|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
| Arena Satu - Hutan Beracun | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Tuesday Jun 4 2013, 08:15 PM (4,103 Views) | ||
| Redemptus Maleveich | Tuesday Jun 4 2013, 08:15 PM Post #1 | |
![]()
|
Sebutlah pemuda Maleveich ini tengah berpuas diri melihat mayat-mayat bergelimpangan di seputar Cornucopia. Senyum tak kunjung usai tergambar jelas pada wajahnya sambil mengganti setiap potongan gambar yang menampilkan wajah-wajah lusuh menyedihkan. Tak henti-hentinya senyum Redemptus muncul dalam raut wajahnya yang pucat. Berikutnya, layar di depan memperlihatkan potongan tubuh yang sudah tercerai berai. Perut yang telah terkoyak secara paksa, bola mata yang sudah tidak utuh lagi, wajah yang masih meninggalkan teror dan ketakutan. Darah di mana-mana. Akan tetapi, dia masih kecewa belum ada peserta yang nekat meledakkan diri sebelum waktu enam puluh detik usai. Kalah taruhan lagi—seperti tahun kemarin. Biasa. Meriam dibunyikan sebanyak dua puluh lima kali menandakan jumlah nyawa yang telah bergabung dengan penghuni dunia lain. Semangat yang berkobar di masing-masing peserta sebelum pertumpahan darah dimulai boleh dikata mulai pudar dengan berkurangnya sebagian total peserta, hm? Dua puluh lima yang berpulang, tapi masih ada tanggungan dua puluh tiga lainnya yang harus diurus. Ck. Redemptus lebih memilih meledakkan mereka dalam satu tempat, entah kenapa dia menginginkan cara demikian. Tapi pada akhirnya cara itu tidak ditempuh. Ekspresi menghina menggantikan senyum di bibirnya kala menyaksikan kumpulan manusia yang mulai bergerak ke satu tempat. Maniknya berpindah ke kumpulan peserta yang berpencar ke berbagai tempat di luar Cornucopia. Tiga arena telah dipersiapkan untuk mereka. Salah satunya adalah hutan cukup lebat dengan rimbunan hijau di sana-sini yang akan menyambut kedatangan anak-anak yang tersesat. Tidak hanya hijau saja yang bisa dilihat, tapi kau bisa melihat warna-warna cerah indah yang menghiasi hutan. Masih sama indahnya dengan penampilan visual yang tertangkap sebelum mereka bergerak saling bantai satu sama lain. Kupu-kupu bersayap pelangi nan indah pun berterbangan sesuka hatinya dengan sengatan dan racun yang membawa mimpi buruk. Kau bahkan bisa menemukan buah-buahan menggiurkan tergantung di antara semak. Beracun, tentunya. Semua di sini beracun. Oh, Redemptus juga tidak lupa menambahkan sungai yang mengalir sebening kristal yang berkilau ketika tertimpa sinar matahari. Kurang baik apa lagi demi memanjakan penglihatan peserta sejenak. Arena sudah memasuki hari ketiga dan Redemptus masih belum berniat mengubah segalanya. Nah, selamat melanjutkan permainan kalian, tributes.
|
|
![]() |
|
|
| Replies: | |||
|---|---|---|---|
| Hada Atala | Monday Jun 10 2013, 09:16 AM Post #81 | ||
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 60 (sesuai yg tercantum di panduan) || AP: - + AP dari senjata: - || KS: - TARGET: - || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: 30 + [result]11&11,1d12,0,11&1d12[/result] 1 kapak, 1 tombak, 1 trisula, 1 tempat minum air ukuran 2 liter Bisa ya waktu kerasa berjalan lambat tapi cepat di saat yang bersamaan? Paling nggak, itu yang sedang Hada rasakan sekarang. Kayaknya dia, Ethan dan Ferina cuma berjalan tanpa arah di Arena ini. Nggak ada satu manusia lain yang ditemuinya, selain seekor tupai jejadian. Err--itu juga bukan manusialah ya. Muttan, muttan. Selebihnya? Nggak ada. Ethan lagi, Ethan lagi. Ferina lagi, Ferina lagi. Kemana-mana bertiga persis banget kayak ban bajaj. Coba kalau Floryn ada di sini. Pasti suasananya bakal lebih menyenangkan. ... Keinget lagi. Galau lagi. Amarah Hada belum hilang sepenuhnya karena kematian gadis cilik yang dianggap sebagai adik olehnya itu. Pikiran yang di atas tadi itu cuma pengalihan sesaat aja. Kalau nggak, dia beneran bisa kehilangan dirinya sendiri di sini. Kehilangan kewarasan itu berat, tapi lebih berat lagi sampai kehilangan dirinya. Tapi, bukannya itu memang sudah terjadi pada Hada ya. Sejak dia berhasil menghilangkan nyawa manusia dengan tangannya sendiri? Apalagi yang ada di pikirannya saat ini cuma ingin membalas kematian Floryn. Yah seengaknya meskipun Ferina bilang Floryn mati kehabisan darah, itu berarti memang karena ada orang lain yang menyerang Floryn kan? Pemuda Atala ini berniat menghabisi siapapun yang berani-berani menyerang adik kecilnya itu. Tuh kan, Hada yang sekarang bukan lagi Hada yang dulu. Mikir mau balas dendam sampai mau membunuh. Dia benar-benar udah nggak punya tujuan hidup lagi. Sama sekali nggak kepikiran ingin kembali ke Distrik Empat, meski masih kepikiran Mom sama Hana. Dari tadi Hada cuma mengekor Ethan dan Ferina. Nggak gitu merhatiin apa yang lagi mereka bahas di depan. Ethan dan Ferina ternyata lumayan dekat, ya? Hada baru sadar. Keduanya juga seperti terluka lebih parah dari Hada sendiri. Tapi Hada bisa bantu apa coba? Dia sendiri masih terguncang dan kemarahannya belum reda. Mending dia tutup mulut dan mengikuti mereka deh. Dan sebelum Hada mau membalas perkataan Ethan, tiba-tiba tanah berguncang hebat. Detik berikutnya sebuah suara letusan menggema. Apa? Meriam? Bukan! Efek meriam nggak mungkin sedahsyat ini? Matanya yang heran melihat sekeliling dan Hada menemukan jawabannya. Makjang! Gunung salju! Gunung saljunya meletus dan laharnya meluncur cepat ke arah mereka dalam sekejap saja. "LARI!!!" Refleks, kakinya bergegas lari menghindari lahar panas yang menerjang dan akhirnya memisahkan dirinya dari dua rekannya itu. Dataran yang dilapisi salju seketika berubah menjadi lautan magma dan Hada masih berusaha menyelamatkan diri darinya. "Arghhh!" Hada bisa merasakan panas membakar kedua telapak kakinya, menyebabkan dia terjatuh dan lengannya terkena lahar. Dia meringis kesakitan namun segera bangkit untuk lari sejauh mungkin menuju dataran yang tidak terkena efek letusan gunung itu. Perih dan luka bakar yang dideritanya dia abaikan karena dia melihat jalan keluar menuju sebuah hutan yang tampaknya terlihat aman. Lari, Hada berlari sekuat tenaga. Badannya menerobos masuk di antara pepohonan dan dia terus berlari. Sampai akhirnya kakinya tersandung akar pohon dan Hada terjatuh terjerembab. Hada berteriak kesakitan. Dia masih berpikir untuk lari ketika akhirnya dia sadar kalau hutan yang dia masuki ini tidak diterjang lahar panas. Nafasnya terengah-engah dan jantungnya serasa mau meledak. Meriam pun berdentum beberapa kali secara berurutan. Mana Ethan dan Ferina? |
||
![]() |
|
||
| Mags Cohen | Monday Jun 10 2013, 02:31 PM Post #82 | ||
![]()
|
SPONSOR HIBAHAN FERINA SECRET UNTUK ETHAN NESTOR Sebuah kabar buruk kembali membuat jantungnya hampir berhenti berdetak. Kematian yang datangnya terlalu cepat, tepat ketika bala bantuan baru hendak akan dikirimkannya ke dalam Arena. Ferina Secret telah tiada, untuk selama-lamanya. Sungguh menyesakkan. Hal ini harus kembali dialaminya berulang-ulang kali tiap tahun. Nyawa demi nyawa melayang begitu mudahnya dalam permainan berdarah ini. Tanpa pandang bulu, semuanya menjadi korban. Berkali-kali Mags tua ingin berpikir bahwa ingin rasanya ia yang menukar nyawanya sendiri bagi para anak didiknya. Agar mereka tidak perlu merasakan penderitaan yang sama seperti dirinya bertahun-tahun yang lalu. Andai saja.... Tangannya yang mulai berkeriput menyeka air mata yang sempat menetes. Ia berduka dan merasa kehilangan. Sosok gadis Secret yang tangguh kini harus direlakannya untuk pergi. Mags tua mencoba berpikir positif dengan menanamkan suatu keyakinan dalam hatinya kalau Ferina Secret kini sudah beristirahat dengan damai, bersama dengan Floryn Lee. Juga keyakinan bahwa ia masih bisa menyelamatkan anak didiknya yang lain, yang masih berjuang mempertahankan hidupnya di Arena. Ethan Nestor. Setahu dirinya, hubungan gadis Secret dan pemuda itu di dalam Arena itu cukup baik. Mereka menjaga satu sama lain dan berjuang bahu-membahu untuk menyerang dan bertahan. Jika ada seseorang yang pantas mendapatkan sponsor hibahan dari Ferina, maka Ethanlah orangnya. Pemuda itulah yang paling membutuhkannya. Harapan itu masih ada--dan parasut perak itu sedang dalam perjalanannya menuju Ethan Nestor. Sebuah doa pun ikut mengiringi.
sponsor merupakan hibah dari Ferina Secret. Berisikan kapsul pereda rasa sakit dan salep untuk mengobati dan menghilangkan luka. HP +70. Semoga berguna. |
||
![]() |
|
||
| Gavyn Owyn | Monday Jun 10 2013, 03:31 PM Post #83 | ||
![]()
|
DISTRIK 11 || HP: 13 berdasarkan panduan + 5 (hujan) = 18 || AP: - || KS: - || TARGET: - || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: 30 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] 1 pasang kaus kaki, 1 lentera, 1 pisau, 1 korek api Benar-benar tidak bisa diampuni! Gavyn merasa kelelahan yang berlebihan. Semua ototnya seperti menjerit untuk diistirahatkan. Tapi, tekadnya masih ada. Dia tidak akan membiarkan dirinya duduk saja dan menanti hujan asam, misalnya. Ia memaksa kedua tungkainya untuk terus bergerak sementara pisau pemberian Winona digunakan untuk memangkas beberapa semak yang mengganggu jalannya. Entah sudah berapa lama dia berjalan dan sesekali membuka mulut untuk merasakan dinginnya air hujan sebelum dia mendengar bunyi teriakan gaduh di dekatnya. Jantung milik pemuda berkulit gelap ini berdetak cepat. Menurutnya, ini adalah pertanda bahwa dia harus segera bergerak meninggalkan tempat di mana dirinya berada sekarang. Teriakan milik siapa itu, eh? Kedengaannya seperti orang yang ia kenali. Shinzo? Yasmine? Gavyn maju beberapa langkah lagi dan kaget bukan kepalang ketika Shinzo melompat ke arahnya sambil mencoba membunuhnya dengan belati. Gavyn terjengkang dalam usaha menghindar. Ia bergulng ke samping dan segera melompat berdiri. Ia melihat seekor singa berada tak jauh dari mereka, menyerag Yasmine. Wah, gadis dari distrik sepuluh itu pasti berada dalam kesulitan besar. Lalu, ada dentuman meriam. Gavyn terperangah, berusaha untuk membuat jarak dari Shinzo dan Yasmine. Ketika ia berhasil menemukan kedua kakinya, pemuda ini langsung mendongak. Saat itu juga hologram wajah-wajah yang tewas ditampilkan dan di sana ada wajah milik Tume dan Pinoy. Well, sudah berakhir, eh? Gavyn sendirian di sini mengingat Nigel sudah tewas juga sebagai orang yang dikenalinya dari distrik sebelas. Pemuda ini berbalik dan segera kabur dari sana. Ia merasa seluruh tubuhnya gemetar. Entah sudah lewat berapa hari dia terus saling mengejar seperti ini seraya mengumpati muttan dan juga kejutan alam buatan Capitol untuknya. Dalm hati ia berharap semuanya bisa segera berakhir. Ia ingin pulang ke distrik sebelas. Bahkan berkelahi dengan penjaga perdamaian rasanya tidak semenakutkan ini. Arena ini begitu aneh menurutnya. Dia ngeri membayangkan nyawanya bisa dicabut kapan saja. Berapa sisa peserta saat ini, eh? Menurut Gavyn jumlah mereka tinggal belasan orang yang tersebar entah di mana saja. |
||
![]() |
|
||
| Shinzo Kawabata | Monday Jun 10 2013, 03:41 PM Post #84 | ||
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 27 berdasarkan panduan + 5 (hujan) = 32 || AP: - + AP SENJATA: - || KS: - || TARGET SERANGAN: - || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: 35 + [result]1&1,1d12,0,1&1d12[/result] 3 tempat minum kulit, 1 belati Menurutnya ini adalah lokasi paling berbahaya yang pernah ditemuinya seumur hidup. Distrik delapan dikenal sebagai distrik tekstil dan mereka memang sudah terbiasa bekerja keras—nyaris tidak tidur—untuk menunaikan tugas mereka. Shinzo sudah terlatih untuk membujuk matanya tetap adekuat tetapi dia tidak bisa berkonsentrasi dengan serangan dadakan karena menurutnya di distrik delapan mereka melakukan segalanya dengan monoton tanpa perlu takut akan ada yang mendadak menodongkan pisau ke wajah mereka atau apa. Dia juga tidak perlu mendorong belatinya ke wajah Gavyn hanya untuk membuat sensasi rasa bela diri selalu di atas. Tidak perlu. Di distrik delapan semuanya hidup susah tetapi tidak benar-benar kesusahan untuk membuat orang lain mati karena mereka. Arena mengharuskan mereka untuk menjadi orang yang egois. Shinzo berusaha menahan diri dan membiarkan Gavyn lari dari mereka tepat di saat bunyi dentuman meriam beriringan terdengar Ada tujuh bunyi meriam kalau dia tidak salah hitung dan hologram para peserta yang meninggal telah ditampilkan. Wajah pertama yang muncul adalah wajah Tume. Tume Tinkham. Ya. Wajah penuh keceriaan itu. Bocah dari distrik sepuluh itu sudah tidak ada. Pemuda ini bahkan tidak sanggup menoleh ke Yasmine untuk mengecek apakah yang ditinggalkan baik-baik saja. Winona tentu saja sudah tiada juga. Shinzo bisa merasakannya karena di tengah pelarian mereka, ada bunyi dentuman dan menurutnya itu adalah dentuman milik Winona—Shinzo hanya menebak saja omong-omong. Kali ini pemuda dari distrik delapan ini berusaha untuk mengecek seluruh hologram yang ditampilkan di langit. Wajah Pinoy muncul setelah beberapa wajah dan ditutup oleh wajah Ferina, karier peremuan dari distrik empat. Hening sesaat. Ini adalah saat di mana mereka mulai mencerna bahwa jumlah hanya tinggal sedikit saja. “Ayo, kembali berjalan.” Shinzo menyarankan sembari mencoba untuk bersikap profesional. Kematian-kematian itu seharusnya tidak mengganggunya. Dia harusnya menyadari keinginan untuk pulang ke distrik delapan adalah yang terbesar untuk saat ini dan satu-satunya kewarasan yang masih ingin dipertahankannya adalah mencoba membiarkan aliansinya bersama Yasmine terus berlanjut hingga sisa dua di antara mereka yang tersisa. Saking lelahnya pemuda ini, dia tidak sadar kalau ada orang lain selain dirinya dan Yasmine di saat itu. Yasmine baru saja menyapa orang itu omong-omong. |
||
![]() |
|
||
| Ethan Nestor | Monday Jun 10 2013, 03:49 PM Post #85 | ||
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 32 + 70 (sponsor) = 102|| AP: - + AP dari senjata: - || KS: - || TARGET: - || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: 41 + [result]6&6,1d12,0,6&1d12[/result] Pedang bermata satu, tombak, dan trisula Ethan masih di tempat, memastikan bahwa Ferina akan baik-baik saja. Ia juga tak bisa meninggalkan gadis itu di sini karena siapa saja bisa menyerang gadis itu. Lagipula ia sudah bersama Ferina dan Hada sejak awal. Mana mungkin ia akan membiarkan gadis Secret itu sendirian? Hada jelas tak akan setuju, karena itu sama saja mengurangi peserta. Siapa yang akan mengawasi Ferina kalau ia dan Hada pergi. Pemuda Atala itu pasti trauma dengan kepergian Floryn dan tak akan membiarkan hal yang sama terjadi pada Ferina. Dan itu baru berlangsung beberapa menit. Detik selanjutnya semua dipermainkan Capitol dengan cepat. Gempa bumi lagi-lagi menyerang. Saat itu Ethan masih bisa bertahan sambil melindungi Ferina. Setidaknya, gempa tak bigu berbahaya jika di alam liar. Namun suara letusan yang membuatnya bergetar, ragu ingin bertahan atau lari sambil menyelamatkan Ferina. Masalahnya itu bukan sekedar letusan gunung biasa. Di tanah bersalju ini, gunung yang ia kira mati, kini mengeluarkan amukannya. Lahar itu mengalir tanpa ampun, menyerang siapapun dengan mata butanya. Termasuk pada Ethan, Ferina, dan Hada. Ia mengguncang Ferina, meminta gadis itu untuk lari dari kejaran lahar. Namun yang ada malah Ferina menyuruhnya beserta Hada untuk lari. APA FERINA GILA?! Hampir saja ia membentak gadis itu, menyeretnya untuk pergi dengan cara apapun. Tetapi pergerakan lahar jauh lebih cepat. Dengan berat hati, Ethan meninggalkan Ferina. Sebelum ia benar-benar jauh, sekali lagi ia menoleh tempat terakhir ia meninggalkan Ferina. Berharap gadis itu menyelamatkan diri, berlari, dan bertemu di tempat yang aman. “…” Keajaiban yang membawanya bisa berlari tanpa menabrak apapun. Masih ingat dengan matanya yang tak lagi normal? Tubuhnya yang sudah sakit tak karuan ketika tak sengaja menabrak pohon. Tangannya sempat mengenai lahar dan mengakibatkan luka bakar. Tetapi kakinya masih bisa berlari, menjauhi lahar secepat mungkin meski sudah putus harapan. Hingga ia tiba di sebuah hutan dan lahar tak dapat membanjiri tempatnya. Ethan membungkuk, kedua tangan bertumpu pada lutut sementara nafasnya terengah-engah. Bersyukur karena tidak terkena amukan lahar. Matanya mengamati sekitar, berusaha mencari teman satu distriknya. Awalnya tak ada siapapun, hingga ia mendapati Hada tak jauh di depannya. Ethan kembali melangkah masih dengan nafas yang sama. Pemuda itu duduk di sebelah Hada, berusaha menormalkan nafasnya. “Mana Ferina?” tanya Ethan pada Hada. Apakah gadis itu terpisah jauh? Ferina pasti selamat kan? Belum selesai ia mengkhawatirkan Ferina, sebuah parasut terbang ke arahnya. Sponsor? Ia dapat sponsor? Atau jangan-jangan itu untuk Hada? Namun parasut itu memang bergerak ke arahnya. Ethan segera menyaut benda yang tergantung dan melepaskannya dari parasut. Ketika dibuka, ada sebuah kapsul dan salep di dalamnya. Tidak hanya itu, ada sebuah pesan—untuknya. Tangan Ethan bergetar ketika membaca pesan yang disampaikan oleh Mags. Jangan katakan gadis itu tidak selamat dari amukan lahar dan meninggal di sana. Jangan bilang bahwa tak ada lagi nama Ferina Secret. Kepalanya tertunduk sejenak dan slide-slide kebersamaannya dengan Ferina (walau hanya sebentar) kembali terulang. Dan rasa sesak kembali memenuhi dadanya. Sulit menerima kenyataan bahwa gadis itu telah pergi. Bukankah belum ada sehari tangannya masih memeluk raga gadis itu? Tetapi ia tahu, permainan ini belum selesai. Arena masih berlanjut hingga diketahui siapa pemenangnya. “Ini, pakai secukupnya. Lukamu parah, tapi jangan dihabiskan,” Ethan menyodorkan salep dari sponsor pada Hada. Nadanya berubah menjadi kaku. Sementara ia sendiri menenggak kapsul bersama seteguk air untuk memulihkan tenaganya. Pesan dari Mags ia masukkan ke dalam kantong. Tak ada gunanya memang, tetapi entah kenapa ingin ia simpan. Semoga Hada tak bertanya tentang gadis itu. |
||
![]() |
|
||
| Yasmine Silvertongue | Monday Jun 10 2013, 05:12 PM Post #86 | ||
![]()
|
DISTRIK 10 || HP = 19 || AP : [result]5&5,1d8,0,5&1d8[/result] KS : [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] Target Gavyn Owyn(yanglaingausahbullysaya#heh) || JARAK SERANG: 36 + [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result] empat dendeng sapi(habis) DDR bawa saya sampe ke Feast aja ya /ketjup/ Tidak ada yang tahu Sulung Silvertongue ini memiliki lidah tajam dan nyali yang berandal pula. Ia hanya tidak pernah menunjukkannya. Berhubung ia kemungkinan besar tidak akan bertahan lama lagi—dengan perhitungan tiga Karier dan tiga Non Karier, hanya satu sekutu bersamanya yang sangat mungkin memutuskan aliansi—tidak salah sama sekali jika ia mengeluarkan pendapatnya sekarang juga. Hatinya mati rasa. Bagaimana perasaanmu melihat dua orang yang kau cukup kenal dan nyaris kau gantungkan separuh hidupmu pada mereka, mati di depan mata oleh tangan mungil seorang anak bocah? Gila. Beruntung dia sudah tidak ada, meninggalkan si Buruk Rupa dan rekan lelakinya yang masih tampak jauh lebih sehat datang kemari. Oh, jadi gadis pirang jalang itu juga sudah tiada? Silvertongue hanya menyeringai. Pathetic. Ia sama sekali tidak mengharapkan Gavyn tiba-tiba akan memosisikan diri untuk bekerja sama dengannya, menilai bahwa mereka sudah sempat berusaha saling bunuh beberapa jam belakangan ini. Dendam, mungkin adalah satu-satunya alasan Yasmine kini masih sangat ingin berjuang bahkan untuk sekadar menendang bokong mereka saja. Matanya menyalak terang. Ia tidak kerasukan jiwa apapun—apakah itu mungkin? Jika mereka hendak menghabisi Yasmine di lahan ini, coba saja. Dan jika berhasil, mereka tidak lebih baik daripada curut dengan banyak gaya. Namun bukan berarti ia akan menerima tanpa memberi perlawanan. Scoffs. Tidak kenal rasa takut lagi, gadis ini tidak maju menerjang si Buruk Rupa Nestor, ada satu orang yang harus ia habisi dan akan lebih tidak sia-sia dibandingkan mencoba melawan Karier. Ia menyerang dengan mengangkat pistol udaranya dan mengayunkan ke wajah Gavyn. Tepat menargetkan hidungnya. Satu tangannya dengan dua jemari terulur maju mengincar kedua bola mata Owyn. She's going to live forever, or die trying. And knowing that it is a piece of shit to live forever in Panem, she certainly is going to die hard. Kemungkinannya kecil, terlebih dengan adanya para mutt berkeliaran ingin ikut berpesta pora dalam lingkaran ini. Yasmine tidak masalah, bagi dirinya, menyucikan diri sudah sedikit terlalu terlambat... no? Orang mati biadab di tempat ini. Karena mereka melawan. |
||
![]() |
|
||
| Hada Atala | Monday Jun 10 2013, 06:57 PM Post #87 | ||
![]()
|
DISTRIK 4 || HP: 60 || AP: [result]5&2,1d8,3,5&1d8+3[/result] + AP (trisula): [result]4&4,1d5,0,4&1d5[/result] || KS: [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result] & [result]14&14,1d24,0,14&1d24[/result] TARGET: Yasmine Silvertongue & Shinzo Kawabata || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: 47 + [result]9&9,1d12,0,9&1d12[/result] 1 kapak, 1 tombak, 1 trisula, 1 tempat minum air ukuran 2 liter Hada terbatuk-batuk. Dadanya sesak sekali. Dan setiap kali ia terbatuk, seluruh tubuhnya ikut sakit. Ngilu. Ditambah luka bakar akibat terkena lahar, lengkap sudah penderitaannya. Padahal Hada tau, Hunger Games belum berakhir. Nggak mungkin berakhir secepat ini. Lagi-lagi pertanyaannya, dimana Ethan dan Ferina? Kalau dia lagi waras, pasti dia bakal jawab sendiri. Di hatimu ♥. Dia mengubah posisi tubuhnya jadi duduk, pelan-pelan, karena badannya jadi semakin sakit kalau dia banyak bergerak. Diambilnya tempat minum yang tergantung diranselnya, beruntung, persediaan airnya masih cukup. Seenggaknya bisa membasahi kerongkongannya yang kering sehabis berlari. Dia butuh air, air yang banyak. Ada suara, tiba-tiba bertanya waktu Hada sedang meneguk air dari tempat minumnya. Dan dia hampir keselek ketika dia sadar siapa pemilik suara itu. "Ethan! Kau selamat!" Ujarnya lantang. Merasa lega bercampur senang melihat rekan satu distriknya itu berhasil menyelamatkan diri. Meskipun, yah, keadaannya Ethan nggak jauh lebih baik dari Hada. Nyatanya mereka sama-sama terluka cukup parah. Tapi, kenapa Ethan malah menanyakan tentang Ferina ke Hada? Padahal dia juga baru mau menanyakan hal yang sama. Hada menggelengkan kepalanya perlahan, alisnya mengerut. "Bukannya kamu yang bareng Fer--" Belum selesai bicara, Hada menelan ludahnya. Jangan bilang kalau Ethan sama Ferina kepisah? Terus kalau Ethan sekarang ada di sini, Ferina ada dimana? Pertanyaannya sebenarnya terjawab sewaktu ada parasut sponsor terbang ke arah mereka, ke arah Ethan tepatnya. Ah beruntung, sponsornya datang pada saat yang tepat. Tapi...kok mukanya Ethan justru sama sekali tidak terlihat senang? Malah sedikit kuyu. "Ada apa?" Hada curiga ada sesuatu yang membuat Ethan begitu. Tapi Ethan malah memberikan sebuah salep ke Hada. Hada terlihat bingung. "Kau pakai saja, itu sponsor buatmu kan, nggak usah pikirin aku." Mencoba tersenyum memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja. Padahal sih nggak. Hada melihat pergerakan manusia tak jauh dari tempat mereka duduk. Peserta yang lain, tebakannya. Iya, Hunger Masih masih berlangsung. "Kita nggak sendirian, Than..." gumam Hada, lalu memaksakan diri untuk bangkit, mengambil trisula miliknya yang sama sekali belum digunakan untuk menyerang. Dan ini kayaknya waktu yang pas buat mencobanya. "Ayo, aku harus tau siapa yang sudah nyerang Floryn." Lalu Hada, menahan sakit, setengah berlari menghampiri tiga orang yang ada di depannya. Menyapa seorang cewek dan seorang cowok dengan tusukan trisulanya. "Hei! Siapa dari kalian yang pernah melukai Floryn Lee?" Jawab atau Hada akan menusukkan trisulanya pada kalian, lagi. Edited by Jonathan Duprau, Tuesday Jun 11 2013, 02:38 PM.
|
||
![]() |
|
||
| Reef Evertsen | Monday Jun 10 2013, 08:31 PM Post #88 | ||
![]()
Pemenang Hunger Games ke 48
|
SPONSOR HADA ATALA (D4) Dia tidak suka bunyi meriam. Apalagi karena bunyi meriam itu menandakan kematian Ferina. Ferina Secret—brengsek. Kenapa ia harus kehilangan gadis itu? Ya, ia memang sudah berjuang sangat jauh, tetapi ia sungguh tidak mengharapkan gadis itu pergi setelah apa yang ia lakukan kepada Reef dan keluarganya. Demi Neptunus, gadis itu menyelamatkan adiknya dengan merelakan diri untuk menjadi volunteer pada Hunger Games paling mengerikan sejauh ini. Bedebah. Ia meletakkan gelasnya dengan kencang di atas permukaan meja. Gelas kaca itu retak di bagian bawah, namun masih bisa mempertahankan likuid di dalamnya supaya tidak bocor. Tidak ada yang pecah. Kalau ada, mungkin itu adalah kepalanya yang sudah tidak sanggup menahan semua kegilaan ini, apalagi jika ia mengingat konversasi di malam itu bersama si rambut pirang. “Tapi boleh aku minta satu hal?” “Just tell me your wish.” “Kalau adikku pada akhirnya—dengan keadaan sangat terpaksa—memasuki Hunger Games atau Quarter Quell berikutnya... selamatkan dia, ya?” Lagi-lagi begini; disuruh menjadi pengasuh adik. Ingin rasanya ia berteriak bahwa ia bukan seorang pengasuh yang bisa menjaga anak-anak itu. Lihat Floryn yang dititipkan Thea; pada akhirnya, gadis cilik itu juga mati. Sekarang ia harus menjaga Magnolia. Belum lagi adik kandungnya sendiri yang pasti masih terguncang setelah namanya terambil kemarin. “Fate is a btch, ya? Merenggut orang-orang yang kau sayangi, yang menurutmu kau tidak bisa hidup kalau tak melihat kehidupan di matanya.” He couldn’t be more agree, Ferina. Please, rest in peace. Dan tidak, ia tidak melupakan masih ada dua orang yang harus diurusnya. Setan Astor dan Hada Tolakbala—nah, ia sukses menjadi penolak bala sungguhan, kan? Setelah lolos dari letusan gunung api, mereka berdua jelas kelelahan. Mags baru saja mengirim sponsor untuk Astor, hibahan dari Ferina katanya. Jelas Ferina memiliki banyak sponsor setelah aksi heroiknya di Pemungutan Suara. Hada pun tidak kalah penggemar; katanya wajahnya manis. Hening. Yang lama. Dengan sponsor yang berhasil diraup oleh Reef, ia pun berhasil membeli vitamin terbaik Capitol yang pasti akan disukai oleh Hada. Posted Image Kan? Iya kan? Ah, ya. Jangan lupa tulis pesan untuknya.
Eh, salah. Bukan itu yang ia selipkan di parasut.
Wah. Ada tanda bintang, lho, di akhirnya. Kira-kira apa ya arti di balik tanda itu? Syarat dan ketentuan berlaku? Out-RP, sponsor memberikan HP +50 dan ability senjata: setiap menyerang menggunakan trisula, serangannya pasti berhasil (maksimal 4x penggunaan). AP normal. Arti tanda bintang; cuma buat Hada.
|
||
![]() |
|
||
| Gavyn Owyn | Tuesday Jun 11 2013, 10:06 PM Post #89 | ||
![]()
|
DISTRIK 11 || HP: 13 || AP: [result]3&3,1d8,0,3&1d8[/result] + [result]2&2,1d2,0,2&1d2[/result] || KS: [result]4&4,1d24,0,4&1d24[/result] || TARGET: Flavea (D1) || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: 31 + [result]8&8,1d12,0,8&1d12[/result] 1 pasang kaus kaki, 1 lentera, 1 pisau, 1 korek api Suara meriam yang beriringan tadi masih terngiang di telinganya. Gavyn sudah menghitung bunyinya tetapi tidak berani mengecek wajah yang dipamerkan. Menurutnya, jumlah peserta makin sedikit bukan karena saling bunuh melainkan karena arena yang sengaja dibuat untuk menewaskan semuanya dengan cepat. Pemuda berkulit gelap ini terengah, merasa dirinya benar-benar tidak bisa berharap apa pun. Hutan masih tampak seperti sebelumnya, yaitu berwarna-warni cerah. Baginya ini tidak cukup untuk menghibur karena hatinya tahu apa sebenarnya yang disimpan di tempat macam ini. Bukan sesuatu yang menarik untuk dibahas karena betapapun dia menyukai tempat ini—seharusnya menyukai—dia sudah muak dengan kejutan yang diperoleh berupa bau yang membuat dia sesak napas. Sekarang Gavyn hanya perlu berdoa saja semoga dirinya tidak lagi mendapat kejutan yang berbahaya. Lagi pula dia harus menyimpan tenaga untuk melawan beberapa peserta yang masih tersisa. Shinzo dan Yasmine adalah dua orang yang diyakininya masih hidup dan masih berkeliaran di hutan ini. Pemuda ini melangkah dalam keheningan dan mencoba tetap awas. Di pikirannya ada begitu banyak hal dan di tidak bisa tenang barang sedetik saja. Arena hampir membuatnya gila. Ia yakin apa yang dikatakan oleh para pemenang yang pernah lolos dari arena itu semuanya adalah benar bahwa di sini ada kekuatan besar yang membuat kesenangan mereka nyaris hilang atau diperdaya. Gavyn tersentak ketika menyadari ada seseorang di dekatnya. Seseorang yang menurutnya seharusnya tidak berada di sini dan dia heran mengapa baru menyadarinya. Ia menoleh dan melihat seorang perempuan dengan rambut lurus dan berwarna pirang. Karier. “Kau tersesat?” Dia tidak menunggu lama. Detik berikutnya, Gavyn menyiapkan tenaganya untuk menyerang perempuan dari distrik satu ini. Flavea bukan seseorang yang menurutnya dengan mudah akan dibiarkan begitu saja. Gavyn yakin perempuan ini lumayan hebat karena mampu bertahan hingga sejauh ini terlepas dari pemikiran bahwa dia adalah karier dan mereka jauh lebih bisa bertahan hidup daripada distrik bawah karena bekal perjalanan mereka banyak. Pisau sudah disiapkan dan pemuda ini sudah melompat ke arah Flavea dengan niat untuk menikamnya. |
||
![]() |
|
||
| Shinzo Kawabata | Tuesday Jun 11 2013, 10:13 PM Post #90 | ||
![]()
|
DISTRIK 8 || HP: 18 || AP: [result]1&1,1d8,0,1&1d8[/result] + AP SENJATA: [result]1&1,1d2,0,1&1d2[/result] || KS: [result]4&4,1d24,0,4&1d24[/result] || TARGET SERANGAN: Gavyn Owyn (D11) || DICE KEJUTAN: - || JARAK SERANG: 48 + [result]12&12,1d12,0,12&1d12[/result] 3 tempat minum kulit, 1 belati Mereka terus berjalan dan Shinzo belum sempat bernapas lega beberapa saat sebelum ada sosok dua orang karier yang muncul. Salah satunya menyerangnya dengan trisula. Yasmine juga diserang. Gerakan yang cepat menurut Shinzo dan memang tidak membuat dirinya kaget karena mereka adalah karier. Shinzo melihat wajah pelaku yang baru saja menusukkan trisula hingga mengenainya dan mengenalinya sebagai Hada yang berasal dari distrik empat. Ada Ethan bersamanya. Keduanya masih tampak jauh lebih kuat daripada Shinzo dan Yasmine. Hada bertanya siapa yang membunuh Floryn dan Shinzo hanya menyeringai. Oh, gadis kecil yang dilawannya bersama Tume saat itu, eh? “Tidak tahu.” Shinzo berusaha menarik tangan Yasmine dan tanpa menoleh, dia segera berlari cepat membelah semak-semak untuk menghindar dari dua karier yang tentu saja butuh strategi untuk melawan mereka. Pemuda dari distrik delapan ini terus berlari dan berlari hingga dadanya terasa sakit. Ia memutuskan untuk berjalan saja dan agak gugup ketika menyadari bahwa hutan ini begitu luas dan Hada bersama Ethan mungkin berada beberapa meter di dekat mereka—atau dengan kata lain, mengejar. “Aku turut berduka atas Tume.” Hening. Dia merasa harus menyampaikan ini. Apa pun yang kemudian terjadi seperti Yasmine mendadak menangis atau berteriak mengutuk bukan sesuatu yang menurutnya tidak akan terjadi. Tapi, menurutnya, menunjukkan duka atas rekan cilik mereka itu seharusnya sesuatu yang cukup manusiawi yang bisa ia berikan sebelum dia gila dibuat oleh arena ini. Shinzo tentu saja berusaha sedemikian rupa mempertahankan kewarasannya. Dia menahan diri untuk tidak berlari menyongsong karier dan berteriak memanggil mereka agar bisa dibunuh satu per satu. Jauh di dalam hatinya ia masih yakin tindakan gerilya antara dirinya dan Yasmine ini butuh kesabaran atau bahwa mereka lebih baik menghindar terlebih dahulu dan menyusun rencana daripada bertindak gegabah. Lagi pula, Yasmine butuh suasana yang menenangkan. “Dia adalah anak yang baik.” Lalu, hening lagi. Shinzo juga memiliki adik. Mungkin hanya lebih muda sedikit dari Tume. Dia begitu menyayangi adiknya. Shinzo yakin Tume pun orang yang menyenangkan. Yasmine patut untuk bersedih. Sementara memikirkan Tume, mereka entah mengapa berpapasan dengan Gavyn dan Shinzo mengangkat belatinya sekali lagi sementara memberi isyarat kepada Yasmine untuk terus berlari kalau bisa. |
||
![]() |
|
||
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |||
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |















9:33 PM Jul 11