|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Arena Satu - Hutan Beracun | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Tuesday Jun 4 2013, 08:15 PM (4,104 Views) | ||
| Redemptus Maleveich | Tuesday Jun 4 2013, 08:15 PM Post #1 | |
![]()
|
Sebutlah pemuda Maleveich ini tengah berpuas diri melihat mayat-mayat bergelimpangan di seputar Cornucopia. Senyum tak kunjung usai tergambar jelas pada wajahnya sambil mengganti setiap potongan gambar yang menampilkan wajah-wajah lusuh menyedihkan. Tak henti-hentinya senyum Redemptus muncul dalam raut wajahnya yang pucat. Berikutnya, layar di depan memperlihatkan potongan tubuh yang sudah tercerai berai. Perut yang telah terkoyak secara paksa, bola mata yang sudah tidak utuh lagi, wajah yang masih meninggalkan teror dan ketakutan. Darah di mana-mana. Akan tetapi, dia masih kecewa belum ada peserta yang nekat meledakkan diri sebelum waktu enam puluh detik usai. Kalah taruhan lagi—seperti tahun kemarin. Biasa. Meriam dibunyikan sebanyak dua puluh lima kali menandakan jumlah nyawa yang telah bergabung dengan penghuni dunia lain. Semangat yang berkobar di masing-masing peserta sebelum pertumpahan darah dimulai boleh dikata mulai pudar dengan berkurangnya sebagian total peserta, hm? Dua puluh lima yang berpulang, tapi masih ada tanggungan dua puluh tiga lainnya yang harus diurus. Ck. Redemptus lebih memilih meledakkan mereka dalam satu tempat, entah kenapa dia menginginkan cara demikian. Tapi pada akhirnya cara itu tidak ditempuh. Ekspresi menghina menggantikan senyum di bibirnya kala menyaksikan kumpulan manusia yang mulai bergerak ke satu tempat. Maniknya berpindah ke kumpulan peserta yang berpencar ke berbagai tempat di luar Cornucopia. Tiga arena telah dipersiapkan untuk mereka. Salah satunya adalah hutan cukup lebat dengan rimbunan hijau di sana-sini yang akan menyambut kedatangan anak-anak yang tersesat. Tidak hanya hijau saja yang bisa dilihat, tapi kau bisa melihat warna-warna cerah indah yang menghiasi hutan. Masih sama indahnya dengan penampilan visual yang tertangkap sebelum mereka bergerak saling bantai satu sama lain. Kupu-kupu bersayap pelangi nan indah pun berterbangan sesuka hatinya dengan sengatan dan racun yang membawa mimpi buruk. Kau bahkan bisa menemukan buah-buahan menggiurkan tergantung di antara semak. Beracun, tentunya. Semua di sini beracun. Oh, Redemptus juga tidak lupa menambahkan sungai yang mengalir sebening kristal yang berkilau ketika tertimpa sinar matahari. Kurang baik apa lagi demi memanjakan penglihatan peserta sejenak. Arena sudah memasuki hari ketiga dan Redemptus masih belum berniat mengubah segalanya. Nah, selamat melanjutkan permainan kalian, tributes.
|
|
![]() |
|
|
| Replies: | ||
|---|---|---|
| Shinzo Kawabata | Saturday Jun 8 2013, 07:17 PM Post #71 | |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 75 + 5 (hujan) = 80 || AP: - || KS: - || TARGET SERANGAN: - || DICE KEJUTAN: 44 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] || JARAK SERANG: 109 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] 3 tempat minum kulit, 1 belati “Kau tampak lemah.” Shinzo mengerutkan keningnya dan memandangi Yasmine yang berada di dekatnya. Tume Tinkham entah apa kabarnya dan di mana sekarang. Untuk saat ini persekutuan mereka terpecah. Dia tidak berada sedistrik dengan gadis ini sehingga menurutnya searusnya Tume yang berada di dekat Yasmine dan bukan dirinya. Dia bisa saja membunuh Yasmine yang tampak lemah omong-omong. Tapi, dia tidak ingin melakukannya karena tidak sanggup membayangkan betapa sakit hatinya bila Pinoy melakukan hal itu kepada Winona bila dua orang itu kembali bersama di belahan lain arena ini. Baginya prinsip hukum karma itu ada dan ini yang membuat semuanya terasa rumit baginya. Dia tidak ingin membunuh karena takut mendapat balasan. Benarkah? Pemuda dari distrik delapan ini menggelengkan kepalanya ketika berbantahan dengan jalan pikiranya sendiri. Sementara itu dia berusaha berjalan pelan sambil menghemat energi. Hujan masih turun dan sesekali Shinzo membuka mulut demi memuaskan dahaganya. Ia cukup bersyukur masih berada di kawasan yang ada hujannya karena merasakan tetesan air masuk ke kerongkongannya membuat dia sedikit bersemangat daripada sebelumnya. Entah mengapa adanya hujan membuatnya makin yakin bahwa dia masih hidup, masih sehat, dan ingin tahu apakah pelatihnya yang agak cuek itu bisa memberinya sponsor berguna untuk melawan peserta lain di arena. Well, Shinzo benar-benar menunggu saat sponsor itu datang kepadanya. Edited by Jonathan Duprau, Tuesday Jun 11 2013, 02:41 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Yasmine Silvertongue | Saturday Jun 8 2013, 07:43 PM Post #72 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP 24 || AP : - KS : - Target : - || DICE KEJUTAN: 43 + [result]11&11,1d12,0,11&1d12[/result] || JARAK SERANG: 110 + [result]9&9,1d12,0,9&1d12[/result] empat dendeng sapi(habis) Ia tertawa hambar. Terlihat lemah, yeah apa lagi yang kau harapkan? Dua luka akibat anak panah dan beberapa luka gores dan tusuk sebuah pisau hasil karya seorang Karier dalam hitungan kurang dari dua puluh empat jam. Tidak mengetahui dimana keadaan satu-satunya orang yang berpengaruh dalam hidupnya di Arena ini dan telah ditinggal mati begitu saja oleh dua rekan lainnya, terdengar sangat menyedihkan, kah? “Kukira aku lebih buruk dari kondisi itu, Shinzo.” Niatnya bercanda, tetapi ia sadar tidak ada yang patut untuk dibuat menjadi bahan tawa atau candaan saat ini. Gavyn Owyn berada di belakang mereka. Hujan terus mengguyur hutan tidak nyaman tersebut. Yasmine menyeret kedua tungkai kakinya untuk terus bergerak maju, entah menuju apa dan menanti hal apa. Ia jelas tidak menanti saat dimana dentum meriam kembali terdengar dan wajah Tume mengudara di angkasa, atau dentum meriam dan dirinya melayang-layang menuju dunia lain. “Apa kau masih ingin pulang, Shinzo?” Pertanyaan paling bodoh, tetapi ini cukup untuk mengisi kesunyian mereka. Setidaknya, untuk mengurangi ketegangan yang telah tercipta dan berlangsung begitu lama. Apakah Yasmine masih ingin pulang? Tentu saja, tetapi… seakan ini tiada akhir, seakan ia telah mengucapkan selamat tinggal, for real. |
|
![]() |
|
|
| Irish Cloverfield | Saturday Jun 8 2013, 10:49 PM Post #73 | |
![]()
Pemenang Hunger Games ke 47
|
[SPONSOR UNTUK YASMINE SILVERTONGUE] Sulit memang menanggung beban sebagai pelatih. Banyak yang harus ia lakukan untuk memperpanjang nyawa dari anak didikannya. Belum lagi Capitol sering begitu menjengkelkan untuk mengeluarkan sponsor terlebih kalau kamu bukan karier. Yang penting untuk saat ini adalah dia berhasil membujuk dua orang sponsor untuk mengeluarkan sponsor demi Yasmine. Melalui layar yang disaksikannya, ia bisa melihat keadaan Yasmine yang cukup menderita. Ugh, Irish paham bagaimana rasanya menghitung jumlah tenaga yang tersedia dan menggerutu di kala muttan menyerang karena tiga taun lau dialah yang berada di posisi Yasmine. Dia benar-benar paham akan hal itu. Dia tahu Yasmine tidak akan bertahan lebih lama lagi di sana bila Irish tidak segera melakukan sesuatu. Begitu Yasmine kabur bersama sekutunya, Irish segera mencari sponsor dan berhasil mendapat dua warga Capitol yang berbaik hati mau menengok distrik kelas bawah. Mereka memberikan obat untuk luka Yasmine. Benar-benar sesuatu yang bermanfaat, bukan? Luka-luka yang dimiliki oleh gadis dari distrik sepuluh itu bisa sembuh dalam hitungan beberapa menit saja. Irish tahu seperti apa daya kerja obat buatan Capitol. Mereka bisa menyembuhkan luka dengan cepat sehingga tentu sponsor kali ini sangat berguna. Beruntunglah kau, Yasmine. Sebuah parasut perak diterjunkan di arena lokasi Yasmine berada—isinya sebuah salep untuk menghilangkan luka yang dimiliki oleh putri Silvertongue itu—dan melayang tepat ke atas diri Yasmine. Saat itu gadis yang tengah bersekutu dengan Shinzo yang berasal dari distrik delapan masih berusaha semampunya untuk bertahan di hutan beracun. Masih banyak sisi hutan yang belum mereka eksplor. Ini membuat Irish khawatir karena rahasia demi rahasia kejutan Capitol masih bergentayangan. Tapi, dia menaruh harapan kepada Yasmine yang dilihatnya begitu kuat dan tidak mudah menyerah. Bersama parasut perak itu Irish menyelipkan catatannya.
OoC: Deskripsi saja kamu melihat parasut perak yang beralamatkan untuk dirimu. Isinya salep untuk mengobati lukamu. Cukup dioleskan di luka dan lukamu akan segera kering dan menutup. HP +40 untuk kamu dan berterima kasihlah kepada sponsormu. Selamat berjuang, Yasmine. |
|
![]() |
|
|
| Singa | Sunday Jun 9 2013, 11:35 AM Post #74 | |
![]()
|
DISTRIK MUTTANJAYA ┏((= ̄(エ) ̄=))┛ HP: 120 #HIK || TARGET: Eneng Yasmine (。-_-。 )人( 。-_-。) Abang Shinzo || AP: [result]29&29,1d30,0,29&1d30[/result] || KS: [result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result] & [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result] Singa sudah bertekad menjadi muttan paling eksis di era ini, puh. Biarin aja kalo si kupu-kupu, tupai, atau muttan lainnya turut turun tangan. Huh. Huh. Singa udah janji bakal aktif karena dapat mangsa—TAPI LIAT DONG MANGSANYA. DICUEKIN. PADAHAL KATANYA DIA RAJA, WOY. Raja Hutan, sih, bukan Raja Arena. Tapi kan gelarnya tetap pemimpiiiin. Tahu deh, yang lain imut. Tahu deh, yang lain unyu. Memang yang namanya singa itu nggak ada unyu-unyunya. Di wajahnya banyak kerut-kerut, terus warna bulunya cokelat butek. TAHU, TAHU. Makanya begitu dapat mangsa malah dicuekin habis-habisan, kali. Makanya dia uring-uringan kelaparan, menunggu ada yang menghampiri—tapi faktanya? SODARAAA. SODARAAAA. Berr-hati-hatilah kalau mau cuekin singa. Huh. Dikiranya singa bisa diam begitu saja apa karena serangannya diacuhkan. Oh, chydak bisaaa. Singa paling enggak suka diacuhin kayak gini. Sebagai salah satu penghuni paling ketje di distrik muttan jaya, dia harus merebut kembali haknya. Dicuekin, dilirik doang, siapa sih yang suka?! Jawabannya enggak ada. ENG.GAK. A. DA. SEENAKNYA AJA DIA DIBIARIN GITU AJA. NGGAK TAHU YA KALAU JAM TERBANGNYA TINGGI? NYEBELIN BANGET. Singa menapakkan kaki-kakinya yang jenjang (ea) menyusuri hutan lagi, berusaha mengejar dua mangsanya. Sebenarnya singa nggak suka kalau nanti ia berjalan jauh dan lama—nanti betisnya jadi kayak samsak tinju gimana—tapi demi mangsa, yoweeees. Kayaknya sih ada seseorang di sekitar sini—pasti mangsanya sudah dekat, nggak mungkin nggak! Papa sayang Singa, Papa sayang Singa; nyebut, Singa, nyebut (PADAHAL PAPANYA DULU KAN SENECA). Papa Redemptus juga baik kok, berhari-hari dia nggak kasih makan kamu biar kamu ganas. Terus sekalinya ngasih makan, dia bakal hadiahin kamu cogan. (Berima, bo.) Bonus satu cewek resek, sih. Bodo ah. Yang penting ada cogannya. Kan sesekali singa juga mau punya jodoh di arena. Apa sih namanya? Cinta lintas distrik? Nah. Kamu sama aku kan beda distrik, bang. Langsung ke pelaminan aja gimana, bang? Aku mau move on dari Babang Blaire, nih. Singa melompat menerjang, mengaum— “GRAOOOOOO!” (‘Ceraikan dia dan nikahi aku, Bang!’) —dan mengayunkan cakarnya kuat, berusaha menyabet tubuh dua mangsanya itu dengan cakar tajamnya. |
|
![]() |
|
|
| Gavyn Owyn | Sunday Jun 9 2013, 06:48 PM Post #75 | |
![]()
|
DISTRIK 11 || HP: 40 berdasarkan panduan + 5 (hujan) = 45 || AP: - || KS: - ||TARGET: - || DICE KEJUTAN: 45 + [result]3&3,1d12,0,3&1d12[/result] || JARAK SERANG: 107 + [result]10&10,1d12,0,10&1d12[/result] 1 pasang kaus kaki, 1 lentera, 1 pisau, 1 korek api Sudah tidak paham berapa lama lagi dia akan bertahan di tempat ini. Hutan ini sebenarnya menyenangkan bila tidak ada yang membuatnya mesti selalu waspada. Pepohonan tumbuh dengan subur dan hujan masih terus turun. Ini karunia tidak terhingga teruntuk pemuda kelahiran distrik sebelas ini. Beristirahat sejenak? Kakinya sudah mulai capek dan kepalanya terasa berat. Pemuda ini bisa melihat ada akar besar pohon yang menonjol dari permukaan tanah, nampak cukup untuk tempat duduk dan meluruskan kakinya. Dia masih merasa efek mual akibat beberapa serangan tadi hingga dia berpikir yang diperlukannya untuk saat ini adalah saat untuk beristirahat dengan tenang. Ia tidak tahu apa kabar dengan dua orang aliansinya itu. Apakah mereka selamat ataukah mereka hilang begitu saja. Ia menyesal tidak memperhatikan mereka dengan baik. Bila saja tadi dia sempat menyambar tangan salah satu dari mereka maka kemungkinan besar tidak akan terpisah. Gavyn ingin sekali beristirahat. Bahwa badan besarnya ini juga cukup tidak kuat untuk menanggung beban rasa letih luar biasa. Ia merasa tidak pernah secapek ini dalam seumur hidupnya. Tapi, dia tahu dirinya tidak mungkin duduk begitu saja sambil menikmati keindahan alam karena ini adalah arena. Ia masih cukup waras untuk terus bergerak sambil menggendong ranselnya. Pisau pemberian Winona masih menemaninya. |
|
![]() |
|
|
| Shinzo Kawabata | Sunday Jun 9 2013, 07:06 PM Post #76 | |
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 85 + 5 (hujan) – 29 (muttan singa)= 61 || AP: [result]1&1,1d8,0,1&1d8[/result] + AP SENJATA: [result]2&2,1d2,0,2&1d2[/result] || KS: [result]3&3,1d24,0,3&1d24[/result] || TARGET SERANGAN: Gavyn Owyn (D11) || DICE KEJUTAN: 45 + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] || JARAK SERANG: 119 + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] 3 tempat minum kulit, 1 belati “Ya. Tentu saja aku ingin pulang.” Lalu, hening yang cukup lama. Mereka berdua masih terus bergerak membelah hutan yang entah di mana ujungnya. Shinzo merasa dirinya begitu tidak berdaya dan merasa malu pada sosok perempuan dari distrik sepuluh di sampingnya ini. Yasmine mungkin punya sesuatu untuk diperjuangkan selain dirinya sendiri. Ia tahu hal itu. Awalnya dia pikir perempuan itu makhluk yang lemah atau mereka bakal mudah dimusnahkan dalam sekali serangan saja. Tapi, sejak pertemuannya dengan Yasmine, dia sadar bahwa perempuan pun bisa menjadi begitu kuat akan sesuatu yang mereka lindungi. Tapi, apa yang dilindungi oleh Yasmine? Tume? Tume Tinkham? Pasangannya itu bahkan entah seperti apa nasibnya omong-omong. Beberapa pemenang perempuan memang membuat Shinzo berpikir bila mereka itu menang hanya karena kebetulan belaka tetapi setelah dirinya sendiri berada di arena dan melihat lebih dekat bagaimana seorang Yasmine Silvertongue berusaha, ia yakin bahwa perempuan pun seharusnya tidak diremehkan. “Menurutmu, seberapa besar kemungkinan kau bisa menjadi pemenang, Yasmine?” Shinzo membuat pertanyaan, merasa bila mereka lebih baik bercerita banyak agar rasa letih dari kaki mereka tidak begitu terasa. Di saat itu ada bunyi gemerisik dari atas dan Shinzo langsung menyiapkan belatinya. Ia memicingkan mata sembari mendongak dan melihat ada parasut perak melayang ke arah Yasmine. Sponsor? Lalu, beberapa saat yang berharga untuk sebatas ceria karena kedatangan sponsor, pemuda dari distrik delapan ini berikutnya menyadari bahwa ada orang lain bersama mereka. Entahlah. Ada bunyi lain di belakang mereka dan kembali muncul seekor singa. “Lari, Yasmine! Lari!” Shinzo berteriak ke arah gadis itu sembari dirinya menyeret kakinya sendiri. Tapi, singa yang memang ditakdirkan untuk lari lebih cepat dari mereka sudah lebih dulu menyerang dan membenamkan cakarnya ke tubuh Shinzo. Pemuda Kawabata ini meraung kesakitan, berusaha mendorong mundur sang singa dan kembali berlari. Di saat itu dia melihat Gavyn Owyn muncul dari balik pepohonan. Shinzo menyiapkan belatinya dan melompat ke tubuh kekar itu. Musuh mereka dari awal. Musuh. Dan mengapa juga Gavyn muncul di saat yang tidak benar. Shinzo mengayunkan belatinya tepat ke arah wajah korbannya sembari berharap ini adalah akhir dari segalanya. “YASMINE!!” Dia berteriak ketika singa itu menerjang Yasmine sementara dia mengayunkan belati ke Gavyn. “Lari!!!” |
|
![]() |
|
|
| Yasmine Silvertongue | Sunday Jun 9 2013, 07:26 PM Post #77 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP 24 + 40 sponsor (many thanks Capitol&Irish) = 64 - 29 (Muttan) - 5 (SALAH REKAP PADA POST INI) = 30 || AP : - KS : - Target : - || DICE KEJUTAN: done || JARAK SERANG: … + [result]2&2,1d12,0,2&1d12[/result] empat dendeng sapi(habis) Gadis itu melangkahkan kedua tungkainya sedikit gontai. Ia rasa ia mungkin takkan bertahan lama. Ah, sulung Silvertongue ini… semangatnya bisa hilang dan timbul sesuka hati, kemauannya lebih keras daripada baja tetapi dengan Arena dan kondisi dirinya yang sudah hampir tidak layak untuk menempuh perjalanan lagi memutar balikkan itu semua. Pesimis mulai menggerogoti Yasmine, bahkan ia tidak lagi waspada dengan keberadaan Shinzo atau sekitarnya. Gadis ini mengantuk, mungkin. Ia kurang tidur dan asupan makanan terakhirnya adalah beberapa lembar dendeng sapi yang sekarang semuanya sudah habis. Tolol memang, menghabiskan sumber daya pada hari-hari awal permainan dimulai. Tetapi jika tidak mungkin ia sudah mati membusuk sejak beberapa jam Bloodbath selesai. Mereka semakin jauh, tidak ada apa-apa terbentang di depan mereka. Setidaknya tidak ada manusia lain kecuali di belakang mereka. Siapapun yang berada di belakang mereka, tampaknya tidak lebih berbahaya daripada sekawanan Karier, artinya hanya ada satu kemungkinan : Gavyn adalah lawan mereka. Oh, tolong lah mutt, jangan mencampuri urusan mereka. Sebuah parasut perak mendarat tepat di hadapannya, Yasmine kira ia akan menabrak benda tersebut jika ia tidak sadar parasut tersebut melayang-layang menunggu dirinya. Sebuah catatan kecil terselipkan, dari Irish. Artinya hanya satu : sponsor. Ia, bisa dikatakan kegirangan. Pasti tidak akan macam-macam, tetapi Ya Tuhan, sponsor merupakan faktor dominan penentu hidup mati peserta di dalam Arena. Dinilai dari jumlah luka yang ia terima, sponsor kaii ini datang tepat pada waktunya. Irish, kau penyelamat. Dan siapapun Capitol yang mensponsorinya, Yasmine tidak bisa mengucapkan apapun yang mendekati sebuah pidato indah kecuali terima kasih yang mendalam, sedikit merasa bersalah karena tidak pernah menyukai para Capitol. Atau ini bisa juga dari warga di distrik. Membuat Yasmine kangen rumah. Menanglah dan pulanglah. Dan jika ia tidak berhasil, bukankah itu akan sangat mengecewakan dan membuat luka batin lagi? Setidaknya, biarkan ia berjuang terlebih dahulu. Gadis itu mengoleskan salep pada setiap luka parahnya, begitu pelit sehingga dosis yang ia gunakan takkan banyak. Setelah selesai, ia menatap Shinzo, sekarang mereka harus menunggu lawan mereka, hm? Tidak bertahan lama. Mutt kembali menancapkan cakarnya dalam-dalam pada tubuh kedua peserta tersebut. Jelas saja, teriakannya mengoyak seperti cakar itu berhasil mengoyak daging dalam tubuh Silvertongue muda ini. Menuruti perintah Kawabata, keduanya lari semampu mereka Edited by Corialonus Snow, Sunday Jun 9 2013, 09:00 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Aron Aaroo | Sunday Jun 9 2013, 08:53 PM Post #78 | |
![]()
|
[ KEJUTAN ARENA – HARI KETIGA SETELAH BLOODBATHS ; PUKUL 10.53 ] Ada keinginan untuk menertawakan arena milik Redemptus dan Lisette pada tahun ini. Pergerakannya dahsyat, memang. Namun lihat para muttan itu. Genetika yang disusun oleh mereka nyaris sama menariknya dengan onggokan batu bara milik Dua Belas. Tidak berguna. Lagipula, dari sekian banyak hewan yang bisa dijadikan genetika dalam arena, pilihan kedua pembina permainan kita ternyata menyedihkan. Kupu-kupu pelangi, burung dengan paruh melengkung berwarna merah muda (khas Bass), tupai, dan dua lainnya adalah genetika milik Seneca Crane—si bangau itu pasti mendengus bangga karena genetikanya digunakan lagi. Yang sayangnya dengan kualitas dan performa yang tak semaksimal dulu. Ini sudah lewat tiga hari setelah mandi darah di Cornucopia selesai. Cukup kilat, ya bisa dibilang seperti itu. Siapa yang menyangka ternyata kawanan Karier pada tahun ini jauh lebih bersemangat dan haus akan kemenangan? Mungkin mereka hanya terpicu oleh satu dari distrik bawah yang bisa meraih angka sepuluh. Dua belas nyaris menduduki tiga distrik yang selalu punya angka paling tinggi di Arena. Sebuah penghinaan khusus, sepertinya. Tidak pernah ada satupun, bahkan distrik dengan angka paling besar yang berhasil merebut perhatian Capitol. Aron sudah berdiri pada satu panel. Maniknya dengan jeli benar-benar memerhatikan setiap pergerakan para peserta. Bosan dan bosan. Itu yang menjadikan pemuda bersurai platina itu menarik senyumnya lagi. Gusar dan tidak puas. Bagian menarik dari arena ini hanya Cornucopia. Benar-benar menyedihkan. “May I?” Telunjuknya berdiam tenang di atas satu panel. Gunung berapi itu. Salju itu. Semua harus rata dengan tanah. Mereka sudah seharusnya dikumpulkan menjadi satu untuk saling buru hingga jamuan utama di Arena berlangsung nantinya. Feast? Itu biasanya menjadi ajang paling ditunggu-tunggu oleh para peserta. Pasokan dan sokongan hidup mereka ada disana. Entah pelatih mereka yang memberikannya lewat mengemis dengan penduduk di Capitol, atau kemurahan hati lainnya milik jajaran pemerintahan yang begitu ramah—hingga memberikan hal demikian di saat menit yang sama meminta mereka saling tebas leher. Basa-basi. Panel itu sudah ditekannya. Letusan di bagian gunung. Gempa bumi di bagian lain. Lari. Lari. Selamatkan diri kalian, Peserta.
ETA: Minimal kata. Edited by Corialonus Snow, Sunday Jun 9 2013, 10:03 PM.
|
|
![]() |
|
|
| Flavea Vorfreude | Sunday Jun 9 2013, 10:25 PM Post #79 | |
![]()
|
DISTRIK 1 || HP: 100 || AP: - + AP dari senjata: - || KS: - TARGET: - || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: 30+[result]7&7,1d12,0,7&1d12[/result] 1 Kapak, 1 Pisau Empat orang yang sudah meninggal dunia di tangannya. Empat nyawa melayang dan ia masih berjalan dalam keadaan yang dapat dikatakan baik-baik saja. Setidaknya, tak mengalami luka yang terlalu parah. Dua lukanya hanya berasal dari Adina Erasto dan lebam-lebam lain diakibatkan gempa bumi yang pernah terjadi. Awalnya ia mengira bahwa empat orang yang mati ditangannya cukup dan ia tak akan membunuh lagi, justru terbunuh. Melawan empat orang seharusnya cukup sulit dan menghabiskan energinya. Namun sepertinya ia tak diberikan jalan mudah untuk menang atau pun mati. Seperti ada sesuatu yang tak membiarkannya merasa senang di sini atau di sana. Mengapa? Apa salahnya? Bahkan sebelum ini ia tidak berani membunuh lalat. Hari ketiga semenjak pertumpahan darah, beberapa hari ia sendirian di padang rumput. Rasanya menyesakan, jauh lebih baik jika ada orang lain disekitarnya meski ia terasa terasingkan. Setelah membunuh dua orang terakhir, ia hanya dapat bergerak menjauh dan dari kejauhan itu menatap mayat-mayat dibawa pergi. Ia sudah tersadar, ketika itu. Tersadar ketika tangannya memegang jantung milik dara distrik enam yang ia renggut dari dadanya. Dan ia menjatuhkan jantung tersebut begitu saja. . . . Ia berlari dengan begitu kencang ketika ia merasakan tanah di bawah kakinya bergoncang dengan hebat, sama seperti ketika gempa bumi sebelumnya terjadi namun lebih hebat. Rasanya seakan tanah yang dipijaknya akan runtuh dan jatuh ke dalam inti bumi. Sesekali ia terjatuh dengan cukup keras, namun ia berusaha untuk bangun dengan cepat lagi. Ia mendengar suara letusan hebat, pandangannya langsung bergerak ke arah gunung yang ternyata memang benar-benar meledak, menimbulkan asap hampir ke seluruh bagian arena, hingga ke padang rumput. Rasanya sungguh menyeramkan, seakan kiamat tengah terjadi. Ia terus berlari hingga goncangan berhenti. Hingga akhirnya ia berakhir di dalam hutan, tempat yang tak pernah dikunjunginya sebelumnya. Ia tak tahu berapa lama ia berlari, rasanya sangat lama. Arena ini...sungguh kejam. Ia tak yakin apakah masih ada orang di gunung tersebut, namun jika ada, ia tak yakin bahwa mereka akan selama setelah ledakan semacam itu. Jika pun selamat, mereka pasti terluka berat. Ia pun menyadari bahwa keselamatannya hingga sekarang murni karena keberuntungan. Bukan karena ia kuat. "Ah..." Tubuhnya tersungkur ke atas tanah, merasa syok dengan apa yang baru saja terjadi. Sekarang, sudah berapa banyak nyawa yang terenggut begitu saja? |
|
![]() |
|
|
| Yasmine Silvertongue | Monday Jun 10 2013, 09:05 AM Post #80 | |
![]()
|
DISTRIK 10 || HP 64-29mutt-5salahrekap-11kejutan = 19 || AP : - KS : - Target || JARAK SERANG: 30 + [result]5&5,1d12,0,5&1d12[/result] empat dendeng sapi(habis) DDR bawa saya sampe ke Feast aja ya /ketjup/ Tunggu dahulu… Kembali bumi berguncang, nun jauh disana, Yasmine mendengar gemuruh suara. Tidak bagus. Firasatnya segera mengatakan ada yang salah. Para pembina permainan pasti telah menyiapkan sesuatu lagi bagi mereka. Ia dan Shinzo yang sedang lari dari kejaran maut Singat Mutt berhenti ketika mereka mulai mendengar dentum meriam. Satu nyawa, dua nyawa, tiga nyawa, tujuh nyawa… Terlalu banyak. Gadis itu mendongak, mendapati angkasa yang masih dalam kuasa Pembina Permainan menampilkan hologram akan wajah para peserta yang telah gugur. Banyak Karier gugur, diasumsikan karena letusan mematikan Gunung Berapi itu. Wajah gadis tersebut berubah pias seketika. Jika hampir separuh dari Karier mati di tempat, tanpa perlawanan, murni karena ulah Pembina Permainan, bagaimana dengan… Ia melihatnya. Wajah Tume Tinkham. Histeria mulai merayapi dirinya. Berpegang pada Shinzo tampaknya takkan membantu. Biarkan saja Panem melihatnya sakit seperti ini. Pada akhirnya, ia bertahan sendiri, masih bertahan sendiri dari ketiga teman lainnya. Pada akhirnya, ia gagal melindungi Tume, ia sudah gagal sejak awal, bahkan. Hal itu tidak semakin membuat dirinya membaik, terutama perutnya. Ia mual, ia muak. Kini pertunjukan macam apa lagi yang didamba Capitol sampah itu? Oh, minus pemberi sponsornya, tenang. Gadis itu begitu terguncang sehingga mendapati kurang lebih tiga Karier berhasil melarikan diri ke hutan tidak membuatnya panik. Tidak lagi. Kau tahu? Jika ia memang akan mati di Arena ini, biarkan Jess, Leira, ayah dan ibunya, Aseiya, Afsheen, bahkan seluruh Panem melihatnya tidak mati sia-sia. Karier? Pft. Bayi manja dengan kelebihan otot, itu saja tentang mereka. “Nestor… belum buta?” Seharusnya dia sudah mampus. Sama seperti semua Karier pantas tewas. Panggung terakhirnya. Sempat dirinya tengadah, menatap langit rekayasa Capitol. Langit tidak alamiah yang mungkin menjadi pemandangannya akan lanskap biru untuk terakhir kali. Dia sudah berusaha keras sampai hari ini, sampai detik ini, mundur dan menyerah kalah pada rasa sakit di sekujur tubuhnya tak masuk lagi dalam kamusnya. Titik darah penghabisan, bukan begitu kata keluarga Silvertongue? |
|
![]() |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | ||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |















9:33 PM Jul 11