|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Arena Satu - Hutan Beracun | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Tuesday Jun 4 2013, 08:15 PM (4,107 Views) | ||
| Redemptus Maleveich | Tuesday Jun 4 2013, 08:15 PM Post #1 | |
![]()
|
Sebutlah pemuda Maleveich ini tengah berpuas diri melihat mayat-mayat bergelimpangan di seputar Cornucopia. Senyum tak kunjung usai tergambar jelas pada wajahnya sambil mengganti setiap potongan gambar yang menampilkan wajah-wajah lusuh menyedihkan. Tak henti-hentinya senyum Redemptus muncul dalam raut wajahnya yang pucat. Berikutnya, layar di depan memperlihatkan potongan tubuh yang sudah tercerai berai. Perut yang telah terkoyak secara paksa, bola mata yang sudah tidak utuh lagi, wajah yang masih meninggalkan teror dan ketakutan. Darah di mana-mana. Akan tetapi, dia masih kecewa belum ada peserta yang nekat meledakkan diri sebelum waktu enam puluh detik usai. Kalah taruhan lagi—seperti tahun kemarin. Biasa. Meriam dibunyikan sebanyak dua puluh lima kali menandakan jumlah nyawa yang telah bergabung dengan penghuni dunia lain. Semangat yang berkobar di masing-masing peserta sebelum pertumpahan darah dimulai boleh dikata mulai pudar dengan berkurangnya sebagian total peserta, hm? Dua puluh lima yang berpulang, tapi masih ada tanggungan dua puluh tiga lainnya yang harus diurus. Ck. Redemptus lebih memilih meledakkan mereka dalam satu tempat, entah kenapa dia menginginkan cara demikian. Tapi pada akhirnya cara itu tidak ditempuh. Ekspresi menghina menggantikan senyum di bibirnya kala menyaksikan kumpulan manusia yang mulai bergerak ke satu tempat. Maniknya berpindah ke kumpulan peserta yang berpencar ke berbagai tempat di luar Cornucopia. Tiga arena telah dipersiapkan untuk mereka. Salah satunya adalah hutan cukup lebat dengan rimbunan hijau di sana-sini yang akan menyambut kedatangan anak-anak yang tersesat. Tidak hanya hijau saja yang bisa dilihat, tapi kau bisa melihat warna-warna cerah indah yang menghiasi hutan. Masih sama indahnya dengan penampilan visual yang tertangkap sebelum mereka bergerak saling bantai satu sama lain. Kupu-kupu bersayap pelangi nan indah pun berterbangan sesuka hatinya dengan sengatan dan racun yang membawa mimpi buruk. Kau bahkan bisa menemukan buah-buahan menggiurkan tergantung di antara semak. Beracun, tentunya. Semua di sini beracun. Oh, Redemptus juga tidak lupa menambahkan sungai yang mengalir sebening kristal yang berkilau ketika tertimpa sinar matahari. Kurang baik apa lagi demi memanjakan penglihatan peserta sejenak. Arena sudah memasuki hari ketiga dan Redemptus masih belum berniat mengubah segalanya. Nah, selamat melanjutkan permainan kalian, tributes.
|
|
![]() |
|
|
| Replies: | |
|---|---|
| Urie Tommy | Wednesday Jun 5 2013, 05:55 PM Post #41 |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 120-4= 116 || OFFROLL || Jarak Serang: 12 + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] || Dice Kejutan: 13 + [result]9&9,1d12,0,9&1d12[/result] Ransel besar, ransel kecil, satu belati, satu pisau, satu dendeng sapi, satu tempat minum dua liter Ini gawat. Tempat ini terlalu luas untuknya. Tidak seperti bloodbath yang agak sempit, ditambah bisa celaka apabila kabur, Urie harus rela lari-larian mengejar lawan disini. Oh, dan dia tidak suka lari, oke? Lari termasuk olahraga yang melelahkan, dan lagi Urie sudah cukup lelah dari aktivitas bunuh membunuh. Nggak lucu kalau Urie mati karena kelelahan di arena. Paling tidak, kerenan dikit kek. Mati karena terpenggal gitu. Oops... Kembali ke topik utama. Tempat seperti ini adalah kelemahan baginya, ia jadi sulit menargetkan posisi lawan. Di sekelilingnya hanya terlihat pohon-pohon, semak belukar, rumput, dan ranting. Urie tidak pernah ke tempat semacam ini sebelumnya--ternyata cukup menenangkan hati--dan pergi ke tempat seperti ini disaat dia harus waspada memerhatikan musuh adalah hal terakhir yang dia tak dia inginkan di Hunger Games seumur hidupnya. Sayang sekali, sudah telat. Hunger Games (mungkin) hanya bisa dialaminya sekali seumur hidup, alias sekarang ini, dan dia dapat lokasi tersebut. Hidup sedang mempermainkannya, mungkin. "Arh!" Nah, baru saja Urie bilang, kan? Tiba-tiba saja tubuhnya sudah tertusuk duri. Huh, kelemahan dari lokasi berhutan, memang. Sudah dua kali dirinya terkena duri lagi, sepertinya tubuhnya sudah bisa kebal. Nyahaha. Urie mencabut duri dari tubuhnya, hanya untuk menyadari bahwa bagian tubuh tersebut tetap terasa sakit. Kondisi kulitnya juga tidak terlihat membaik. Rasa panik sekali lagi merasuki benak Urie saat bagian tubuh yang sakit itu justru membesar. Membenglamar dan mengeluarkan nanah! Pupil Urie melebar melihat kecacatan pada tubuhnya itu. "TIDAAAAK!" Dia memekik layaknya perempuan, terlalu panik untuk menyadari bahwa bisa saja ada lawan di dekatnya seakan dia baru saja berteriak minta diserang. "Ini bagaimana!! Agh! Kulit mulusku! Tolong!" Kalau dia bisa menangis dan minta tolong ke orang asing, sekarang dia sudah lari ke para lawannya untuk minta diobati, kali. Untuk beberapa saat, Urie berjalan mondar-mandir sambil panik karena perubahan kondisi tubuhnya. Ia nekad mengobrak-abrik isi ranselnya, mencari sesuatu yang bisa dijadikan obat. Urie sempat mengoleskan air dari tempat minumnya yang sebesar dua liter itu, tapi hasilnya nihil. Gawat gawat gawat gawat. Dia harus mati dengan ganteng dan mulus, Kawan, jangan sampai luka duri ini menghancurkan impiannya! Tunggu. Membengkak dan mengeluarkan nanah, apakah mungkin itu racun? Kalau benar, ibunya sepertinya pernah melakukan sesuatu... ... serbuk daun mint? Lucu, ada daun mint di dalam ranselnya. Ia mengoleskan serbuk daun tersebut ke tubuhnya yang membengkak, lalu mengolesinya dengan air. Huh... saatnya mencari Silvertongue lagi. |
![]() |
|
| Winona Curealight | Wednesday Jun 5 2013, 06:02 PM Post #42 |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP:26 -5 (salah rekap) -4(yasmin)- 4 (Dice kejutan)- 4(Dice kejutan) -5 (telat post) = 4 || AP: - || KS: - ||TARGET: -|| DICE KEJUTAN: 17 +[result]11&11,1d12,0,11&1d12[/result] || JARAK SERANG: 63 + [result]4&4,1d12,0,4&1d12[/result] 1 pasang kaus kaki,1 Panahan Winny tidak tahu pistol yang dipukulkan yasmin ke tubuhnya sudah menyebabkan tubuhnya memar dan mengeluarkan darah. Kurang ajar gadis menyebalkan itu. Untung saja pinoy dan Gavyn mengajaknya pergi. Tubuh Winny sudah semakin melemah. Ia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Mungkin sebentar lagi nyawanya akan melayang. Bisakah ia selamat? akankah dia selamat. Semuanya serasa kabur di kepalanya. "Bisakah Aku bertahan lebih lama lagi." Jika tidak, ia akan merepotkan sekutunya saja. Ia akan tewas dengan tidak keren. Winny tidak memikirkan apa-apa lagi. Diotaknya hanya ada rasa kesal dan marah kepada gadis menyebalkan itu. Seharusnya anak panahnya tadi mengenai jantung Yasmin dengan begitu setidaknya akan membuatnya bertahan lebih lama lagi. Winny tidak lagi kuasa menginjakkan kaki di tanah. Luka-luka ditubuhnya bahkan tidak bisa dibilang lumayan tetapi sangat parah. Gadis gila itu bersekutu dengan Shinzo. Cih, kenapa harus gadis itu. Entah Winny harus merasa kesal, marah atau apapun. Ia tidak dapat mengekspresikannya lagi. Ini semua hampir selesai. Kakaknya tahun lalu mengalami hal ini kah. Tiba-tibah ia merindukan keluarganya. Keluarga yang ada di dekatnya. Walau sulit sekalipun. Winny bisa melihat bayangan saudaranya. Saudaranya yang mungkin mengalami hal ini lebih dulu daripada Winny. Arena ini menyebalkan. Ia merasa kalah dan lemah. Tidak. Ia tidak boleh menyusahkan sekutunya. |
![]() |
|
| Yasmine Silvertongue | Wednesday Jun 5 2013, 06:04 PM Post #43 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 51 || off roll dice kejutan || DICE KEJUTAN: 13+ [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] || JARAK SERANG: 69+ [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] empat dendeng sapi(habis) Sakitnya berkurang. Ironis, pikirnya. Gadis dengan kemampuan memanah kini malah membiarkan kulit lengannya ditembus oleh tajam mata anak panah dari gadis distrik delapan, salah seorang Curealight. Di satu sisi, Yasmine yang mengikuti perkembangan Hunger Games tahun lalu dan mengetahui seorang Curealight juga berada di dalam arena membuatnya sedih. Ini seperti cerita Cloverfield. Tetapi kini dengan dirinya juga sebagai peserta dalam arena, apakah sebuah perasaan simpati dan tenggang rasa masih berlaku? Terlebih jika ia bukan sekutumu, meski ia adalah teman dari sekutumu, tidak ada hukum seperti itu. Tume dan Shinzo bergerak tak jauh darinya. Yasmine berusaha menyamakan gerak kaki mereka yang setengah berlari. Di belakang mereka para Karier mungkin sudah memulai pembantaian lagi, sedangkan dengan jarak lebih dekat, ada kelompok tiga orang dengan Winona di dalamnya juga berusaha memperkecil jarak. Yasmine tidak mengerti mengapa mereka masih harus berkelahi lagi, tidakkah dua puluh lima meriam dalam dua puluh empat jam terakhir cukup untuk memuaskan para hati penonton di Capitol? Memuaskan hati para Karier? Dunia ini gila. Ia harap ia tidak perlu mengalami kendala lagi. Haus dirinya. Tetapi sekarang yang terpenting adalah menjaga jarak dari para peserta lain, hanya dapat memercayai Shinzo dan Tume, serta berdoa agar mereka tidak mengalami perlakuan jahil dari para Pembina Permainan. Oh, kau tidak tahu betapa usil mereka terhadap para peserta yang dinilai membosankan. Tunggu saja, Yasmine yakin sebentar lagi pertarungan babak dua akan dimulai. Teringat akan Urie Tommy tepat saat mereka belum jauh masuk ke dalam hutan. Ia takut, jelas. Urie Tommy bagaimana pun juga adalah salah satu kawanan Karier yang belum terluka parah disana-sini. Tetap sebagai ancaman dan meskipun mereka memiliki sebuah hubungan aneh terjalin sejak malam pertama di Capitol, Yasmine tetap tidak bisa menghilangkah ketakutannya akan pemuda itu, meski pula ia lebih muda darinya. Jangan... Tolong, jangan... Tepat seperti yang ia pinta dengan sebuah gelengan kepala samar ketika mereka berhadapan di Cornucopia. deskrip Urie /o/ |
![]() |
|
| Colleen Roosophire | Wednesday Jun 5 2013, 06:34 PM Post #44 |
![]()
|
Distrik 1 | HP: 128-4: 124 | OFF ROLL | Dice Kejutan: 5+9+ [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] | Jarak serang: 14+ [result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result] 1 Pisau, 1 Tombak, 1 Bungkus Dendeng Sapi, 1 Kompas Apakah tusukannya berhasil melukai gadis itu? Entahlah. Yang pasti, serangannya diusahakan tepat sasaran. Kan sudah dibilang, gadis pirang itu akan serius mulai sekarang. Tidak ada main-main lagi. Tidak akan ada meremehkan musuh lagi. Terutama, tidak ada serangan asal-asalan lagi. Ia akan menunjukan bahwa dirinya layak untuk keluar dari tempat itu sebagai pemenang. Ia akan menunjukan bahwa dirinya kuat. Ia akan menunjukan bahwa ia bisa membuat seluruh penduduk Distrik Satu bangga. Dan tusukan ini, adalah sebuah satu langkah maju untuk keluar dari Arena ini. Semakin banyak ia menusuk, semakin banyak ia melukai seseorang, artinya semakin maju dirinya ke pintu keluar Arena. "Maaf ya." ucapnya lalu mencabut pisau yang masih ditancapkan itu. Apa perlu ditusuk lagi? Well, gadis itu belum mati, jadi sangat lah perlu untuk menusuknya lagi. Pokoknya sampai mati, tusuklah terus. Colleen mengambil beberapa langkah ke belakang. Tck. Sebuah duri menusuk betis gadis dari Satu itu. Dan sepertinya duri itu beracun, sebab bekas tusukannya meninggalkan bengkak dan nanah yang terlihat menyeramkan dan menjijikan. "Aduh sakit." jeritnya kecil. Dalam adegan pembunuhan ini, bisa-bisanya dara Roosophire itu tertusuk duri beracun. Dasar payah. Tapi rasa sakit itu tidak akan menahannya untuk membunuh sang dara di depan maniknya. Lalu ia berjalan pelan ke arah dara Schwan itu, tidak mempedulikan betisnya yang bengkak. Dia tidak boleh menunjukan bahwa saat ini keadaannya lemah. Ia harus terlihat kuat, agar sang musuh ketakutan dan merasa terintimidasi. "Memangnya sakit?" tanya gadis Roosophire itu sambil memasang tampang sepolos-polosnya. Lalu tangan kanannya yang memegang pisau itu, kembali menusukan pisaunya ke dalam perut gadis itu. Jika kena, pasti rasanya sakit. Coba bayangkan, luka yang sudah terasa sakit, malah ditusuk-tusuk lagi. Memang sebelumnya Colleen pernah bilang bahwa dirinya tidak suka membunuh dengan cara menyiksa korban. Tapi untuk masalah kali ini, ia terpaksa menyiksa, karena tiba-tiba saja ia menemukan bahwa menyiksa korban dengan cara ini, ternyata cukup menarik. Lebih menarik dari pada kematian yang hanya menghabis beberapa detik. Lebih menarik dari pada adegan seperti pemotongan leher atau penembakan di kepala. Sebenarnya hutan yang indah ini pasti memegang banyak rahasia. Contohnya seperti duri beracun tadi. Atau duri yang menusuk jari telunjuknya sebelumnya. Pasti masih ada lebih banyak rahasia lagi. Mungkin saja akan ada mutan. Atau mungkin akan ada lebih banyak hal-hal yang berbau racun. Tapi apakah ada penawarnya? Itu lah tugas gadis Roosophire itu untuk mencari tahu. Mutan. Hampir kebanyakan peserta setiap tahun, tewas ditangan para mutan. Bukan para karir, atau peserta lain, tap mutan. Hewan buatan para pembina permainan yang dibuat untuk membunuh para peserta. Sangatlah tidak manusiawi. Kadang ada mutan yang berbentuk hewan, contohnya dua tahun yang lalu ada mutan berbentuk singa dan panda. Tiga tahun yang lalu, ada yang berbentuk hewan primata bernama Orang Utan. Mutan berbentuk binatang paling terkenal adalah Tawon Penjejak. Sengatannya dapat membuat halusinasi, tapi dalam kasus terparah, membuat kematian. Kadang-kadang para pembina permainan yang hebat cetar membahana itu, membuat mutan dalam bentuk manusia. Jika diingat-ingat, dua tahun yang lalu, ada sebuah mutan berbentuk si gadis kecil Floryn Lee. Mutan Lee itu membunuh kakaknya sendiri, Alethea Lee. Padahal aslinya, si gadis kecil Lee sedang di distriknya, entah lagi ngapain. Mungkin sedang menangisi kepergian kakaknya. Sangat tidak manusiawi bukan? Apakah aneh jika seorang Colleen Roosophire ngomongin soal manusiawi? Karena mungkin bagi beberapa peserta disini, para karir adalah mesin pembunuh yang dilahirkan untuk memasuki Arena dan untuk membunuh sejumlah orang tak berdosa. Asal kau tahu, gadis pirang itu lebih manusiawi dari pada isu-isu tentang mesin pembunuh itu. Ia masih memiliki alasan untuk membunuh, yaitu untuk pulang ke rumahnya di Distrik Satu dan bertemu dengan daddy, mommy, dan Codette. Edited by Corialonus Snow, Wednesday Jun 5 2013, 07:00 PM.
|
![]() |
|
| Maysilee Donner | Wednesday Jun 5 2013, 07:54 PM Post #45 |
![]()
|
DISTRIK 12 || HP: 104 || AP: [result]5&2,1d8,3,5&1d8+3[/result] + [result]2&2,1d2,0,2&1d2[/result] || KS: [result]13&13,1d24,0,13&1d24[/result] TARGET: Zephaniah Lore (D1) || DICE KEJUTAN: 4 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] || JARAK SERANG: 1+ [result]8&8,1d12,0,8&1d12[/result] 1 pistol udara, 1 pisau, 1 bungkus dendeng, 1 tempat minum kulit [/center][/font] Tidak ada waktu untuk beristirahat. Setiap saat, setiap detik, setiap milisekon adalah momen bagi Maysilee Donner untuk terus siaga. Untuk terus bergerak. Untuk tidak lupa menoleh pada setiap langkahnya dan mendongak ke atas; mengantisipasi serangan dari mana saja. Untuk selalu melatih pergerakannya agar semakin sunyi. Selepas tiga hari mencoba, langkahnya kini sudah lebih tenang. Ranselnya masih agak berisik karena isinya yang padat, namun setidaknya masih lebih senyap dari hari pertama, saat dia masih agak panik. Dia mencoba untuk tidak gugup, agar saat dia menyerang nanti, pergerakannya tidak kaku. Donner muda, dengan putus asa mencoba mengingat kembali semua pelatihannya sebelum Arena. Dia hanya mencoba hidup selama mungkin. Dendengnya dihemat, begitu pula dengan minumannya. Pisau itu terselip di pinggangnya dengan aman, agar dia dapat dengan mudah meraihnya. Satu lagi pisau disimpan di dalam sepatunya, sehingga tidak ada senjata tajam yang tersisa di dalam tas. Berjaga-jaga biar mudah menyerang. Terkadang, dia terus memikirkan jebakan macam apa yang bisa dia pasang selaku tameng—tapi, daripada membuang waktu memperkirakan, dia memotong waktu berpikir dan menggunakan lebih banyak untuk bergerak. Arena itu tidak ada indah-indahnya. Eden itu sepenuhnya palsu. Arena itu memang persis perancangnya; hanya tampilan luarnya yang memesona. Dalamnya? Busuk. Maysilee tidak bisa mengatakan dia mengalami apapun sampai akhirnya dia bertemu Haymitch Abernathy. Dia terluka, nampaknya. Entah apa yang membuatnya terduduk begitu—kelelahan, kepanasan, atau mungkin sisa-sisa Bloodbath? Kebetulan, sungguh, dia tidak tahu Haymitch memasuki area hutan pula. Dua tribut lainnya sudah tidak ada; maka, dari Dua Belas, hanya tinggal mereka berdua. Ada intensi untuk menghampiri, tentu, namun itu buyar kala sang Karir muncul dan menombak mereka tanpa tedeng aling-aling—melukai lengan sang dara, dan mengenai Haymitch pula. Mendadak ada begitu banyak hal yang terjadi. Dia hanya ingat mengeluarkan pisaunya dan menebas Karir itu sembarang arah. Dia tidak boleh maju tanpa perlindungan. |
![]() |
|
| Pietronella Hart | Wednesday Jun 5 2013, 08:04 PM Post #46 |
![]()
|
DISTRIK 2 || HP: 69 + 5 (hujan) = 74 || AP: [result]8&5,1d8,3,8&1d8+3[/result] + [result]4&4,1d5,0,4&1d5[/result] || KS: [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] TARGET: Kanya Jett (D7) || DICE KEJUTAN: 24 + [result]8&8,1d12,0,8&1d12[/result] || JARAK SERANG: 12 + [result]4&4,1d12,0,4&1d12[/result] 2 pistol udara, 1 tombak, 1 belati Funny. O, jangan harap kalian akan melihat gadis ini tertawa terbahak-bahak di tengah hutan yang penuh dengan duri beracun, fellas. Kejadian yang menimpanya memanglah lucu, tapi tidak ada gelak yang diloloskan bibir yang tak lagi semerah ceri itu (dua hari dalam arena, kau pikir penampilannya masih sesempurna gadis yang dipoles untuk sesi wawancara, ha? Sinting). Hanya satu-dua dengus singkat yang mengumandangkan perasaannya mengenai peristiwa yang berlalu beberapa waktu belakangan. Lucu, terlalu lucu – ayolah, siapa yang tidak beranggapan bahwa hal ini tidak menggelikan, hm? Nasibnya agaknya sedang sial sedari tadi... Mulai dari tergores duri, dilanjutkan dengan serangan yang meleset (ya, ya, meleset, kalian membacanya dengan jelas; tidak ada yang salah dari pemilihan kata di sini, yanno), dan berakhir dengan goresan duri lain. Seriously, gamemaker, berapa banyak duri yang memenuhi hutan ini, huh? Puas, karena gadis Hart ini berkali-kali terkena sampai perih yang tidak seberapa itu tidak hilang juga? Tidak, sayang, luka kecil ini bukan apa-apa; sama sekali tidak sakit — dusta. Bagian yang terkena membengkak besar dan lendir yang keluar dari sana nampak begitu mengerikan sampai ia yakin akan membuat anak perempuan termuda di arena menjerit ngeri. Ingin dia mempercayai bahwa lukanya tidak akan menghalangi usahanya mengejar gadis dari distrik tujuh, tapi faktanya? Hu. Mondar-mandir dengan kondisi seperti ini sama saja cari mati. ...tapi lihatlah keajaiban apa yang ditemukannya sekarang. Selagi ia duduk dan memeriksa isi ransel yang didapatkannya untuk mencari sesuatu — apapun — yang bisa meredam perih yang menyerang lengan, ada tetes-tetes air yang terasa sejuk menerpa puncak kepala. Hujan. Mukjizat, eh? Air yang jatuh dari langit itu suci, bulir-bulir beningnya nampak bagai kristal yang memantulkan cahaya, menyegarkan. Luka yang terkena basuhan tangisan langit itu berangsur-angsur lebih baik, perihnya menguap meski masih menyisakan perasaan tak nyaman. Kedua tangan ditangkupkan, mengumpulkan titik-titik air menjadi sekumpulan genangan yang digunakan untuk menghapus dahaga. Mmhm. Lucu, bukan? Tadi dia memaki pembuat arena karena menyebabkannya tergores duri di sana-sini, tapi sekarang malahan bersyukur atas kiriman hujan yang menyenangkan ini. Aroma darah yang memuakkan bercampur dengan bau nanah busuk pun tidak lagi sepekat beberapa saat lalu, tercuci bersih oleh hujan tersebut. Lukanya? Oh, tenang saja, dudah jauh lebih baik setelah gadis Hart ini membubuhkan serbuk (dari aromanya, sepertinya berasal dari daun mint, hn?) yang berada di dalam ransel ke bagian kulit yang bernanah. Sinting kalau berharap lukanya bisa langsung sembuh dalam sekejap mata, duh. Mus, ta, hil, bung. Delusional sekali. Namun setidaknya sekarang dia berada dalam keadaan yang cukup baik untuk meneruskan apa yang sempat tersela tadi. Ransel kembali disandang di punggung dan tombak digenggam erat. Sejenak ia mengamati sekitar untuk menemukan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh buruannya. Bu-ru-an milik-nya. Mpfh. Terkutuklah Haymitch Abernathy yang mengganggu. Distrik pinggiran macam dua belas semestinya cukup duduk diam dan mencari persembunyian untuk mempertahankan nyawa, sampai kawanan karir menemukan mereka dan memutuskan menghabisi. Jangan mengganggu apa yang dikerjakan oleh distrik papan atas macam dua. Pietronella Hart memutar bola mata kala teringat saat-saat dimana pandangannya menangkap visual pemuda tersebut menyerang Jett. Dua belas, berniat merebut buruan milik dua. Yang benar saja. Puh. Menggelengkan kepala, lalu menghela napas, dan kakinya kembali melangkah. Merangsek maju, menembus dedaunan yang lebat, mencari buruannya yang lari — Aha. Gotcha. Bertemu lagi, hm. Ujung bibir sedikit ditarik, agak puas pada diri sendiri yang berhasil menemukan gadis distrik tujuh itu dalam waktu yang tergolong singkat. Serangan lain dilancarkannya tanpa membuang banyak waktu. Masih, dengan tombak. Penasaran dia, gadis itu seberapa beruntung jika bisa mengelak dari dua serangan yang sama berturut-turut. |
![]() |
|
| Urie Tommy | Wednesday Jun 5 2013, 08:26 PM Post #47 |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 116+5= 121 || AP: - || KS: - || Jarak Serang: 14 + [result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result] || Dice Kejutan: 22 + [result]6&6,1d12,0,6&1d12[/result] Ransel besar, ransel kecil, satu belati, satu pisau, satu dendeng sapi, satu tempat minum dua liter Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Sudah berefekkah serbuk daun mint itu? Urie menatap bagian tubuhnya yang tadinya membengkak dan bernanah. Sekarang bagian itu sudah tidak lagi mengeluarkan nanah dan tidak begitu membengkak. Urie menghela napas lega. Akhirnya, penampilannya yang sempurna dan pujaan semua wanita--yang kedua itu hanya menurut dirinya sendiri--tidak perlu dirusak oleh kecacatan kecil. Bagian tubuh tersebut berangsur-angsur membaik, rasa sakit pun sudah tidak terlalu dirasakannya. Kondisinya sudah membaik, tapi seorang Urie Tommy benar-benar harus istirahat sejenak akibat kepanikan yang melandanya barusan. Ia duduk santai di bawah pohon sambil memasuk-masukan lagi barang-barang yang ia keluarkan dari ransel (berhubung dia juga sedang bosan dan merupakan lelaki yabg cukup rapi, ia sortir isi dua ransel tersebut sesuai fungsinya, bukankah dia memang lelaki pujaan para wanita?). Kakinya diselonjorkan, kedua tangan beristirahat santai di kiri dan kanan tubuhnya. Tangannya terentang ke samping dan bahunya ditarik kebelakang, melakukan stretching ringan. Setelah tulang-tulang tubuhnya mengeluarkan bunyi, menandakan dirinya yang memang kelelahan, Urie melemaskan sekujur tubuhnya. Kalau begini rasanya damai, ya. Duduk santai di bawah pohon rindang, yang terdengar hanya suara daun yang tertiup angin. Hujan yang tiba-tiba turun membasahi tubuhnya membuat udara makin sejuk. Seakan-akan dunia ini hanya milik Urie seorang. Urie tahu, kok, warga distriknya yang menonton perjuangannya bisa jadi sedang memaki-makinya sekarang, karena lebih memilih untuk istirahat daripada membantai semua lawan. Tidak masalah, kok, sungguh. Wakil dari distrik satu bukan hanya dirinya, masih ada Lore, Roosophire, dan Vorfreude yang, Urie yakin, telah bertindak lebih baik daripada dirinya. Pada dasarnya ia memang pengecut, untuk apa berharap lebih darinya? (Salahkan hujan yang mendadak turun, menyebabkan dirinya semakin melankolis dari biasanya) Sesaat ia terbengong, mencari suara senjata yang beradu. Tidak ada. Suasananya tenang. Cukup tenang untuk membuat Urie tertidur saat itu juga. Tapi ketenangan ini juga bisa membunuhnya. Berarti Silvertongue sudah jauh. Urie tak tahu harus seperti apakah responnya. Di satu sisi, ia kecewa karena gadis itu sudah tidak terdengar lagi, karena berarti mereka tidak akan bertemu lagi (padahal apabila mereka bertemu pun mereka hanya akan saling bunuh). Tapi di satu sisinya, dia senang karena tidak harus melawan gadis manis itu. Tidak, gejolak di hatinya tidak hanya terdiri dari dua sisi! Di sisi lainnya, ia merasa tak rela apabila Silvertongue dibunuh orang lain. Harus Urie lah yang membunuhnya. Di sisi satu lagi, Urie tidak mau dia mati. Dilema, itulah yang dirasakannya sekarang. Bahkan dia sendiri tidak tahu kenapa perasaannya selalu bertolak belakang seperti ini. Jadi yang mana yang harus diturutinya? ........... Lupakan. Berpikir hanya akan membuatnya makin pusing. Urie berdiri, membersihkan pakaiannya, lalu mulai berjalan mencari lawan. Hei, mungkin dia bisa bermain-bermain dengan orang lain sembari mencari si gadis dari Sepuluh itu. Deskripsi Yasmine Silvertongue |
![]() |
|
| Gavyn Owyn | Wednesday Jun 5 2013, 09:04 PM Post #48 |
![]()
|
DISTRIK 11 || HP: 77 – 15 (aroma) = 62 || AP: - || KS: - TARGET: -|| DICE KEJUTAN: 33 + [result]9&9,1d12,0,9&1d12[/result] || JARAK SERANG: 67 + [result]4&4,1d12,0,4&1d12[/result] 1 pasang kaus kaki, 1 lentera, 1 pisau, 1 korek api Gavyn tidak suka hidup dalam dunia yang serba aneh ini. Ia memang menyukai warna cerah—perpaduan warna hijau dan merah diselingi cokelat dari batang pohon—itu indah luar biasa. Tapi, dia benar-benar tidak ingin begitu terlena. Dia ingin mereka kembali sadar siapa diri mereka sesungguhnya dan melanjutkan perburuan hingga waktu yang tidak ditentukan. Menurutnya, tidak akan ada mangsa yang bisa kabur begitu saja dari tangannya. Mereka semua adalah lawan. Owyn sulung ini menggeram dan melompati akar pohon yang menonjol dan ketika kedua kakinya menapak, dia merasa mencium bau memabukkan. Gavyn menghitup napasnya dan measa pening seketika itu juga. Segala di sekitarya menjadi begitu berat untuk diindera dan dadanya terasa sesak. Sontak pemuda ini memperlambat larinya dan mencoba mengatur ritme pernapasannya. Ada yang salah dari atmosfir yang ada di tempat ini. Ia merasa sedang ditipu dan melihat Pinoy terus bergerak di dekatnya dan menyaksikan jarak mereka semakin dekat dengan kawanan yang mereka buru, Gavyn merasa sedang diolok-olok. Pemuda berkulit gelap ini akhirnya berusaha mengontrol tubuhnya yang mulai kejang dan ini memakan waktu lebih dari satu menit. Benar-benar bukan saat yang tepat untuk kena tipuan alam buatan Capitol di saat jarak mereka sudah dekat dan Gavyn sudah bisa menusukkan pisaunya ke arah perut buruannya. |
![]() |
|
| Tume Tinkham | Wednesday Jun 5 2013, 09:12 PM Post #49 |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP: 74 + 5 (hujan) = 79 ||AP: [result]5&5,1d8,0,5&1d8[/result] + AP dari senjata: [result]1&1,1d2,0,1&1d2[/result] || KS: [result]1&1,1d24,0,1&1d24[/result] || TARGET SERANGAN: Pinoy Annelli (cowok distrik 5) || DICE KEJUTAN: 23 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] || JARAK SERANG: 71 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] 2 tempat minum kulit, 1 belati, 1 lentera Sesungguhnya dia merasa kepuasannya dalam berlari di bawah rintik hujan ini lebih karena dirinya merasa Capitol sedang bermurah hati karena memberinya izin untuk memasukkan air dari langit yang segar itu ke dalam mulutnya tanpa perlu bersusah payah mencari mata air. Juga Tume Tinkham, bocah dari distrik sepuluh ini, masih menunggu saat yang tepat untuk mulai beradu kekuatan dengan pengejar mereka—kawanan yang dikepalai oleh pemuda dari distrik lima itu. Ia berusaha berlari sejauh mungkin dan melewati beberapa gundukan lumut yang bergradasi warna hijau kemerahan yang mengagumkan. Hutan ini begitu luas. Dia mulai berpikir bila mereka terus berlari dalam satu garis lurus maka ke mana kira-kira mereka akan sampai di ujungnya sekitar dua puluh empat jam kemudian barangkali. Hng. Mendadak ia merasa dadanya cukup nyeri dan memutuskan untuk berjalan cepat saja dan di saat itu dirinya melihat kawanan Pinoy sudah makin dekat. Mau tidak mau peserta berumur dua belas tahun ini segera menghunuskan belatinya dan menyambut sosok pertama yang muncul di dekatnya. Makhluk yang pertama munculnya adalah seorang laki-laki dengan rambut cokelat kemerahan yang diidentifikasinya sebagai Pinoy Annelli. “Mati kau!” Bocah ini segera meloncat ke arah sosok yang sibuk bergerak ke arah mereka. Tume tidak berharap serangannya akan kena mengingat pegangannya di belati itu cukup licin karena air hujan. Dan pandangannya cukup terganggu dengan rintik hujan. Beruntung dia tidak terpeleset ketika mencoba meloncat ke arah pemuda dari distrik lima itu. Bagaimana hasilnya? Kena atau tidak? |
![]() |
|
| Shinzo Kawabata | Wednesday Jun 5 2013, 09:23 PM Post #50 |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 86 – 15 = 71 || DICE KEJUTAN: 35 + [result]7&7,1d12,0,7&1d12[/result] || JARAK SERANG: 72 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] 3 tempat minum kulit, 1 belati Tidak heran mengapa ini menjadi begitu rumit. Bagaimana tidak, eh? Ternyata kawanan Pinoy begitu bernapsu untuk mengejar mereka. Seingat Shinzo baru beberapa saat yang lalu dia merasa kedamaian dan begitu kagum pada barisan semut merah berukuran sebesar jari tangan manusia berderet dan tidak mengusiknya sama sekali sebelum Tume mendeteksi adanya bunyi keberadaan makhluk berkaki dua lain selain mereka di tempat ini. Perburuan kembali dimulai. Mereka adalah hewan yang diburu. Shinzo berharap dia tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk menghindar lebih jauh lagi, tapi beberapa detik setelah dia berpikir untuk berbalik dan membantu Tume menghadapi Pinoy, dia mendadak merasa ada bau harum yang memusingkan terpapar di hidungnya. Kepalanya terasa pening dan perasaannya menjadi begitu tidak nyaman seolah-olah ada beban berat dihempas masuk ke dalam otaknya. Ia merasa serangan sesak yang hebat. Shinzo melenguh dan beruaha mempertahankan jalur pernapasannya. Tubuhnya kejang dan terasa sedemikian kakunya hingga ia merasa telah menampakkan wajah tolol di depan Capitol. Tapi, ini tidak bisa dihindarinya. Ada sesuatu yang aneh di dekatnya, sesuatu yang baru ia cium dan ini membuatnya lemah. Sialan. Pemuda ini berusaha mengambil kembali kontrol jalur pernapasannya dan memerangi efek zat aneh itu di dalam tubuhnya. Ia melihat Tume melompat dengan belatinya ke arah Pinoy, tapi ujung belati milik bocah laki-laki dari distrik sepuluh itu tidak mampu mengenai kulit laki-laki dari distrik lima yang rupanya sudah berhasil mengejar mereka. Sayang sekali, ya. |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |

















9:33 PM Jul 11