|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
- Pages:
- 1
- 2
| [PLOT] "Here's some advice. Stay alive."; Cek OOC | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Saturday Jun 8 2013, 07:48 AM (827 Views) | |
| Haymitch Abernathy | Saturday Jun 8 2013, 07:48 AM Post #1 |
![]()
Pemenang Hunger Games ke 50
|
Keningnya berkerut sejenak, sedangkan satu tangannya masih memegangi kepalanya—meringankan rasa tak nyaman akibat benturan dari gempa bumi tadi dengan memijitnya. Hadiah yang sangat manis di hari kedua, Capitol. Sehabis ini, Capitol barangkali akan mengambil tindakan yang lebih manis lagi untuk para peserta. Entahlah. Seperti sebuah peringatan bahwa seharusnya peserta sadar bahwa tempat pembantaian massal berkedok ‘surga dunia’ ini sudah mulai memainkan plot dan alurnya. Sayup-sayup, entah apa, namun ia mendengar ada yang tak beres di dalam arena ini. Genetika-genetika itu, hewan tak nyata godokan Capitol yang dijadikan mesin pemburu gratis selain peserta nampaknya sudah mulai beraksi. And, wow look at that. Tidak pernah ada yang menginginkan hal seperti ini, sungguh. Atau para karier itu sudah mulai bisa berpikir bahwa mereka tak akan sanggup mengalahkan seorang dari Dua Belas dengan angka sepuluh pada sesi pribadi sehingga yang terlihat kali ini begitu ingin membuat Haymitch tergelak hebat. Bravo, Satu dan Dua. Kalian memang punya mental pembunuh nomor satu dan tidak bisa dikalahkan oleh siapapun; hingga melakukan pengepungan seperti ini setelah sedikit bonus gempa bumi dari para pembina permainan terhormat kita. Peliharaan Capitol rupanya sudah pandai berhitung. Satu dari Satu. Dua dari Dua. “O c’mon. You've got about as much charm as a dead slug,” desisnya ramah. Mungkin jika Tiga masih memiliki peserta yang masih bisa bernapa dengan normal, mereka akan ada disini sebagai penonton, memberikan semangat atau justru olokan serta deretan kritikan pedas—entah ditujukan pada sang Abernathy karena menyambut ‘sapaan’ para Karier dengan sebuah sapaan yang tak kalah sopannya; tak mengindahkan kode etika dalam berbicara, “Sangat menarik, Karier. Hanya bertiga? Atau kalian kehilangan kawan bermain bersama? Terpisah, mungkin?” Karena sang adam bisa membunuh kalian sekaligus tanpa perlu susah payah. Atau butuh orang untuk mengirim kalian ke Neraka secara cepat? Haymitch Abernathy siap melakukannya. Tangannya mulai menggenggam dua pisau hasil rampasaan saat Bloodbaths. Tidak ada yang namanya mengendurkan awas diri begitu berhadapan dengan tiga dari dua belas kaki tangan sekumpulan orang dengan penampilan dan perangai yang membuat seluruh sarapannya terasa seperti jeroan sapi begitu melihat mereka—julukan apa lagi yang cocok selain brengsek, tolol, bodoh, plastik, dan menjijikkan, eh? Capitol terlalu lengkap dalam hal memicu orang diet karena hal itu semua—napsu makannya hilang. So, shall we? Careers? Hai, ini topik plot berdasarkan Mainstay Production (klik) dan catatan dalam buku Catching Fire.
Edited by Corialonus Snow, Sunday Jun 9 2013, 08:28 PM.
|
![]() |
|
| Zephaniah Lore | Saturday Jun 8 2013, 09:16 AM Post #2 |
![]()
|
Gempa bumi lagi. Kedua kakinya kali ini tidak sanggup untuk menjaga keseimbangan sehingga ia terjatuh. Paru-parunya yang sakit terasa semakin sakit. Beberapa bagian tubuhnya lebam karena terantuk batu, bahkan kepalanya pun sempat tanpa sengaja terbentur. Tambahkan dengan banyaknya duri beracun yang ia tindih saat terjatuh, dan rumput yang aromanya membuat mabuk. Kondisinya saat ini sama sekali tidak prima. Jika orang lain hanya terkena efek dari racun-racun yang ada di sekeliling arena, Zephaniah juga merasakan dirinya sedang digerogoti dari dalam. Oleh paru-parunya sendiri. Uhuk... uhuk.... Ia hanya memegang tombak saat ini. Tidak tahu ke mana perginya kapak yang telah menemaninya sejak di bloodbaths, tidak tahu ke mana belati yang seharusnya ada di ikat pinggangnya. Ia bahkan kehilangan ransel berisi makanannya entah di mana. Tempat ia berpijak pun sepertinya berubah. Bukan di hutan yang sama. Zephaniah mengerjap, memijat pelipisnya, sementara tangan yang lain menekan dada. Napasnya terengah-engah. Wajahnya yang pucat semakin pucat. Ia terbatuk lagi, dan sedikit darah keluar dari rongga mulutnya. Zephaniah menyeringai. Tahu bahwa ajalnya sudah semakin dekat. Apakah ia takut? Sama sekali tidak. Sejak kecil ia selalu tahu bahwa ia takkan pernah punya kesempatan untuk tumbuh dewasa. Apalagi jatuh cinta, lalu menikah dan memiliki keluarga. Ayahnya termasuk beruntung karena sempat mencecap hal-hal yang tidak berani diimpikannya itu. Kondisi paru-parunya lebih parah dari beliau, dan dengan cepat berubah menjadi buruk. Ia sudah siap, sangat siap. Mati atau hidup, ia tak peduli. Yang ada di kepalanya saat ini adalah bersenang-senang sebelum ia tak bisa lagi merasakan apa-apa. Selama ia masih sanggup berdiri, ia takkan berhenti. Dua belas ada di hadapannya--yang laki-laki. Pemuda yang lebih tua darinya, yang mendapatkan nilai 10 pada sesi pribadinya. Dua belas yang jarang ada. Dua belas yang cukup kuat hingga bisa bertahan sampai hari ini. Lawannya. Lawan yang menyenangkan karena ia tahu dua belas akan balas menyerangnya. Uhuk... uhuk.... Zephaniah mengangkat tombaknya, menatap pemuda dua belas itu tajam. Senyum timpang terulas di wajahnya ketika ia mulai menjejakkan kaki dan berlari secepat yang ia bisa. Kedua tangannya dengan cekatan mengayunkan tombak itu ke wajah si dua belas. Entah kenapa, ia merasa ingin menghancurkan wajah yang nampak sombong itu sampai tidak bisa dikenali lagi. Hingga hanya merah yang menjadi warna dominan di sana. Uhuk... uhuk.... Ia memang masih kecil, tapi bukan berarti ia lemah. Apalagi jika berhadapan dengan orang rendahan yang berani menyepelekan karir yang terlatih. "Ayo, main denganku." Zephaniah terkekeh senang. "Kau terlihat sedikit lebih tampan sekarang." CMIIW ya |
![]() |
|
| Jester Holt | Sunday Jun 9 2013, 04:23 AM Post #3 |
|
He said, welcome to The New Beginning. Rasa-rasanya tak ada hal yang dia lakukan akhir-akhir ini selain mengarungi hutan dan menyusuri entitas-entitas lain yang akan menjadi korbannya, hama-hama yang patut dia basmi untuk bertahan pulang ke rumahnya di Dua. Si cewek Tiga itu masuk ke hutan dan entah mengarah kemana, namun dua hari yang lalu dia melihat sosok gadis itu saat dia tengah bergumul di kantung tidurnya ketika mendengarkan pengumuman kematian, wajah si Itik Buruk Rupa itu muncul di langit cerah berbintang itu. Berbanding terbalik dengan suasana yang harusnya dirasakan oleh Arena. Mencekam dan membunuh—bukan menyenangkan namun meracuni ini. Sudah berulang kali Jester terlihat mabuk oleh aroma yang dikeluarkan Arena ini sendiri, dia benci mengakuinya namun dia memang lemah oleh bau-bau penggoda itu. Gempa bumi kemudian membuat kegiatan membosankannya itu terdistraksi, dia akhirnya dapat melakukan sesuatu selain menyusuri hutan dan berulang kali terkena jebakan-jebakan dari Pembina Permainan bangsat itu. Membuatnya menemukan sosok Lore dari Satu serta Hart dari distriknya sendiri, Dua serta bonus seorang hama dari distrik paling miskin Panem—Dua belas, namun sayangnya Dua belas yang jarang ada. Mendapatkan poin pribadi Sepuluh melebihi dirinya yang ditakdirkan untuk menang dan menjadi pendosa—hebat, hebat sekali Abernathy. Beruntunglah dikau mendapat kesempatan diingat namanya oleh sang adam satu ini karena hanya beberapa dari tribute-tribute ini yang diingat namanya oleh sang pemuda. "Should I say ‘hai’ to you, eh?" Seringai penuh mengejek yang dilontarkannya. Pedang mata tunggalnya telah bersiap di tangan, sementara persenjataannya yang lain entah berada di mana. Dia bisa merasakan ranselnya masih dia jinjing—namun kapaknya telah menghilang entah kemana, hanya tersisa satu pedang dan satu belati serta dua kawanan untuk menyelesaikan hama dari Dua Belas ini dengan cepat. Mengeksekusinya dengan memenggal kepalanya dan menunjukkannya pada Capitol sana rasanya bukanlah suatu ide yang buruk. Birunya menyapu sekelilingnya—merasakan kembali aroma memabukkan surga dunia tersebut, meminta atensi dua kawanannya, (Lore yang tampak terluka dan lemah—tsche, dan Hart si gadis Dua yang merupakan partnernya itu) dan menyeringai pada korbannya. "Tiga bahkan lebih dari cukup untuk menuntaskan hama sepertimu, Dua Belas." Desisan penuh nada angkuh. Harga diri yang selalu diperjuangkan oleh mereka dari Dua. Pemuda Holt itu tampak membungkuk, merendahkan tubuhnya dengan gerakan siap menyerang dan pedang yang siap dihunus. "Just get it started, would ya?" Another smirk. Pemuda Holt itu kemudian menerjang si Dua Belas, memberikan tendangan telak di perutnya sebelum memberikan tebasan dari pedang mata tunggal yang merupakan keahliannya. Oh, ya—senjata yang selalu menjadi andalannya ketika dia berada di Pelatihan adalah pedang dan belati, mate. "Jester, selalu ingat akan kemurkaan Tuhan." Persetan dengan Tuhan—Just die already, you twelve. |
![]() |
|
| Haymitch Abernathy | Sunday Jun 9 2013, 10:11 AM Post #4 |
![]()
Pemenang Hunger Games ke 50
|
Now, we will begin the dance. Abernathy muda itu hanya memutar bola matanya saat mendengar serepetan gertakan khas milik para Karier. Setiap tahun, setiap Hunger Games—permainan kata mereka selalu sama. Begitu kreatif dan membuatnya tertawa geli sejenak sebelum senyumnya timpang, yang kemudian digantikan dengan seringai. Sebuah kehormatan seharusnya untuk tiga manusia tanpa otak peliharaan Capitol ini karena seringainya nyaris sama mahalnya dengan lengkungan keramahan yang dihasilkan oleh bibirnya. Tipis. Keningnya berkerut sekali lagi mendengar kalimat yang ditujukan padanya dari sang Lore. Ada momen aneh yang menggantung sejenak disana sebelum Haymitch benar-benar tetawa lepas; menertawakan betapa bodohnya Karier hanya karena berhadapan dengan seorang dari Seam yang dengan fantastisnya berhasil merebut perhatian Capitol dan mencapai angka yang sedikit lebih tinggi dibandingkan para Karier. Seingatnya, hanya ada satu Karier yang nilainya setara dengan sulung Abernathy. Menyedihkan. Kejayaan kawanan tolol ini rupanya sudah cukup bobrok sehingga Dua Belas bisa membobolnya. “Hama.” Lalu vokal sang adam terdengar lagi. Ucapan si Dua sama sekali tak membuatnya gentar; justru memancing tawanya semakin keras—sebuah bentuk penghinaan riil untuk semua gertakan itu. Abu itu menatap bergantian ketiga peserta lainnya dengan pandangan merendahkan. Brilian. “Jika tiga cukup untuk membunuh hama sepertiku. Maka aku cukup untuk membunuh tiga peliharaan kesayangan Capitol.” Ia hanya mengembalikan ucapanmu, tuan besar; disisipi nada sarkasme. Ingat fakta bahwa nilaimu lebih rendah darinya. Dua dikalahkan Dua Belas. “There is only one thing I say to Death.” Terdengar sangat orisinil dan miris. Haymitch kemudian maju, kakinya membuat gerakan memutar kala merunduk—berusaha menjatuhkan lawannya dengan satu sepakan cukup keras pada bagian betis, kemudian tangannya diarahkan ke wajah Lore muda; meninju rahang dan hidungnya sekuat mungkin. Serangan jarak dekat. Tidak begitu efektif untuk jarak, namun sangat efektif untuk mengetahui dimana titik lemah lawan. Sikunya kemudian diarahkan ke hidung si Dua, mengerahkan tenaganya berpusat disana begitu serangannya selesai pada Lore. “Not today." It'll be yours. Not mine. Satu serangan lagi; kali ini dengan pisau di tangannya—di arahkan ke bagian bahu. Harapannya? Serangannya tepat sasaran. Harus ditanyakan lagi, jenius? |
![]() |
|
| Pietronella Hart | Sunday Jun 9 2013, 12:46 PM Post #5 |
![]()
|
Nyaris sekarat. Menyenangkan. Punggung tangan kirinya itu diangsurkan menuju sudut bibirnya yang meretasi cucuran merah segar. Memandanginya sejenak, kemudian mengibaskan liquid anyir yang terasa lengket dari tangannya. Noda yang tak bisa hilang, dan seketika menjadi jejak bisa yang tertinggal disana. Ia tersenyum pahit. Sekalipun arogansi itu tak bisa benar-benar angkat kaki dari personalitasnya, ia masih cukup berbesar hati untuk menyadari keberadaannya disini tak lagi seprima yang dulu. Sedikit saja. Berhari-hari terperangkap di arena—membunuh sebelum menemukan jalan keluar, dijadikan mainan Capitol, dipermainkan nasib buruk—tak bisa disamakan dengan bertamu sekedar, dan pulang membawa wara-wara sukacita. All of a sudden, now's. Ia menyingkir dari percabangan duri beracun yang tak henti menyiksanya. Itu, laknat terbesar kedua yang pernah terlontar dari katupnya yang terlihat pasi. Gempa bumi hanya merupakan gemuruh bagi inderanya, yang pun tertangkap samar. Enyah dari situasi semacam itu, pilihan semua orang. Pengecualian bagi pihak lainnya, penghuni yang senang bermegah-megahan, serta menjilat ludah sendiri itu tentu tidak senang dengan usaha penyelamatan diri. Tidak ada pekik, desahan menyerah, seperti keadaannya sekarang yang baik-baik saja bertumpu pada sepasang tungkai. Koreksi, kalau ia pernah membanggakan Capitol, tarik kembali ucapannya, dan buang jauh-jauh. Sekarang, ia lebih memilih jalannya sebagai pendosa yang tak terampuni. Bukankah ia memang terlahir demikian sedari dulunya? Setidaknya, kalau ia mati, masih ada yang mengharap kehadirannya. ("Seven hells.") All of 'em. Tahu apa bagian favoritnya? Sekali lagi, mereka bersua. Dua belas yang menurutnya, 'tidak seperti dua belas'. Selagi tangan kanannya menyeret sebilah tombak, dan kedua kawanannya sibuk bermanis-manis. Sementara momentum bersemukanya dengan si dua belas itu, dibalasnya dengan dengusan—yang kalau kau mengerti maksudnya—merendahkan. Entitas yang merebut mainannya, camkan. Gadis distrik tujuh yang mengaduh sakit atas perbuatan sosok tersebut, dan ia tak pernah merelakan alih tangan dengan keputusan sepihak. Singkat kata, ia cuma punya sedikit urusan yang harus dibereskan, sembari menyita waktu main-mainnya sejenak. A mere bull crap, eh. Perbincangan yang tiada habisnya. Satu lagi yang bisa ia simpulkan, persamaan Abernathy dengan distrik rendah lainnya: Banyak omong. Semuanya terjadi amat cepat. Sekelebatan ditangkapnya, Jester Holt yang memulai. Lantas, dibalas oleh Abernathy dengan serangan membabi buta yang persis ditujukan kepada kedua karier tersebut. Lore, distrik satu, yang mencoba bertahan hidup sebagaimana saudara perempuannya dulu. "Sok jagoan, hm." Ia tak suka dihiraukan. Tidak pernah suka. Membuat kuda-kuda, serta merangsekkan tubuhnya untuk mengitari lawan yang sejauh ini dianggapnya sebagai penghalang. Benar, hama. Dalam hitungan sekon, dan posisinya telah menghadap punggung lawan. Ujung lain dari tombaknya, ia hentakkan ke arah sosok tersebut dengan keras. Paling tidak, mempercepat pengapuran tulang punggung Abernathy. Bukan ide buruk, no? Tiga lawan satu, seharusnya tak pernah ada harapan. Terlebih lagi, ketiganya adalah sosok karier. "Sudah memikirkan pesan terakhir, Abernathy?" Sarkasme. Ia menyumpahi. |
![]() |
|
| Zephaniah Lore | Wednesday Jun 12 2013, 03:51 PM Post #6 |
![]()
|
Darah segera mengucur dari hidungnya setelah tinju dari si dua belas terkena telak. Zephaniah mendengus, dengan punggung tangannya ia mengusap darah tersebut. Merah. Merah. Warna itu, warna yang mengingatkannya pada Zinnia. Warna itu... yang kini terlihat begitu cantik, dan aroma amis itu terendus seperti parfum termahal buatan distriknya. Zephaniah menyeringai, tubuhnya terbungkuk tak seimbang, namun tatapannya tetap terarah pada si dua belas. Ia mengabaikan dua karir lainnya. Sasarannya hanya si dua belas itu sekarang. Dua belas itu harus mati di tangannya. Zephaniah menjilat darah di punggung tangannya lalu terkekeh. Dua belas itu memang beda dari non karir yang lain. Dua belas yang satu ini kuat, menyebalkan, dan juga cerewet. Terlalu percaya diri sepertinya. Ingin membuktikan bahwa distrik sampah bisa menjadi pemenang Hunger Games barangkali. Yang benar saja. Zephaniah takkan membiarkannya. Sekalipun ia sendiri tidak ingin menang, bukan berarti lantas ia akan membiarkan distrik kotor seperti dua belas yang jadi pemenang. Jangan harap. Uhuk... uhuk... Zephaniah menekan dadanya. Terbatuk-batuk dan memuntahkan darah ke atas rumput. Gadis dari dua menghunuskan tombak ke arah dua belas, sementara si dua belas sibuk menyerang yang laki-laki. Ia menunggu, mencari titik lemah si dua belas juga menunggu saat ketika si dua belas itu lengah. Jangan bergerak dengan serampangan. Itu yang dulu sering diingatkan oleh ayahnya saat mengajari ia dan Zinnia untuk bertarung. Bergerak dan menyerang tanpa perhitungan hanya akan mencelakai diri sendiri. Tapi... kadang ia merasa itu justru membosankan. Ia lebih suka menyerang tanpa diduga, dengan gerakan cepat yang tidak akan bisa dihindari oleh lawan. Tapi sayang, tubuhnya yang lemah ini membuat hal seperti itu jadi sulit untuk dilakukan. Uhuk... uhuk... Apa Capitol punya obat yang bisa menyembuhkan penyakitnya secara instan, eh? Supaya ia bisa lebih menikmati permainan ini. Ia masih ingin merasakan ketika ujung senjata merobek kulit dan daging lawannya. Atau ketika bagian tubuh lawannya terputus dari tubuhnya seperti yang terjadi pada dua korban awalnya. Ia ingin melihat kepala si dua belas itu menggelinding jatuh. Ia ingin mendengar si dua belas itu merintih, melolong, memohon-mohon pengampunan. Sekarang! Zephaniah berlari kencang, mengabaikan rasa sakit di dadanya. Ia menghunuskan tombaknya ke perut si dua belas. Matilah. Nikmati rasa sakit itu. Zephaniah tersenyum. |
![]() |
|
| Maysilee Donner | Friday Jun 14 2013, 09:34 PM Post #7 |
![]()
|
Mulanya, betul-betul tidak sengaja. Murni tidak sengaja. Maysilee Donner hanya melangkah tak tentu arah. Dia dengan cerobohnya telah kehilangan beberapa bawaannya kala bencana melanda beberapa jam yang lalu—kini dia berbalur tanah dan darah, sementara ranselnya semakin ringan. Dia terengah lagi. Maysilee telah menghabiskan waktunya berlari menghindari lava yang mengalur menuruni gunung. Menembus semak belukar, cabang pepohonan, rerumputan tinggi—dia terjatuh beberapa kali, dan dia berusaha keras untuk tidak peduli. Maysilee berhasil menjauh dan berakhir di antara hutan lagi, dengan tubuh terbaret di puluhan tempat dan stamina yang terkuras habis. Tempat minum kulitnya adalah salah satu yang naas hilang. Kerongkongannya kering sekali. Yang meyakinkannya bahwa dia masih bisa terus melanjutkan adalah pistol udaranya, entah dari yang ransel atau yang disambarnya di Cornucopia. Batang panjang itu terselempang di pundaknya, berayun bersama langkahnya. Di dalamnya, dia menemukan metode praktis mencelupkan peluru pistol ke dalam racun tumbuhan yang ada. Asal dia tidak menggunakannya dengan tolol nan serabutan, ia yakin ini perbuatan yang cukup cerdik. Dia lelah. Lelah, lelah sekali—namun dia tidak boleh berhenti. Pesertanya semakin sedikit, namun itu berarti para Pembina Permainan akan melakukan lebih banyak hal agar mereka semakin sering bertemu. Mereka hanya akan semakin menjadi tumbal, tahu. Entah dengan mempersempit Arena, atau bencana alam lagi, atau mutt. Dia tigak mengerti—dia betul-betul tidak mau, lagipula. Dia hanya ingin berjalan di setapak yang bersih dan tanpa gangguan selama beberapa jam ke depan. Tungkainya sudah tidak sanggup bergerak, namun mentalnya memaksa. Detik berikutnya, pada suara erangan dan hantaman, dia terlonjak dan langsung diam di tempat. Berasal dari depannya, nampaknya. Jauh di sana. Dia harus tetap menjaga jarak. Maysilee berusaha menjadi setenang mungkin, berhati-hati agar tidak menginjak daun kering atau ranting. Maju, dengan perlahan, agar bisa mengintip apa yang terjadi di hadapan. Matanya memicing. Tidak berani ia memegang apapun—menyibak dahan sekalipun. Napasnya ditahan seiring dia melihat Haymitch Abernathy berdiri dikepung tiga Karier. Tiga. Karier. Semuanya bersenjata. Haymitch bergerak sendirian, menyerang mereka, sementara mereka menyeringai. Kedua pihak mengerikan—seolah tengah berlatih. Lima orang bertemu dalam satu tempat, ini jelas bukan hal yang bagus. Dia harus apa, masalahnya. |
![]() |
|
| Jester Holt | Saturday Jun 15 2013, 11:02 PM Post #8 |
|
Wah, wah. Belagak. Merasa dirimu lebih hebat dan kuat dari para karier ini eh, Abernathy? Hahah—bangsat. Dia mengatupkan bibirnya, menahan sumpah serapah ketika melihat sosok hama dari Dua Belas itu tertawa layaknya mereka sedang mempertontonkan panggung sandiwara busuk yang dicintai oleh makhluk konsumtif bertitelkan Capitols. Jester Holt tidak menyukai segala hal yang berbau sampah seperti itu, kau tahu. Merasa dirinya telah hebat karena berhasil mengunggulinya (dan beberapa karier lain) di poin pribadi, hah. Menyedihkan, Abernathy. Menyedihkan. Besar kepala hanya karena itu, harusnya kau tanamkan ini dalam pikiranmu. Dua selalu lebih unggul dan kuat dibanding yang lainnya—bahkan di antara para karier. Selalu. Maka katakanlah, ketika dia merangsek maju, hendak menancapkan pedang mata tunggalnya ke salah satu bagian tubuh si Dua Belas (terserah kemana saja, tapi baiknya dia melihat jantung itu langsung tertusuk lebih cepat lebih baik, no?) dan melihat pemuda itu menghindar cepat dari serangannya—dia menyeringai. Sebuah bentuk kepuasan menemukan lawan meskipun fakta bahwa hama itu berhasil membuatnya 'panas' memicunya untuk mempertimbangkan pemuda itu bukannya malah meremehkan pemuda itu seperti yang sudah dia lakukan. Sebuah goresan berhasil dia torehkan—brengsek, namun maaf saja—dia tidak akan begitu saja menyerah, Dua Belas. Jester, there is a way. You shouldn't force yourself to kill. Suara mengalun itu lagi. Bangsat. Pergi sana kau, bedebah. "Pretty impressive, eh." Pundak kanannya terluka, sementara si pemuda Lore yang memang sudah kepayahan itu tampak seperti tengah merenggang nyawa sekarang ini. Menyedihkan. Gadis Hart yang menjadi rekanannya dari Dua juga ikut mengambil alih dalam pembantaian yang tengah dilakukan oleh ketiga Iblis pada sosok pendosa. Oh, ya—mereka dijuluki karier bukan karena tanpa alasan, bukan? Serangan itu memberikan hentakan yang cukup dan pengalihan yang dibutuhkan oleh Jester. Maka ketika gadis Hart itu mengarahkan tombaknya ke belakang si pemuda, dia merangsek ke depan, melakukan gerakan memutar dan menghentakkan pedang si Dua Belas ke samping—tujuannya jelas menjauhkan senjata pemuda itu, dan melakukan tendangan tepat di dadanya. "By the way, I said, more than enough, idiot." Tidak akan pernah ada harapan untukmu, Dua Belas. Edited by Jester Holt, Saturday Jun 15 2013, 11:04 PM.
|
![]() |
|
| Haymitch Abernathy | Sunday Jun 16 2013, 08:13 PM Post #9 |
![]()
Pemenang Hunger Games ke 50
|
Seseorang tentu akan merutuk habis-habisan begitu menyadari kehadirannya ternyata begitu diminati oleh kawanan Karier. Haymitch kembali tertawa dengan membubuhkan sarkasme yang cukup kental. Jenius sekali. Seolah mereka, para peserta di kawanan Karier, sudah benar-benar menang hanya dengan memberikan seringai bengis serta hinaan mereka. Mengolok-olok dikala Abernathy sendiri merogoh saku belakangnya. Tiga lawan satu. Ah. Mereka sungguh percaya diri dengan kemampuan mereka sehingga melawan satu dari Dua Belas saja masih diumbar dan dikobarkan agar Panem mendengarnya. Salah seorang dari mereka mulai maju. Sang Lore; bonus dengan tombak yang mulai mencoba untuk meninggalkan tusukan pada perut si Dua Belas. Dengan gerakan memutar, berniat menghindari serangan dari tiga arah—pemuda Abernathy justru akhirnya mendapati wajahnya terkena goresan dari tombak si satu dan hidungnya merasakan nyeri hebat akibat benturan antara gagang tombak karena gerakan merunduk, memutar, dan berusaha bangkit lagi guna membalas perlakuan mereka—absurd, memang. Luka di wajah Haymitch dimulai dari pelipis kanan hingga berakhir di rahang kirinya. Bibirnya mendesiskan begitu rasa perih, sakit, dan bau anyir yang menusuk hidungnya menjadi begitu memuakkan. Ya, ya, tuan Lore. Kau sungguh kuat. Kalau ada lain kali, lebih baik kau terjun ke arena berpedang. Bertemu lawan yang sepadan denganmu. Gorila atau kingkong yang sudah dilatih, barangkali? Ia mengerang lirih sebelum menjawab, "Sudah menyiapkan nisan terbaikmu di rumah, Dua?" Karena Haymitch yang akan mengirimkan mayat kalian untuk dikubur dengan baik-baik oleh Capitol di distrik masing-masing. Atau jika Capitol benar-benar menyayangi kalian, mungkin mereka akan memberikan larutan pengawet pada mayat kalian, memperbaiki bagian cacat, dan menjadikan kalian sebagai genetika untuk diperbanyak dan dipajang di etalase toko atau menyalak pada distrik di Panem kala mereka memberontak ke Capitol. Bukankah itu jati diri kalian yang sesungguhnya? Peliharaan. Anjing. Boneka. Diperbudak Capitol. Haymitch kembali mendesis saat merasakan efek benda tajam menggores punggungnya. Bau anyir itu kembali merebak. Fantastis, Karier. Abernathy muda hanya bermodalkan pisau, sedangkan tiga Karier brilian ini mengutamakan pedang serta tombak mereka. Benar-benar mengagumkan. Seharusnya Capitol tak berhenti disana. Berikan juga senapan api untuk diarahkan ke otak mereka masing-masing. Tolol? Ah. Kawanan Karier memangnya sejak kapan menggunakan otak dibandingkan otot? Kebanyakan dari mereka pulang untuk pembuktian bahwa mereka kuat dan bisa berkuasa. Terima saja, Dua. Kalian memang memalukan, payah, bobrok, bonus dengan keroyokan ini—lengkaplah kawanan Karier menjadi pengecut nomor wahid di matanya. Peliharaan Capitol, anjing kesayangan Capitol; yang akan duduk ketika disuruh, yang akan menyalak ketika tersulut, dan mungkin yang akan memakan bangkai di dalam Arena jika satu dari sekian banyak pembina permainan memintanya. Diarahkan tenaga yang ada untuk menendangnya sebelum dengan cepat mengayunkan tangan ke arah leher si Satu. Menancapkan ujung belati di tenggorokannya dan berbalik untuk dua sisanya. Untuk kali ini ia mungkin akan memilih memiting mereka hingga napas terakhir saja. Agar Karier tahu bagaimana melegakannya mendapati nyawa berada di ujung tanduk. Untuk si Lore—mungkin sudah mati. Yang lainnya pun sedang sulung Abernathy itu usahakan agar turut terlelap lebih cepat. "More than enough? Aku tak menyangka bahwa Dua sangat berani menggertak dan memberikan tekanan pada lawannya hanya pada level murahan itu. Kehilangan rasa percaya diri?" Nadanya menyindir; mengisyaratkan bahwa ia nyinyir akan ucapan si Holt dan menghina Karier lebih jauh lagi. Dalam post ini: Zephaniah Lore telah berpulang. Jester Holt diperbolehkan membalas satu kali lagi, begitu pula Pietronella Hart sebelum Maysilee Donner membalas lagi. |
![]() |
|
| Pietronella Hart | Sunday Jun 16 2013, 10:35 PM Post #10 |
![]()
|
Sudut bibirnya ditarik sebelah. .. Wakil distrik rendahan pun, tentu akan memilih dengan cara yang tak kalah rendahnya. Teori mereka semua sama, seolah-olah besar keberuntungan bakal ditentukan oleh seberapa banyak congornya melakukan gerakan. O, little pieces of trash. Menyesal, ternyata mainannya tidak terlalu memuaskan. Masih banyak bicara, walau serangan membabi buta diangsurkan kepadanya. Perbandingan setaranya, ia pernah bertemu dengan bocah yang merengek minta dibelikan gula-gula kepada seorang pria yang setiap batuknya disertai asap rokok. Telinganya sakit—dua belas yang sikapnya—katakan, melebehi amplitudo yang ditangkap fana sewajarnya. "Tak seorangpun punya alasan menyiapkan benda tersebut untukku." Lagaknya, percaya diri. Keahliannya. Mo-ron, kasihan sekali. Tahu, dia punya satu hal lainnya untuk mengidentifikasi si 'bocah dua belas yang teramat dilaknatinya' ini; Pemimpi yang malang. Jauh menembus angan-angannya, barangkali sang dara sudah tenggelam dijilat api neraka, sembari mengaduh seolah-olah ia menikmatinya. Itu benar, sebatas prediksi yang tidak terwujud di hari yang sama. Cepat atau lambat, ia akan kembali ke bawah menembus portal dalam keadaan tinggal ruhnya saja. Pendosa, ingat, satu-satunya titel yang bakal menjamin kehidupan akherat. Tak lari kemana-mana, membunuh adalah salah satu jalur yang diambilnya untuk memperkuat julukan tersebut. Haymitch Abernathy, yaitu satu-satunya figur yang terpikir untuk dibunuhnya sekarang ini. Mati. Kalau saja, ia bisa membunyikan peluit untuk mendatangkan malaikat pencabut nyawa dari langit. Matilah. Atau sesungguhnya, satu dari makhluk menyeramkan itu tengah berjalan menghampiri kerumunan bersenjata ini, sama sekali tak menutup kemungkinan. Biru elektriknya memutar dengan cepat, mengikuti kelebatan yang mecoba lolos dari penglihatannya. Abernathy berganti target, kembali pada si laki-laki Satu. Lore, kondisinya masih baik, ketika mereka menggumamkan detik pada jarum jam. Sangat prima. Dahulu, dan sekarang justru lebih mirip Pak Tua renta yang tak bisa bergerak lebih dari panjang ubannya sendiri. "Watch—" ~out! Pity-poor-goofy there, "Lore." Ia mendesis lirih, guratan kernyitan perlahan muncul pada keningnya yang bersimbah peluh. Tak lama setelahnya, meriam itu menggaung perkasa di atas kontrolnya. Malaikatnya salah asuhan, mungkin. Salah, tidak seharusnya karier dibunuh—ralat, terbunuh oleh hama pengganggu. Sampai cacing dibelah vertikal pun... Sampai pada akhirnya, Abernathy kembali bersuara. Kali ini, lebih terdengar seperti seruan protes. Menyedihkan, tahu, sudah menjadi haknya untuk berbicara dalam gaya apapun, toh. "Dan menurutku, itu berhasil." Tsche. Seringai asimetrisnya terukir samar, menyayangkan setiap sekon perkataan Abernathy. Ibaratnya, bersuara merupakan satu-satunya hal yang bisa digunakan untuk menenangkan diri. "Kau," Ia menyorongkan mata tombaknya ke arah lawan. Terus, melangakh sembari mengayunkannya ke bagian torso sosok tersebut. "Tak lebih baik." Napasnya dihela, tersengal. "Bicara, balas merendahkan, semata demi mengendalikan ketakutanmu." Ah! Pikirmu, ia tak bisa menjalankan perannya dengan baik. Spinosisme, ia yang benar. Sekalipun posisinya sekarang, justru memutarbalikkan apa yang diutarakan oleh Abernathy. Tidak pernah, dan oh—memangnya sejak kapan ia berubah menjadi gadis kecil yang mau merelakan apa yang diinginkannya, Lad? |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |
- Pages:
- 1
- 2











9:32 PM Jul 11