|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Arena Satu - Hutan Beracun | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Tuesday Jun 4 2013, 08:15 PM (4,102 Views) | ||
| Redemptus Maleveich | Tuesday Jun 4 2013, 08:15 PM Post #1 | |
![]()
|
Sebutlah pemuda Maleveich ini tengah berpuas diri melihat mayat-mayat bergelimpangan di seputar Cornucopia. Senyum tak kunjung usai tergambar jelas pada wajahnya sambil mengganti setiap potongan gambar yang menampilkan wajah-wajah lusuh menyedihkan. Tak henti-hentinya senyum Redemptus muncul dalam raut wajahnya yang pucat. Berikutnya, layar di depan memperlihatkan potongan tubuh yang sudah tercerai berai. Perut yang telah terkoyak secara paksa, bola mata yang sudah tidak utuh lagi, wajah yang masih meninggalkan teror dan ketakutan. Darah di mana-mana. Akan tetapi, dia masih kecewa belum ada peserta yang nekat meledakkan diri sebelum waktu enam puluh detik usai. Kalah taruhan lagi—seperti tahun kemarin. Biasa. Meriam dibunyikan sebanyak dua puluh lima kali menandakan jumlah nyawa yang telah bergabung dengan penghuni dunia lain. Semangat yang berkobar di masing-masing peserta sebelum pertumpahan darah dimulai boleh dikata mulai pudar dengan berkurangnya sebagian total peserta, hm? Dua puluh lima yang berpulang, tapi masih ada tanggungan dua puluh tiga lainnya yang harus diurus. Ck. Redemptus lebih memilih meledakkan mereka dalam satu tempat, entah kenapa dia menginginkan cara demikian. Tapi pada akhirnya cara itu tidak ditempuh. Ekspresi menghina menggantikan senyum di bibirnya kala menyaksikan kumpulan manusia yang mulai bergerak ke satu tempat. Maniknya berpindah ke kumpulan peserta yang berpencar ke berbagai tempat di luar Cornucopia. Tiga arena telah dipersiapkan untuk mereka. Salah satunya adalah hutan cukup lebat dengan rimbunan hijau di sana-sini yang akan menyambut kedatangan anak-anak yang tersesat. Tidak hanya hijau saja yang bisa dilihat, tapi kau bisa melihat warna-warna cerah indah yang menghiasi hutan. Masih sama indahnya dengan penampilan visual yang tertangkap sebelum mereka bergerak saling bantai satu sama lain. Kupu-kupu bersayap pelangi nan indah pun berterbangan sesuka hatinya dengan sengatan dan racun yang membawa mimpi buruk. Kau bahkan bisa menemukan buah-buahan menggiurkan tergantung di antara semak. Beracun, tentunya. Semua di sini beracun. Oh, Redemptus juga tidak lupa menambahkan sungai yang mengalir sebening kristal yang berkilau ketika tertimpa sinar matahari. Kurang baik apa lagi demi memanjakan penglihatan peserta sejenak. Arena sudah memasuki hari ketiga dan Redemptus masih belum berniat mengubah segalanya. Nah, selamat melanjutkan permainan kalian, tributes.
|
|
![]() |
|
|
| Replies: | |
|---|---|
| Yasmine Silvertongue | Tuesday Jun 11 2013, 10:26 PM Post #91 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP = 10 || AP : - KS : - Target - (yanglaingausahbullysaya#heh) || JARAK SERANG: 60 + [result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result] empat dendeng sapi(habis) DDR bawa saya sampe ke Feast aja ya /ketjup/ Ia berjalan tanpa suara. Bahkan tidak menyempatkan diri untuk membiarkan suara isak tangis keluar dari mulutnya. Masih ada sebelas peserta berkeliaran di taman bermain milik Pembina Permainan. Yasmine tidak menyangka, tentunya. Dari empat puluh delapan dan masih selamat hingga sebelas nyawa. Pulang? Ia belum mau menaruh banyak harapan. Aktivitas di daerah sekitar Gunung Berapi tampaknya berhenti total. Kini hutan menjadi tampak lebih hidup dan berbahaya. Mungkin sesuatu telah memicu keaktifan makhluk hidup yang ada di hutan ini. Mungkin semakin banyak orang-orang berkeliaran di hutan. Gadis ini terus berjalan, entah menuju apa dan berlari dari apa. Namun ia benar tentang beberapa hal. Mereka tidak hanya berdua, ada banyak orang di sekeliling mereka, banyak. Yasmine melihat keberadaan Gavyn Owyn tak jauh darinya, kemudian dua Karier yang berasal dari Distrik Empat, hanya mereka yang tersisa dari Empat. Ia melihat salah seorang dari mereka—yang masih lebih sehat dan tidak nyaris buta—menerjang Shinzo dan dirinya. Terlambat. Mungkin Yasmine terlalu tercengang dengan kehadiran sebuah parasut perak—tepatnya dua buah parasut perak ke dalam Arena. Bangsat. Memberikan sponsor bak memberikan amunisi agar dapat membantai yang lemah. Well, well… sekali brengsek tetap lah brengsek. Karier mana yang tidak biadab, hm? Yasmine hanya tersenyum sinis. Bahkan ia tidak bersuara ketika trisula milik pemuda dari Empat—yang bermarga Atala—berhasil melukai sebagian tubuhnya. Menimbulkan goresan panjang dan cukup dalam. Oh, menyerang dua orang yang lebih lemah karena rindu dengan gadis kecil yang mati di Bloodbath itu? Katakanlah, gadis itu meludahinya. Peduli apa ia dengan gadis kesayangan Atala dan Nestor itu? Ia sudah mati, masuk neraka tak peduli semanis apapun dirinya. Ia sudah pergi sama seperti Tume, Freida, dan Harry pergi meninggalkannya. “Mau balas dendam, Atala? Kau menyedihkan!” Shinzo, di lain sisi, menyerang Owyn ketika ada kesempatan. Dan ketika ada kesempatan dan tenaga pula, Yasmine menarik lengan Shinzo sekuat mungkin. Mereka terlalu banyak, dan meskipun menunda kematian adalah hal yang tergolong konyol, tetapi anggap lah Yasmine masih ingin menikmati udara barang sebentar lagi. “Lari!” |
![]() |
|
| Hada Atala | Wednesday Jun 12 2013, 07:15 PM Post #92 |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 100 || AP: - + AP (trisula): - || KS: - TARGET: - || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: 56 + [result]8&8,1d12,0,8&1d12[/result] 1 kapak, 1 tombak, 1 trisula, 1 tempat minum air ukuran 2 liter Biar terkena luka bakar yang lumayan parah, Hada nggak bisa diremehin lho. Ngasih tau aja. Atau mungkin sekarang dua peserta non karier itu udah tau setelah melihat sendiri bagaimana serangan Hada ke mereka? Diterjang pake trisula, pasti rasanya maknyus banget. Padahal ini pertama kalinya dia menggunakan trisulanya buat menyerang lho. Dia juga kaget, sedikit. Ngelihat bagaimana tiba-tiba aja dia jadi pandai menggunakan senjata. Ya kapaklah, ya trisulalah, ya tinggal tombaknya doang sih yang belum dicoba. Bingung gimana mau nyerang pake dua-duanya sekaligus. Mungkin habis ini sekalian dia coba hujamkan saja mata tombaknya yang runcing itu ke kepala orang yang udah melukai Floryn. Apapun itu, Hada yakin belum cukup untuk membayar nyawa adik kecil yang seharusnya dia lindungi. Hutang nyawa dibayar nyawa. Dan Hada bakal bayar lunas dengan kepala siapapun yang sudah menyerang Floryn, berapapun banyaknya. Dan menjawab 'tidak tahu' itu bukan jawaban yang bisa memuaskan rasa ingin taunya, omong-omong. Cowok dan cewek yang baru diserangnya memang nggak tau atau cuma berlagak bego? Nggak sadar ya kalau trisula milik Hada bisa mengoyak badan mereka kapan aja dia mau? Tapi dengan kondisi macam gini, apa Hada bisa melakukannya? Hemm. Baru saja si Bungsu Atala ini meragukan kondisinya, tiba-tiba ada sebuah parasut perak melayang ke arahnya. Woooooh. Sponsor? Sponsor buat dia nih? Diatangkapnya segera parasut yang melayang rendah menuju dirinya itu, mengabaikan dua orang yang sudah melarikan diri darinya itu. Kalau benar sponsornya berisi obat, Hada bisa memulihkan dirinya lalu mengejar dan memburu mereka lagi. Dibukanya parasut itu dan tebak yang dia temukan? JAMU TOLAKBALA, GUSTI. Ih Reef tau aja ya obat paling mujarab seantero semesta! Namanya memang alay sih, persis kayak kelakuan pelatihnya. Tapi dia pernah denger kalau obat itu memang ampuh mengusir bala. Hada baru sadar ada pesan yang menyertai obat itu. Dibacanya singkat lalu komennya cuma satu: REEF ALAY CETAR MEMBAHANA. Rikuesnya itu lho, sesuatu. Ya udahlah. Turutin ajalah. Kasian udah nyari sponsor capek-capek. Diberi deh diberi. Kamera mana kamera? Hada merobek ujung sachet, meletakkannya lima senti di atas mulut, membiarkan likuid cokelat itu masuk ke mulutnya. Uoooh, dalam sekejap, ia merasa menjadi orang yang pintar. WES EWES EWES, BABLAS ANGINE. Puas tah? Hada bersiap lari lagi karena mendadak tubuhnya kerasa bugar kembali. "Ethan, ayo!" Bengong mulu, entar kesambet lho. |
![]() |
|
| Ethan Nestor | Wednesday Jun 12 2013, 07:49 PM Post #93 |
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 92 || AP: [result]6&3,1d8,3,6&1d8+3[/result] + AP dari senjata: [result]2&2,1d5,0,2&1d5[/result] || KS: [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result] & [result]14&14,1d24,0,14&1d24[/result] || TARGET: Yasmine Silvertongue & Gavyn Owyn || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: 64 + [result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result] Pedang bermata satu, tombak, dan trisula Hada ngeyel. Ya udah sih. Ethan memasukkan salepnya ke dalam ransel sebagai persediaan jika ada luka parah yang ia derita. Sebelumnya ia mengambil sedikit, untuk menyembuhkan luka bakar akibat terkena lahar tadi. Sebenarnya luka Hada jauh lebih parah tetapi pemuda itu menolak pertolongannya. Terserah, jika itu mau Hada. Ethan yakin (sebenarnya sih tidak) pemuda itu bisa mengatasi rasa sakitnya, bahkan di tengah pertarungan. Atau berharap saja ada yang mau memberikan sponsor pada Hada--memangnya ada? Ketika tengah menyelipkan salepnya, Hada berucap bahwa mereka tak sendirian di sini. Oh, akhirnya setelah menganggur beberapa hari yang kemudian diteruskan dengan kematian Ferina, mereka ada kerjaan juga. Ethan merasa lebih baik berkat kapsul yang dikirim oleh Mags. Lukanya pun sudah kering. Ha, obat-obatan Capitol memang super. Ia berdiri, bertumpu pada tombaknya. Matanya melirik Hada yang telah siap dengan trisulanya. Baiklah, ia juga akan menggunakan pedang yang didapat dari bloodbaths beberapa hari lalu. Matanya menyipit ketika melihat musuh lama. Musuh bebuyutannya dengan Ferina ketika pembantaian di tempat pertama. Yasmine Silvertongue. Oh ya, dia memang masih menyimpan dendam kesumat karena gadis itu berhasil merusak pengelihatannya. Ethan masih ingat bagaimana rasanya ketika tangan Yasmine berhasil menusuk matanya, mengakibatkan likuid merah sempat mengalir hampir membutakannya. Kini saatnya balas dendam. Ia harus membuat gadis itu jera. Ia melihat serangan Hada cukup telak mengenai Yasmine dan Shinzo kalau tidak salah ingat. Bibirnya melengkung ke atas, membentuk seringaian puas ketika Hada berhasil melukai Yasmine. Kini ia giliran mengayunkan pedangnya, menyabet perut Yasmine. Ingin melihat darah mengucur lebih banyak dari sang gadis. Sementara tangan satunya mengarahkan tombak pada Gavyn pada dadanya. Ia ingin menuntaskan permainan ini secepatnya. Jengah dengan segala kejutan yang diciptakan oleh Capitol. Selain itu, ia harus membalaskan dendam Ferina, yang juga pasti ingin membunuh Yasmine. Ya, masih segar dalam ingatannya bahwa gadis Secret itu melindungi dirinya dari amukan Silvertongue. Padahal bisa saja Ferina ikut membunuhnya. Ferina--huh. |
![]() |
|
| Gavyn Owyn | Wednesday Jun 12 2013, 08:31 PM Post #94 |
![]()
|
DISTRIK 11 || HP: 9 || AP: - + AP SENJATA: - || KS: - ||TARGET: - || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: 39 + [result]4&4,1d12,0,4&1d12[/result] 1 pasang kaus kaki, 1 lentera, 1 pisau, 1 korek api Gavyn berlari secepat mungkin menghindari serangan balasan dari perempuan berambut pirang itu. Serang dan menghindar. Lalu, mengintai. Bila ada kesempatan bisa menyerang. Lalu, menghindar sambil mencari kesempatan untuk menyerang kembali. Sejujurnya dia merasa beruntung bahwa dirinya sudah terbiasa melakukan hal seperti ini. Di distrik sebelas dia biasa main kucing-kucingan dengan para penjaga perdamaian. Ada buah ranum yang terletak di daerah perbatasan dan untuk mencapainya, Gavyn perlu kenekatan besar dan itu bukan hal yang mudah. Tapi, ia suka melakukannya dari waktu ke waktu karena itu bgeitu menyenangkan seakan menguji adrenalinnya. Tidak disangkanya kebiasaan itu begitu berguna saat berada di arena. Hutan masih tampak sama seperti sebelumnya. Gavyn melihat sekelilingnya masih dipenuhi aneka warna dan dia berjalan hati-hati dengan langkah besar serta berusaha itdak menimbulkan suara serta jejak apa pun untuk mereka yang memburunya. Seorang diri. Ia ingin menertawakan dirinya sendiri. Bahkan seorang pejuang pun tidak bisa bertahan bila sendirian. Tapi, permainan ini memang dirancang untuk satu orang saja sebagai pemenangnya. Harusnya ia bisa memikirkan kemungkinan akan bergerak seorang diri dan tidak berharap kepada siapapun. Masih ada beberapa nama yang harus ia eliminasi untuk pulang ke distrik sebelas. Ia tahu mereka yang tertinggal adalah para peserta yang memiliki keberuntungan serta sumber daya manusia yang baik. Gavyn tidak bisa mengecek apakah dirinya siap untuk mendadak diserang secara massal oleh peserta lain ataukah mati karena disengat kalajengking. Ia terlalu capek untuk memikirkan peluang setiap hal terjadi kepadanya karena untuk fokus pada langkah kakinya saja sudah begitu melelahkan. Pemuda ini baru saja memutari sebuah pohon besar dan langsung mengerang karena ada yang menikamnya dengan belati. Darah segar keluar dari dadanya. Gavyn mengangkat wajahnya dan melihat Shinzo menyerangnya sebelum meminta Yasmine lari. Gadis dari distrik sepuluh itu mencoba menarik lengan dari Shinzo dan meneriakkan ajakan untuk lari. Gavyn membiarkan dua orang itu. Ia sibuk menahan rasa nyeri teramat sangat di dada kirinya. Jantungnya masih aman nampaknya karena serangan dari laki-laki dari distrik delapan itu sepertinya lewat satu rusuk di atas tepi atas jantungnya. Sialan. Untuk Ethan, maaf. Serangannya saya anulir karena kita berada di kelipatan 12 yang berbeda. CMIIW. |
![]() |
|
| Shinzo Kawabata | Wednesday Jun 12 2013, 08:34 PM Post #95 |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 18 || AP: - + AP SENJATA: - || KS: - || TARGET SERANGAN: - || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: 65 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] 3 tempat minum kulit, 1 belati “Semuanya oke, Yasmine. Terus berlari. Jangan menengok ke belakang. Aku baru saja melukai distrik sebelas. Dia tidak akan bergerak cepat dengan luka seperti itu di dadanya.” Shinzo merespon tarikan kuat Yasmine ke lengannya. Ia baru saja mengurus Gavyn yang muncul dan tentu saja sebelum laki-laki besar itu mengejar mereka untuk membalas dendam, Shinzo sudah kembali berlari. Ia yakin mereka tidak boleh berlama-lama di suatu tempat. Dia tidak bisa mendeteksi kapan akan bertemu musuh dan kapan mereka boleh beristirahat barang semenit saja untuk sebatas meluruskan kaki dan mencoba merenung bahwa masuk ke permainan tahunan ini hanya bagian dari mimpi buruk saja—hingga saat ini Shinzo masih berharap dia berada di tempat tidur distrik delapan dan bukannya berlari menghindari maut. Tolong dia. Siapapun. Ia berusaha tampak kuat demi persekutuan mereka. Aliansi yang dibentuk ini bukan untuk dirontokkan begitu saja. Pemuda Kawabata ini yakin bersama mereka bisa. Banyak yang meremehkan arti aliansi dan hasilnya cukup jelek. Omong-omong hutan sudah berhenti dan Shinzo baru menyadarinya. Mungkin dia sudah keluar dari zona hujan dan memasuki kawasan hutan yang belum ia jamah tadi. Meskipun demikian, bagian hutan yang ia masuki bersama Yasmine ini tampak sama saja dari waktu ke waktu. Hanya ada warna hijau yang mendominasi dengan selingan warna-warni cerah dari kupu-kupu, lumut, kumbang, dan beberapa tanaman lain. Shinzo terus berlari hingga merasa ada bayangan dari arah samping mereka. Ia berhenti mendadak sebagai refleks dan menyaksikan sebuah pedang diarahkan ke arah perut Yasmine. “Jangan pedulikan dia! Lari! Lari!” Tidak sanggup rasanya Shinzo melihat hasil dari perbuatan seseorang yang menggunakan pedang itu. Ia hanya berusaha menggapai lengan Yasmine—sama seperti yang dilakukan oleh perempuan itu kepadanya ketika ia menghadapi Gavyn—dan berusaha kembali berlari. Shinzo mencoba mengangkat wajah dan melirik pelakunya. Ia melihat Ethan di sana—bersama pedangnya. Oh, ya ampun. Shinzo yakin Ethan berusaha memburu dirinya dan Yasmine. Ini berita buruk. Jumlah mereka makin kecil, tapi justru itu membuat segalanya menjadi makin beringas. |
![]() |
|
| Yasmine Silvertongue | Wednesday Jun 12 2013, 08:39 PM Post #96 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP = 2 || AP : - KS : - Target - (yanglaingausahbullysaya#heh) || JARAK SERANG: 66 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] empat dendeng sapi(habis) DDR bawa saya sampe ke Feast aja ya /ketjup/ Ini akhirnya. Hutan terlalu luas dan dentum meriam tidak dapat didengar lagi. Kecuali… kecuali mungkin ia yang menyumbang nyawa, menukarnya dengan meriam dan menandakan akhir permainan, begitu pula akhir hidupnya. Dua peserta dalam pelarian, dua Karier dalam pengejaran. Salah satunya sekarat, ia sekarat. Tidak mengejutkan bahwa ia takkan keluar dari tempat ini hidup-hidup, malah mengejutkan ia bisa bernapas hingga detik ini. Dan mungkin takkan lama lagi. Harus ia akui, ia merasa sekelumit rasa kagum atas strategi para pelatih dari distrik Empat. Atau atas genetika mereka karena bisa memproduksi wajah-wajah atraktif yang menarik hati para penduduk Capitol. Apapun itu, mereka berhasil menempatkan parasut perak kecil tepat pada waktunya. Dan oh, omong-omong, tidakkah mutt menyerang mereka seperti mutt menyerang Yasmine beberapa menit setelah ia mendapat hak perpanjangan hidupnya? Capitol jahanam. Tidak ingin distrik bukan Karier unjuk gigi, bilang saja. Namun ia tidak lagi fokus pada hal tersebut. Persetan dengan sponsor, Yasmine kini lebih memfokuskan dirinya kepada dua manusia Karier yang tak jauh berdiri darinya. Ia menyeringai, menunjukkan gigi-giginya. Tidak takut, tidak takut lagi. Mereka boleh memiliki senjata dan kemampuan, tetapi apa itu membuat mereka maha besar? Tidak. Percayalah, mereka akan membusuk juga. Mereka takkan menang. Kau tahu, gadis Silvertongue ini memiliki sebuah teori: mereka yang menang adalah antara mereka merupakan turunan Setan dengan hati yang tidak lagi manusiawi, atau mereka merupakan orang Suci yang tidak pernah memiliki niatan untuk membunuh. Sedangkan dua Karier ini, oh mereka cukup manusiawi—masih cukup manusiawi—dan tidak, salah seorang dari mereka takkan selamat, bahkan keduanya takkan selamat. Mereka hanya akan menyusul para korban. Dan mungkin juga, Silvertongue ini hanya memprogram pemahaman tersebut karena ia begitu membenci mereka, tidak ingin distrik itu menang. Lagi. Ia merasakan bagaimana usus dalam perutnya nyaris dimuntahkan keluar akibat serangan barbar dari Nestor. Sakit? Sakit adalah ketika kau tidak bisa melihat adik-adikmu lagi, atau ketika kau tidak memiliki figur ayah yang cukup baik. Sakit adalah ketika kau gagal menjaga satu-satunya peserta terakhir yang dapat kau percayai, melihat bagaimana alam buatan Capitol menghancurkan hidupnya. Ini hanyalah sakit yang melibatkan organ tubuhnya. Bukan perasaan dan mentalnya. “That’s the best you’ve got, Nestor Beast?” Balas dendam? Silahkan, seolah gadis ini peduli saja. “Bunuh saja. Itu takkan membuat adik manismu atau kekasihmu bangkit dari kubur,” oh ia pasti tahu siapa yang dimaksud sang gadis. Provokasi? Itu biasa. “Kau takkan menang, oh… tidak pantas, tepatnya.” Dalam benaknya ia bertanya-tanya, apa mungkin keluarganya masih menyertai sang gadis hingga detik ini, atau sudah menunggu di rumah akan kepulangannya. Dan bukan jenis kepulangan macam Irish Cloverfield, ia tahu itu. “Kau takkan kesepian kan, kalau aku selesai lebih dahulu?” Jenaka. Sangat jenaka, Silvertongue. Bisa-bisanya berkata demikian dalam suara rendah kepada sekutunya, Kawabata. |
![]() |
|
| Flavea Vorfreude | Wednesday Jun 12 2013, 08:41 PM Post #97 |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 76 || AP: [result]10&7,1d8,3,10&1d8+3[/result] + AP dari senjata: [result]1&1,1d5,0,1&1d5[/result] || KS: [result]14&14,1d24,0,14&1d24[/result] TARGET: Gavyn Owyn || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: 37+[result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] 1 Panahan, 1 Kapak, 1 Plastik, 1 Pisau Pada kenyataannya, ia sudah terlalu malas dan tak sanggup untuk melakukan banyak hal lagi. Bahkan hanya untuk sekadar berjalan. Merasa terkuras tenaga meski faktanya kebanyakan waktu hanya ia habiskan di padang rumput. Pikirannya juga terasa lelah, terasa seperti akan mati dengan sendirinya. Ia lelah berdebat dengan dirinya sendiri, lelah menghancurkan seluruh barier yang ia bangun sendiri. Antara ingin melanjutkan dan tak ingin melanjutkan juga. Namun ia masih hidup dan masih berjalan, jadi mau tak mau harus tetap berjalan, bukan? Bahkan ketika berada di tempat ini, ia masih sendirian. Ia tak suka sendirian, benar-benar tak suka. Mungkin di antara semua orang, ia adalah orang yang paling tersiksa berada sendirian. Namun ironisnya justru ia yang kebagian untuk selalu sendirian. Ha. Dunia ini kejam kepadanya, seakan ia pernah melakukan yang benar-benar buruk kepadanya. Di antara semua orang kenapa dia? Kenapa? Lama ketika ia baru saja tiba, ia justru terduduk diam dan tak bergerak banyak. Memilih untuk mengumpulkan tenaga dibandingkan menghabiskan waktu dan mengeluarkan tenaga untuk mencari yang tak pasti. Ia tahu bahwa ia tak boleh diam terlalu lama atau bumi akan menghukumnya. Ia mengukir bunga di atas tanah dengan pisaunya berulang-ulang dengan impulsif. "Aku cuma ingin bahagia." Berbicara ke ruang kosong. Berbicara pada diri sendiri karena tak ada yang dapat diajaknya berbicara. "Kenapa susah?" Karena faktanya, ia tak pernah merasa bahagia. Selama ini yang ia rasakan adalah kebahagiaan palsu. Delusi yang ia ciptakan sebagai hadiahnya sendiri. Ia berdelusi bahwa semua orang menyukainya, menyayanginya. Padahal tak ada satu pun yang memang begitu. Seandainya saja ia bisa mengkhayal di sini, ia tentu masih dapat tersenyum. Namun sama sekali tak bisa, rasanya sulit. “Kau tersesat?” Kepalanya menoleh dan hampir saja ia menjawab seandainya saja jika si penanya tak melompat ke arah dirinya secara mendadak, membuatnya tak dapat langsung bergerak menghindar apalagi ia tengah duduk. Ia merasakan tikaman di tubuhnya dan kemudian bergerak mengguling menjauh untuk tak diserang begitu saja untuk yang kedua kalinya. Sakit—tapi entah mengapa ia mensyukuri rasa sakit itu. Ia bisa merasakan sesuatu lagi. Meski rasa itu rasa sakit. Distrik sebelas penyeranganya. Gavyn, kan? Ada apa antara dia dan distrik sebelas? Sepertinya ia selalu bertemu dengan mereka. Ia mengambil kapaknya dan kemudian berdiri. Tak lagi menghindar dan kini justru bergerak mendekati pemuda itu, kapaknya ia arahkan ke tubuh pemuda itu. berhubung jarang serang Ethan 64 dan jarak serang Gavyn 39 harusnya nggak boleh nyerang? :-? jadi nyoba nyerang deh, CMIIW aja :3/ ETA: Lupa mencantumkan target Edited by Leviathan Hunter, Wednesday Jun 12 2013, 08:51 PM.
|
![]() |
|
| Yasmine Silvertongue | Thursday Jun 13 2013, 11:54 AM Post #98 |
![]()
|
LAST POST Ia tahu ia takkan selamat. Bahkan sejak namanya dikumandangkan oleh Owlsie Rae, ia tahu ia takkan kembali. Pesimis? Bukan, hanya saja Yasmine adalah pribadi dengan intuisi yang begitu besar, rasanya tidak mengejutkan jika ia akan terperangkap di tempat ini, mati sebagai salah satu korban. Gadis itu tidak lagi melihat hutan dengan segala hal yang ... breathtaking. Baginya Sepuluh tetap merupakan tempat yang paling memesona. Jangan salahkan penglihatannya jika ia mendapati seekor sapi berdiri tak jauh dari tempat ia... tersungkur. Pasti halusinasi, pasti ia sudah siap untuk pulang, meski bukan ke distrik yang sama. Mungkin... tempat lain yang mengingatkan gadis Silvertongue itu akan rumah. Harapannya, sang ayah sungguh-sungguh berpegang pada kata-katanya. Tiga tahun lalu, sempat mereka bersua. Ia dihantam sebuah kenyataan bahwa tiga mulut untuk disuapi makanan dan minuman tergolong berat, alkohol tampaknya lebih memikat hati. Nah, ayah... sekarang satu kepala sudah hilang dari keluarga Silvertongue, masih kurang kah? Semoga tidak. Leira dan Jess akan berumur lima belas tahun sebentar lagi, atau... tunggu... sudah kah? Gadis itu tidak ingin mengingat, terlalu sakit. Kau tahu bagaimana rasanya dipaksa untuk bermain dan tertindas. Tetapi saat ini ia mendamba kebebasan. Mungkin memang dirinya yang akan pergi terlebih dahulu meninggalkan keluarga kecil Silvertongue itu, namun nun jauh disana, ia berharap dapat bertemu Sarah Cloverfield, menyampaikan salam Leira padanya. Atau Zurich Sommers, pemuda yang sempat menggelitik hatinya. Atau mungkin Black Cyan, sebuah percakapan singkat di pasar dan merupakan pertama dan terakhir kalinya. Kemudian ada Jay Ferris, kakaknya, Kal Ferris, Yasmine ingat betul, mungkin salam juga akan ia sampaikan padanya. Pemuda Howlite yang selalu tampak ceria itu, rekan Irish Cloverfield. Ah, Irish... Yasmine benci menjadi salah satu anak didik yang gagal membawa dirinya pulang. Ia membuang jasa Irish dengan kematiannya. Tetapi, ia harap Irish tidak akan berubah stres karena semua orang tahu, distrik selain Karier, kurang peluangnya untuk menang, don't you think? Kemudian ada Harry, Freida, dan tentunya Tume. Hai, Yasmine Silvertongue akan menyusul kalian loh. Ia gagal melindungi Tume, namun kini apakah itu menjadi perkara? Karena ia akan melindunginya lagi nanti, jika mereka bertemu. Gavyn tergeletak tak bergerak beberapa meter dari tempat dirinya berada, serangan seorang wanita Karier berhasil memutus nyawanya dan menghadirkan bunyi meriam. Tetapi ada dua bunyi meriam. Dan akhirnya, seberapa besar kebencian Yasmine terhadap bunyi tersebut, ia sudah menyangka akan ada satu meriam. Untuk dirinya. Bagaimana Nestor, Atala? Merasa puas? Mari bertaruh, dua pemuda itu tak lebih dari bayi berbadan besar. Sementara Kawabata, well... sayang sekali Yasmine harus meninggalkannya, seperti gadis Curealight itu meninggalkannya. Di hutan ini, ia satu-satunya yang bukan seorang Karier yang tersisa. Jika ia pintar, ia akan mencoba menyelamatkan diri. Tetapi jika ia lelah, hush now... mereka yang ia cintai dan kasihi siap menerimanya. Kau tahu, kematian tidak selamanya mengerikan. Jika dengan mati berarti kau bisa mengalami kebebasan dan kedamaian abadi, serta dapat menyertai orang-orang yang kau kasihi, bukan kah itu lebih baik? Namaku Yasmine Silvertongue. Umurku delapan belas tahun ketika Capitol menarikku masuk ke dalam Arena, Quarter Quell kedua, Hunger Games ke-50. Satu per satu rekanku mati. Harry, Freida, Tume... ...kurasa aku berhasil sampai ke sekian besar. Cukup dekat memasuki Feast. Tetapi... takdir berkata lain, no? Atau tepatnya... Capitol menghendaki yang lain. Namaku Yasmine Silvertongue. Kedua adikku--dan mungkin orangtua dan teman-temanku--menunggu di rumah. Tetapi aku tidak pulang kepada mereka. Aku pulang... ... tampaknya menuju kebebasan. note rants Special Thanks last
Edited by Yasmine Silvertongue, Thursday Jun 13 2013, 12:20 PM.
|
![]() |
|
| Gavyn Owyn | Thursday Jun 13 2013, 01:23 PM Post #99 |
![]()
|
DISTRIK SEBELAS - LAST POST Batas akhir cerita, eh? Ini adalah sebuah cerita di mana pemuda bertubuh besar dengan nama Gavyn Owyn merasa sedemikian lelahnya dan hanya keinginan yang menjadi cambuk baginya untuk terus melangkah maju. Selama ini dia selalu membanggakan staminanya yang seperti tenaga kuda hasil latihan remaja distrik sebelas yang terbiasa bekerja di luar rumah untuk menafkahi keluarga mereka. Tapi, untuk saat ini dia tidak bisa melawan rasa lelah yang ditimbulkan oleh sesi saling serang, kejar, dan bertahan ini. Jalan selangkah demi selangkah. Ia sudah tidak mampu bergerak secekatan ketika dia memburu kelompok Tume. Rasanya seperti sebagian besar dari tenaganya disedot habis oleh hutan ini dan menyisakan setitik rasa bersalah karena mendadak menjadi begitu tak berdaya. Gavyn merasa luka yang dibuat Shinzo memperparah keadaan. Peserta dari distrik sebelas ini berusaha tidak terlalu banyak bergerak agar luka yang diakibatkan oleh mata belati itu tidak terlalu besar. Hah. Gavyn ambruk di depan sebuah batu besar yang diselimuti lumut berwarna merah kekuningan. Ada barisan semut melintas di atas batu itu. Gavyn bisa melihatnya dengan jelas. Seketika itu juga pandangannya terasa lebih tajam dari biasanya juga telinganya mendengar bunyi air mengalir yang membuatnya berpikir bahwa dia sudah dekat dengan sungai barangkali. Langkah kaki yang mendekat ke arahnya serta ayunan benda besar menuju kepalanya tidak digubris. Ia terlampau capek dan ingin beristirahat. Darah segar mengalir. Akhir dari segalanya. Pemuda bermarga Owyn ini memutuskan untuk menutup matanya. Telinganya masih mendengar bunyi di sekitarnya. Sebuah meriam yang disusul meriam lain. Ia sudah bisa menyangka dirinya membuat suara meriam yang terakhir itu. Ia akhirnya merasakan seperti apa hangatnya berbaring di atas rerumputan hijau dan tanah yang empuk. Tidak ada yang perlu dirisaukan. Ia merasa kembali ke distrik sebelas tempat di mana dia seharusnya berada. Adik-adiknya akan menunggunya di rumah dan yang perlu dicemaskan hanya panen yang harus siap untuk diangkut dan juga memberantas hama yang akhir-akhir ini makin merajalela. Dia tidak perlu lagi memikirkan bagaimana membunuh atau bersembunyi dari pembunuh. Yang dia lakukan sekarang hanya berbaring menghadap langit dan semua akan baik-baik saja. Sungguh saat ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua sudah selesai untuknya. Gavyn berharap Chaff tidak bersedih atas dirinya. Oh, tidak. Tidak mungkin. Pelatihnya itu orang kuat. Dia adalah salah satu dari sedikit pemenang Hunger Games dari distrik bawah. Tidak ada yang akan saling menyalahkan atas kematian dirinya karena entah mengapa dia mendadak sadar bahwa pada dasarnya sekuat apa pun dia berusaha di permainan ini, garis takdirnya telah ditulis. Jadi, apa yang perlu disesali, hm? |
![]() |
|
| Shinzo Kawabata | Thursday Jun 13 2013, 04:53 PM Post #100 |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 18 || AP: - + AP SENJATA: - || KS: - || TARGET SERANGAN: - || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: 66 (gak masukin punya Yasmine karena dia sudah mati, no?) + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] 3 tempat minum kulit, 1 belati Pemuda ini bergerak memaksa kakinya untuk maju. Dia tidak bisa berlama-lama di satu tempat. Terengah-engah dan merasa begitu sengsara adalah apa yang dirasakannya saat ini. Yasmine nampak terluka cukup parah akibat pedang milik Ethan. Tidak ada yang bisa dibuat oleh Shinzo untuk yang satu ini. Bahkan ketika gadis itu akhirnya tidak mampu lagi berjalan dan bertanya kepadanya apakah Shinzo akan kesepian bila Yasmine tidak ada, pemuda ini hanya mengangguk singkat. Menurutnya, dia tidak pantas membicarakan hal seperti ini karena mereka belum selesai. Tapi, Yasmine memang sudah terluka cukup parah dan mau tidak mau pembicaraan ini akan terjadi di antara mereka. Hening yang lama dan Shinzo berusaha membiarkan Yasmine berusara kembali. Dia menunggu cukup lama dan melihat gadis itu tidak bergerak lagi. Shinzo mendengus keras. Ia meninju pohon di dekatnya sebagai bentuk pelampiasannya. Tapi, dia tidak mengeluarkan suara apa pun. Tidak ada air mata atau wajah memerah karena menahan tangis karena dia tahu tidak ada pemenang yang cengeng. Sedih yang mendalam. Kawabata sulung ini tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung berlari kembali. Ia meninggalkan Yasmine di belakang. Shinzo tidak berani mengecek seperti apa wajah gadis itu ketika meninggal. Bunyi meriam membahana membuatnya merasa merana. Ia benar-bvenar seorang diri saat ini. Dia hanya punya belati untuk melawan. Para karier tengah memburunya dengan persenjataan yang jauh lebih memadai. Ini tidak adil tetapi dia tahu kalau tidak ada yang bisa menolognya. Ia hanya berharap Woof bisa membaca keadaan dan memberinya sesuatu. Dengan perginya Yasmine, Shinzo merasa begitu lemah. Padahal sebelumnya dia sempat berpikir bahwa mereka mungkin bisa menjadi dua orang terakhir di tempat ini. Ada bunyi meriam lagi dan Shinzo menengadah ke langit. Siapa? Wajah Gavyn Owyn muncul dalam bentuk hologram dan tahulah Shinzo bahwa dirinya telah masuk tiga besar dari peserta bukan karier yang masih selamat—karena dua orang peserta dari distrik dua belas masih selamat dan entah berada di belahan mana dari arena ini. Ini membuat jantungnya berdegup sedemikian kencangnya. Untuk saat ini ia menargetkan pelarian secepat yang ia bisa dan berharap bisa menjauh dari karier. |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |














9:33 PM Jul 11