|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Arena Satu - Hutan Beracun | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Tuesday Jun 4 2013, 08:15 PM (4,110 Views) | ||
| Redemptus Maleveich | Tuesday Jun 4 2013, 08:15 PM Post #1 | |
![]()
|
Sebutlah pemuda Maleveich ini tengah berpuas diri melihat mayat-mayat bergelimpangan di seputar Cornucopia. Senyum tak kunjung usai tergambar jelas pada wajahnya sambil mengganti setiap potongan gambar yang menampilkan wajah-wajah lusuh menyedihkan. Tak henti-hentinya senyum Redemptus muncul dalam raut wajahnya yang pucat. Berikutnya, layar di depan memperlihatkan potongan tubuh yang sudah tercerai berai. Perut yang telah terkoyak secara paksa, bola mata yang sudah tidak utuh lagi, wajah yang masih meninggalkan teror dan ketakutan. Darah di mana-mana. Akan tetapi, dia masih kecewa belum ada peserta yang nekat meledakkan diri sebelum waktu enam puluh detik usai. Kalah taruhan lagi—seperti tahun kemarin. Biasa. Meriam dibunyikan sebanyak dua puluh lima kali menandakan jumlah nyawa yang telah bergabung dengan penghuni dunia lain. Semangat yang berkobar di masing-masing peserta sebelum pertumpahan darah dimulai boleh dikata mulai pudar dengan berkurangnya sebagian total peserta, hm? Dua puluh lima yang berpulang, tapi masih ada tanggungan dua puluh tiga lainnya yang harus diurus. Ck. Redemptus lebih memilih meledakkan mereka dalam satu tempat, entah kenapa dia menginginkan cara demikian. Tapi pada akhirnya cara itu tidak ditempuh. Ekspresi menghina menggantikan senyum di bibirnya kala menyaksikan kumpulan manusia yang mulai bergerak ke satu tempat. Maniknya berpindah ke kumpulan peserta yang berpencar ke berbagai tempat di luar Cornucopia. Tiga arena telah dipersiapkan untuk mereka. Salah satunya adalah hutan cukup lebat dengan rimbunan hijau di sana-sini yang akan menyambut kedatangan anak-anak yang tersesat. Tidak hanya hijau saja yang bisa dilihat, tapi kau bisa melihat warna-warna cerah indah yang menghiasi hutan. Masih sama indahnya dengan penampilan visual yang tertangkap sebelum mereka bergerak saling bantai satu sama lain. Kupu-kupu bersayap pelangi nan indah pun berterbangan sesuka hatinya dengan sengatan dan racun yang membawa mimpi buruk. Kau bahkan bisa menemukan buah-buahan menggiurkan tergantung di antara semak. Beracun, tentunya. Semua di sini beracun. Oh, Redemptus juga tidak lupa menambahkan sungai yang mengalir sebening kristal yang berkilau ketika tertimpa sinar matahari. Kurang baik apa lagi demi memanjakan penglihatan peserta sejenak. Arena sudah memasuki hari ketiga dan Redemptus masih belum berniat mengubah segalanya. Nah, selamat melanjutkan permainan kalian, tributes.
|
|
![]() |
|
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Maysilee Donner | Tuesday Jun 4 2013, 11:55 PM Post #11 | |
![]()
|
(( BANYAK KATA [result]1&1,1d3,0,1&1d3[/result] x 180 )) DISTRIK 12 || HP: 100 – 5 (ARENA) + 12 (RANSEL) + 5 (MAKANAN) = 112 || AP: - || KS: - TARGET: - || DICE KEJUTAN: [result]4&4,1d12,0,4&1d12[/result] || JARAK SERANG: [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] 1 pistol udara, 1 pisau, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit Pertama kali dia mencoba tidur setelah menemukan perlindungan yang (menurutnya) aman, Maysilee Donner bermimpi buruk. Akan Eden yang tak pernah ada. Akan angan yang seluruhnya ternoda. Akan darah terciprat dan potongan daging bergelimpangan dan mayat-mayat yang rubuh ke tanah; lalu, bagaimana semua itu akan terulang lagi pada entah-hari-keberapa. Dia bermimpi soal terjebak di tempat ini dan tidak akan pernah keluar lagi. Mengenai keluarganya dan kawan-kawannya dan semua orang yang belum pernah dia ajak bicara enam belas tahun lamanya. Mengenai kematian. Mengenai mustahilnya hidup kembali. Mengenai rasanya dibantai oleh anak-anak yang sepantaran dengannya. Penuh dengan jerit-jeritan akan penolakan untuk mati. Maysilee terbangun dengan keringat membanjur dan mulut yang hampir berteriak; yang mana harus dia bekap kuat-kuat agar vokalnya tidak lepas. Dia menggenggam pistol udaranya seperti orang gila dan meringkuk di balik pepohonan, berharap menjadi tidak terlihat. Dia komat-kamit, meski hanya sekali-dua kali, memohon supaya dia diselamatkan. Namun, tentu saja, tidak akan ada yang datang; dan kelemahannya akan tersiar ke seantero negeri. Semua yang dia lakukan berdasarkan satu tekanan kecil di belakang kepalanya yang menyuarakan, `kau hanya dari Dua Belas`. Konsep goblok yang membuatnya runtuh bahkan sebelum berjalan maju lagi. Hutan itu indah dan bagaikan belantara tak berbahaya; namun dia tahu lebih baik bahwa Capitol selalu memiliki rencana. Bohong. Bohong. Semuanya kebohongan, penuh tabir, penuh tipu muslihat. Maysilee betul-betul memilih apa yang dicernanya selama tiga hari belakangan. Lengah sedikit, dan dia akan celaka. Meleng sejenak, dan dia bisa mati. Seseorang mengingatkannya akan betapa kejinya Capitol itu, dan dia semakin waspada. |
|
![]() |
|
|
| Irvette Schwan | Tuesday Jun 4 2013, 11:56 PM Post #12 | |
![]()
|
DISTRIK 3 || HP: 41 + 13 (Ransel dan Makanan) – 5 (Arena) = 49 || AP: - + AP dari senjata: - || KS: - TARGET: - || DICE KEJUTAN: [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result] || JARAK SERANG: [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] Satu kotak Biskuit, Satu Tempat Minum Kulit, Satu Kantong Tidur, Satu Lentera "HOI, ITIK BURUK RUPA. NAMAKU JESTER HOLT. INGAT, YA? I'LL CATCH YOU LATER, IRVETTE SI PENJAHAT KELAMIN." Padahal ya, ia sudah berbalik dan bahkan tidak mengganggu lagi, tidak menyerang, tapi masih juga ditimpuk oleh batu. Entah si bebek terlalu cinta dia sampai-sampai sudah pergi masih diteriaki atau apaan. Rasanya tambah sebal, heran dia kenapa orang macam itu bisa ada. Dosanya selama di arena nggak banyak, demi apa pun. Ia bahkan nggak ngebunuh siapa pun, satu pun nggak. Nyamuk aja nggak ada yang kena tepokannya, tapi dia ditepok batu. Dunia perarenaan itu sungguh tak adil, tak ada adil-adilnya. Tidak ada yang mau mengasihani orang macam dirinya. Ia tidak tahu kenapa ia bisa nyasar ke hutan, karena ia tidak merasa lari ke hutan. Sepertinya sih karena saking kesalnya dan saking jadi susah mendengar gara-gara tusukan si bebek, ia jadi terdisorientasi begini. Sendirian, tidak punya aliansi. Otomatis bisa jadi sasaran serangan sejuta umat. Sedih banget nggak tuh nasibnya? Mendadak rasanya ingin menggeret Iratze ke sini supaya menemaninya. Eh, jangan deh, kayaknya kalau ia ada di sini juga ia sudah mati dari tadi gara-gara dibanting berulang-ulang. Iratze kan…begitu. Susah ditebak. Sampai sekarang ia bertanya-tanya kalau kakaknya itu sayang atau tidak ke dia, soalnya…soalnya nggak pernah nunjukin sih dan Irvette juga tidak bisa menebak. Haaah, mungkin seharusnya ia bertanya waktu mereka bertemu sebentar sebelum Irvette berangkat ke Capitol. Jadi setidaknya ia bisa mati agak tenang tahu kakaknya mati atau tidak. Hutannya suram, hah. Hutan di sekitar distrik tiga rasanya sedikit lebih cerah dibandingkan ini. Mendadak rasanya ingin mojok terus numbuhin jamur, deh. Pundung dengan banyak hal. Huft. Well, sebenarnya sih ia tadi sudah benar-benar menjadi pojokan dan jongkok di sana, tapi lama kelamaan ternyata rasanya horror, seperti ada hantu-hantu peserta yang sudah mati. Jadinya buru-buru berjalan lagi sambil berdoa ini itu. Doa supaya tidak ada setan dekat-dekat. Baik setan beneran atau setan macam si bebek yang tadi. Jangan bilang saking sialnya dara Schwann itu, sampai-sampai hantu-hantu peserta malah menggentayanginya dan bukan menggentayangi orang-orang yang membunuh mereka. Itu mah sialnya amit-amit abis. Ia takut menyentuh apa pun yang ada di sini, omong-omong. Setiap bagian dari hutan ini seperti meneriakan ‘bahaya!’. Irvette hanya dapat menggenggam erat-erat ransel kecilnya dan berwaspada jika tahu-tahu ada yang menyerangnya. Amit-amit, semoga tidak diserang di wajah lagi. Ia masih mau bisa melihat, tahu tidak. Ugh, rasanya mendadak ingin muntah membayangkan berapa banyak lagi rasa sakit yang harus dia rasakan sebelum akhirnya ia mati. Boleh bunuh diri, nggak? Godaannya besar banget, tahu, dibanding nanti luntang-lantung tidak jelas. Dibanding menderita lebih jauh. Ia nggak ada rencana buat bertahan hidup lama-lama deh, beneran. Kenapa ia tidak mati pas bloodbath aja deh? Kalau gitu kan mungkin ia sekarang sudah menikmati surga. Mungkin. Ia tidak tahu ia punya pahala atau tidak supaya bisa masuk surga, tapi ya berharap aja kala ia bisa masuk surga dan bukannya masuk neraka. Neraka pasti jauh lebih menyiksa dibandingkan ini. Ia tidak mau dibakar api selamanya, ya. Ia pernah terkena api waktu ia kecil, rasanya benar-benar menyakitkan. Tentu ia tidak mau merasakan kesakitan selamanya, tiada henti. Umumnya, Irvette benci rasa sakit. Tidak mau merasakan banyak rasa sakit. Makanya ia tidak mau bertahan lama-lama di sini karena ia tahu hidup lama di arena berarti menderita rasa sakit yang lama pula. Mungkin ia gampang menyerah, tapi ia dari lahir selalu melakukan apa yang menguntungkan dan nyaman baginya tanpa memikirkan apa pun. Sekarang pun tidak berbeda. |
|
![]() |
|
|
| Jester Holt | Tuesday Jun 4 2013, 11:59 PM Post #13 | |
|
Untuk keduanya kalinya pemuda itu mendapati dirinya berada di antara landscape tanpa cela. Sebuah kenyataan yang memberikan pemahaman bahwa para makhluk konsumtif serta haus hiburan itu memiliki segalanya dan mampu menciptakan apa yang mereka mau. Lihatlah, bagaimana mereka bisa menciptakan visual tanpa cela ini. Bahkan selama belasan tahun, pemuda Holt ini hidup ia tak pernah sekalipun berfikir untuk menciptakan hal ini. Warna-warna minor di antara kehijauan itu terlihat terlalu sempurna. Kesempurnaan selalu tak berarti bagus. Juga, bagaimana para makhluk-makhluk itu menjadikan mereka pion kesenangan mereka. Demi dapat menerbitkan tawa-tawa kesenangan mereka. Ya, setiap tahun para remaja tanggung ini mendapat peran utama di dalam permainan yang mereka ciptakan. Kesenangan yang harus dibayar oleh percikan darah. Jester, kau dengar aku? berdoalah, anak muda. Rahangnya mengeras sesaat suatu bisikan yang terlalu nyata di pikirannya. Suara mengalun milik seorang wanita yang bercampur dengan harapan serta paksaan, his mother. Kemudian demi mengalihkan pikirannya dari suara-suara tak berwujud itu, ia lebih memilih untuk menghitung siapa saja yang masih tersisa kawanannya maupun musuhnya yang mampu ia ingat. Hanya tinggal setengah, he guess. Semoga Tuhan melindungimu, Jester. Persetan dengan Tuhan. Sepasang mata itu kemudian mencari sesuatu yang menjadi pengalih perhatiannya dari suara ibunya dengan nada mengingatkan seorang anak kecil yang tengah menangis. Tuhan hanya melindungi orang yang lemah, dan pemuda Holt ini bukan salah satu manusia terkutuk itu. Ia tak butuh peran yang dipuja seluruh manusia di dunia itu. Jester. Jemarinya semakin menggenggam erat belatinya, mencari titik dimana ia bisa menancapkan sebilah benda tajam itu kepada seseorang. Ya, sekarang ia mencari gadis penjahat kelamin keparat itu. Beruntunglah ia bisa melarikan sepasang tungkainya yang belum tersentuh olehnya. Dan, ia harus menemukan gadis itu. Sungguh menyenangkan bermain dengan gadis itu. Well, gadis itu harus mati di tangannya. Tak akan dibiarkannya gadis itu disentuh nafsu membunuh para makhluk lainnya, termasuk kawanannya. Well, Jester Holt dikenal sebagai pemuda yang cukup posesif terhadap apa yang ia miliki. Ia ingin mendengar tangisan terakhir gadis itu serta permohonan agar pemuda Holt ini tak menghentikan siklus respirasinya. She's mine. |
|
![]() |
|
|
| Yasmine Silvertongue | Wednesday Jun 5 2013, 07:54 AM Post #14 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 40 || AP: [result]1&1,1d8,0,1&1d8[/result] || KS: [result]4&4,1d24,0,4&1d24[/result] TARGET: Winona C. || DICE KEJUTAN: 9 + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] || JARAK SERANG: 2+1+3 = 6 + [result]8&8,1d12,0,8&1d12[/result] empat dendeng sapi Jadi mereka bertiga sekarang. Yasmine yang mendapati Tume masih sehat sentosa membalas sapaannya dengan wajah yang dibanjiri kelegaan. Mendapati pula Shinzo Kawabata yang masih tanpa luka segores pun. Mereka hebat. Setidaknya mereka tidak seceroboh Yasmine. Lihat dirinya, terluka dibagian sana dan sini, terparah pada bagian lehernya. Mungkin kini lehernya tidak lagi bersih dan tanpa noda. Kini selain menganga pun terasa semakin gatal dan perih. Di Arena ini bisa selamat dari sebuah luka sudah bagus. Sebaiknya ia tidak banyak mengeluh. Ada banyak yang mati tanpa kepala. Lihat? Ini belum apa-apa untuk perbuatan para Karier. Sekarang kemana? Gadis Silvertongue ini bersyukur ia telah selamat dari pesta mandi darah tahap pertama di Cornucopia, tadi. Sebanyak dua puluh lima peserta gugur dalam hitungan jam. Kini akan terasa hampir seperti Hunger Games pada normalnya. Itu artinya, mereka juga tidak bisa berlama-lama diam tak bergerak. Ketiganya berbincang singkat. Setelah selang beberapa belas menit, setelah memastikan rasa mual dan mabuk itu telah cukup hilang ketiganya sepakat itu melanjutkan perjalanan. Namun, Yasmine rasa ia tidak mungkin salah melihat sekelebat figur tak jauh darinya. Surai dengan warna kemerahan. Ada orang. Ketiganya bertukar pandang. Apapun yang terjadi, ini antara menyerang atau diserang. Mereka tidak mungkin lari. Capitol akan kecewa berat. Lagipula, mereka adalah penghibur acara para penduduk Capitol. 'Maaf' tampaknya kini hanya ucapan bisu dalam benaknya seorang diri. Ia mendapati Winona. Pikirnya entah mengapa Shinzo mau berpisah dengan gadis tersebut. Tetapi kini ia tidak bisa menggunakan alasan tersebut sebagai faktor yang membuat ia harus berspekulasi bahkan bernegosiasi dengan kubu lawan. Gadis Silvertongue ini adalah seorang yang cepat belajar. Dan jika dengan berada di Arena berarti peserta dituntut untuk melupakan rasa kemanusiaan, maka itu yang akan ia lakukan. Cepat, Yasmine menghadang gadis dengan surai merah tersebut. Ia tidak bersenjata, hanya berbekal pistol udara tanpa amunisi dan alat geraknya. Pistol tersebut ia arahkan ke kepala lawan. Kemudian tangannya menargetkan perut sang gadis, guna untuk melumpuhkannya. |
|
![]() |
|
|
| Winona Curealight | Wednesday Jun 5 2013, 08:19 AM Post #15 | |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 21|| AP: [result]8&8,1d8,0,8&1d8[/result] + AP dari senjata: [result]2&2,1d2,0,2&1d2[/result] || KS: [result]12&12,1d24,0,12&1d24[/result] ||Target: Yasmine Silvertongue (Distrik 10)|| Jarak Serang: 12+[result]3&3,1d12,0,3&1d12[/result] || Dice Kejutan: 12+[result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result] 1 Kotak Biskuit, 1 Dendeng, 1 Pisau, 1 Panahan Winny benar-benar tidak menyukai Arena ini. Terlalu banyak kejutan. Ia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Benar-benar menyebalkan. Setiap luka goresan semakin melemahkannya. Tiba-tiba seorang gadis menyerangnya. Winny tidak tahu ia merasakan apa. Mungkin dirinya semakin melemah. Winny menyiapkan anak panah dan berniat menyerang balik gadis itu. Ya gadis yang menyebalkan. Ia tidak boleh mati oleh orang lain. Mati tangan sekutu masih lebih baik daripada oleh gadis di depannya ini. Winny kesal. Semoga saja anak panah ini akan menusuk jantungnya. Winny memang tidak besekutu dengan Shinzo, teman satu distriknya. Shinzo punya jalannya sendiri begitu pula dengan Winny. Ia punya rencananya sendiri. Strategi untuk bertahan hidup. Dia menarik anak panah dengan kekuatan penuh yang dia punya. Ia mengarahkan panah ke arah jantungnya. Mungkin dia tidak akan tewas tapi bisa melukai lebih parah. Percaya diri sendiri kamu, Win. Biarkanlah toh nyawanya tidak cukup banyak lagi untuk percaya diri nantinya. Winny juga berharap sekutunya bisa bertahan. Well, mereka mungkin bisa bertahan lebih lama. Kenapa tidak kan? Semua bisa terjadi. Life must go on.]. Winny melepaskan anak panahnya. Anak panahnya mesti jadi anak penurut ya. Kamu suka jantungkan, anak panahku. Edited by Corialonus Snow, Wednesday Jun 5 2013, 10:43 AM.
|
|
![]() |
|
|
| Gavyn Owyn | Wednesday Jun 5 2013, 08:29 AM Post #16 | |
![]()
|
DISTRIK 11 || HP: 76 || AP: - || KS: - TARGET: -|| DICE KEJUTAN: 11 + [result]4&4,1d12,0,4&1d12[/result] = || JARAK SERANG: 15 + [result]11&11,1d12,0,11&1d12[/result] 1 pasang kaus kaki, 1 lentera, 1 pisau, 1 korek api Ia sudah memberikan sepasang kaus kaki untuk Winona. Setelah pertukaran mereka terjadi atas inisiatif masing-masing, Gavyn mengambil waktu untuk mengecek lebih jauh tentang apa yang dihamparkan di depannya. Sejauh ini dia bisa melihat ketenangan yang jauh lebih menyenangkan daripada yang bisa distrik sebelas tawarkan kepadanya. Untuk sesaat dia merasa curiga, tapi memutuskan untuk menikmati saja apa yang bisa ia nikmati di tempat ini sebelum mereka kembali harus bertarung satu sama lain demi harga kepala mereka di akhir acara. Gavyn mulai berpikir mengapa Capitol menyediakan tepat seindah ini untuk ditempati para peserta mengingat seharusnya mereka mendapatkan arena kejam sehingga mereka merasa sedang bermimpi buruk. Pasti ada sesuatu. Tapi, sesuatu itu tidak bisa ia pikirkan karena Gavyn toh bukan mereka yang senantiasa mampu menebak jalan pikiran orang lain. Semoga tempat ini membawa berkah baginya. Gavyn Owyn adalah sosok yang cukup cerdas untuk menilai peluang dan ketika Pinoy bilang mereka akan melanjutkan perjalanan, dia menganggukkan kepalanya. Tidak ada hal lain yang membuatnya untuk tetap tinggal di sini karena dia tidak mau membuat ada anak panah yang melesat ke kepalanya hanya karena dia tinggal sedetik lebih lama dan mudah dijadikan target panah dari lawan. Edited by Corialonus Snow, Wednesday Jun 5 2013, 10:45 AM.
|
|
![]() |
|
|
| Tume Tinkham | Wednesday Jun 5 2013, 08:32 AM Post #17 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 73 || AP: - || KS: - TARGET: - || DICE KEJUTAN: 11 + [result]6&6,1d12,0,6&1d12[/result] = || JARAK SERANG: 14 + [result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result] 2 tempat minum kulit, 1 belati, 1 lentera Tempat ini begitu sunyi. Samar-samar Tume mendengar bunyi kicau burung. Baginya ini seperti surga buatan yang tidak bisa dipungkiri, begitu indah. Dia tidak butuh apa pun untuk mendeskripsikan sekitarnya. Yang dia butuhkan hanyalah memejamkan mata dan rileks sebentar. Baginya tempat ini cukup bersahabat. Jadi, Tume memejamkan matanya dan mencoba menghayati keberadaannya di tempat ini. Beberapa menit rasanya berlalu dan ketika ia membuka mata kembali, ia sadar apa yang seharusnya dia lakukan. “Hei, ayo bergerak. Kalau diam terus malah bahaya. Kalau bergerak, musuh juga sulit memetakan kehadiran kita.” Entah kalimat bijaksana dari siapa yang sudah dia lontarkan barusan. Di sini Yasmine kelihatannya yang paling tua dan Shinzo menyusul setelahnya, membuat Tume Tinkham menjadi paling muda di antara mereka. Baginya bahkan di saat seperti ini dia tidak butuh sesuatu yang muluk. Dia hanya ingin terus bersama mereka hingga nyawa dua di antara mereka dicabut entah oleh siapa. Ia ingin menysukuri kebersamaan terakhir yang bisa dia rasakan. Diam-diam Tume merasa ada yang sedang mengintai mereka. Ia baru saja mendengar bunyi bergerak di dekatnya, membuatnya sontak kaget. Jantungnyamulai berdegup kencang. “Kurasa di sini tidak aman. Ayo, bergerak.” Ini ajakan yang sangat bijaksana. Jadi, Tume Tinkham berdecak dan berjalan cepat melintasi beberapa pohon sambil berharap dua orang itu mengikutinya. Tapi, rasanya ada yang berada di dekat mereka. Serius! “Siapa di sana?” Memberanikan diri untuk bertanya tidak apa-apa, bukan? Edited by Corialonus Snow, Wednesday Jun 5 2013, 10:45 AM.
|
|
![]() |
|
|
| Shinzo Kawabata | Wednesday Jun 5 2013, 08:38 AM Post #18 | |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 75 – 5 + 6 (ransel sedang) = 76 || AP: - || KS: - TARGET: -|| DICE KEJUTAN: 10 + [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result] || JARAK SERANG: 24 + [result]9&9,1d12,0,9&1d12[/result] 3 tempat minum kulit, 1 belati Berdiri dengan kedua kakinya, makhluk omnivora ini mengecek keadaan sekutunya. Ia melihat Tume dan Yasmine masih tampak oke. Mereka akan baik-baik saja. Pasti mereka akan baik-baik saja. Shinzo tidak ingin ada masalah lagi di arena. Ia ingin bergerak dengan tenang. Sesungguhnya pemuda dari distrik delapan ini bukan tipikal pecinta hutan omong-omong. Hutan yang mereka masuki ini cukup lebat dengan ragam tanaman liar serta hewan. Ia cukup terpukau dan merasa seharusnya Capitol tidak begitu bermurah hati untuk menyediakan suasana yang menyejukkan penglihatan. Shinzo tetap merasa harus berhati-hati karena sesuai dengan yang sering didengarnya, arena kadang jauh lebih membunuh daripada karier itu sendiri. Oleh karena itu, dia harus waspada dan menurutnya dia tidak akan makan buah-buahan sembarangan juga minum sembarangan kalau bisa. Perutnya belum lapar untunglah. Tume menyarankan mereka untuk lanjut berjalan dan menurut Shinzo itu adalah tawaran paling bagus yang didengarnya sejak bunyi meriam yang menandakan tewasnya dua puluh lima peserta—dan mulailah Shinzo berjalan kembali. Jumlah mereka sudah kurang dari separuh dan tersebar. Dia tidak tahu siapa saja yang berada di dekat mereka. Oleh karenaitu, peserta dari distrik delapan ini menggenggam terus belatinya, seolah-olah musuh sudah berada dua meter di dekatnya. Edited by Corialonus Snow, Wednesday Jun 5 2013, 10:46 AM.
|
|
![]() |
|
|
| Pinoy Annelli | Wednesday Jun 5 2013, 08:41 AM Post #19 | |
![]()
|
DISTRIK 5 || HP: 76 || AP: - || KS: - TARGET: -|| DICE KEJUTAN: 11+[result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result]|| JARAK SERANG: 26 + [result]3&3,1d12,0,3&1d12[/result] 1 kotak biskuit, 1 tempat minum kulit, 1 belati, 1 bungkus dendeng Emosi Pinoy masih belum reda sempurna. Ia memang cukup terhibur dengan adanya pemandangan elok yang belum pernah dilihatnya di distrik lima sebelumnya. Baginya ini adalah lokasi yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidupnya. Tanah tidak terlalu keras dan lembek. Rerumputan tumbuh subur tetapi tidak terlalu liar untuk mengganggunya dan baginya ini hanya permulaan yang menyenangkan karena hutan ini terlihat lebat dan masih ada bagian lain dari hutan yang belum dieksplor. Winona dan Gavyn terlibat percakapan yang menurutnya telah menambah poin dari persekutuan mereka, yaitu saling berbagi. Ada keheningan cukup lama ketika pertukaran antara pisau dan kaus kaki itu berganti. Pinoy membiarkan mereka mengurusi barter bijaksana itu. Pemuda dari distrik lima ini membiarkan semuanya menjadi lebih rileks sebelum bersuara kembali dengan nada suara yang berat. “Kita harus terus berjalan dan mencari tempat di mana bagus untuk beristirahat.” Mereka tentu butuh perlindungan karena bisa saja mendadak ada kawanan musuh yang melintas dan membacok mereka yang hanya berdiri bergerombol dan terpesona dengan sekitar. Mereka juga butuh perlindungan terhadap perubahan cuaca ekstrim yang dikabarkan sering terjadi di arena. Mereka juga butuh tempat perlindungan yang mampu menambah keamanan di saat mereka tidur bergantian untuk berjaga satu sama lain. Jadi, yuk, jalan. Edited by Corialonus Snow, Wednesday Jun 5 2013, 10:47 AM.
|
|
![]() |
|
|
| Kanya Jett | Wednesday Jun 5 2013, 08:52 AM Post #20 | |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 53 + 6 (ransel sedang) + 5 (dendeng sapi) - 5 (arena) = 59 || AP: - || KS: - TARGET: -|| DICE KEJUTAN: [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] || JARAK SERANG: [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] 1 pisau, 1 set panahan, 1 pasang kaus kaki, 1 bungkus dendeng sapi Bermimpi itu indah—bahkan ketika mimpi itu adalah mimpi paling buruk yang ada dalam hidupnya. Kanya memang pernah bermimpi tentang hal ini, tentang hal di mana dia akan menjadi salah satu mayat yang tak akan pernah terjamah oleh orang tuanya sampai Capitol benar-benar ingin mengirimnya kembali ke rumah. Tapi siapa yang tahu bagaimana isi pikiran para Capitol? Mungkin hanya para kawanan karir yang tidak tahu diri itu. Sungguh, kali ini Kanya benar-benar tidak menyukai Capitol. Terlambat, tapi ini masih sangat berguna untuk dirinya menanamkan kebencian dalam menyerang. Kaki jenjangnya terus berlari ketika sepasang iris gelapnya menangkap pemandangan yang buruk, lebih buruk dari arena sebelum-sebelumnya. Lebih banyak mayat, lebih banyak darah. Rekan satu distriknya? Oh well, dia tidak peduli dengan mereka. Pun mereka juga tidak peduli dengan Kanya, kan? Tidak peduli karena mereka sibuk dengan lawan mereka sendiri, eh? Biarlah, yang jelas sekarang dia harus kabur berlari dan berlari menyelamatkan diri masuk terus ke dalam hutan yang lebat, hutan yang jauh lebih indah dari pemandangan hutan di Distrik Tujuh. Matanya dimanjakan oleh pemandangan luar biasa ini. Namun hidup di dekat hutan tidak membuat Kanya serta merta berbahagia karena pemandangan itu. Dia tahu, ini Capitol, ini ulah Capitol, ini jebakan, ini kandang, ini sesuatu yang tak baik jika terlalu larut dalam pesona alam. Dia tidak boleh menyentuh apapun, memakan apapun. Hanya berjalan dan berjalan walau terkadang tubuhnya merasa lemah, seperti terkena racun. Ya, racun. Maka sesekali dia pun harus beristirahat di tempat yang aman. Menelisik pohon yang terlihat anggun tetapi busuk di dalam. Tidak tertarik memanjatnya, masih terlalu takut. Tak lama dia tertidur, tidak bisa lama, selalu saja begitu. Dan ketika mentari kembali bersinar dengan indah, dia kembali berjalan mencari buruan. Iya, buruan manusia, bukan buruan binatang. Karena membunuh manusia lebih menjanjikan dari pada membunuh binatang yang mungkin telah diracuni dalamnya. |
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
![]() ZetaBoards gives you all the tools to create a successful discussion community. Learn More · Sign-up for Free |
|
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |

















9:34 PM Jul 11