudah berapa lama dia berlari tetapi harapannya Cornucopia sudah berada begitu jauh di belakang. Lagi pula, baginya ini bukan tempat yang nyaman untuk bersantai begitu saja kendati pemandangan di sekitarnya cukup menakjubkan.
Edited by Corialonus Snow, Wednesday Jun 5 2013, 10:41 AM.
Offline Profile Goto Top
 
Shinzo Kawabata
Member Avatar

DISTRIK 8 || HP: 75 – 5 + 6 (ransel sedang) = 76 || AP: - || KS: -
TARGET: -|| DICE KEJUTAN: [result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result] || JARAK SERANG: 3+[result]3&3,1d12,0,3&1d12[/result]

3 tempat minum kulit, 1 belati
(Aliansi dengan Yasmine Silvertongue dan Turne Tinkham)



Takut?

Iya.

Shinzo Kawabata merasa dia baru saja lolos dari marabahaya paling mutakhir seumur hidupnya. Ia melompati beberapa batu yang muncul di permukaan tanah dan meninggalkan padang rumput secepat yang dia bisa. Ia merasa Yasmine Silvertongue menyapanya dan Shinzo membuang muka. Ia memang sedang tidak ingin banyak berinteraksi mengingat duka mendalam soal Kyle masih menghantuinya. Menurutnya, ini hanya bagian dari mimpi buruknya. Tapi, dia sebal harus mengakui bahwa mimpi buruknya juga adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi mengingat suara napasnya yang memburu adalah pertanda bahwa dirinya itu hidup. Hidup dan nyata.

Laki-laki yang kesehariannya hanya suka melukis itu berusaha mengejar Tume Tinkham, sekutu dadakannya di arena, dan berhasil mengekori anak kecil itu hingga menuju sebuah tempat yang diselimuti warna hijau diselingi corakan cerah beragam. Rerumputan dengan tinggi semata kaki menyambutnya dan pandangan dari Shinzo kini teprukau dengan barisan kupu-kupu yang melintas di depannya seolah tidak terusik sama sekali dengan gangguan dari pendatang beda spesies itu. Entah mengapa Shinzo merasa mereka memasuki sebuah arena yang begitu tidak cocok sebagai lokasi di mana mereka mesti saling bunuh. Tapi, Capitol punya pikiran berbeda tentunya sehingga dia mulai megira-ngira kira-kira apa yang membuat mereka diberikan tempat yang indah macam begini.

Tume menyapa dan Shinzo hanya membalas dengan anggukkan kecil.
Edited by Corialonus Snow, Wednesday Jun 5 2013, 10:40 AM.
Offline Profile Goto Top
 
Gavyn Owyn
Member Avatar

DISTRIK 11 || HP: 75 – 5 = 70 + 6 (ransel sedang) = 76 || AP: - || KS: -
TARGET: -|| DICE KEJUTAN: DICE KEJUTAN: [result]11&11,1d12,0,11&1d12[/result] || JARAK SERANG: 11+[result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result]
1 pasang kaus kaki, 1 lentera, 1 pisau, 1 korek api
(Aliansi dengan Pinoy Anneli dan Winona Curealight)



Mungkin hidup memang tidak semonoton yang dia pikir.

Well, satu orang cukup beruntung untuk memberikan sejarah baru di dalam hidupnya untuk setiap tahunnya. Gavyn menyinggung permainan maut ini tentunya. Pemenang akan menjadi orang tersohor. Namanya akan didengungkan di seluruh jagad Panem dan distriknya akan bangga telah melahirkan sosok itu dan bukannya menelantarkannya ke anjing hutan kelaparan. Semenjak kematian Adina di dekatnya, pemuda berkulit gelap ini merasa semuanya menjadi begitu berat baginya. Ia mengenali Adina sebagai sosok yang tegas dan juga pemberani. Kemampuan bertahan hidup dari perempuan itu tidak boleh dipandang sebelah mata dan Gavyn jelas membutuhkannya di sepanjang permainan ini.

Sebenarnya ini adalah pilihan yang sulit baginya—bergabung dengan distrik lain yang mungkin saja menikamnya dari belakang. Tapi, dia tidak bisa mengecek di mana sisa kawan distriknya berada karena semua begitu semrawut. Yang bisa dilakukannya hanyapasrah saja dan berlari mengikuti ke mana kaki milik Pinoy Annelli berada. Ia juga mendengar bunyi langkah kaki dari Winona dari distrik delapan di belakangnya. Ia tidak menyukai Shinzo, tapi dari bagian hati paling dalamnya, dia jelas tidak mungkin membiarkan perempuan dari distrik delapan itu dimangsa oleh kawanan brutal di Cornucopia.

Pinoy berhenti dan Gavyn pun demikian.

“Kuharap Cornucopia benar-benar sudah jauh di belakang sana.”

Ia memandang sekitarnya dan cukup kaget dengan apa yang menyambutnya.

Oh, wow.

Wow.

Lalu, Winona memberinya senjata.

“Ah, dan terima kasih dengan pisaunya.”

Malah dapat senjata dari Winona pula.

"Aku punya sepasang kaos kaki untukmu. Siapa tahu nanti kau butuh," ujar Gavyn seraya mengangsurkan sepasang kaos kaki untuk gadis baik hati itu.
Edited by Corialonus Snow, Wednesday Jun 5 2013, 10:44 AM.
Offline Profile Goto Top
 
Pietronella Hart
Member Avatar


DISTRIK 2 || HP: 78-5 = 73 || AP: - || KS: -
TARGET: - || DICE KEJUTAN: [result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result] || JARAK SERANG: [result]4&4,1d12,0,4&1d12[/result] || JUMLAH KATA: [result]3&3,1d3,0,3&1d3[/result] x 180.
2 pistol udara, 1 tombak, 1 belati




Udara berbau memuakkan.

Pih.

Ia memang tak lagi berada di kawasan Cornucopia, pun tak lagi berada di tengah pertempuran dengan remaja lain dalam rangka memperebutkan senjata dan ransel berisikan makanan, namun aroma khas dari tubuh-tubuh tak bernyawa yang bergelimpangan di sana seolah terus mengikuti kemanapun kakinya melangkah. Aroma kematian, bft. Mungkin hanya masalah psikologi biasa, kau tahulah, seperti bayangan maut yang menghantui siapapun yang menjadi saksi mata suatu peristiwa berdarah. Bayangkan bagaimana dengan sang pelaku sendiri, pastilah lebih terbayang-bayang. Hu. Gadis Hart ini mengernyit dan menggosok ujung hidungnya untuk mengenyahkan sisa-sisa bau anyir yang dihirup. Atau, mungkin ini semua hanya karena ceceran darah yang menempel di pakaiannya saja, eh?

Mencibir, tangannya lalu menepuk noda gelap pada baju sebagai hasil pertumpahan darah di Cornucopia kemarin. Sejenak ia memutar bola mata kala memikirkan masih berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghabisi sisa-sisa peserta yang ada, berapa lama waktu yang tersisa sampai dia harus bersabar dengan harum besi dan keringat yang pekat. Ck. Ingin membasuh diri, sungguh, tapi jika nyawa yang menjadi taruhannya ㅡ oh, kita tak tahu apakah mata air yang akan ditemukan di sekitar sini baik-baik saja untuk digunakan, bukan? ㅡ lebih baik membiarkan saja kulitnya lengket dan pakaiannya tetap bernoda.

Kemudian pandangannya memindai sekitar dengan seksama. Pepohonan nampak rapat di kanan dan kiri. Tidak hanya hijau yang tertangkap oleh maniknya tapi juga ada warna-warni cerah, o lihatlah ada buah-buahan yang terlihat begitu menggoda untuk dipetik. Mmhm, sayang, ia masih cukup waras untuk mengabaikan harum dan visual yang merangsang air liur untuk menitik. Waspada itu teramat perlu, manis. Di sini tidak hanya manusia saja yang bisa mencelakakannya. Pohon yang nampak tak berbahaya pun bisa menjadi penyebab kematian...



"Ugh."

Sialan. Baru juga membatin, tangannya sudah tergores duri. Ck.

Rasanya, pening.
Offline Profile Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
ZetaBoards gives you all the tools to create a successful discussion community.
Go to Next Page
« Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic »
Locked Topic


Theme design by Drama, theme coding by Lewis. of Outline and edited by Ntin, Ubi, and Ilma.