|
TERM 9: 2193 - 2194 [+] Topik AU: 4/5 [+] Visualisasi Asia: 3/3 [+] Capitol: 5/5 [+] Distrik Satu: 4/5 [+] Distrik Dua: 4/5 [+] Distrik Empat: 5/5 [+] Distrik Tiga Belas: 2/5 [+] Balita/Dewasa: 5/5 | ![]() TENTANG INDOCAPITOL || THE LAW OF INDOCAPITOL PAPAN PENGUMUMAN|| POTRET WAJAH PENGAJUAN AFFILIASI || AFFILIASI TRAINING CENTER || ARENA Gunakan kode warna #00BFFF untuk mengutip dialog karakter lain. | HUNGER GAMES 54 {DISTRIK 1}
KREIOS EPHRAIM |
![]() 21,3° - 23,6° C 21 Juni - 20 September Yay, yay! Musim panas telah tiba! Sudah siapkan pakaian terbaikmu untuk Pemungutan Suara tahun ini? Jangan lupa siap sedia payung di bulan Agustus karena akan sering hujan. |
Segenap keluarga besar Indonesian Capitol mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. |
Twitter
Chatbox
|
| Waktu | Update |
|---|---|
| Sabtu, 11 April 2015 | Dibukanya topik Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out! |
| Kepada | Informasi |
|---|---|
| Semua Member | Silahkan cek Pengumuman Seputar Forum |
| Semua Member | Silahkan cek Pendaftaran Pra-Registrasi Time Is Tickin' Out (IndoCapitol V.2) |
| Selamat datang di Indocapitol. Forum roleplay berbasis teks yang mengangkat cerita dari The Hunger Games tilogy karya Suzanne Collins. Kalian akan dipilih menjadi penghuni dari salah satu distrik, menjalani keseharian kalian di distrik masing-masing, mengikuti reaping, dan dipilih menjadi peserta dalam event The Hunger Games dalam Arena. Kami harap Anda menikmati kunjungan Anda. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda. Registrasi member baru akan dibuka pada 28 Januari 2014. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoCapitol jika kami membuka pendaftaran member baru. Bergabunglah bersama kami! Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum: |
- Pages:
- 1
- 2
| [PLOT] Engkau lilin-lilin kecil.; (c) Alm Chrisye. OOC | ||
|---|---|---|
| Tweet Topic Started: Wednesday Jun 26 2013, 09:48 AM (895 Views) | ||
| Maysilee Donner | Wednesday Jun 26 2013, 09:48 AM Post #1 | |
![]()
|
Yang tersisa hanya tiga orang. Itu artinya semakin dekat dengan rumah. Semakin dekat dengan mimpi untuk kembali menghirup udara di Dua Belas dan terbuai bunga tidur di buaian yang empuk. Wajah-wajah yang ia rindukan dan suara-suara yang ingin ia dengar. Tersisa dua orang yang harus Maysilee hadapai. Dan sialnya, satu di antaranya adalah rekanannya; yang menawarkan bantuan dan tawaran sekutu hingga detik ini. Untuk saling menjaga dan melindungi hingga waktu menyedihkan itu tiba. Lanskap tandus dengan bebatuan tajam itu seolah mengejek. Mengolok dua anak manusia dari Distrik Bawah. Mendera, kedua muda-mudi itu khususnya, dengan pemandangan kering nan muram. "Cuma sampai di sini, Haymitch." Kata-kata gadis Donner itu, sayangnya, terdengar begitu final, pasrah, dan menyalahkan. Lisan itu mutlak dan tidak dapat dihapus—sekejap, belia Donner sedikit menyesalinya. Ditatapnya dasar tebing dengan datar, kemudian ia tatap punggung Haymitch yang masih menunduk ke bawah, selangkah di depanku. Dara itu menghela napas panjang dan kembali mengingat-ingat lagi betapa pemuda Abernathy itu ingin keduanya sampai di tempat ini. Mengekspektasikan sesuatu yang besar dan megah dan mengejutkan, ketika di akhirnya, kau dihadapkan oleh opsi bunuh diri yang lain. Kesebalan yang samar mulai membara lagi dari dalam, ketika gadis bersurai pirang berubah memandang tebing itu dengan miris. Haymitch masih tegar berdiri di tempatnya. "Aku ingin kita kembali," aku sang dara sembari masih menatap sosok rekanannya. Dia mungkin akan berhenti mendorong-dorong kami kesana-kemari mencari ujung, kini setelah kita melihat apa yang ada. Dara itu bersiap untuk memutar tumitnya dan sedikit berharap bahwa kali ini Haymitch mendengarkannya. Ia mulai bosan dengan keras kepala pemuda itu.
|
|
![]() |
|
|
| Replies: | |
|---|---|
| Flavea Vorfreude | Saturday Jul 6 2013, 08:20 PM Post #11 |
![]()
|
DISTRIK 1 HP: 4 // KS: [result]14&14,1d24,0,14&1d24[/result] // AP: [result]4&1,1d8,3,4&1d8+3[/result] Ia...lelah. Rasanya ingin mati saja. Tanpa rasa sakit, mati begitu saja dalam lelap. Inginnya seperti itu, namun rasanya tidak mungkin. Jika pada akhirnya ia mati, maka ia merasa bahwa ia tak akan mengalami kematian yang tenang. Hal tersebut membuatnya semakin takut dan semakin ingin membuat segalanya berhenti sekarang saja. Ia sudah lelah berusaha, lelah untuk bergerak. Bosan melihat arena, bosan melihat darah. Ia ingin melihat rumahnya lagi, tidur di tempat yang nyaman dan tak harus melalui mimpi buruk yang bukan hanya sekedar mimpi ini. Rasanya seperti ada yang mencekiknya, ia tak yakin itu adalah imajinasinya atau ia mencekik dirinya sendiri. Imajinasi dan realita baginya tak perbedaan lagi, kedua terasa sama. Tinggal tiga orang terakhir, tiga orang yang berhasil hidup sampai ke detik-detik terakhir. Ia tak dapat merasa bersyukur menjadi salah satu di antara tiga orang itu, namun ia pun tak dapat menyesal karena tak mati cepat. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Ia tak tahu bagaimana caranya untuk tak merasakan sakit lagi. Ia merasa lebih baik tak merasakan apa pun lagi. Tak rasa sakit, tak rasa apa pun. Lebih baik perasaan di tubuh atau pun di hatinya mati karena tak ada gunanya lagi baginya. Ia bersembunyi lama, bergantung pada pendengarannya untuk melacak dua orang lainnya. Distrik dua belas, kedua berasal dari distrik tersebut. Mereka benar-benar beruntung, terlalu beruntung. Mereka tak akan dilupakan sampai lama, Flavea yakin. Karena keajaiban peserta distrik tersebut dapat mencapai sejauh ini. Ia pun yakin bahwa dirinya sendiri akan dilupakan, karena alasan yang sudah jelas. Ia mendengarkan teriakan, memanggil nama Haymitch Abernathy. Ia langsung tahu dari siapa teriakan tersebut berasal. Siapa lagi? Ia melangkah, menyeret dirinya sendiri ke arah asal teriakan tersebut. Tak dapat fokus sedikit pun, namun ia berusaha. Rasanya menderita, benar-benar menderita. Tapi ia memutuskan untuk tetap bertarung. Siapa tahu, takdir kali ini berbaik hati kepada dirinya. Siapa tahu. Menghampiri sosok itu, mempersiapkan diri jika pada akhirnya kematianlah yang menjadi takdirnya saat ini. Salah satu senjata yang terpegang erat ditangannya ia ayunkan saat ia berlari ke arah pemuda itu, menyerang tepat di perutnya. |
![]() |
|
| Haymitch Abernathy | Saturday Jul 6 2013, 08:36 PM Post #12 |
![]()
Pemenang Hunger Games ke 50
|
DISTRIK 12 HP: 28 // OFFROLL Ada dentum meriam yang nyaring di angkasa. Awan yang terlihat begitu tenang tak membuat sang adam lega. Emosinya menggelegak; dadanya bergemuruh. Ada satu hal yang ia lupa dari Capitol, mereka begitu pintar untuk menghadirkan mimpi buruk dalam kehidupan seseorang. Tangan sang pemuda gemetaran saat ia melepas kepergian rekannya. Kakinya sendiri seperti tak mampu menopang tubuh. Energinya seolah terlepas begitu saja. Sebuah tekad untuk menang yang dikumpulkannya semenjak di pusat pelatihan kini lebih terlihat seperti sebuah angan hologram. Dapat ia raih, namun tak sama. Maysilee Donner adalah rekan yang baik. Yang terbaik. Saat ia berdiri, pemuda itu bahkan sempat menunduk hanya untuk memanjatkan doa. Tak ada satupun dalam Arena yang bisa menyamai bagaimana dara Donner terlihat begitu tenang dalam tidurnya. Ia sudah berpulang dan Haymitch tahu bahwa sekeras apapun usahanya kelak, itu tak akan membawa jiwa sang Donner kembali. Raga itu mati. Biru itu sudah redup dan tak akan menyala kembali. Anomalinya melangkah pergi ke kehidupan selanjutnya. Yang tersisa hanya memori; kenangan yang sempat ia lewati dengan gadis itu selama mereka hidup. Momen seusai sekolah, saat nama mereka dipanggil sebagai peserta, pusat pelatihan, dan konversasi demi konversasi itu. Mungkin seharusnya Haymitch mengakhiri sentimentilnya. "ARGH." Kala abu itu terbuka, ada wajah yang memang ingin ia lihat detik ini. Peserta perempuan dari Satu itu sudah hadir tanpa perlu ia susah payah cari. Dan briliannya, ada luka yang mampir di perut sang adam. Abernathy itu lengah dan ia mendapatkan hadiahnya. Minggir kau, sentimentil. Kau brengsek dan sama sekali tak membantunya untuk membuktikan pada Capitol bahwa Maysilee dan ia sudah berjuang begitu keras hingga detik ini. Ada desisan yang terlontar dari bibir sang pemuda sembari ia memegangi perutnya sendiri. Kedua maniknya dipincingkan; berusaha fokus pada lawannya kali ini. Tapi, alih-alih menyerang, bibirnya justru bergerak; berbisik lirih, "Membusuk sana di Neraka." Karena dari berita terakhir yang ia dengar, itu rumah peristirahatan terakhir untuk ruh para Karier. Capitol? Haha. Bahkan Neraka akan menolak mereka. |
![]() |
|
| Flavea Vorfreude | Saturday Jul 6 2013, 08:50 PM Post #13 |
![]()
|
DISTRIK 1 HP: 4 / /KS: [result]6&6,1d24,0,6&1d24[/result] // AP: [result]5&2,1d8,3,5&1d8+3[/result] Nasib seorang karier itu lucu, sangat lucu sampai ia benar-benar tertawa suatu ketika ia sendiri. Ia, mereka, seumur hidup dilatih untuk menjadi mesin pembunuh yang di masa ini tak ada bedanya dengan seorang penari. Kebanyakan dari mereka terenggut masa kecil mereka, dimanipulasi dan meyakini bahwa mereka lebih baik dari orang lain, bahwa membunuh adalah sesuatu yang mulia. Namun ketika mereka akhirnya berada di tempat yang seharusnya menjadi panggung mereka, mereka tak lain dan tak bukan hanyalah mesin penghibur. Pada akhirnya, apa yang benar-benar mereka dapatkan? Neraka. Lucu, ya. Beruntung baginya bahwa masa hidupnya tak seluruhnya terenggut dan ia tak sepenuhnya termanipulasi. Namun ia jadi bertanya-tanya apakah pada akhirnya ia sendiri yang memanipulasi dirinya sendiri. Sad. "Tak perlu khawatir." Ia berucap, kata-kata pertama yang ia ucapkan setelah bungkam beberapa hari lamanya. Mungkin kata-kata terakhirnya, mungkin tidak. Namun setidaknya akhirnya ia dapat berbicara lagi, meski dengan nada serak dan mungkin akan segera habis, sama seperti darah di tubuhnya. "Kau, aku, tak ada bedanya, kita berdua sama-sama akan berakhir di neraka." Menatap wajah pemuda bermata abu itu, tangannya masih memegang kapak yang kini menjadi satu-satunya senjatanya itu. Mau mati, mau hidup, mau ia yang menang atau pemuda Abernathy itu yang menang, mereka sama-sama akan menghadapi neraka dalam bentuk yang berbeda. Ia tahu itu, karena ia yakin bahwa bayangan arena tak akan pernah hilang jika pun ia akan hidup. Ia akan selalu terhantui, ia benar-benar yakin. Satu ayunan kapak lagi, masih ke arah yang sama. Tidak peduli lagi serangannya baik atau tidak, ia hanya ingin mengakhiri segalanya secepat mungkin. |
![]() |
|
| Haymitch Abernathy | Saturday Jul 6 2013, 09:12 PM Post #14 |
![]()
Pemenang Hunger Games ke 50
|
DISTRIK 12 HP: 23 // OFFROLL Ia tertegun. Pun ekspresinya tak berubah sama sekali, tetapi otaknya memproses kalimat yang dilontarkan oleh gadis Satu. Ada suara yang mengiyakan di benaknya dan membiarkan kalimat itu terus bergema untuk menyadarkannya. Neraka bukan hanya milik mereka, para Karier. Namun juga sang Abernathy. Tangannya membunuh beberapa orang Karier; kemudian satu suara lain dalam benaknya merutuki sikapnya ini. Ia melemah. Dan itu karena satu kalimat yang begitu sederhana dari Flavea Vorfreude. Tidak hanya itu. Jika nantinya ia memang menang dan pulang, apa yang bisa ia ceritakan kepada keluarga Donner atau keluarga peserta distrik Dua Belas lainnya? Asa mereka tentu begitu tinggi karena mengharapkan putra putrinya pulang, pun tahu bahwa tak ada Capitol yang mungkin benar-benar memerhatikan Dua Belas. Haymitch dan Maysilee memecahkan rekor itu. Keduanya bertahan hingga tiga besar dan dengan gigih menyita perhatian Capitol. Gadis dengan manik biru itu yang menjadi alasannya bertahan ketika di Arena. Ada puing-puing semangat yang berceceran kala abu itu mengingat bagaimana biru menatap balik dirinya. Yang sekarang sudah mati. "Tak perlu kau beritahu," desisnya sekali lagi—karena akhirnya Haymitch paham. Menang ataupun tidak, Capitol tetap akan mempermainkannya dan tak akan pernah benar-benar memerhatikan bagaimana Dua Belas begitu berjuang dalam kesehariannya. Ada api yang kemudian berkobar lagi, seperti sebuah kesengajaan yang ia sulut dari kalimat dari sang lawan di benaknya. Haymitch Abernathy sudah hampir mendekati final. Apapun itu, bagaimanapun itu; demi menebus bungkamnya kepada Maysilee, setidaknya ia bisa mengucapkan maaf pada saudari kembarnya. Haymitch mengingat paras keduanya. Bagai pinang dibelah dua. Akan tetapi Haymitch tahu bahwa mereka beda. Rekannya masih yang terbaik dalam pandangan pemuda bermanik abu itu. Dan ide itu ternyata sama buruknya dengan berdiam di tempat tanpa menyerang. Lagi-lagi, perutnya mendapatkan sayatan. Luka yang terlihat tak begitu serius kali ini menganga lebar. Jika awalnya ia hanya mendesis dan merintih, kali ini ada umpatan dari bibirnya. Tangannya merogoh salah satu pisaunya dan melemparkannya ke salah satu mata dara Vorfreude sebelum memilih untuk berbalik dan kembali ke tepi tebing. Tempat itu akan sangat membantunya. Capitol akan membayar bagaimana derita seorang peserta. Edited by Haymitch Abernathy, Saturday Jul 6 2013, 09:13 PM.
|
![]() |
|
| Flavea Vorfreude | Saturday Jul 6 2013, 09:31 PM Post #15 |
![]()
|
DISTRIK 1 HP: 4 // KS: [result]19&19,1d24,0,19&1d24[/result] // AP: [result]5&2,1d8,3,5&1d8+3[/result] Ia tersenyum. Bukan sebuah senyum kemenangan atau sebuah senyum sombong yang biasa terlihat di wajah seorang karier. Setidaknya, bukan itu maksudnya. Ia tersenyum sedih, karena setidaknya ia tahu bahwa pemuda itu tahu apa yang ia tahu. Siapa pun yang menang di antara mereka, maka tak akan ada arti yang besar. Jadi, bagaimana jika mereka cepat menentukan mana yang akan menghadapi neraka di sana dan neraka di bumi? Terlihat jelas bahwa yang ia inginkan hanyalah untuk semua ini segera berakhir. "You let her go," ucapnya secara mendadak, mengingat sosok Maysilee Donner, "you get your happiness and then you let her go, didn't you?" Entah mengapa, Flavea merasa iri pada mereka. Setidaknya mereka sempat menemukan satu sama lain, merasakan kehangatan di arena yang dingin. Ia selalu sendiri, tak menemukan orang yang dapat membuatnya merasa hangat. Ya, ia benar-benar iri pada mereka. Pada pemuda Abernathy itu, pada dara Donner itu. Tak ada kebahagiaan yang nyata bagi seorang Flavea Vorfreude hingga sekarang. Tak dahulu, tak sekarang. Tapi setidaknya jika ia menang, tak akan ada sosok lain yang akan menghantuinya selain orang yang benar-benar ia bunuh. Ia tak perlu melindungi siapa pun selain dirinya sendiri dan jika ia menang, maka ia berhasil melakukan hal itu. Jika ia kalah? Maka ia kalah. Sudah. Berakhir. Tak ada cerita lagi. Pemuda itu menusukan sebuah pisau ke matanya secara tak terduga, membuatnya berteriak dan tangannya langsung mengambil gagang pisau tersebut, menarik pisau tersebut dari matanya tanpa berpikir apa pun. Rasanya sakit, salah satu rasa yang paling menyakitkan yang pernah ia rasakan. Tangan kirinya otomatis menutupi matanya tersebut. Rasanya ia ingin pingsan, sulit berjalan. Namun sempat ia melemparkan pisau itu lagi ke arah si pemuda dengan lemah sebelum berusaha berdiri setelah ambruk, menyeret dirinya untuk mengejar pemuda tersebut. |
![]() |
|
| Haymitch Abernathy | Saturday Jul 6 2013, 09:55 PM Post #16 |
![]()
Pemenang Hunger Games ke 50
|
DISTRIK 12 HP: 23 // OFFROLL Abu itu melihat bagaimana kurva itu melengkung. Arena menjadi saksi bisu bagaimana keduanya menderita sedangkan Capitol mungkin tertawa, bahkan mengelukan nama satu dari keduanya sebagai seorang pemenang. Dan bukan iba yang hinggap dalam benak Haymitch. Sang pemuda begitu muak dengan semua fakta bahwa gadis dari Satu itu membuatnya melemah pada detik ini. Semua hal yang ia perjuangkan seolah terdengar begitu sia-sia. Karena menang ataupun tidak, semua akan sama. Semu. Dua Belas memang mungkin akan mendapatkan pemenang; pada akhirnya. Namun sang pemenang itu, apakah ia akhirnya bisa merasakan menang? Jika memang nantinya Haymitch sanggup mengukuhkan dirinya untuk berjuang, setidaknya mengantarkan lawannya untuk tidur panjang, apa ia bisa melewati hari-harinya dengan tenang di Desa Pemenang? Apa ia bisa menceritakan kepada anak-anaknya kelak bahwa ia adalah pembunuh? Bahwa ia hampir tak beda jauh dengan pion Capitol yang ia hina sebelumnya, para Karier? Pertanyaan demi pertanyaan menghujani benaknya. Mereka semua sama, bahkan Haymitch. Korban dari kedzaliman Capitol. Bagaimana sistem pemerintahan begitu picik sehingga menghilangkan nyawa muda mudi di Panem semudah membalikkan telapak tangan. Sistem pemerintahan yang begitu tuli sehingga tangis pilu penduduk tak akan pernah sampai. Dan semua itu membuat pemuda Abernathy kembali membiarkan napasnya saling memburu. Marah, muak, dan dorongan emosi lainnya membuat Haymitch bangkit. Erangan dan umpatan yang dilontarkannya berbuah dorongan energi. Pisau itu sepertinya berhasil melukai Vorfreude muda; terdengar dari bagaimana teriakan peserta Satu itu. Dengan segala upayanya, Haymitch berdiri di tepi tebing. Sangat berharap bahwa apa yang melintas di benaknya membantunya kelak. Tersudut. Ia mematikan strateginya dengan seolah mengunci dirinya dari kejaran sang lawan. Pemuda itu masih memegangi perutnya, berharap bahwa bau besi itu bisa berhenti; darahnya masih merembesi baju yang dikenakannya. Yang dilakukannya kemudian hanya berbalik. Sekarang atau tidak sama sekali. Haymitch kali ini bermodal perhitungan dan nekat. |
![]() |
|
| Flavea Vorfreude | Saturday Jul 6 2013, 10:15 PM Post #17 |
![]()
|
DISTRIK 1 HP: 4 // OFFROLL Ia merasa seperti segala nyawa yang dimilikinya kini mulai diambil dan rasanya sangat menyakitkan. Menggerakan tubuh rasanya sulit, seakan gravitasi bumi semakin menguat dan membuatnya sulit mengangkat kakinya. Ia memandang ke arah pemuda itu pergi, namun pandangannya sudah mengabur. Masih merasakan syok akibat serangan itu. Pening bukan main, terasa seperti ada api di matanya. Ia mengejar pemuda itu namun tak benar-benar mengejar, tak dapat dilakukannya hal tersebut dengan keadaannya sekarang. Tangannya hampir tak kuat menyeret kapak yang dimilikinya. Ia sekarang benar-benar merasa seperti akan segera mati. Dan itu membuatnya mau tak mau menjadi merasa sangat takut. Pada saat ia akhirnya mati nanti, ia tak akan merasakan apa pun, kan? Kan? Tak ada lembaran-lembaran hidupnya yang teringat olehnya, yang dirasakannya hanyalah rasa sakit. Menyedihkan, bukan? Pikirannya terlalu fokus pada rasa sakit yang dirasakannya. Sekarang segalanya sudah tak dapat dikendalikan lagi olehnya. Detik-detik terakhir. Seperti ada jam dinding yang jarumnya berjalan lebih cepat dibandingkan biasanya, menuju ke berhentinya jarum tersebut bergerak. Bahkan ada suara detak jam dinding di kepalanya, tak mau berhenti. Langkahnya semakin mendekati tempat dimana pemuda itu berada, ia bahkan merasa sedikit dapat melihat pemuda tersebut berdiri, menghadapnya. Menantang maut. Mungkin sepuluh langkah lagi ia akan berada di hadapan pemuda itu, namun pada akhirnya kakinya menyerah dan ia tak dapat melangkah lagi, entah mengapa. Tak dapat benar-benar bergerak, kakinya terasa akan ambruk dan ia akan terjatuh jika ia terus berjalan. Maka ia hanya dapat berdiri, merasakan putus asa tak tahu apa yang harus dilakukannya lagi. Upaya terakhirnya, ia melemparkan kapaknya ke arah pemuda itu sekuat yang ia bisa, tak yakin bahwa ia membidik secara tepat. Ia tak tahu harus melakukan apa lagi. |
![]() |
|
| Haymitch Abernathy | Saturday Jul 6 2013, 10:38 PM Post #18 |
![]()
Pemenang Hunger Games ke 50
|
DISTRIK 12 HP: 23 / /KS: [result]2&2,1d24,0,2&1d24[/result] // AP: [result]5&2,1d8,3,5&1d8+3[/result] Geram. Haymitch sudah mencapai batas sabarnya. Namun kedua kakinya sama sekali tak mau menolerir bagaimana ia butuh tubuhnya untuk berdiri tegak. Cairan merah pekat amis itu terus menerus membasahi kain yang melekat di tubuhnya. Abunya sendiri sudah tak fokus untuk melihat bagaimana pergerakan gadis itu. Yang dilihatnya hanya samar-samar. Awan di atas sana seperti cairan putih yang tak bisa larut dalam air; terus bergerak. Rerumputan yang ada di bukaan terlihat seperti satu kolam cat air, hanya satu warna dan tak ada cela. Setapak menuju puncak tebing terlihat begitu halus dan licin; seolah jika Haymitch mencoba untuk meluncur, ia akan dengan sukses langsung berada di bukaan. Bukaan dimana ia kehilangan rekanannya. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana ia bertemu Maysilee Donner. Sepulang sekolah dan saat itu keduanya sama-sama enggan untuk melangkahkan kaki ke rumah masing-masing. Haymitch dengan segala kekhawatirannya akan sang adik, sedangkan dara itu dengan pikirannya sendiri. Panem begitu tersiksa akan batasan dan segala aturan menggelikan sekaligus tolol milik Capitol. Hunger Games salah satu di antara sekian banyak cetusan milik pusat pemerintahan Panem yang begitu merugikan penduduknya. Dua orang pemuda-pemudi dari masing-masing distrik menjadi tumbal setiap tahunnya. Seolah dengan melakukan itu, Capitol bisa membuang segala kesialannya. Ha. Dalam kamusnya, Capitol bahkan lebih dari kata 'sial'. Bedebah, penjagal, iblis—mereka adalah tangan dari malaikat pencabut nyawa. Mungkin, memang tak semua penghuni di Capitol pantas disebut demikian; karena kebanyakan hanya tercuci otaknya akan apa yang dilontarkan oleh orang-orang di balik meja politik. Pemerintahan yang bobrok dan membuat setiap orang hanya sanggup bertekuk lutut pasrah seperti kapan mereka akan diadili pun mereka tahu bahwa mereka tak salah. Seperti gadis di depannya, mungkin. Vorfreude muda itu hanya satu dari sekian banyak korban dari orang-orang yang mengaku ahli dalam dunia politik itu. Haymitch kemudian mengerang lagi. Lukanya sama sekali tak mau berhenti berdenyut. Nyeri, perih, dan bagaimana fakta bahwa sobekan itu seperti memperlihatkan organ dalam tubuhnya membuat sang adam kemudian limbung. Ia mengharapkan lempengan itu untuk membuatnya hidup. Apa namanya? Medan gaya, Capitol? Pernah ada pemikiran bahwa kemungkinan seperti ini akan datang? Dimana seorang Dua Belas membunuh seorang Satu tanpa menggunakan tangannya sendiri; dimana seorang Satu dibunuh oleh sistem dan Arena kalian. Seperti saat ini. Pernahkah? |
![]() |
|
| Flavea Vorfreude | Saturday Jul 6 2013, 11:26 PM Post #19 |
![]()
|
Maka untuk sekarang, biarkanlah cerita Flavea Vorfreude itu mengambil alih sejenak, sementara. Ceritanya, bukan cerita orang lain. Tentang dirinya, bukan tentang orang lain. Gadis itu hidup dalam imajinasinya sendiri, mengingkari fakta bahwa ia hidup di dunia yang korup, di dunia yang tak memiliki harapan. Ia tak akan pernah dapat menerima kenyataan bahwa dunia tak seindah yang berada di pikirannya, tak pernah mengingat ketika suatu yang buruk benar-benar terjadinya. Ia seringkali berfantasi bahwa ia adalah seorang putri yang akan mendapatkan seorang pangeran dan hidup selama-lamanya. Ia tak menyadari bahwa semua itu hanyalah fantasi belaka. Ia tak menyadari bahwa ia memiliki sisi gelap, sisi yang mati-matian dihindarinya. Ia menyadari bahwa ia bukanlah orang yang baik, namun terus menerus mengatakan bahwa ia adalah orang yang baik dan tanpa dosa. Tak menyadari bahwa ia selalu membohongi dirinya sendiri. Dan ketika ia berdiri sekarang, menghadapi kematiannya, ia baru benar-benar menyadari itu. Menyadari bahwa ia tak pernah benar-benar tinggal di dunia yang membuatnya bahagia, tak akan pernah mendapatkan sebuah akhir cerita yang bahagia seperti yang dihadapkannya. Pada akhirnya ia mengingat beberapa hal, beberapa hal yang tak pernah sadar ia lakukan. Arena bukanlah tempatnya pertama kali membunuh. Tak ada yang mengetahui bahwa dahulu kala, ada seseorang yang pernah mati karenanya. Dan kini mengingat hal tersebut, membuat kepalanya terasa ditusuk pisau berulang kali, mengingat bagaimana nyawa orang tersebut melayang. Ia tak pernah benar-benar mengingatnya. Dahulu kala, ia membuat dirinya sendiri melupakan semua hal buruk yang pernah dialaminya, semua hal buruk yang pernah dilakukannya. Ia mengingat bahwa pada kenyataannya ia seringkali menangis. Menangisi ibunya yang telah tiada, menangisi ingatannya, menangisi ayahnya yang membencinya. Menangisi hidupnya sendiri dan keesokan harinya, ia tak pernah ingat bahwa ia telah menangis. Maka sekarang, Flavea Vorfreude menyadari, bahwa sesungguhnya ia benar-benar pantas mati. Karena orang-orang yang jatuh ditangannya, karena hidupnya hanyalah hidup yang dipenuhi oleh imajinasi belaka. Maka kini matanya yang tertutupi air mata tak dapat melihat sekitarnya, tubuhnya terdiam dan tak bergerak. Tak akan ada akhir bahagia, tak akan ada pangeran yang menjemputnya, tak akan ada kehidupan menyenangkan baginya. Ia selalu bermimpi bahwa ia akan mati tanpa merasakan sakit apa pun, dikelilingi oleh orang terkasihnya. Kalian semua tahu bagaimana akhir cerita hidupnya yang sesungguhnya. |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| « Previous Topic · Hunger Games 50 · Next Topic » |
- Pages:
- 1
- 2










9:32 PM Jul 11