|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Arena Satu - Hutan Beracun | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Tuesday Jun 4 2013, 08:15 PM (4,108 Views) | ||
| Redemptus Maleveich | Tuesday Jun 4 2013, 08:15 PM Post #1 | |
![]()
|
Sebutlah pemuda Maleveich ini tengah berpuas diri melihat mayat-mayat bergelimpangan di seputar Cornucopia. Senyum tak kunjung usai tergambar jelas pada wajahnya sambil mengganti setiap potongan gambar yang menampilkan wajah-wajah lusuh menyedihkan. Tak henti-hentinya senyum Redemptus muncul dalam raut wajahnya yang pucat. Berikutnya, layar di depan memperlihatkan potongan tubuh yang sudah tercerai berai. Perut yang telah terkoyak secara paksa, bola mata yang sudah tidak utuh lagi, wajah yang masih meninggalkan teror dan ketakutan. Darah di mana-mana. Akan tetapi, dia masih kecewa belum ada peserta yang nekat meledakkan diri sebelum waktu enam puluh detik usai. Kalah taruhan lagi—seperti tahun kemarin. Biasa. Meriam dibunyikan sebanyak dua puluh lima kali menandakan jumlah nyawa yang telah bergabung dengan penghuni dunia lain. Semangat yang berkobar di masing-masing peserta sebelum pertumpahan darah dimulai boleh dikata mulai pudar dengan berkurangnya sebagian total peserta, hm? Dua puluh lima yang berpulang, tapi masih ada tanggungan dua puluh tiga lainnya yang harus diurus. Ck. Redemptus lebih memilih meledakkan mereka dalam satu tempat, entah kenapa dia menginginkan cara demikian. Tapi pada akhirnya cara itu tidak ditempuh. Ekspresi menghina menggantikan senyum di bibirnya kala menyaksikan kumpulan manusia yang mulai bergerak ke satu tempat. Maniknya berpindah ke kumpulan peserta yang berpencar ke berbagai tempat di luar Cornucopia. Tiga arena telah dipersiapkan untuk mereka. Salah satunya adalah hutan cukup lebat dengan rimbunan hijau di sana-sini yang akan menyambut kedatangan anak-anak yang tersesat. Tidak hanya hijau saja yang bisa dilihat, tapi kau bisa melihat warna-warna cerah indah yang menghiasi hutan. Masih sama indahnya dengan penampilan visual yang tertangkap sebelum mereka bergerak saling bantai satu sama lain. Kupu-kupu bersayap pelangi nan indah pun berterbangan sesuka hatinya dengan sengatan dan racun yang membawa mimpi buruk. Kau bahkan bisa menemukan buah-buahan menggiurkan tergantung di antara semak. Beracun, tentunya. Semua di sini beracun. Oh, Redemptus juga tidak lupa menambahkan sungai yang mengalir sebening kristal yang berkilau ketika tertimpa sinar matahari. Kurang baik apa lagi demi memanjakan penglihatan peserta sejenak. Arena sudah memasuki hari ketiga dan Redemptus masih belum berniat mengubah segalanya. Nah, selamat melanjutkan permainan kalian, tributes.
|
|
![]() |
|
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Pinoy Annelli | Wednesday Jun 5 2013, 01:36 PM Post #31 | |
![]()
|
DISTRIK 5 || HP: 76 + 5 hujan = 81 || AP: - || KS: - TARGET: -|| DICE KEJUTAN: 21 + [result]6&6,1d12,0,6&1d12[/result]|| JARAK SERANG: 37 + [result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result] 1 kotak biskuit, 1 tempat minum kulit, 1 belati, 1 bungkus dendeng Terus berjalan masuk ke dalam hutan, menurut Pinoy, adalah satu-satunya keputusan terbaik untuk mereka saat ini. Berusaha menciptakan jarak sejauh mungkin dengan para karir ataupun musuh-musuh lain yang hendak mengincar mereka sebelum terbunuh lebih dahulu. Dan tiba-tiba saja, saat Pinoy masih memandangi hutan yang memesonanya, terdengar suara erangan. Kepalanya langsung menoleh, belatinya bersiaga, berjaga-jaga akan kemungkinan apapun yang akan dilihatnya. Rupanya Winona dan seorang gadis dari Distrik Sepuluh, Yasmine, terlibat perkelahian kecil. Tidak kecil sebenarnya mengingat ini melibatkan darah. Namun Pinoy tidak sanggup membantu atau apa. Ia hanya bergegas menghampiri. Lalu bersama Gavyn, mereka membawa Winona menjauh sebisa mungkin. Belum saatnya mereka saling menghabisi, kan? Masih ada banyak kawanan karir yang perlu mereka hadapi. Masih ada karir-karir yang ingin ia lawan karena telah membunuh rekan-rekan sedistriknya, terutama Aidy. Dan sekarang mereka hanya harus kembali berjalan. Terus masuk ke hutan yang mungkin dapat melindungi mereka untuk sementara waktu. Entah sampai kapan. Mungkin beberapa jam lagi kalau mengingat kondisi mereka yang semakin parah. Atau kapanpun sampai ketika para karir menemukan mereka dan membantai mereka dalam beberapa menit saja. Garis hidup mereka sudah sangat pendek. Hujan tiba-tiba saja turun saat hutan makin rapat. |
|
![]() |
|
|
| Haymitch Abernathy | Wednesday Jun 5 2013, 02:16 PM Post #32 | |
![]()
Pemenang Hunger Games ke 50
|
DISTRIK 12 || HP: 86 – 4 (duri) || DICE KEJUTAN: [result]7&7,1d12,0,7&1d12[/result]+13 || JARAK SERANG: 8+[result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result] OFF ROLL pedang (2) dan pisau (2) Duri. Bonus, Capitol? Brengsek, ya. Bagian betisnya membengkak, bahkan mengeluarkan nanah. Sama sekali bukan hal yang menyenangkan. Ia bersandar pada satu pohon dan mulai mengaduk ranselnya; mengeluarkan air untuk membersihkannya dan mengernyitkan kening sejenak. Daun mint? Betapa baiknya, Capitol. Setelah berniat melukai peserta, kemudian obat untuk melegakan bekas nanah itu. Benar-benar jenius. Kemudian distraksi. Entitas itu. Donner muda bagai anomali untuknya. Abu itu memerhatikan sosok pemilik manik biru yang menjadi satu-satunya orang yang ia perhatikan secara intens semenjak konversasi pada saat itu. Abernathy muda tak pernah lupa bagaimana si pita suara mengolah vokalnya, terlibat pada komunikasi dua arah basa-basi dan memberikan dampak begitu besar hingga detik ini. Mungkin, nyaris setiap menitnya, Haymitch berbalik atau menoleh—melihat apakah anomali itu masih disana untuk menyita segenap perhatiannya. Karena bagaimanapun, jika kawanan Karier atau peserta lain dengan brengseknya mengincar ia tanpa alasan, gadis itu yang ia harapkan pulang dan menyampaikan kabar duka langsung pada keluarganya serta Ailee. Alih-alih Maysilee Donner yang ia dapat, seorang pemuda dari kawanan Karier mendatanginya dan memperkenalkan diri dengan sangat baik. Kode etiknya sangat sempurna hingga rasanya Haymitch siap melemparkan pisaunya dan sangat berharap bilah itu berakhir tepat di tengah dahi lawannya. Reflek mundur, kali ini ia mendesis dan mengumpat dalam hati. Bau anyir mulai merebak dari balik kausnya—bagian bahu kanan. Nilai sempurna, Satu. Lore, benar? Salah satu dari sekian banyak peserta yang menjadi bahan dramatisasi milik Capitol. Satu tangannya kemudian meraih pedang yang berhasil ia dapatkan lewat pembukaan Hunger Games. Dihunuskannya ke bagian wajah lawannya, berusaha menebas leher sang lawan. Terus maju, dengan langkah yang diperhitungkan—bahkan sempat berpindah dari posisinya ke sudut empat puluh lima derajat hanya untuk memastikan bahwa ujung pedangnya berhasil menggores leher si Satu. Tapi usahanya nampak sia-siap. Ia kembali jatuh karena efek duri beracun tadi. Belum benar-benar pulih nampaknya. Sempurna sekali. Edited by Corialonus Snow, Wednesday Jun 5 2013, 06:58 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Urie Tommy | Wednesday Jun 5 2013, 02:49 PM Post #33 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 120 || AP: - || KS: - Jarak Serang: 10 + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] || Dice Kejutan: 4 + [result]9&9,1d12,0,9&1d12[/result] Banyak… ada banyak orang di hutan ini. Urie menelan liur. Lelaki berambut kepirangan itu melakukan pose siaga dengan kedua mata sesekali melirik sekelilingnya. Waspada terhadap siapapun yang mungkin akan datang dan menyerangnya. Yeah, katakanlah Urie sudah lebih jantan sekarang, dia lebih jantan sekarang, dia lebih memilih untuk waspada kepada serangan yang akan datang dan kemudian membalasnya, daripada lari tunggang langgang ketakutan untuk kabur dari lawan. Peristiwa di bloodbaths telah membuka kesadarannya bahwa ia adalah seorang Karier—dan dia tidak bisa kabur dari kematiannya yang sudah di depan mata. Lebih baik membunuh daripada dibunuh, kata “jiwa Distrik Satu”nya. Indera pendengarannya ia pasang baik-baik untuk mendengar semuanya. Ada suara rumput yang bergoyang, pohon terkena angin, burung bernyanyi, jejak langkah—jejak langkah? Jejak langkah. Suara orang. Senjata beradu. Ia benar, disini ada banyak orang, dan dia sudah semakin mendekati mereka. Reflex Urie menelan liur. Digenggamnya pisau erat-erat di tangan kanannya, sementara tangannya yang bebas mengeluarkan sebuah belati dari dalam tas. Dia sudah siap… Dia harus siap. Napasnya tercekat saat kedua pupilnya menangkap sosok yang ia kenal. Perempuan. Rambut coklat. Urie memang hanya bisa menatap punggung gadis itu, tapi dia sudah terlanjur mengenalnya. Perempuan yang sempat ia goda saat pertama kali tiba di Capitol. Silvertongue. Peluh dingin mengalir cepat dari pelipis si lelaki Satu menuju dagunya. Tidak. Kenapa harus dia? Kenapa harus Silvertongue? Kenapa harus Yasmine Silvertongue yang ia temui lagi di tempat ini? Kenapa ia berada di area yang sama? Kenapa mereka berada di hutan yang sama? Urie tidak mau membunuhnya! Ini aneh. Barusan saja dia sudah berniat untuk membunuh orang pertama yang dilihatnya, tetapi niatannya hilang begitu saja ketika dirinya menyadari bahwa orang yang pertama itu adalah, tidak lain dan tidak bukan, Yasmine Silvertongue. Aneh, bukan? Dia tidak keberatan membunuh siapapun. Kecuali Silvertongue. Tolong. Jangan Silvertongue. Jangan Silvertongue yang harus dia bunuh! Membunuh atau dibunuh, hm? Urie harus menggigit bibir bawahnya, berpikir sejenak apa yang harus ia lakukan. Kalau ia hanya berdiam diri disini, bisa jadi dialah yang dibunuh Silvertongue. Tapi kalau dia yang membunuh Silvertongue— —siapa yang peduli? “Miss,” Ia bergumam, tidak yakin apakah gadis itu mendengarnya atau tidak. “… senang bertemu denganmu.” Mengucapkan hal yang sama seperti saat mereka pertama kali bertemu. Deskripsi Silvertongue. |
|
![]() |
|
|
| Kanya Jett | Wednesday Jun 5 2013, 03:05 PM Post #34 | |
![]()
|
DISTRIK 7 || HP: 59 - 11 (mitchy) = 48 (SERANGAN HAYMITCH DIANULIR) || AP: [result]1&1,1d8,0,1&1d8[/result] + [result]1&1,1d2,0,1&1d2[/result] || KS: [result]11&11,1d24,0,11&1d24[/result] TARGET: Zephaniah Lore (D1) (panahan) || DICE KEJUTAN: 1 + [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result] || JARAK SERANG: 1 + [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result] 1 pisau, 1 set panahan, 1 pasang kaus kaki, 1 bungkus dendeng sapi Sendiri. Sendiri berarti tidak harus diam. Diam berarti tidak harus kalah. Kalah berarti tidak harus membuat sebuah rangkaian kata hingga mencapai lima ratus kata. Iya, lima ratus kata yang semalam entah mengapa ada di pikiran Kanya yang sedang menghitung bintang di langit kelam. Indah memang, tapi lebih indah lagi jika dia menikmati pemandangan itu bersama keluarganya, bersama ayah dan ibunya. Dia rindu rumah. Namun kali ini dia tidak beristirahat. Dia berjalan, sesekali berlari menghindari pergerakan peserta lain yang saling berburu—tak terkecuali dirinya. Bertemu dengan orang dari berbagai distrik itu menyenangkan tapi ketika di arena semuanya berubah menjadi sangat tidak menyenangkan. Menyedihkan dan menyeramkan, lebih tepatnya. Kanya hanya bisa berjaga, menghemat anak panah yang dia ambil dari Cornucopia, tak ingin membuatnya sia-sia. Berhenti sejenak, ingin minum. Tapi malang bagi si gadis Jett. Seseorang melemparkan kawat pada dirinya dan mengenai telapak tangan si gadis. Tidak marah, hanya jengkel. Berniat menyerang, tapi dia tahu kondisinya bagaimana. Hanya memberikan tatapan tajam sembari membenahi apa yang dia bawa. Beranjak pergi, tetapi si adam dari Dua Belas nampaknya semakin menggila mengingat beberapa sosok mulai bermunculan di satu sisi, dipertemukan oleh si pembuat permainan, mungkin. Sial untuk kesekian kalinya. Kanya mengerang kesakitan. Matanya berdarah, mungkin hilang. Lirikan tajam yang terakhir mungkin dia berikan pada orang salah. Iya, dia semakin lemah. Hanya satu yang dapat dia lakukan. Berlari dan memainkan sedikit senjatanya. Ya, dia harus menyerang juga jika tidak ingin mati sia-sia. Maka si gadis pun mempersiapkan set panahan walau dengan keadaan wajah seperti terbakar, sakit karena serangan si pemuda busuk itu. Bersiap, membidik secepat mungkin sembari mundur perlahan, melesat, kemudian menghidar, berlari, kabur sebisa mungkin. Edited by Corialonus Snow, Wednesday Jun 5 2013, 06:59 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Colleen Roosophire | Wednesday Jun 5 2013, 03:09 PM Post #35 | |
![]()
|
Distrik 1 | HP: 133-5(telat post)=128 | AP: [result]9&6,1d8,3,9&1d8+3[/result] + AP dari senjata: [result]2&2,1d2,0,2&1d2[/result] | KS: [result]14&14,1d24,0,14&1d24[/result] Target: Irvette Schwan | Dice Kejutan: 5+ [result]9&9,1d12,0,9&1d12[/result] | Jarak serang: 4+ [result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result] 1 Pisau, 1 tombak, 1 panahan, 1 kompas, 2 potong dendeng, 2 kotak biskuit, 1 kantung tidur, 1 tempat minum ukuran sedang Baru juga bersenang-senang dengan keindahan hutan ini, gadis Roosophire itu sudah tertusuk duri. Meninggalkan luka berupa lecet di jari telunjuknya. Sial. Arena sudah berjalan selama tiga hari, dan jumlah yang mati pun tidak bisa dibilang sedikit. Ia sudah berjalan beberapa meter di hutan, menjauhi terompet emas bernama Cornucopia itu. Persediaan makanan yang ia bawa cukup banyak untuk bisa berthana di hutan ini. Gadis pirang itu pun sudah berbeda dari yang di Cornucopia. Jika ketika bloodbath, gadis itu membunuh menggunakan serangan fisik dan tangan kosong, kali ini, ia sudah dilengkapi dengan beberapa senjata. Ia membawa sebuah pisau, tombak, dan panahan. Jadi gadis itu sudah siap untuk menghadapi siapa pun yang ia temui di hutan ini. Baru jalan beberapa saat, ia sudah menemui sosok orang lain yang bukan sekutunya. Arti kata lain, mangsanya berikutnya. Si gadis dari Tiga yang ia temui di pos gulat ketika pelatihan para peserta, Irvette Schwan. "Hai! Long time no see." sapanya ditambahi dengan senyuman. Kapan mereka terakhir bertemu? Kira-kira Colleen terakhir melihatnya ketika di pos empat itu. Setelah itu, gadis dari Satu itu sama sekali tidak melihat gadis dari Tiga tersebut. Bahkan ketika Cornucopia, sepertinya gadis Roosophire itu terlalu sibuk, hingga tidak melihat si Irvette. Dengan pisaunya, gadis bermanik biru itu menusuk perut gadis di depannya. Ia pastikan tusukannya pasti akan sakit dan meninggalkan luka besar. Sebenarnya gadis pirang itu tidak suka membunuh dengan cara menyiksa, lebih suka dengan cara cepat. Tapi tentunya, bukan hal yang mudah untuk menusuk bagian leher atau dada orang. Terutama bagian kepala mereka yang bernama jidat. Jadi lebih baik memulai dari sesuatu yang kecil, seperti dari perut, tangan, pundak, punggung, atau kaki. Ia jadi ingat adegan di cornucopia, dimana Zephaniah Lore memenggal kepala peserta dari Distrik Sembilan yang bernama Antonio. Kepala bocah dari Sembilan itu putus, dan darahnya berceceran. Sama seperti kejadiaan dua tahun yang lalu, dimana dua peserta kehilangan kepala mereka ketika mereka mati. Yang memenggal sama-sama karir pula. Jadi kejadiannya tidak begitu berubah sejak dua tahun yang lalu bukan? Mungkin para penduduk Capitol akan kebosanan melihat cara pembunuhan yang sama dari tahun ke tahun. Tapi pembunuhan dengan cepat seperti itu lebih baik. Karena sang korban tidak perlu merasakan rasa sakit yang menyiksa dan hanya dalam beberapa detik, nyawa mereka sudah terlepas dari tubuh fisik mereka. Bayangkan jika sang korban disiksa, pasti itu akan membuang-buang banyak waktu dan energi sang pembunuh. Bahkan mungkin, sebelum sang korban tewas, si pembunuh sudah kewalahan duluan. Sebenarnya cukup mengagetkan bahwa gadis-gadis yang ia temui di pos gulat tempo hari, bisa bertahan sampai sekarang. Kalau si Irvette ini, ia tidak terlalu terkejut. Colleen sudah melihat dan merasakan tenaga gadis dari Tiga itu. Sedangkan si Altessa, dia membuat gadis pirang itu cukup kaget. Ia bisa bertahan selama tiga hari di Arena, terutama Cornucopia, padahal gadis itu kurang memperlihatkan tenaganya ketika bergulat dengan Colleen. Mungkin selama latihan, ia menyembunyikan kekuatan aslinya. Ngomong-ngomong, karir lain ada dimana? Bukankah mereka seharusnya tetap bersama-sama? Bukankah itu instruksi dari para mentor? Atau ini memang rencananya? Berpencar-pencar setelah bloodbath selesai. Sepengetahuan gadis Roosophire ini, jumlah karir yang berada di hutan ini ada lima. Dan di gunung ada lima juga. Sedangkan di padang rumput ada satu. Sebenarnya cukup menyedihkan si gadis kecil Lee harus menjadi yang pertama yang meninggalkan aliansi ini. Padahal menurutnya, si gadis Lee itu cukup hebat dan berguna. |
|
![]() |
|
|
| Pietronella Hart | Wednesday Jun 5 2013, 04:08 PM Post #36 | |
![]()
|
.............. dan meleset. Peruntungan, sayang. Peruntungan. Menganggap dirinya tak pernah berbakat dalam hal peruntungan sedemikian rupa. Gagal, bukan, tetapi meleset. Ia tak pernah gagal menggunakan senjata, period. Ia menghela napas frustasi, dan yang keluar justru lebih mirip seperti dengusan kasar. Ini bukan kali pertamanya, kenyataan tersebut lebih buruk jika dibandingkan dengan perannya sebagai jelmaan tontonan masyarakat Capitol. Biasanya, ia pantang untuk beralih. Biasanya, tak semudah ini. Biasanya, biasanya, hah—perandaian yang sama indahnya seperti omong kosong. Membatin, terobosan paling buruk yang bisa ia lakukan di tengah hutan belantara. Dari sekian banyak arena, dan keputusan justru membawanya ke tengah hutan. Semakin jauh masuk hutan. Pertanyaannya; Mengapa? Dan 'mengapa' lainnya itu senantiasa berputar-putar dalam lobus otaknya. Konklusinya, ia terlalu payah sampai mau dikendalikan oleh sesuatu hal yang tak dimengerti olehnya. Emosi. Selama ini toh, ia cuma berada di bawah pengaruh emosi. Keinginan untuk menjadi yang terkuat, pembunuh-sang-pembunuh, dan keluar sebagai pemenang. Menang, tak peduli kalau psikisnya tak akan sama seperti dulu. Cepat atau lambat, ia menjadi semakin terbiasa dengan kondisi yang sekarang, toh. Dilatih menjadi pembunuh atau berada dalam limitasi begitu pelik yang membuatnya terancam dibunuh. Mati, dibelah membujur oleh cacing tanah pun, ha ha. Ia sangsi, apabila ada umat lain yang bakal peduli perihal kehidupannya. Tidak mungkin ada. Kalaupun ia menanyakan pertanda apakah yang hadir di tengah keluarganya yang barangkali tengah menonton, seumpamanya hanya ada tawa getir dari langit. Menggelegar. Delusional murahan yang malah membuatnya semakin pedar, kau tahu, seperti tungku perapian yang habis disulut. Iblis, yang membisikinya itu tak lain adalah roh jahat. Garis bawahi, Lad, ia tak akan menarik kembali keputusannya. Tidak pernah. Ia tak akan menarik tombaknya kembali, melainkan kembali memaksa kedua tungkainya untuk merangsek. Sekuat apapun rasa nyeri yang dideranya, dan ia tak selembek itu. Puh. Otot-ototnya dipaksa memberikan tumpuan yang kali ini, jauh, dan jauh lebih keras usahanya. Dua kali masuk ke lubang yang sama? Mengulangi kesalahan serupa? Mati-matian berusaha membela diri? Bego. Ia cuma melakukan hal yang sia-sia. Distrik tujuh, gadis itu. Take a look, kelamin sama, hanya saja lawannya terlahir dalam strata yang jauh lebih rendah. Jauh... Terlalu banyak pagar pembatas yang mesti ia lewati, sebagai bukti konkretnya. Seharusnya, ia tak perlu sesusah payah ini. Tak perlu ada keringat yang merembas keluar, pula rendengan penuh amarah. Tidak perlu. Seharusnya, bukan seperti ini respon timbal-baliknya. Senjata yang sama. Tombak yang sama tajamnya, ia masih menggunakan perkakas tersebut. Logam yang diasah hingga tajam pada salah satu matanya. Rasanya menggoda, seperti bermain dengan hal yang amat sepele. "Ouch! Fud—" Duri, sialan. —ge. Ia kira penderitaannya sudah berakhir. Ha. Ha. It's surprising! Pedih. Rasa sakit yang tak bisa mengembalikan salah satu sisi pakaiannya yang sudah tanggal. Sobekan yang membuat jalinannya putus, akibat ujung duri yang menancap pada permukaan kulitnya. Walau hanya setitik, tetapi judulnya tetap saja terluka. Ia mengaduh pelan, setengahnya lagi merutuk hebat. Sialan. Hanya cairan berupa lendir yang menanggapinya, serta malah semakin membuat keadaan menjadi buruk. Bau, aroma kemungkus. Nanah, apalagi? Masa ia sekeji itu, sampai terbubuhi habitatnya larva tanah. Satu-satunya hal — berbahagialah, siapapun pembina permainan. Bahwasanya, ia tak akan meninggalkan jejaknya begitu saja. Urusannya tak pernah selesai. Sementara itu, tombaknya masih digenggam dalam posisi mata tertancap ke tanah. Ia mengaduh sakit. Samar-samar dari kejauhan, miliknya diambil. Miliknya, sesuatu yang harusnya ia bunuh sedari tadi. Erangan sakit yang sekiranya, sebuah serangan saja langsung mengenai sasaran. Tuan Abernathy, oh, dua belas yang sok jadi jagoan. |
|
![]() |
|
|
| Gavyn Owyn | Wednesday Jun 5 2013, 04:49 PM Post #37 | |
![]()
|
DISTRIK 11 || HP: 72+5(hujan) = 77 || AP: - || KS: - TARGET: -|| DICE KEJUTAN: 27 + [result]6&6,1d12,0,6&1d12[/result] || JARAK SERANG: 42 + [result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result] 1 pasang kaus kaki, 1 lentera, 1 pisau, 1 korek api …dan saat hujan turun membasahi hutan, Gavyn spontan menengadah dan membiarkan rintik air membasahi wajahnya, tubuhnya, rongga mulut yang mendamba air untuk pemulih dari gersang lidah dan kering, menghapus dahaga. Gila, ia kira setelah bloodbath mereka akan menemukan satu titik untuk bersembunyi dan beristirahat, kenyataannya? Winona terjebak pertarungan dengan gadis dari Distrik Sepuluh itu. Bahkan ia bersekutu dengan Pinoy dan tetap bertemu dengan bocah kecil dari Sepuluh, Winona bertemu dengan pemuda yang seharusnya menjadi rekan seperjuangannya, sebagai rival. Sesungguhnya memang semua disini adalah rival, tetapi hanya tergantung pada saat kapan waktunya tiba. Jika ia mencampuri urusan Winona dengan si gadis Sepuluh, akan ada pertumpahan darah lagi selang beberapa jam dari pertumpahan darah perdana di Cornucopia. Gavyn jelas lebih memilih untuk menyimpan tenaganya. Aliansi? Gavyn masih menghitung sikap mengawasi dan tidak mencampuri sebagai bagian dari aliansi. Jika tidak, mungkin saat ini ia sudah bergerak dan membenturkan kepala dua gadis itu ke batu terdekat sehingga tidak hanya satu yang mati melainkan dua. Sementara si gadis Sepuluh terus berlari bersama dua kawanannya, Gavyn kembali mengomando dua kawanannya—Pinoy dan Winona—untuk terus bergerak maju. Mereka akan berada di satu jalur yang sama dengan kawanan Tume Si Bocah, sedangkan mereka tidak memiliki sejarah yang baik di Cornucopia tadi, sudah jelas tidak akan terbentuk sekutu berjumlah enam peserta tersebut, terbukti dengan aksi oleh Winona dan gadis Sepuluh itu. Namun jika mengumpulkan keenam peserta di satu tempat merupakan kehendak para Pembina Permainan, jika itu dinilai dapat memberikan hiburan kepada para penonton, Gavyn terpaksa melakukannya, sebelum hiburan lain menjadikan dirinya objek dan korban. Ia mengedikkan kepala, mengisyaratkan bahwa mereka semua harus maju, dengan kondisi apapun. Dilihatnya Winona yang sudah kepayahan. Gavyn hanya tersenyum lemah, apapun kondisinya mereka akan terus maju. Winona, Hpmu jadinya berapa itu? :” |
|
![]() |
|
|
| Tume Tinkham | Wednesday Jun 5 2013, 05:11 PM Post #38 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 69+5hujan = 74 || offroll salah tag || DICE KEJUTAN: 21 + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] || JARAK SERANG: 56 + [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result] 2 tempat minum kulit, 1 belati, 1 lentera Tume pikir mereka berhasil memperlebar jarak dan menjauhi kawanan Karier serta kawanan si pemuda kekar nan besar Gavyn Owyn, Pinoy Annelli, dan satu gadis yang ia rasa adalah teman satu distrik Shinzo. Tume tidak berani bertanya mengapa keduanya bisa berpisah dan sekarang malah bertemu untuk saling menyerang. Lihat yang Winona lakukan terhadap Yasmine. Lukanya terlihat parah tetapi Tume yakin Yasmine lebih kuat, ia bisa. Dan jika gadis Silvertongue itu bisa melawan rasa sakitnya, begitu pula Tume ini. Hujan tiba-tiba datang begitu saja dan mengguyur area tempat mereka berada. Tanpa berpikir panjang, Tume menjulurkan lidah ingin merasakan air segar dari langit itu. Sejauh ini ia belum menemukan sungai, dan jika tidak ada sungai tetapi ada hujan, kenapa harus repot-repot minum dari air sungai? Lagipula ia tidak begitu yakin dengan kondisi arena ini, terlalu indah dan maha lengkap. Seperti berada di negeri lain yang lebih makmur dari Panem. Tume membersihkan air dari pandangannya dan berusaha melihat menembus rintik hujan dan pepohonan hutan. Sejauh ini belum terlihat lagi tanda-tanda kehadiran peserta lain. Tetapi bukan berarti ia bisa bersantai. Karena tampaknya bersantai di saat seperti ini bukan pilihan yang baik. Ia menarik tangan Yasmine dan Shinzo, mengajak kedua kakak itu untuk terus bergerak maju. |
|
![]() |
|
|
| Shinzo Kawabata | Wednesday Jun 5 2013, 05:22 PM Post #39 | |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 81+5hujan = 86 ||offroll salah tag || DICE KEJUTAN: 27 + [result]8&8,1d12,0,8&1d12[/result] || JARAK SERANG: 68 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] 3 tempat minum kulit, 1 belati Tidak aman berada di tempat ini. Heck, tepatnya Arena kapan pernah aman? Shinzo yang telah melihat bagaimana anak panah berhasil dilepaskan dari busur milik Winona dan mengenai Yasmine semakin membulatkan tekadnya untuk terus bergerak maju, memperlebar jarak dan menghindari kawanan Gavyn itu beserta kawanan Karier. Mereka takkan bisa menghindari terus selamanya, ia tahu itu. Setidaknya biarkan mereka menemukan tempat yang tepat untuk mengumpulkan tenaga kembali, terlebih Yasmine yang paling terlihat kepayahan di antara mereka bertiga. Setelah itu, Shinzo takkan keberatan jika harus melawan Gavyn dan Pinoy, lagi. Ha lucu sekali, niatnya adalah untuk menghindari mereka dan tumpahnya darah, kini mereka malah kembali bertemu. Tampaknya barbar tidak hanya dimiliki kawanan Karier. Shinzo dan dua sekutunya terkadang berhenti untuk mengumpulkan air hujan. Tidak atau tepatnya belum menemukan sumber air lain selain hasil awan yang jenuh di atas langit. Kebetulan dengan tiga tempat minum yang ia miliki, mereka bisa membekali diri dengan persediaan air. Dingin dan basah, tetapi ini lebih baik karena rasanya lengket keringat serta darah begitu tidak nyaman menempel pada tubuh Shinzo. Ketiganya terus bergerak, berharap tidak terdapat halangan di depan mereka. Di belakang saja sudah cukup. |
|
![]() |
|
|
| Pinoy Annelli | Wednesday Jun 5 2013, 05:39 PM Post #40 | |
![]()
|
DISTRIK 5 || HP: 81+5hujan = 86 || AP: - || KS: - TARGET: -|| DICE KEJUTAN: 27 + [result]8&8,1d12,0,8&1d12[/result] || JARAK SERANG: 52 + [result]11&11,1d12,0,11&1d12[/result] 1 kotak biskuit, 1 tempat minum kulit, 1 belati, 1 bungkus dendeng Tiba-tiba hausnya menjadi tidak terkendali dan tidak juga tidak terpuaskan. Pinoy belum pernah minum langsung dari langit. Beruntung hujan semakin deras sehingga ia tidak mendongak dan membuat lehernya pegal atau lidahnya semakin kering layaknya anjing yang tiada henti memeletkan lidah. Minum, minum sepuasnya selagi bisa. Mereka dalam pengejaran. Winona yang tadi berhasil melepaskan serangan anak panah kepada rekan dari si bocah Tume dari Sepuluh kini juga tampak kepayahan karena pukulan dari si lawan dan karena begitu jauhnya jarak yang mereka tempuh. Pinoy merenung seberapa besar hutan ini, seberapa luas? Akankah ada akhir? Berbicara mengenai sebuah akhir, Pinoy serta merta teringat akan Aidy. Gadis itu memang… Pinoy sangat menyayangkan kepergiannya, kematiannya. Andai ia bisa hidup lebih lama lagi dan selamat dari Bloodbath, andai Pinoy dapat menjaganya dengan lebih baik… Ia merasa tidak berguna, terutama untuk Aidy. Mereka dalam pelarian. Pinoy sempat melihat adanya kawanan Karier memasuki hutan, ia tidak ingin berhadapan dengan mereka lagi sementara waktu ini. Kurang ajar, apalagi bocah kecil dari Distrik Empat yang tampaknya sangat berbakat dalam mencabut jiwa manusia lain. Ketiganya harus terus maju, meski itu artinya mereka akan bertemu kembali dengan sekutu lain dan tidak menutup kemungkinan mereka akan terlibat pertarungan lagi. Semoga Pinoy terbiasa dengan hal ini, semoga. |
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |

















9:33 PM Jul 11