Welcome Guest [Log In] [Register]

madness world

where your fear come true

[Humanity Should Fail]
Kematian gubernur terdengar oleh semua orang. Seluruh jejak mengenai gubernur dan bawahannya hilang bersama munculnya kelompok baru, Void.

QUICK NEWS
1). Opreg akan dilaksanakan pada 7 November 2015 10:00 WIB!
2). Satu karakter hanya bisa mengembat satu kuota.
3). Untuk mengutip perkataan karakter lain, gunakan warna hijau (#090).
QUOTAS.
1). Multiple: 0/3
2). Insane: 0/2
3). Residence Asing 0/3
4). Kembar 0/1
Rules About Guideline Face Claim Changelog Spotlight of The Month
Quick News

1). Opreg akan dilaksanakan pada 7 November 2015 10:00 WIB!
2). Satu karakter hanya bisa mengembat satu kuota.
3). Untuk mengutip perkataan karakter lain, gunakan warna hijau (#090).
Quotas
1). Multiple: 0/3
2). Insane: 0/2
3). Residence Asing 0/3
4). Kembar 0/1
Add Reply
H E L L O~; Library-nya Haruhi~
Topic Started: Jun 18 2015, 10:00 PM (70 Views)
Haruhi Sanada
Member Avatar

YOUKOSO~
Halo, halo. Disini saya bakal memuat berbagai Ffic/Songfic yang berkaitan dengan RPF ini tentunya. Setiap Ffic/Songfic bakal di-list di first page.

Happy reading!
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Haruhi Sanada
Member Avatar

ArakixTsukino - Cold December


3rd Person View - Tsukino
Bulan Desember yang dingin. Tsukino berjalan lurus tanpa arah, tanpa memerdulikan terjangan udara dingin maupun badai salju yang siap membuatnya gugur kapan saja. Hanya berlapiskan jaket dan syal membuat tubuh mungil itu sedikit merasa kedinginan, jika saja ia menemukan kedua orangtuanya dan tidak terjebak di dalam keadaan seperti ini, ia pasti sudah menghangatkan diri di depan tungku perapian sekarang.

Yang ia butuhkan hanyalah seseorang.
Seseorang yang bisa menemaninya, barang sebentar.

Samar tapi pasti, keberadaan seseorang muncul di dalam benaknya—'dia' yang selalu ia tunggu selama ini. Sayang, ia tidak tahu keberadaan orang yang ia dambakan keberadaannya. Mungkinkah Dewi Fortuna yang selama ini selalu menjadi bahan pembicaraan orang-orang takkan pernah berpaling padanya? Atau sang Dewi ingin mencoba sampai mana tingkat kesabaran seorang Tsukino Ibuki? Tidak ada yang tahu.

Dengan sedikit terisak, gadis itu membatin;

Aku ingin bertemu.

3rd Person View - Araki

"Huft—hampir saja.."

Bunyi dentuman logam terdengar di dinding sebuah gedung yang gelap. Jika diperhatikan baik-baik, di sana terdapat mayat hidup yang kini telah menyatu oleh dinding karena dipukulkan ke dinding. Cairan merah berbau yang terciprat ke segala arah mengenai bajunya, namun, itu bukanlah hal yang perlu dibesar-besarkan. Apapun wajar dalam keadaan begini.

Bulan Desember yang dingin, membuatnya menatap iri pada orang-orang yang tetap ada di dalam rumah sekarang. Walau mungkin mereka takut keluar rumah karena ancaman mayat hidup, setidaknya mereka memiliki tempat untuk berlindung. Justru orang-orang seperti Araki yang seharusnya memandang iri para orang biasa—jika saja takdirnya sebagai seorang 'pemilik' tidak pernah ada, ia takkan pernah bersusah payah bertahan hidup.

Di tengah hawa dingin, ia duduk termenung di dalam sebuah gedung gelap tanpa pencahayaan sedikit pun, membuatnya teringat pada sosok yang selama ini ia dambakan keberadaannya. Jika bisa, ia akan membawa sosok itu pergi sejauh mungkin dari tempat berbahaya ini dan hidup dengan sosok itu di luar sana, di tempat yang jauh lebih aman.

"—aku ingin bertemu."

They'll never stopped wishing—without knowing that they're hoping the same thing.

Setahun berlalu semenjak mereka tidak bertemu, mereka tidak pernah sekalipun lepas dari harapan mereka untuk bertemu satu sama lain. Tidak ada yang dapat menghentikan harapan mereka, seolah tak mengenal kata 'menyerah', mereka tetap mencari satu sama lain, bahkan mereka bertanya-tanya pada pejalan kaki di sekitar yang jumlahnya terhitung sangat sedikit.

They're doing the same thing in the same time—

Tak ada seorangpun dari mereka yang menyerah. Mereka berdua tetap semangat mencari satu sama lain, walau Sang Waktu memisahkan mereka sehingga jarak mereka makin menjauh. Walau begitu, mereka tetap berpegang teguh pada keyakinan kuat mereka. Bahwa mereka takkan menyerah semudah itu.

Akan tetapi—benarkah begitu?

.
.
.

Dua tahun semenjak mereka saling mencari satu sama lain. Sayang, Sang Takdir berkata bahwa mereka takkan pernah dipertemukan kembali. Keduanya sama-sama pasrah; sebelum kemudian berpaling hati pada yang lain. Araki berpaling pada seorang anak pengusaha sukses di Jepang, sementara Tsukino yang kini menaruh hati pada orang lain entah siapa.

Ketika tengah dibuai oleh kisah romantis mereka sekarang, kedua manik itu kembali beradu pandang. Orang yang mereka kenal kini ada di hadapan mereka. Jeda sesaat sebelum perlahan salju turun, seolah menandakan tanda-tanda bahwa mereka telah bertemu. Raut wajah mereka masing-masing dipenuhi dengan penyesalan; lagi-lagi, cinta mereka yang ada dahulu kini mulai terbangun kembali.

Tak kuasa menahan air mata, Tsukino menangis terisak di tengah hujan salju. Araki menatapnya sedih sebelum berjalan ke arah Tsukino dan menepuk bagian atas kepalanya, sebelum memeluknya erat. Bahagia telah bertemu kembali. Akan tetapi—tak berapa lama, Araki melepaskan pelukannya dan mengambil langkah mundur selangkah.

"—Tsuki.." pemuda itu menyebut nama orang yang sejatinya adalah cinta sejatinya. "...Selamat tinggal."

"—eh..?"

Alis Tsukino mengerut. Raut wajah Araki berubah menjadi raut wajah penuh penyesalan. Setelah itu, Araki menundukkan kepalanya dan mulai berbicara kembali.

"Aku—aku lebih mencintai orang yang kumiliki sekarang—bahagialai dengan pasanganmu sekarang Tsuki.." ucapnya dengan nada pelan. Tsukino menatap pemuda itu dengan pandangan heran sekaligus sedih. Inikah hasil perjuangannya selama ini? Ia selalu menahan perih demi bertemu kembali dengan orang yang selalu ada di dalam pikirannya—akan tetapi, yang ia dapat hanyalah sebuah permintaan maaf yang ternyata karena orang yang ditunggu sudah berpaling hati.

"L-lupakan saja apa yang kubicarakan tadi." dengan langkah cepat, Araki meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan Tsukino sendirian, terpaku. Bukan ini yang ia harapkan—bukan ini. Diam-diam, ia meraih secarik kertas yang selalu ia bawa selama ini—foto dimana ia dan Araki tersenyum bersama di dalamnya, bersamaan dengan sebuah surat yang dibingkai dengan baik—hanya untuk Tsukino, bukan untuk orang lain.

[ To: Tsukino Ibuki
From: Araki Sanada

H, halo. Maaf mengganggumu dengan surat ini. Kuharap kau tidak merusaknya sehabis kau membacanya, haha.

Aku merasa bahwa pertunangan di antara kita adalah pilihan yang sangat tepat. Dari dulu, sebenarnya aku sudah menyukaimu—jauh sebelum kita ditunangkan satu sama lain. Aku tahu ini terdengar bodoh.. semoga kau tidak tertawa ketika membacanya. Eits, aku tidak suka orang yang cengeng, lebih tepatnya, sangat mudah terharu. Jadi, sebisa mungkin jangan pasang ekspresi lebay ketika membaca ini! Haha.

Aku tidak tahu sampai kapan aku harus menunggu untuk dipasangkan denganmu, tapi, yang pasti—cintaku untukmu takkan berubah sampai kapanpun. Sampai akhir hayatku pun, aku takkan pernah mengubah perasaanku, walau harus mempertaruhkan nama baikku sebagai seorang keluarga bangsawan Sanada.

Maaf kalau aku terlihat lebay disini. Kuubah kata-kataku diatas; robek saja kertasnya kalau isi surat ini menjengkelkan! Hahaha. ]


"—ARAKI, TUNGGU!" teriakan yang bisa dibilang lumayan kencang, membuat Araki berpaling, diam tak bergeming. Tsukino berlari ke arahnya sebelum menggumpalkan foto dan surat yang Araki berikan padanya sebelum melemparkannya pada Araki. Tepat setelah melihat isi dari kertas yang digumpal, Araki mendekat ke arahnya—

—sebelum membuang gumpalan-gumpalan itu ke arah tong sampah yang berada di dekat Tsukino.

"Maafkan aku, tapi, walau kita ditunangkan—keputusanku sudah bulat. Yang berlalu biarlah berlalu. Lupakan saja aku, cari yang lebih baik daripada aku."

Dalam waktu singkat, Araki menghilang dari hadapannya.

FIN


Yak, cerita gaje yang kepikiran di benak saya malem2 gini. #... feels ga dapet, diksi gak gitu amat.. ah, gimanalah nasib akhir PM terkutuk ini mak. #apa
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
« Previous Topic · Artist's Canvas · Next Topic »
Add Reply