Welcome Guest [Log In] [Register]

MAY THE ODDS BE EVER IN YOUR FAVOR



[ INACTIVE ]
TERM 9: 2193 - 2194




[+] Topik AU: 4/5
[+] Visualisasi Asia: 3/3
[+] Capitol: 5/5
[+] Distrik Satu: 4/5
[+] Distrik Dua: 4/5
[+] Distrik Empat: 5/5
[+] Distrik Tiga Belas: 2/5
[+] Balita/Dewasa: 5/5



IndoCapitol


TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL
PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH
PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI
TRAINING CENTER || ARENA




Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain.

PEMENANG
HUNGER GAMES 54



{DISTRIK 1}



KREIOS EPHRAIM


MUSIM PANAS



21,3° - 23,6° C
21 Juni - 20 September
Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan.



WAKTU INDONESIA BAGIAN BARAT (JAKARTA)




Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

TWITTER & CHATBOX


Twitter
Chatbox



FORUM LOG
Waktu Update
Sabtu, 11 April 2015 Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out!

PEMBERITAHUAN
Kepada Informasi
Semua Member Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum
Semua Member Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2)
Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda.

Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru.

Bergabunglah bersama kami!

Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum:


Username:   Password:
Locked Topic
Arena Satu - Hutan Beracun
Topic Started: Tuesday Jun 4 2013, 08:15 PM (4,109 Views)
Redemptus Maleveich
Member Avatar

Sebutlah pemuda Maleveich ini tengah berpuas diri melihat mayat-mayat bergelimpangan di seputar Cornucopia. Senyum tak kunjung usai tergambar jelas pada wajahnya sambil mengganti setiap potongan gambar yang menampilkan wajah-wajah lusuh menyedihkan. Tak henti-hentinya senyum Redemptus muncul dalam raut wajahnya yang pucat. Berikutnya, layar di depan memperlihatkan potongan tubuh yang sudah tercerai berai. Perut yang telah terkoyak secara paksa, bola mata yang sudah tidak utuh lagi, wajah yang masih meninggalkan teror dan ketakutan. Darah di mana-mana.

Akan tetapi, dia masih kecewa belum ada peserta yang nekat meledakkan diri sebelum waktu enam puluh detik usai. Kalah taruhan lagi—seperti tahun kemarin. Biasa.

Meriam dibunyikan sebanyak dua puluh lima kali menandakan jumlah nyawa yang telah bergabung dengan penghuni dunia lain. Semangat yang berkobar di masing-masing peserta sebelum pertumpahan darah dimulai boleh dikata mulai pudar dengan berkurangnya sebagian total peserta, hm? Dua puluh lima yang berpulang, tapi masih ada tanggungan dua puluh tiga lainnya yang harus diurus. Ck. Redemptus lebih memilih meledakkan mereka dalam satu tempat, entah kenapa dia menginginkan cara demikian. Tapi pada akhirnya cara itu tidak ditempuh.

Ekspresi menghina menggantikan senyum di bibirnya kala menyaksikan kumpulan manusia yang mulai bergerak ke satu tempat. Maniknya berpindah ke kumpulan peserta yang berpencar ke berbagai tempat di luar Cornucopia. Tiga arena telah dipersiapkan untuk mereka. Salah satunya adalah hutan cukup lebat dengan rimbunan hijau di sana-sini yang akan menyambut kedatangan anak-anak yang tersesat. Tidak hanya hijau saja yang bisa dilihat, tapi kau bisa melihat warna-warna cerah indah yang menghiasi hutan. Masih sama indahnya dengan penampilan visual yang tertangkap sebelum mereka bergerak saling bantai satu sama lain. Kupu-kupu bersayap pelangi nan indah pun berterbangan sesuka hatinya dengan sengatan dan racun yang membawa mimpi buruk. Kau bahkan bisa menemukan buah-buahan menggiurkan tergantung di antara semak. Beracun, tentunya. Semua di sini beracun. Oh, Redemptus juga tidak lupa menambahkan sungai yang mengalir sebening kristal yang berkilau ketika tertimpa sinar matahari. Kurang baik apa lagi demi memanjakan penglihatan peserta sejenak.

Arena sudah memasuki hari ketiga dan Redemptus masih belum berniat mengubah segalanya. Nah, selamat melanjutkan permainan kalian, tributes.

  • Perhatikan deskripsi saya baik-baik.
  • Post pertama tidak diperbolehkan menyerang.
  • Untuk post pertama, berlaku pengurangan Health Point sebanyak 5 untuk semua peserta yang masuk ke arena ini (deskripsikan kena duri dari hutan beracun atau menghirup racun yang ditebarkan kupu-kupu bersayap pelangi).
  • Tetap perhatikan Panduan Hunger Games #50.

Offline Profile Goto Top
 
Replies:
Urie Tommy
Member Avatar

JUMLAH KATA: [result]2&2,1d3,0,2&1d3[/result] x 180
DISTRIK 1 || HP: 125-5= 120 || AP: - || KS: - || Jarak Serang: [result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result] || Dice Kejutan: [result]4&4,1d12,0,4&1d12[/result]
Ransel besar, ransel kecil, satu belati, satu pisau, satu dendeng sapi, satu tempat minum dua liter

Lokasi baru. Hari baru. Barang bawaan baru.

Diri baru.

Tidak. "Diri baru" bukanlah istilah yang tepat untuk mendeskripsikan diri seorang Urie Tommy saat ini. Mungkin sebuah istilah brainwashing lebih cocok untuknya. Untik sejenak lelaki dari distrik satu ini tidak dapat berpikir apa-apa. Lokasi baru, hari baru--berarti dia sudah selamat dari tahap satu Hunger Games. Dengan membunuh orang.

Urie membunuh orang, Kawan. Urie yang tidak suka kekerasan itu bisa membunuh orang lain. Bahkan perempuanlah yang ia bunuh. Perempuan, sebuah makhluk yang ia puja dari awal ia lahir dan (katanya) akan terus ia puja hingga akhir hayatnya. Dia tidak seharusnya membunuh perempuan itu. Tidak seharusnya! Urie tidak peduli perempuan itu mau hidup atau mati, tapi jangan di tangan Urie! Seharusnya bukan Urie yang--

"AAARGH!!"

Sesuatu serasa menusuk kulitnya. Perih. Urie memutar matanya; ternyata cuma duri (sesaat tadi ia pikir lawannya sudah mulai bertindak--dan dia akan mengalami takdir yang sama seperti gadis yang dibunuhnya, alias ditusuk pisau). Setelah mencabut duri itu dari tangannya, Urie menghela napas lagi. Paling tidak, rasa sakit yang dihasilkan si duri sudah membuatnya kembali dari blank mind statenya.

Sekarang... yang lain dimana?
Edited by Corialonus Snow, Wednesday Jun 5 2013, 10:49 AM.
Offline Profile Goto Top
 
Colleen Roosophire
Member Avatar

DISTRIK 1 || HP: 100+48-10-5=133 | AP: - | KS: -
Jarak Serang: [result]4&4,1d12,0,4&1d12[/result] || Dice Kejutan: [result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result]
Word Count: [result]3&3,1d3,0,3&1d3[/result] x 180
1 Pisau, 1 Kompas, 1 Tombak, 1 Potong Dendeng[ /b ]

Hutan yang indah. Sayang Distrik Satu tidak memiliki hutan seperti ini. Memang benar kalau distriknya itu dikelilingi oleh hutan lebat, tapi penduduk distriknya tidak diperbolehkan memasuki hutan itu. Hutan disini, jauh berbeda dari hutan yang ada di rumahnya. Kalau hutana yang di distriknya, hutan itu dilindungi oleh pagar beraliran listrik untuk membuat para penduduk Distrik Satu tidak bisa memasukinya, sedangkan kalau hutan disini, tidak ada pagar sama sekali dan para peserta diperbolehkan untuk keluar-masuk hutan.

"Indah ya." Ucapnya pelan. Mohon maklumi, ini adalah pertama kalinya ia berada di hutan, jadi masih sedikit norak dan terkejut dengan keindahan pemandangan hutan.

Sebelumnya, dua puluh lima meriam telah dibunyikan. Menandakan dua puluh lima peserta mati hanya dalam bloodbath. Masih ada dua puluh tiga orang lagi yang masih akan bertarung untuk mempertahankan nyawa mereka. Setidaknya, Colleen sudah membuktikan bahwa dirinya bisa bertahan hidup ketika bloodbath kemarin.

Bukan kenangan yang indah, tapi gadis dari Satu itu senang bahwa ia dapat bertahan hidup dan bisa membuktikan bahwa dirinya layak menyandang nama karir. Mungkin. Dari dua puluh lima orang mati itu, dua puluh duanya dibunuh karir, satu dibunuh oleh peserta dari Distrik Sepuluh, dan dua lagi mati tak jelas.

Saat ini, Colleen sedang berada di hutan yang sudah disediakan di Arena. Mengapa ia berada disana? Karena sudah tugasnya untuk mencari peserta lain, dan mengeksekusi mereka karena kabur dari bloodbath kemarin. Jika mereka kabur dari bloodbath, artinya mereka mengundur wkatu eksekusi mereka, dan itu apa yang dibenci oleh gadis Roosophire itu. Mengundur-undur waktu. So unprofesional.


1 Ransel Besar= +12
1 Ransel sedang= +6
100+12+6+30= 148
Link pembunuhan: Isaac, Mario, Stellaria
PMIIW
Offline Profile Goto Top
 
Haymitch Abernathy
Member Avatar
Pemenang Hunger Games ke 50

DISTRIK 12 || HP: 94 || AP: [result]11&8,1d10,2,11&1d8+3[/result] || KS: [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result]
TARGET: Kanya Jett (D7) || DICE KEJUTAN: [result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result]+8 || JARAK SERANG: 1+[result]7&7,1d12,0,7&1d12[/result]
pedang (2) dan pisau (2)


Dia sama sekali tak ada maksud untuk menguntit siapapun. Lebih baik ia melakukan hal berguna seperti meneriakkan bagaimana Capitol sukses membuatnya muak dan marah alih-alih menumbalkan diri sekalian di arena agar Panem tahu bahwa sudah saat bergerak. Namun, sayangnya Haymitch masih waras—keinginannya untuk pulang dan menang jauh lebih tinggi dibandingkan apapun. Seperti stigma dan benar-benar berpengaruh pada dirinya sekarang. Dua puluh lima orang, nyawa, kepala yang melayang. Semua itu bukan hal yang bisa ditemui setiap harinya.

Menyeret diri setelah memutar, ia bersandar pada satu pohon. Mulai berjongkok dan memeriksa barang bawaannya sejenak. Setidaknya ia sudah berjalan cukup jauh tadi, menghindari untuk mendapat kejutan baru sebelum tahu bahwa apa yang ada di ransel kecil ini bisa membuatnya benar-benar bertahan. Oh, dan sungguh mengejutkan. Ini jauh lebih mewah dibandingkan makan malam dan barang yang ia punya di kotak kayu di rumahnyanya—satu kantong biskuit, korek api, kawat, tempat minum kulit ukuran setengah liter berisi air mineral, dan sarung tangan.

Benar-benar sangat bermanfaat.

Tangannya, dengan cekatan mulai memotong kawat dengan pisau yang diselipkannya di tas yang diambilnya tadi, memotongnya menjadi beberapa bagian dengan panjang masing-masing lima senti. Lalu, intuisinya menyuruh Haymitch untuk meraih beberapa bunga—dengan sebelumnya ia menggunakan sarung tangan untuk meminimalisasi hal buruk lainnya. Kupu-kupu ‘menakjubkan’ milik Capitol saja bisa membuat sang adam sesak napas, tentu arena bisa jauh lebih aman dibandingkan itu. Haha—terserah lah. Pada ujung kawat yang runcing ia bubuhkan serbuk sari dan dengan hati-hati ia simpan pada sarung tangannya.

Ada eksistensi lainnya.

Sigap. Sulung Abernathy berbalik dan melemparkan satu dari potongan kawatnya. Kreatif? Oh, ya. Mungkin setelah ini, ia akan memberikan masukan demi masukan pada para pembina permainan agar tempat yang seharusnya disebut ‘surga’ ini dimanfaatkan dengan baik. Menjadi kuburan umum untuk para pejabat di pemerintahan, mungkin? Agar mereka bisa mengistirahatkan otak tolol mereka—nah, itu ide paling brilian.
Offline Profile Goto Top
 
Pietronella Hart
Member Avatar


DISTRIK 2 || HP: 73 || AP: [result]9&6,1d8,3,9&1d8+3[/result] + [result]1&1,1d5,0,1&1d5[/result] || KS: [result]23&23,1d24,0,23&1d24[/result]
TARGET: Kanya Jett (D7) || DICE KEJUTAN: 5 + [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result] || JARAK SERANG: 4 + [result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result]
2 pistol udara, 1 tombak, 1 belati





Kurangaj—

Ada serendengan makian yang berada di ujung lidah gadis ini manakala merasakan perih menyentuh lapisan kulit yang tergores dan menyisakan jejak merah di sana. Tidak dilisankan, though. Tidak perlu. Tidak ada gunanya, hanya menghabiskan napas dan tenaga belaka. Pun para penonton yang menyaksikan Hunger Games di rumah mereka yang nyaman dan hangat dan aman tanpa ancaman kematian (mhm, bisa dengar sarkasme di sini?) pasti tidak akan senang dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya yang tidak mencerminkan tindakan seorang gadis bertutur kata manis andaikan dia betul-betul mengumpat untuk melampiaskan kesal. Stereotip gender, toh, menyebabkan ia selalu dipandang lemah lembut sekalipun berasal dari distrik kuat semacam dua.

Pft.

Namun sungguh, godaan untuk melisankan kata-kata kasar terlalu besar untuk diabaikan begitu saja. Untuk luka yang diderita olehnya, untuk pening yang melanda kepala, untuk segala usaha dan kerja keras yang menyebabkannya harus waspada setiap saat di dalam arena ini. Untuk nasibnya yang — hu, tidak, Pietronella Hart tidak akan berkeluh kesah tentang apa yang dihadapinya saat ini. Memang dia ini seorang perempuan, tapi bukan berarti dia lemah. Ha. Dan memang ia tidak memiliki prospek cemerlang meraih kemenangan menjadi satu-satunya survivor dalam permainan berdarah ini — di antara peserta dari distrik yang sama pun ia bukan yang dijagokan, belum ditambah para karier dari distrik satu dan empat. Mengharap menjadi pemenang adalah suatu mimpi yang terlampau muluk.

Pe, du, li, se, tan.

Presentase keberhasilannya menjaid pemenang mungkin tidak lebih dari sekian persen, tapi selama masih ada kemungkinan dia selamat dari sini — itu sudah cukup menjadi motivasinya. Hee. Usianya masih belasan tahun, tentu saja Pietronella Hart ingin hidup lebih lama, kawan. Kau pikir kawanan karir adalah mesin pembunuh yang tak memiliki hati? Mungkin otakmu harus diperiksakan ke dokter. Puh.

Manik birunya menangkap sekelebatan gerakan. Layaknya seekor kucing, ia otomatis mengerahkan seluruh perhatian ke arah bayangan tadi dan menajamkan segala indera yang dimiliki. Telinganya awas, mendengar suara yang tercipta oleh gerakan — manusia, peserta, lawan. Genggaman tangan pada tombaknya mengerat dalam posisi siap-sedia, bersiaga, siap digunakan. Mata memicing, berusaha mengidentifikasi siapa yang berada di sebelah sana. Gadis Hart ini bukan orang bodoh yang akan menyerang membabi-buta tanpa mengetahui siapa lawannya terlebih dahulu, tahu. Cuma idiot yang berlaku seperti itu. Kalau ternyata kawannya sendiri yang ada di sana, bagaimana, hm?

Alisnya berjingkat naik, dan ujung bibir sedikit berkedut, tatkala si gadis menyadari siapa yang berada dalam jarak cukup dekat darinya. Anak perempuan dari distrik tujuh. Jelas bukan kawan yang bisa dia sambut dengan lengan terbuka lebar dan ekspresi bersahabat.

Singkatnya, lawan.

Pilihannya adalah menyerang terlebih dahulu, sebelum dia sendiri yang diserang. Tungkainya serta merta diayun cepat untuk menghampiri, berusaha tidak menimbulkan suara di antara rimbunan dedaunan yang menghalangi jalan walau jelas gerakan yang dilakukannya tidak bisa sunyi total. Keresak samar-samar dari daun yang diinjak oleh tapak kaki, gesekan pada gerumbul tanaman yang diserempet kala berjalan, semua itu tidak bisa dikata tenang. Mungkin suara-suara itu meski tidaklah begitu keras, telah memberitahukan kedatangannya pada gadis yang dituju. Mhm, yah. Baguslah, dia memang tidak ada niatan mengagetkan, kan.

“Hullo,” sebuah sapaan singkat, tanpa senyum di bibir.

Basa-basi busuk. Bukan inginnya berakrab ria dengan calon korban yang akan merasakan senjatanya. Tapi oh, tidak etis jika langsung menyerang begitu saja, sayang. Menyerang lawan yang tidak waspada adalah suatu tindakan pengecut, kau tahu. Setidaknya kini ia telah memberikan peringatan terlebih dahulu sebelum menggunakan tombaknya untuk menusuk sasaran. Tajam, ujung senjata ini. Ingin mencoba, hem?
Offline Profile Goto Top
 
Irvette Schwan
Member Avatar

DISTRIK 3 || HP: 49-4 (kejutan) = 45 || AP: - || KS: -
TARGET: - || DICE KEJUTAN: 12+[result]3&3,1d12,0,3&1d12[/result] || JARAK SERANG: 1+[result]9&9,1d12,0,9&1d12[/result]
Satu kotak Biskuit, Satu Tempat Minum Kulit, Satu Kantong Tidur, Satu Lentera


Berjalan sendirian di hutan yang gelap itu memang rasanya sangat horror. Bukan hanya karena hantu atau semacamnya, tapi juga karena jarak pandangnya jadi sedikit. Belum lagi mungkin ada muttan-muttan yang bersembunyi dan siap untuk menyerang. Kira-kira, ada muttan manusia tidak di Quarter Quell ini? Jika tak salah pernah ada dulu muttan manusia. Sekarang semoga tidak, ia tidak mau menghadapi makhluk-makhluk susah move on dari tahun-tahun yang lalu. Dan lagian rasanya nggak ada alasan kayaknya buat tribute-tribut dendam ke distrik tiga. Kayaknya, sih.

Di wajahnya sekarang ada banyak darah kering yang gatal ingin dibersihkannya. Namun airnya ada hanya untuk diminum, tak boleh dibuang-buang atau ia akan kehausan. Ah, hidup di arena jauh lebih sulit dibandingkan hidup di distrik tiga. Ia kepengen cupcakes, cupcakes yang banyak. Mau red velvet atau apa pun, mau yang banyak. Tapi di sini tidak cupcakes dan kalau pun ia dapet sponsor, yang kayaknya sih nggak ada mengingat track record distrik 3 soal sponsor jelek, kayaknya gak akan dikirimin cupcakes juga.

Huhu, bisa dibilang ia kecanduan cupcakes dan sekarang sudah terlalu lama tidak makan cupcakes sampai-sampai sakau. Perbandingan yang jelek, sih. Tapi nggak tau harus dibandingkan dengna kata apa lagi, yang kerasa cocok Cuma kecanduan.

Ugh, rasanya ingin keluar dari hutan ini. Terlalu suram. Irvette tidak cocok dengan yang suram-suram, rasanya jadi ikut suram juga. Dan ia benci merasa suram, tahu. Hidup Cuma sekali kenapa harus dibuat suram juga. Biasanya ia menghindari habis-habisan merasa suram, tapi kalau keadaannya kayak gini apalagi dengan suasana yang menduduk, rasanya justru jadi ingin mojok di pojokan lagi dan menyanyikan lullaby-lullaby suram.

“Aduh!”

Kaget ketika sedang sibuk berjalan sambil melamun mendadak kakinya tertusuk sesuatu dan cukup menyakitkan. Ugh, lukanya jadi bertambah dan bahkan bukan karena serangan orang lain. Karena kecerobohannya. Bisa dibilang ia menyerang dirinya sendiri dengan tak berhati-hati. Jika saja ia tak tertusuk mungkin sekarang ia sudah mati terjatuh ke dalam semak belukan yang dipenuhi dengan duri-duri. Ia bergerak menjauhi semak-semak tersebut dan memandang lukanya yang terasa nyut-nyutan. Feelingnya mengatakan bahwa lukanya tidak akan menjadi luka yang biasa.

Aaaaah. Kenapa harus namanya sih yang terambil dari bola kaca sialan itu. Gagal hidup makmur di distrik dan malah hidup menderita di sini. Perasaannya saja atau hawa di sekitarnya terasa semakin jelek? Mungkin cuma perasaannya saja, mungkin efek tertusuk. Coba saja ia mempunyai sesuatu untuk membersihkan luka itu, mungkin sudah dilakukannya dari tadi. Lukanya sekarang terlihat membengkak dan terlihat benar-benar jelek, astaga.

Hu, kenapa tidak disediakan setidaknya betadine, gitu. Betadine kan murah.

Ugh, daripada mati karena infeksi...atau lebih baik mati karena infeksi? Bingung. Tapi toh pada akhirnya ia duduk juga, meski tidak bersandar pada pohon karena takut kenapa-napa. Ia mengambil tasnya dan mengambil botol airnya yang masih tersisa tiga perempat isinya. Ia membuka tutupnya dan menuangnya sedikit isinya ke tutup botolnya. Ia meneteskan air ke lukanya untuk sedikit membersihkannya dan kemudian menutup botol airnya lagi, takut jika dibuka terlalu lama ia akan tersepak sesuatu dan kemudian botolnya jatuh dan airnya tumpah.

Tahu sendiri kan, ia lagi sial.

Bentar, sepertinya ia mendengar orang mulai bertengkar. Bukan, bukan bertengkar, lebih tepatnya bertarung. Astaga naga, jangan bilang kalau sekarnag ia sudah harus siap-siap bertarung lagi. Ia malas astaga. Apalagi kalau lawannya semenyebalkan si bebek, lama-lama ia gigit juga kalau memang seperti itu. Atau kalau tidak nanti ia cubit dengan tenaga penuh. Cubitannya sakit, lho. Tanya ke orang-orang yang pernah jadi korban cubitannya. Testimoni mereka pasti akurat.
Offline Profile Goto Top
 
Zephaniah Lore
Member Avatar

DISTRIK 1 || HP: 106
Jarak serang: 5 + [result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result] || Dice kejutan: 7 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result]
Target: Haymitch & Maysilee
AP: [result]4&1,1d8,3,4&1d8+3[/result] + [result]4&4,1d5,0,4&1d5[/result] || KS: [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result] & [result]16&16,1d24,0,16&1d24[/result]
Barang bawaan: 1 ransel besar, 1 ransel kecil, 1 kapak, 1 belati, 1 tombak, 1 bungkus dendeng, 1 karung apel dan kiwi, 1 tempat minum 2 liter, 1 botol madu, 1 kaos kaki, 1 kompas, 1 senter




Sepasang matanya mengerjap lambat.

Di mana ini?

Aroma wangi yang menyenangkan memenuhi indera penciuman Zephaniah. Membuatnya mengantuk dan terbuai. Kepalanya pusing, pandangannya berputar-putar seakan sedang terjadi gempa bumi di tempatnya terbaring. Sebelah tangannya terangkat memijat pelipis, matanya terbuka sedikit dan berusaha mengenali tempat asing itu. Beberapa saat kemudian seekor kupu-kupu cantik terbang melewati kepalanya, menebarkan semacam serbuk aneh yang membuatnya langsung sigap menutup hidungnya. Tadi... apakah ia pingsan karena serbuk dari kupu-kupu itu?

Zephaniah terduduk. Dadanya masih terasa sakit. Namun ia menjadi lebih awas dari sebelumnya. Tempat indah ini memang tidak mungkin tidak ada apa-apanya. Perasaannya mengatakan semua yang ada di hutan ini... sampai ke rumput-rumputnya... berbahaya. Beracun, mungkin.

Diambilnya tempat minum dari dalam tas, diteguknya sedikit untuk melegakan tenggorokannya yang kering. Ia harus mengirit persediaan airnya. Kalaupun ada sungai di tempat ini, ia takkan coba-coba.

Zephaniah pun berdiri lagi. Terdengar suara langkah orang di dekatnya. Satu. Dua orang?

Ia tanpa pikir panjang menyodokkan tombaknya kuat-kuat ke dua arah tersebut bergantian.
Offline Profile Goto Top
 
Yasmine Silvertongue
Member Avatar

DISTRIK 10 || HP: 55 || AP: [result]5&5,1d8,0,5&1d8[/result] || KS: [result]7&7,1d24,0,7&1d24[/result]
TARGET: Winona C. || DICE KEJUTAN: 11 + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] || JARAK SERANG: 35 + [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result]
empat dendeng sapi


Serangannya mengenai Winona. Cukup parah mungkin kalau mengingat kondisi fisik gadis kecil itu pun sudah tidak prima lagi. Well, semua dari mereka begitu. Luka dan memar di mana-mana. Sekujur tubuh. Seakan kemarian mereka telah dipastikan. Hanya menunggu waktu sampai fisik mereka menyerah. Meski saat ini, bagi Yasmine, halangan itu tidak benar-benar membuatnya mengurangi kekuatannya saat memukulkan tongkat pistol udaranya.

Namun ia lengah.

Tak menyadari bahwa gadis kecil dari Distrik Delapan itu bisa membalas menembakkan anak panah ke arahnya.

Ia mengerang dan memegangi lengannya yang terluka dalam oleh batang panah Winona. Sakit. Tapi masih tetap berlari dan bersikeras untuk berusaha masuk kembali dalam jangkauan anak itu agar dapat memukulkan pistol udaranya ke lengan samping Winona. Pembalasan atas luka di lengannya yang kini mengucurkan banyak darah. Yasmine tidak peduli lagi Winona kawan baik Shinzo atau apa, ia hanya merasa harus menyerang dan menghabisi semua yang bukan Tume dan Pinoy, sekutunya.

Seluruh luka di tubuhnya tiba-tiba terasa perih lagi, seolah distimulasi oleh luka dari anak panah Winona. Tapi tidak mungkin menyerah pada rasa sakit sekarang. Tidak. Ia akan berjuang sampai saat terakhir. Demi dirinya. Demi distriknya.

Masih ada waktu.
Edited by Jonathan Duprau, Thursday Jun 6 2013, 11:56 AM.
Offline Profile Goto Top
 
Gavyn Owyn
Member Avatar

DISTRIK 11 || HP: 76 - 4 (duri) = 72 || AP: - || KS: -
TARGET: -|| DICE KEJUTAN: 15 + [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result] || JARAK SERANG: 29 + [result]8&8,1d12,0,8&1d12[/result]
1 pasang kaus kaki, 1 lentera, 1 pisau, 1 korek api


Gavyn tidak bicara banyak lagi.

Dapat dilihatnya Winona baru saja melesatkan anak panah pada seorang gadis lawan yang tidak benar-benar jelas dilihatnya. Dari Distrik Sepuluh sepertinya. Rupanya sudah tiba saatnya mereka serius saling menghabisi. Walaupun sejak awal memang tak mungkin mengharapkan bahwa mereka semua dari distrik bawah dapat bekerja sama untuk melawan karir terlebih dulu. Atau mungkin menunggu sampai mereka semua bertemu dengan para karir itu.

Ia mengisyaratkan dengan gerakan tangan agar Winona dan Pinoy berlari mengikutinya. Mereka tidak akan berada di tempat yang sama dengan lawan mereka lama-lama. Terlebih gadis distrik sepuluh yang telah melukai Winona. Kalau ia tak dapat melindunginya, setidaknya ia dapat berusaha membawa mereka pergi lebih jauh ke tempat yang aman. Bertahan hidup lebih lama. Meskipun hanya untuk beberapa jam.

Semak belukar yang berduri merobek bagian bawah celananya dan meninggalkan luka-luka gores di betisnya. Pun begitu Gavyn yakin pilihan mereka masuk lebih dalam ke arah jantung hutan dapat melindungi mereka. Musuh akan kesulitan melihat mereka. Dan kalau ia, Winona, dan Pinoy beruntung, mereka dapat mengintai lawan dari balik pohon atau sesemakan lalu melancarkan serangan diam-diam. Dengan anak panah atau batu. Mereka butuh strategi untuk itu semua.
Offline Profile Goto Top
 
Tume Tinkham
Member Avatar

DISTRIK 10 || HP: 73 - 4 duri = 69 || AP: - || KS: -
TARGET: - || DICE KEJUTAN: 17 + [result]4&4,1d12,0,4&1d12[/result] || JARAK SERANG: 47 + [result]7&7,1d12,0,7&1d12[/result]
2 tempat minum kulit, 1 belati, 1 lentera


Ada orang. Benar.

Gadis dari Distrik Delapan, temannya Shinzo. Tume juga tidak terlalu mengerti mengapa mereka harus saling melawan sekarang. Tapi tak banyak pilihan disediakan bagi mereka di arena seperti ini. Sekalipun arena hutan ini merupakan suatu tempat yang sangat indah dan damai. Tetap saja kalau mereka tidak beraksi lebih dahulu merekalah yang akan dilumpuhkan lebih dahulu. Dan Tume tidak ingin itu terjadi.

"Awas!"

Peringatannya untuk Yasmine terlambat sehingga anak panah dari Winona mengenai Yasmine. Tume bergegas mendekati gadis itu, khawatir melihat lukanya. Tapi rupanya Yasmine masih lebih memilih untuk bangkit dan menyerang Winona lagi, padahal Tume jelas-jelas melihat luka parah di lengan Yasmine. Dan Tume takut Yasmine akan meninggalkannya sebentar lagi. Seperti Freida meninggalkannya.

"Kau tidak apa?" tanyanya cemas, berusaha membawa gadis itu menjauh dari si Distrik Delapan.

Dan sayangnya, saat itulah kaki Tume terkena semak-semak belukar yang rupanya berduri tajam. Ia mengaduh kesakitan dan mendapati bahwa kakinya sekarang mempunyai banyak luka gores. Menambah nilai minus dari kondisi fisiknya lagi. Tapi dibandingkan dengan lukanya, Tume masih lebih mengkhawatirkan Yasmine. Yang meskipun lebih tua darinya tapi lebih sering melakukan hal-hal yang kadang sulit dipahaminya. Apa mereka bisa bertahan lebih lama?
Offline Profile Goto Top
 
Shinzo Kawabata
Member Avatar

DISTRIK 8 || HP: 76 + 5 hujan = 81 || AP: - || KS: -
TARGET: -|| DICE KEJUTAN: 22 + [result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result] || JARAK SERANG: 54 + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result]
3 tempat minum kulit, 1 belati


Shinzo yakin Tume benar bahwa ada suara orang lain, sangat dekat dengan mereka.

Tapi pertanyaan Tume tidak terbalas. Meski beberapa detik selanjutnya Shinzo dapat melihat Winona, Gavyn, dan Pinoy. Winona melancarkan anak panah ke arah Yasmine. Yang gagal menghindarinya. Hal ini sedikit banyak membuatnya terkejut. Winona masih bertahan hidup selepas dari bloodbath tadi rupanya. Shinzo tidak banyak memperhatikan. Ia senang, tentu saja, setidaknya masih ada yang bertahan dari distriknya. Namun fakta bahwa kini mereka berada dalam dua kubu yang berbeda dan harus saling menyerang satu sama lain demi bertahan hidup lebih lama membuatnya sedih.

Arena sangat jauh berbeda dengan Distrik Delapan, sulit membiasakan diri di sini. Terlebih lagi tak ada kuas, kanvas, maupun alat lukis lain yang digemarinya. Yang biasanya dapat menjadi penghiburnya di kala kesedihan merundungnya. Sekarang ia hanya punya Tume dan Yasmine. Ia punya Winona juga seharusnya, tapi mereka telah memilih jalan yang berbeda. Lagipula begitu meriam demi meriam lain ditembakkan dan jumlah mereka menipis, mereka pasti akan mulai saling menyerang juga. Dan ia sendiri akan mulai menyerang juga. Rasanya percuma bertahan lebih lama lagi di sini. Kecil kemungkinan ia dapat bertahan hidup.
Offline Profile Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Join the millions that use us for their forum communities. Create your own forum today.
Learn More · Register Now
Go to Next Page
« Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic »
Locked Topic


Theme design by Drama, theme coding by Lewis. of Outline and edited by Ntin, Ubi, and Ilma.